March 29, 2008

Sjuman Djaya

Filed under: Film, Tokoh — anton @ 10:22 pm
sjuman-djaya

Anton Bahtiar Rifa’i

30 Maret, Hari Film Nasional. Dan, saya teringat film-film garapan almarhum Sjuman Djaya. Saya memang baru menonton beberapa dari 16 judul film karya sutradara sekaligus penulis skenario yang langganan Piala Citra itu. Namun, kesan itu melekat kuat: film-film garapan Sjuman selalu memancarkan bahasa jiwa yang kuat. Karyanya seringkali mengartikulasikan suatu kegelisahan atas realitas sosial.

Salah satu film Sjuman yang paling saya ingat adalah Si Doel Anak Betawi (1973), dibintangi Rano Karno yang ketika itu masih anak-anak. Film ini sangat menghibur. Namun, pencapaian Sjuman dalam berkarya tampaknya tidak pernah berhenti pada sebatas kata “menghibur”. Lewat film yang diadaptasi dari novel karya Aman Datoek Madjoindo itu, Sjuman – kelahiran Purworejo yang lebih merasa sebagai Anak Betawi—menyampaikan kegelisahan tentang nasib orang-orang Betawi yang terpinggirkan.

Si Doel, seorang anak Betawi miskin yang diperankan Rano Karno, menjadi simbol harga diri orang Betawi yang tak mau tertinggal oleh laju modernisasi, serta tak mau terkalahkan oleh pendatang yang muncul bersama genderang syahwat materialisme. Realita itu tergambarkan dengan baik, meskipun film tersebut menampilkan setting tahun 1940-an. Semangat itu acapkali digambarkan oleh Sjuman bukan dengan bahasa-bahasa filsafat, melainkan melalui bahasa yang apa adanya, ciri khas Sjuman. Misalnya, ketegangan atas kesenjangan sosial tergambar dalam dialog saat Doel bertengkar dengan Syafe’i, anak keluarga tuan tanah yang kerap meremehkan keluarga Doel. Kala itu, Syafe’i tengah menjadi pengantin sunat dengan busana mewah.

Syafe’i: Hey Doel jelek, kamu lihat nih sekarang…. Bapakmu dulu mana mampu bikin kayak gini (sambil memperlihatkan busana pengantin yang dikenakan).
Doel: Hey, jangan bawa-bawa bapak. Bapakmu jadi kaya juga lantaran tukang renten. Tukang ngepet, kalau malam jadi babi.

Kekuatan artikulasi juga terpancar dalam film Sjuman lainnya, Laila Majenun (1975) dan Si Doel Anak Modern (1976). Pergesekan akibat shock culture jelas tergambar dalam film tersebut. Kedua film itu memiliki benang merah, yakni tentang kegagapan generasi muda menghadapi laju peradaban, dengan mempertemukan “pemuda kampung” dan “pemuda modern”. Dalam soundtrack film Laila Majenun, Sjuman –bersama Donny Fattah—ikut menciptakan lagu Huma di Atas Bukit dan Sesat. Dalam lagu Sesat, yang dinyanyikan God Bless, jelas tergambar gemuruh kegundahan suatu generasi, seperti dalam bagian lirik: Kami tak pernah merasakan bimbingan (dengan kasih sayang). Seakan-akan kami semua terbuang (dalam kesesatan). Kini mereka mencoba menanyakan (kesalahan kami lakukan)….

Sjuman–lulusan Institut Sinematografi Negara Uni Soviet dengan predikat cum laude–memang dikenal sebagai sutradara yang tidak bisa “didikte” oleh produser. Namun, mengenang film garapan Sjuman sesungguhnya mengenang masa lalu. Karena bagaimanapun, saya hidup di zaman ini, ketika film-film Indonesia dihiasi cerita-cerita yang acapkali mengabaikan logika. Kisah cinta murahan dan hantu yang berjejalan menghiasi layar bioskop, membuat film Indonesia nyaris seragam. Secara fisik, film Indonesia kini memang semakin “megah”, namun miskin secara jiwa.

Kita memang tidak bisa mengingkari bahwa film adalah industri. Kita juga tidak bisa memungkiri, saat ini beberapa sineas Indonesia mampu menghasilkan prestasi yang mengagumkan. Namun, kenyataan kolektif tentang film Indonesia yang terlalu bertekuklutut terhadap kepentingan bisnis, serta sering mengabaikan logika, merupakan suatu bentuk keprihatinan. Bagaimanapun, film adalah bentuk komunikasi terhadap publik, yang harus disertai suatu tanggung jawab moral. Dalam sebuah resensi film yang dimuat Tempo tahun 1971, Salim Said pernah menulis, “Orang Indonesia juga bisa bikin film yang baik seandainya mereka sungguh-sungguh.”

2 Comments »

  1. yang di salahkan jngn hanya pembuat film, masyarakat juga harus dipertanyakan kenapa mereka menyukai film2 horor yg tidak sesuai akal sehat.

    Comment by Ma'ruf — March 30, 2008 @ 3:52 pm

  2. AAC tak jauh dari sekedar bisnis! karena jauh dari pesan yang ada dalam novelnya

    Comment by ajbranx — April 11, 2008 @ 9:51 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment