April 7, 2008

Poligami, Akhir Kisah Maria

Filed under: Film — syamsul @ 5:38 pm
poligami-akhir-kisah-maria

Moh. Samsul Arifin

Hanung Bramantyo menyisipkan poligami dalam sepertiga durasi Ayat-ayat Cinta. Tidak seperti dunia nyata yang sarat konflik, poligami yang disisipkan Hanung begitu sederhana, nyaris tanpa konflik. Fahri tinggal di rumah Aisha. Beberapa saat kemudian menikahi Maria dan lalu memboyongnya ke rumah Aisha. Hiduplah tiga orang itu di sana. Persis telenovela.

***

Meski Ayat-ayat Cinta telah menyita perhatian 3 juta-an penonton, saya tak pernah benar-benar terlecut untuk melangkahkan kaki ke bioskop. Orang rumah bahkan menahan saya untuk membaca novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Di kantor, sebagian kawan terpikat sinematografi besutan Hanung Bramantyo tersebut. Sebagian lagi mengirim pesan singkat: Jangan buang waktu untuk menyaksikan film yang bahkan tak mampu mendekatkan Kairo, Mesir dengan bahasa gambar.

Kebetulan. Ya…benar-benar faktor kebetulan yang mengirim saya menyaksikan Ayat-Ayat Cinta. Sebuah film yang menyuntikkan semangat baru pada penonton, termasuk ibu-ibu pengajian, pergi ke gedung-gedung bioskop di kota-kota besar di tanah air. Akhir pekan lalu, saya tak pernah berencana ke Bandung. Namun, lantaran harus bertemu seorang sanak, saya pun menumpang bus Lebak Bulus-Bandung. Di bus tadi, diputarlah DVD (mungkin bajakan) Ayat-ayat Cinta. Pendek kata, nama Maria Girgis pun karib di mata dan telinga saya.

Fahri, tentu saja, jantung cerita film berdurasi 12o menit ini. Tapi, kisahnya tak terlalu mendebarkan. Yang justru layak diperhatikan cara Hanung menyisipkan poligami dalam sepertiga durasi filmnya. [Saya yakin tak perlu bercerita bagaimana cinta segitiga Fahri-Aisha-Maria, lantaran percaya sebagian pembaca telah menonton film ini].

Tidak seperti dunia nyata yang sarat konflik, poligami yang disisipkan Hanung begitu sederhana, nyaris tanpa konflik. Saya tak menyaksikan konflik batin menimpa Aisha, yang rela suaminya menikahi Maria. Alkisah Aisha rela “dimadu” lantaran ingin menolong (lebih tepatnya kasihan) Fahri yang dituduh memperkosa Noura. Marialah saksi kunci yang bisa melepaskan Fahri dari tuduhan tersebut. Runyamnya, Maria koma setelah ditabrak dengan sengaja komplotan jahat yang menghendaki Fahri mendekam di hotel prodeo. Hanya dengan menikahi Maria, si saksi kunci bisa siuman dan menyadarkan hakim membebaskan Fahri.

“Sederhana betul jenis poligami yang ditawarkan Hanung,” gumam saya ketika menyaksikan Fahri hidup serumah dengan dua istrinya, Aisha dan Maria. Seseorang di sebelah menyela, “Memang dibuat sederhana untuk meledek poligami yang dilakukan dai yang dulu menolak keras film Buruan Cium Gue.” Menurutnya bukan kebetulan jika AAC diproduksi klan Punjabi, Manoj Punjabi. Seperti diketahui BCG diproduksi Raam Punjabi dan menerbitkan pro-kontra di masyarakat.

Saya tak mau terlibat spekulasi dengan penumpang sebelah. Tapi, kiranya tak berlebihan jika model poligami yang ditawarkan Hanung diperbincangkan. Pertama, sungguhkah perempuan (Muslimah yang saleh) selempang (selurus) Aisha, ketika dengan ringan tangan merelakan (bahkan) menyuruh suaminya menikahi perempuan lain. Kedua, tahukah kita motif Fahri menikahi Maria: demi menyelamatkan nyawa penganut Kristen Koptik itu atau agar saksi kuncinya itu memberi kesaksian di depan peradilan? Dan ketiga, saya tak menyaksikan bagaimana cara Fahri menyiapkan finansial untuk menafkahi dua istri cantiknya itu.

Yang tampak di layar, justru sangat menara gading, hampir tak menyentuh realitas. Saya tak pernah tahu, apa pekerjaan Fahri saat memberanikan diri menyunting Aisha yang berasal dari keluarga mampu. Sebaliknya Fahri tinggal di rumah Aisha. Beberapa saat kemudian menikahi Maria dan lalu memboyongnya ke rumah Aisha. Hiduplah tiga orang itu di sana. Persis telenovela. Maka, saya tak heran jika banyak penonton Ayat-ayat Cinta, khususnya ibu-ibu pengajian dan perempuan pelajar, menangis usai menonton film ini. Mereka meneteskan air mata, mungkin karena bersimpati pada Aisha atau bahkan sebal pada Fahri: Membiarkan Maria tanpa uluran cintanya. Dan ketika, Fahri akhirnya menikahi Maria, perempuan ini tak sanggup lagi melawan penyakitnya.

Poligami model Hanung ini nyaris tidak argumentatif. Film AAC setuju poligami. Tapi, Hanung gagal memberikan jawaban bagaimana konflik poligami itu diselesaikan ketika salah seorang perempuan keluar dari rumah lantaran tak sanggup lagi hidup seatap dengan perempuan lain. [Di film ini, Aisha sempat ngambek dan pergi ke rumah saudaranya dan lalu dijemput Fahri].

Entah karena tema poligami ini hanya sisipan, Hanung tidak berpanjang-panjang untuk menggambarkan konflik rumah tangga pria dengan dua istri tinggal serumah. Hanung menyudahinya dengan adegan yang liris: Maria yang tergolek sakit—sudah menjadi Muslimah—ikut shalat berjamaah bareng Fahri dan Aisha. Saat itulah Maria pergi untuk selama-lamanya!

16 Comments »

  1. hi mas syamsul,
    sebenarnya memang Fahri dibuat lebih ‘manusiawi’ oleh Hanung. selebihnya memang masih kurang detil (sering terjadi pada film indonesia).
    jika membaca & menilik novelnya, tidak semata2 soal poligami, lebih dari itu.

    Comment by wanda — April 7, 2008 @ 10:12 pm

  2. kalo filmnya sudah ditonton, dan mas syamsul sudah berkomentar di blog ini, maka mas syamsul boleh baca novelnya — kenapa keluarga mas syamsul melarang baca novelnya ya..?? — kalau sudah baca saya tunggu dengan sangat komentar berikutnya ya mas..

    salam
    fred

    Comment by fred-em — April 8, 2008 @ 3:35 pm

  3. Ya saya memang melihat juga banyak kekurangan…namun apapun dan sekecil apapun usahanya saya salut dengan Hanung. Saya mengerti jika film dan karya “seni”-jika istilah ini memang tepat -harus diapresiasi yang membangun.

    Comment by Ade — April 10, 2008 @ 8:46 pm

  4. Yup… Sy setuju. Konfliknya terlalu sederhana dan endingnya seolah ‘gampang’… Walau Aisha menyuruh Fahri untuk menikahi Maria demi menyelamatkan Maria dari koma dan Fahri dari penjara, tapi itu kan ada kepentingannya Aisha juga, dalam novel ditulis ia ga ingin anaknya lahir tanpa ayahnya… Jujur saja saya tidak menitikkan air mata waktu menonton AAC….

    Comment by Karisha — April 12, 2008 @ 9:15 am

  5. halo boz….
    dulu pas buku awal itu terbit…aku pernah mengharu biru baca novelnya..
    tap kok sekarang ga ya?
    tapi ya sudahlah….dulu lupa sekrang tidak ingat
    bravo mas syamsul…
    hidup ayat2 cinta
    hidup pilm indonesia

    Comment by safri — April 12, 2008 @ 11:17 pm

  6. YupzZz,,,,
    Salam Nal mas Samsul….
    Baca Novel juga,,,, dan tak tunggu juga komentarnya.
    Tak tunggu mas yo….. !!!

    Comment by DONdikr — April 13, 2008 @ 4:02 pm

  7. AAC….pertamaya aku ma istri tercintaku sih lg makan malem di rumah..tiba2 nich..ada org yg pernah nonton AAC ampe 3 kali ampe nangis dng pacarnya..nah nylenehnya lagi tu org bawa bajakan ACC ..singkat aja copylah movie itu ke notebookku..ku tonton ampe kelar..ah biasa biasa aja..malah ga ada unsur yg positif..malah kesannya ga realistis..tidak sesuai dng hukum kesunyataan…bombastis..heranku knapa presiden RI kok nangis liat AAC..padahal ga nangis ktika liat berita sekolah roboh..aneh ..coba nonton DENIAS..malah sarat nilai plusnya..org Indonesia..ga mau liat tp org LN salut…

    Comment by padma-sarono — April 14, 2008 @ 6:56 am

  8. wah mas samsul, coba baca novelnya.. jadi semua pertanyaan mas samsul mudah2an bisa terjawab.

    orang rumah melarang nonton AAC mungkin takut mas samsul nanti poligami. hahahah becanda.

    Comment by chodirin — April 14, 2008 @ 4:14 pm

  9. kalo menurut saya, nonton di bioskop dengan nonton vcd ato dvd (apalagi bajakan )beda banget aura yang ditimbulkan…coba deh mas nontonnya di bioskop, kita memang dikondisikan untuk menonton, wajar jadi mengharu biru. kalo nonton di rumah/di bus, apalagi vcd/dvd bajakan, gambarnya burem..gmn mo nangis,liat gambarnya aja mo marah…hehehe

    Comment by yana — April 15, 2008 @ 12:49 pm

  10. ketika saya baca novelnya pd hal 218 ktika fahri sdng ta’aruf dg aisyah, salah satu permintaan fahri kpd aisyah adalah ketika nanti tinggal di indonesia supaya ga usah pake cadar, alasannya kr utk fiqih da’wah di indo lebih hikmah tdk pake cadar, kr perempuan bercadar diindo dianggap aneh & mencurigakan..SAYA SKRNG iNi SDANG BERADA DITIMUR TENGAH(ARAB SAUDI) & 99% WANITA NYA BERCADAR..BARU KETEMU SALAH SATU JAWABANNYA YAITU KR PEREMPUAN TIMUR TENGAH SANGAT CANTIK2 SEKALI..jadi kalo aisya ga pake cadar akan jadi perhatian mata kaum laki2 loh..

    Comment by idhar/idang/da'ang/idam — April 16, 2008 @ 10:09 pm

  11. bagaimanapun itulah hasil karya hanung yg jg manusia biasa, tidak realistis dan sangat jauh sekali nuansanya dengan novelnya.
    Masalah Cadar adalah budaya masyarakat timur tengah, dan beberapa negara seperti saudi arabia sebagian besar orang masih kekeh bercadar,tapi d negara2 lain seperti UEA, libanon, Syiria sudah lebih demokrat, apalagi turki yg dah masuk wilayah eropa beda lagi, setiap negara memiliki nuansa yg berbeda, saudi arabia jelas lebih ketat lagi…krn sebagian besar watak orang2nyapun berbeda.

    Comment by husni — April 18, 2008 @ 3:56 am

  12. saya udah membaca novelnya, juga udah liat filmnya.
    memang tidak bisa di bandingkan antara novel dengan filmnya.
    cuma saya koq tidak menemukan ke asyikan (ruh) baik membaca maupun menonton filmya
    biasanya saja …

    Comment by syaekhu — April 18, 2008 @ 9:59 am

  13. Saya sangat sangat sepakat dengan Mas Samsul. Komentar saya pertama kali setelah menonton film itu adalah tertawa…dan bingung… Bagaimana bisa orang2 memuji film itu ..bahkan banyak katanya ibu2 yang ingin anaknya dinikahi oleh Fahri…hahaha… Fahri, sosok yang di film sangat lemah. Saya juga menyesal setengah memaksa suami saya untuk menemani saya menonton film itu ke bisokop.

    Comment by Aya — April 19, 2008 @ 9:55 pm

  14. mas samsul, semua tidak ada yg kebetulan…. semua sudah ada yg mendesain kalau akhirnya mas samsul akhirnya melihat film AAC di bis menuju Bandung… mas, kenapa tidak berkomentar tentang adegan Fahri di penjara termasuk dialognya dgn seorang napi? padahal itu keren bgt….

    Comment by yana — April 23, 2008 @ 2:36 pm

  15. setelah melihat AAC ini,yg terlintas & terpikir dalam benak saya kenapa film ini begitu fenomenal dan menjadi bahan pembicaraan oleh teman2 saya di kantor adalah krn beberapa faktor a/l karena mengangkat tema poligami dan seorang maria yang akhirnya menjadi mualaf, karena rasa cinta yg begitu besar kepada fahri. Dan untuk selebihnya saya rasa film ini biasa -biasa aja bahkan kedalamannya sih g terlalu ( datar aja ) & saya sepakat kalo film seperti Denias itu jauh lebih berbobot. thx

    Comment by patria rosa — April 23, 2008 @ 3:20 pm

  16. bang syamsul bahri eh syamsul…
    emang gampang bikin film
    hehehehe
    tapi aye setuju sechhhhh dngn pndpt nya,
    hidup FILM INDONeSIA, MAJU TeRUSSSSS

    Comment by riyo — July 18, 2008 @ 11:44 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment