Kepada Pemeluk Teguh (Ahmadiyah)
Moh. Samsul Arifin
Pintu yang dibuka Chairil Anwar sekarang menyempit saat pemerintah (menanggapi rekomendasi Bakor Pakem) melarang Ahmadiyah di tanah air. Ahmadiyah dinilai menodai Islam, sebab menahbiskan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan Tadzkirah sebagai kitab suci. Tak pelak lagi Ahmadiyah dicap sesat dan menyesatkan! Kini sekitar 500 ribu penganut Ahmadiyah yang tersebar sejak Manis Lor dan Pancor (Lombok Tengah) hingga Parung-Bogor harus siap-siap mengganti keyakinan jika tak mau di jidat mereka distempeli kata laknat: Tersesat.
***
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
remuk
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
Sajak Chairil Anwar berjudul “Doa, kepada pemeluk teguh” yang ditulis 13 November 1943 di atas membuat hati saya terketuk bila menyebut Tuhan. Setiap kali mendengar atau membacanya, saya merinding dan di atas segalanya terpukau. Penyair Chairil sungguh memahamkan kita bahwa Tuhan, sebagai the ultimate being, tak bisa dihindari apalagi ditepis. Chairil merangkumnya dalam larik terakhir sajak itu. Katanya, “Tuhanku/di pintuMu aku mengetuk/Aku tidak bisa berpaling”.
Pada Chairil, dan terlebih lagi sajak-sajaknya, saya mendapati sebuah jiwa yang bergemuruh. Pikirannya dikecamuk perang. Dan justru itulah kekuatannya, magisme seorang Chairil yang melemparkan namanya melewati masa hidupnya yang pendek, 1922-1949.
Sajak di atas adalah sebentuk kerendah-hatiannya. Ia tak mengelak dari Tuhan (dengan begitu ia mengakui Tuhan ada). Ia sadar bahwa sebagai manusia tak pernah benar-benar mampu mengingat Tuhan sepenuh-penuhnya. Namun begitu Chairil terus berikhtiar. Chairil pun “mengembara di negeri asing”. Negeri asing itu menyimbolkan ruang atau wilayah pengembaraannya, antara diri yang terlahir (given) dan diri yang berjalan (atau memberontak).
Lewat Chairil, saya memahami Tuhan (juga agama) seperti Jalaluddin Rumi atau para salik (penempuh Jalan Tuhan) lainnya. Mustahil sekali menuju Tuhan lewat satu jalan, apalagi jika disempitkan hanya lewat syariat. Sajak Chairil di atas, jelas mengabarkan satu hal: Kendatipun identitas keyakinan Chairil tidak terang benderang, ia tetap menyebut nama Tuhan sekalipun susah sungguh mengingatNya. Jalan esoteris atau bahkan inklusif yang menganggap segenap perbedaan tidak sebagai ancaman, namun sebagai hal yang tak terhindarkan.
Pintu yang dibuka Chairil itu sekarang menyempit saat pemerintah (menanggapi rekomendasi Bakor Pakem) melarang Ahmadiyah di tanah air. Ahmadiyah dinilai menodai Islam, sebab menahbiskan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan Tadzkirah sebagai kitab suci. Tak pelak lagi Ahmadiyah dicap sesat dan menyesatkan! Kini sekitar 500 ribu penganut Ahmadiyah yang tersebar sejak Manis Lor dan Pancor (Lombok Tengah) hingga Parung-Bogor harus siap-siap mengganti keyakinan jika tak mau distempeli kata laknat: Tersesat.
Kini ruang dialog tertutup sebab keputusan diketuk. Padahal apa yang disebut Ahmadiyah bukanlah entitas tunggal. Karena Ahmadiyah sebetulnya ada dua kelompok. Ahmadiyah Qadian dan Ahmadiyah Lahore. Yang pertama mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai mujaddid (pembaharu) dan seorang nabi. Sedangkan Ahmadiyah Lahore lebih moderat, karena Mirza Ghulam Ahmad hanya ditempatkan sebagai mujaddid.
Membaca salah satu klausul rekomendasi Bakor Pakem, tampaknya penganut Ahmadiyah di tanah air digeneralisasi sebagai Ahmadiyah Qadian. Hingga saat ini kita tak pernah membaca peta demografi penganut Ahmadiyah. Betulkah seluruhnya Qadian? Dan jika tidak, apa implikasi pelarangan oleh pemerintah terhadap penganut Ahmadiyah Lahore itu?
Keputusan pemerintah seperti tak mau bersusah payah dengan realitas sosiologis tersebut. Seluruh syarat ditetapkan majoritas. Sang tertuduh dipaksa diam dan tak bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dipercayai mereka.
Justru karena negara sudah mengunci Ahmadiyah, perlu kiranya diikhtiarkan kembali sebuah dialog antara pemuka Islam dengan Ahmadiyah (Jamaah Ahmadiyah Indonesia/JAI). Beri mereka kesempatan untuk membela diri, mengapa 12 butir pengakuan Ahmadiyah, Januari lalu gagal diwujudkan? Betulkah 12 butir itu lahir dari ketulusan JAI atau lantaran “dipaksa”? Dan seberapa intens komunikasi antara dua pihak?
Apa yang disebut Islam memang menyaratkan pengakuan terhadap kenabian Muhammad SAW dan Al quran-Hadist. Namun demikian Islam antikekerasan. Jadi, segenap tindakan kekerasan oleh segenap kelompok yang mengaku Islam tidak dapat dibenarkan! Pemerintah, yang sebentar lagi mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang pelarangan Ahmadiyah, harus menjamin saudara kita yang menganut Ahmadiyah tidak menjadi sasaran amuk massa. Mereka harus merdeka di bumi Tuhan milik bersama ini…

Bang syamsul yg bijak, bagus sekali pemikiran anda. tapi kalo sudah menyangkut penodaaan agama, saya pikir ga ada toleransinya. pemerintah memang harus tegas menindaknya. apapun dampaknya. setahu saya, Ahmadiyyah cuma berkembang pesat di negara seperti inggris…karena di negara2 lain banyak ditentang.
Comment by Husni — April 18, 2008 @ 6:33 pm
kalau Kejaksaan Agung Republik Indonesia atau siapapun yang ingin merekomendasikan Ahmadiah sebagai aliran sesat maka Pasal 29 UUD 1945 itu dulu yang pertama harus dan kudi direkomendasi untuk dihapuskan baru Ahmadiah ditutup dan dilarang beredar. kalau PASAL 29 UUD 1945 itu belum dihapuskan maka Ahmadiah sampai kapanpun akan bertahan hidup karena mungkin mereka berpatokan pada isi dari pasal itu…
Ingat itu para pejabat !!!
Comment by ervanca — April 18, 2008 @ 8:52 pm
sbgmna penganut ahmadiyah mengatasnamakan kebebasan beragama menurut keyakinannya pasal 29:1, yg mengatakan ahmadiyah sesat pun bersikap tdk bertentangan dg pasal 29:1-kr memfonis ahmadiyah sesat juga menurut agama & keyakinnannya juga. tetapi keputusan untuk melarang ahmadiyah diindo adalah hak pemerintah krn dia ulil amri(pemimpin). jadi tdk ada hak utk main hakim sendiri! saran saya kalau ahmadiyah sdh dilarang sama pemerintah..kan keyakinan hati tdk ada yg bisa melarang..silakan aja berkeyakinan SUMANTO (sang.kanibal) sbg nabi terhebat..
Comment by idhar/idang/da'ang/idam — April 19, 2008 @ 2:45 am
apa implikasi pelarangan oleh pemerintah terhadap penganut Ahmadiyah Lahore itu?
jelas Ahmadiyah Lahore dapat dikatakan sesat walaupun hanya mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Mujaddid..
bagaimanapun Mirza Ghulam Ahmad telah mengikrarkan diri sebagai seorang Nabi yang otomatis telah jauh melenceng dari ajaran agama Islam.
jadi bagaimana Ahmadiyah Lahore tidak dikatakan sesat apabila menganggap orang sesat sebagai mujaddid atau mursyid atau guru..??
Comment by kecebongmuda — April 19, 2008 @ 4:21 pm
Wah, jangan-jangan saya musti juga buta agama baru… ah semoga tidak… lho agama saya apa, sih? Semoga lekas sembuh fobia pada kata “ahmadiyah”… stop over generalisation…
Comment by Suluh — April 21, 2008 @ 3:51 pm
yang jadi penyakit adalah agama ahmadiyah ini tidak percaya diri utk hidup mandiri. Dengan aqidah yg berbeda, masih saja mengaku-ngaku sebagai bagian dari agama Islam. lucu sekaligus aneh…
jika kelompok ahmadiyah ingin tetap hadir di Indonesia, mereka harus menyatakan bukan bagian dari Islam. Jadi, Ahmadiyah merupakan agama tersendiri. Sesuai prinsip kebebasan beragama, setelah Ahmadiyah menyatakan diri sebagai kelompok agama tersendiri, eksistensinya harus dijamin di Indonesia. hal ini juga merupakan amanat konstitusi dan sesuai prinsip-prinsip universal tentang kebebasan dan kemanusiaan.
Comment by audhra — April 21, 2008 @ 6:33 pm
saya melihat ada dilema yang dialami pemerintah…
bila ahmadiyah dibubarkan, pemerintah bisa dituduh melanggar HAM dan konstitusi. artinya pemerintah akan “menelan ludah sendiri” karena melanggar UUD Negara RI tahun 1945 pasal 29 ayat 2 yg menjamin kemerdekaan warga negara untuk memeluk agama dan beribadah sesuai agama dan keyakinannya…
bila tidak dibubarkan, kecemasan rakyat akan semakin menjadi dan pemerintah dituduh tidak sanggup menghapus keresahan masyarakat tersebut..
bagai buah simalakama…
Comment by yogie — April 22, 2008 @ 6:48 pm
melihat, mendengar & memperhatikan kisah Ahmadiyah di Indonesia saat ini, hati kecil saya begitu sedih ( meskipun saya bukan seorang penganut ahmadiyah ) bagaimana tidak bila kebebasan seseorang / sekelompok dalam menjalankan ibadahnya harus dinodai dengan dengan anggapan bahwa ahmadiyah adalah ajaran yang sesat. Menurut saya pribadi, apapun & bagaimanapun cara orang beribadah kita tetap harus menghargai, kan semuanya itu adalah menuju Tuhan YME. thx
Comment by patria rosa — April 23, 2008 @ 3:31 pm
Kenapa agama itu dijadikan begitu kaku apakah mereka selalu haus darah dalam agama? saya melihat orang yang berteriak sesat, kafir, dst, merusak, membakar, membunuh, merampok dsb, apakah itu ajaran agama? Orang yang diam, santun, mawas diri, berbudi pekerti, menjaga panca indranya dan anggota tubuhnya dari merusak, merampok dsb, itukah yang sesat? atau agama yang salah? Semoga ada orang arif dapat menimbang itu semua dengan kemampuan yg fitrati. Setiap nabi didustakan, nabi mana yg tidak didustakan oleh kaumnya, tapi bukankah didustakannya itu kemudian menjadi bukti kebenaran Nabi itu? karena pembuktian itu kemudian dari tuduhan. timbanglah!!! Wassalam
Comment by najam — April 23, 2008 @ 11:03 pm
ketika masih sekolah, aku inget seorang guru pernah menyatakan bahwa kebebasan itu tidak bisa dilaksanakan secara absolut..karena itu justru akan menimbulkan chaos..boleh saja menyatakan kebebasan di atas segalanya, tetapi klo sudah menyinggung harga diri, kehormatan dll, bukankah itu justru itu akan menimbulkan konflik??? Umat Islam sepakat klo nabi terakhir itu Muhammad SAW dan kitab sucinya adalah AlQuran. klo misalkan ada yang mengakui nabi lain sesudahnya, apakah itu masih bisa dikatakan Islam?? Mengapa masih menamakan dirinya sebagai orang Islam?? Bagaimana jika ada orang ada yang membuat/mengakui ada 6 Sila dalam Pancasila…apakah orang tersebut tidak bisa dikatakan telah menodai Pancasila???
Comment by yoedhie — April 28, 2008 @ 12:11 pm
Hanya ada dua kalimat. Bubarkan Ahmadiyah dan bina pengikutnya kedalam Islam yang kaaffah
Comment by rachmat — April 29, 2008 @ 12:44 pm
klo ga salah denger..
udah dikasi pilihan, klo ahmadiyah mo eksis di indo maka hrs keluar/ tidak berstempel lagi di agama islam.
nah, gimana tuh…
sekarang tuh cuma reaksi aja dari keberadaan ahmadiyah… karena fatwa MUI sudah jatuh. cuma karena pemimpin2 sblmnya ga tegas.
sekarang dah tegas. nah, gimana tuh…
Comment by gogo — April 29, 2008 @ 5:10 pm
“…Dan sesungguhnya akan muncul pada ummatku pendusta yang jumlahnya tiga puluh orang, mereka semua mengaku sebagai Nabi, sedangkan aku adalah penutup para Nabi dan tidak ada Nabi sepeninggalku.” HR. Ahmad (5/278), Abu Dawud (no. 4252), Ibnu Majah (no. 3952), dengan sanad yang shahih menurut syarat Muslim, dari Sahabat Tsauban Radhiyallahu’anhu.
Bubarkan Ahmadiyah, kembalilah kepada islam berdasarkan alquran dan sunnah sesuai dengan pemahaman salaful ummah
Comment by dodi al-asahany — May 2, 2008 @ 9:05 am
saya sampai saat ini tidak habis pikir terhadap para ulama, terus terang saya pernah belajar di Ahmadiyah, NU, Muhammadiyah dan saat saya belajar diAhmadiyah tak pernah diajarkan untuk merusak masjid, membakar tempat belajar, dan tindakan- tindakan anarkis lainnya, serta mengkafirkan dan menyesatkan orang lain,kemudian saya mau nanya kepada para Ulama yang pemahaman agamanya jauh lebih sempurna dari saya kalau tiba hari raya Aidul Fitri / Adha semua umat Islam berbondong - bondong untuk sholat ied dan pengalaman di Indonesia ada 4 hari raya ( hari 1,2,3 dan ke 4 )(dok. SCTV Pasti ADA)yang saya tanyakan kepada para ulama yang terhormat ibadah hari yang keberapa yang dierima oleh Allah.
Comment by bambang — May 3, 2008 @ 4:48 pm
Saya kira inti permasalahan ini sederhana. Jika sekiranya ahmadiyah tidak mengaku menjadi bagian dari islam [agama baru], tentu ceritanya akan lain. Karena mengaku menjadi bagian dari islam itu-lah maka ahmadiyah terang-terangan [secara syariat islam dengan rukun yang 5-yang salah satunya mengakui Allah S.W.T sebagai Tuhan dan Nabi Muhammad S.A.W sebagai utusan/Rasul] di nilai sesat dan menyesatkan dan telah menodai ISLAM itu sendiri sebagai sebuah agama yang resmi dan di akui.
Comment by abuhasan — May 12, 2008 @ 9:03 am
seperti juga UU.. agama adalah sebuah ‘concern’ atau kesepakatan..dan pelanggaran/perubahan sepihak atas kesepakatan tersebut wajarpula disikapi secara ‘keras’ sebagaimana polisi menangkap para penjahat…kalau tidak jadi “binatang”lah kita sekalian.. berbuat seenak udel…
Comment by RIANDA — May 14, 2008 @ 12:32 pm
Saya kira jelas sekali,bahwa Ahmadiyah itu sesat dari sisi agama Islam,kalaupun ingin tetap menjalankan keyakinannya atas nama kebebasan beragama,ya tinggal bikin agama dengan nama Ahmadiyah.Ini udah sesat,masih bawa2 nama Islam.Cemmana
Comment by Spiderpig — May 19, 2008 @ 11:22 am
DELEMA Rakyat kronis sekali tentang Ahmad Diyah..Sejauh sepengetahuan saya(?) C Mirza yg orang Pakistan Syeikh nya Ahmad Diyah ga prnah mengakui diri nya Sebagai Nabi(?@)..Mungkin cara pengajaran Uztad2 nya di Indonesia yg mengatakan c mirza Nabi? Bagian dari ISLAM? Awalnya mereka (Ahmad Diyah)adalah Pengikut ISLAM seperti kita2 yg Umat ISLAM…lalu mereka menjalankan Aliran Tersendiri yg Kita Sebut Aliran “SUFISM”… Dlm ISLAM Jelas2 Sekali Disebutkan ISLAM Melarang SUFISM! Seperti Dituliskan dalam Buku “Reality Of SUFISM In Light Of The QUR’AN & Sunnah”(Haqeeqatus Soofiyyah Fee Dau’il Kitaabi Was-Sunnah)By Shaykh Muhammad Ibn Rabee’Ibn Hadee Al- Madkhalee Guru Besar Di Islamic University Of Madeenah Saudi Arabia.1401H. Dilain segi Negara Kita Indonesia Bukanlah Negara Republik Of ISLAM Tpi Negara Republik Indonesia yg Ber-Bhineka Tungal Ika Ber Panca Sila Dgn UUD(*bukan ujung2nya duit lho…!)Yg Menenyebutkan Bebas Ber Agama…DELEMA KAN? Harapan saya H.Dayat Aulia. Apakah kalian Dari Aliran Ahmad Diyah? Rifa’ee.. Tijanis..Qaadiriyyah..Burhamiyyah..Shaadhiliyyah..Khattaniyyah..Darqaawis..Naqshabandis..Dan Kalian Semua Yg Menganut Aliran Sufi Kembalilah Kalian Hanya Kepada Qur’an Dan ISLAM.. Firman Allah ; “Wa maa Khalaqtul Jinna Wa Insa Illaa Liya’buduun..” Yg Artinya “Aku Tidak Menciptakan Jin Dan Manusia,Kecuali Untuk Menyembah Aku..” Surah Adh-Dhaariyaat [51]:56. Allah, The Blessed and Most High, created us and placed us in this life for a very great and wise purpose, which He loves and is please with, and it is the worship of Him,alone,with no partner for Him. I testify that none has the right to be worshipped except Allah,alone,having no partner,and I testify that Muhammad is His slave and His Messenger.. Firman Allah ; “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu Agamamu dan telah Ku cukupkan nikmat-Ku padamu dan Aku pilih ISLAM adalah Agamamu.” Al-Maa’idah[5]:3……………………..
Comment by Dayat Aulia. — May 21, 2008 @ 1:16 pm
“Bang syamsul yg bijak, bagus sekali pemikiran anda. tapi kalo sudah menyangkut penodaaan agama, saya pikir ga ada toleransinya.”
La…dianggap penodaan itukan atas dasar Pemahaman ANDA! terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah (yang menganggap Ahmadiyah itu medodai Islam). Sementara Al-Qur’an sendiri dalam Suroh Al-Maidah 8 dan 48 sudah jelas tidak menyebutkan penodaan Islam, bahkan melindungi yang kafir dan yang sesat. heheh
Bang syamsul yg bijak, saya setuju
Comment by abusalaf — June 4, 2008 @ 11:47 am
kalau seseorang mengaku beragama islam maka harus berpedoman pada al quran&hadist nabi Muhammad SAW,
diluar itu berarti bukan islam termasuk ahmadiyah
jadi kalau ahmadiyah mengaku islam ya jangan mengakui mirza sebagai nabi.
Comment by sigit — June 5, 2008 @ 7:47 pm
Sangat menyedihkan ketika semua orang berkiblat atas nama kebebasan dan anti kekerasan, sangat menggeramkan ketika seorang kyai NU pemimpin umat islam justru mendukung, melindungi ajaran yang menodai agama islam.. semoga Allah melaknat mereka amin.. tentang Ahmadiah silakan anda hidup bebas di negara “terbebas” di dunia ini dengan membikin agama baru, Agama AHMADIAH
Comment by Adi — June 7, 2008 @ 3:34 pm