Satu jam lebih saya menunggu dimulainya konferensi pers di sebuah ruangan Departemen Luar Negeri era Orde Baru. Saat itu, tahun 1989, saya bekerja sebagai fotografer media asing dengan status paruh waktu. Ternyata mereka masih menunggu kru TVRI yang belum datang, padahal hampir semua media sudah hadir. Keluhan sudah mulai keluar dari mulut semua orang. Lama banget, sih? Deadline nih! Saat itu masih belum terpikir, mengapa media televisi – kebetulan TVRI sebagai satu-satunya – begitu ditunggu kedatangannya?
Ketika membaca informasi atau berita dari surat kabar, dan atau mendengar berita lewat radio, ada pekerjaan lain lagi yang otomatis Anda lakukan, yakni membayangkan situasi kejadian tersebut, melalui imajinasi anda. Misalkan peristiwa tsunami di Aceh, surat kabar menulis ratusan ribu mayat bergelimpangan, radio mengatakan Aceh lumpuh total. Tentu saja tiap orang akan berbeda-beda hasil imajinasinya. Namun ketika semua orang menyaksikan peristiwa itu melalui televisi, semua mempunyai bayangan yang sama. Semua terlihat jelas “kiamat” yang terjadi tanpa harus berimajinasi lagi.
Itulah kekuatan televisi. Tanpa gambar, siarkan saja berita Anda melalui media radio dan surat kabar. Gambar atau audio visual bagi industri televisi adalah bagian terpenting. Gambar dihasilkan oleh kamera, kamerawan adalah orang yang mengoperasikan alat tersebut. Kamerawan berita dituntut memiliki kepandaian bercerita dengan gambar. Indikatornya adalah paham atau tidak penonton melihat hasil gambar itu. Sebuah paket berita televisi biasanya terdiri dari 3 elemen untuk membentuknya, yaitu gambar, voice over (naskah), dan grafis (teks).
Persentase setiap elemen tergantung pada seberapa bagusnya gambar yang dihasilkan kamerawan. Gambar yang lengkap akan sangat membantu reporter dalam membuat naskah. Kamera tidak pernah berbohong. Dalam arti, apa pun yang tertangkap oleh lensa, hasil yang terekam persis sama. Kelemahan dari kamera adalah tidak dapat menjelaskan beberapa hal seperti; waktu, nama tempat, dan data-data lainnya. Semua hal yang bersifat data adalah tugas reporter untuk menjelaskannya di naskah (voice over). Tapi, hindari penulisan naskah yang mengomentari gambar. Contoh; gambar memperlihatkan peristiwa kebakaran di pemukiman penduduk, naskah yang ada berbunyi ,”Petugas pemadam kebakaran tampak sibuk memadamkan api dibantu penduduk setempat”. Informasi yang diperlukan pemirsa untuk gambar ini adalah data berapa unit mobil pemadam dikerahkan, misalnya.
Coba saja amati berita yang disiarkan televisi, masih adakah paket berita dengan naskah (voice over) isinya sama persis dengan gambarnya? Jadi kamerawan sebisa mungkin harus mendapatkan gambar yang lengkap dan bercerita dengan sedikit naskah (data) dari reporter.
Kesimpulannya jika informasi yang disampaikan hanya dengan gambar sudah membuat penonton mengerti, Anda kamerawan yang hebat. Jika penonton belum paham, Anda harus menambah dengan naskah (voice over). Pemirsa belum paham juga, tambahkan lagi grafis (teks).
Anda yang berprofesi sebagai kamerawan, harus menyadari bahwa Anda adalah frontliner dalam industri televisi atau berita televisi lebih tepatnya. Tidak penting jenis kamera apa yang digunakan, tapi filosofi dan karakteristik kamera Anda harus kuasai lebih dahulu. Kemajuan teknologi saat ini dengan diproduksinya berbagai kamera “handy” atau mudah cara pengoperasiannya membuka peluang bagi siapapun untuk jadi kamerawan (amatir).
Lalu apa bedanya dengan anda yang total berprofesi sebagai kamerawan? Kreatifitas dan pemahaman terhadap pakem atau aturan pengambilan gambarlah yang membedakan. Gambar yang buruk bisa diulang pengambilannya, tapi bakat dan skill Anda belum tentu! (BERSAMBUNG).
Salam SCTV.




















hidup kamera.
wah penecrahan yang menarik untuk para kamerawan…., tapi bukan berarti reporter juga gak perlu ga tau. tapi disinggung juga kok tentang reporter. hidup kamerawan
wah pencerahan yang menarik untuk para kamerawan…., tapi bukan berarti reporter juga gak perlu ga tau. tapi disinggung juga kok tentang reporter. hidup kamerawan
Masukan yang Ringan tapi Penting.Terlebih buat kami Wartawan Televisi Lokal, kadang kadang karena keterbatasan alat dan SDM sulit sekali memberikan kualitas gambar yang menjelaskan segalanya.Dan satu hal lagi, bila kalian kalian televisi besar (Nasional) tidak mampu menjadi contoh buat kami “anak piyik”, kami akan terbiasa menjalani kesalahan yang beralasan, atau “kalau salah” bisa bikin banyaaak alasan,..
pengalaman yang menarik dan penting bagi kamerawan.
sebagai orang awam saya menilai banyak kamerawan tv sekarang apalagi di daerah (kontributor/tv lokal), kurang memperhatikan kaidah / etika jurnalistik.
Mantep dan mendalam kata kata nya jadi maju trus dunia jurnalistik di indonesia yang kita cintai ini….!
Sayang masih ada saja orang yang suka melecehkan profesi kameramen.
Padahal kameramen selalu berusaha untuk mendptkan gambar terbaik yang informatif.
Salut buat kameramen,jangan menyerah kalau kamera anda dirusak/dipukul orang, yang biasanya takut kesalahannya terlihat…
aku salut ma kamerawan dan reporter… meski hujan panas tetep bekerja…trusss kapan waktu untuk keluarga?
Wah, desain grafis sangat berperan juga yah disini? tapi saya sangat salut sama para reporter, tidak kenal waktu untuk meliput berita untuk di sajikan kepada masyarakan. salut…
memang, kamera gak ada matinya….
banyak kebanggan tersendiri menjadi menjadi seseorang yg berperan di blakang layar, salah satunya kamerawan. meski tak terlihat dan tak terkenal seperti artis, namun tetap semangat untuk memberi yang terbaik bagi penonton. harusnya sctv memberi program acara tentang seorang kamerawan, agar masyarakat tahu seberapa besar jasa seorang kamerwan.