Monday, March 22, 2010

Bisakah Berharap pada Obama?

March - 28 - 2008

Andy Budiman

Bagi dunia, ada dua kabar baik dari Amerika Serikat. Pertama, sebentar lagi kepemimpinan Bush akan segera berakhir. Kedua, calon terkuat penggantinya adalah Barack Obama.

Obama, kini menjadi magnet baru di jagad politik dunia. Jajak pendapat dalam negeri Amerika Serikat, menempatkan Obama sebagai favorit menggantikan George W. Bush yang sebentar lagi akan menjadi the lame duck president. Di luar negaranya, dunia kini harap-harap cemas menantikan terpilihnya Obama.

Bagi dunia, Obama adalah metafora wajah Amerika yang lebih ramah. Ia berjanji, segera menarik pasukan Amerika dari Irak jika terpilih sebagai presiden. Dalam diplomasi internasional, ia berjanji merangkul para “musuh” Amerika: Hugo Chavez di Venezuela, Mahmoud Ahmadinejad di Iran, dan Fidel Castro di Kuba. Kehidupan masa kecilnya di Indonesia, juga membawa harapan Obama akan mampu lebih berempati kepada dunia ketiga, khususnya negara-negara berpenduduk muslim.

Pertanyaan penting kini muncul: apakah harapan ini pantas kita tempatkan pada seorang Obama? Saya khawatir, harapan dunia khususnya kita di Indonesia, terlalu berlebihan. Ada sejumlah alasan.

Politik Amerika didesain sangat lokal. Siapapun yang terpilih akan dipaksa “tunduk” pada kepentingan konstituen (baca: rakyat Amerika). Ingat, presiden Amerika dipilih oleh orang Amerika dan bekerja untuk kepentingan rakyat Amerika, bukan untuk dunia.

Keinginan untuk segera menarik pasukan dari Irak, bukan didorong oleh kecaman internasional. Tapi lebih banyak karena tekanan dalam negeri: orang tua yang keberatan anaknya mati sia-sia karena dikirim perang ke Irak. Sebuah perang, yang dianggap tak punya tujuan dan manfaat yang jelas bagi kebanyakan orang Amerika. Keberatan juga datang dari para ekonom yang melihat perang Irak dan Afghanistan sebagai beban ekonomi bagi Amerika, yang sedang berada di jurang resesi akibat sub-prime mortgage. Harap diingat, penarikan pasukan Amerika dari Vietnam atau perang Korea bukan karena desakan internasional. Itu semua terjadi karena kecaman dari dalam negeri, yang menganggap perang itu sia-sia.

Bagi orang Amerika, politik luar negeri bukan isu penting. Mereka lebih peduli dalam soal bagaimana ekonomi (baca: kesejahteraan) dikelola, apakah pajak akan naik? bagaimana dengan tunjangan kesehatan dan pendidikan?

Karena itu, banyak orang Amerika tak begitu faham atau peduli soal politik luar negeri. Mereka kaget, ketika tahu begitu banyak orang di dunia yang membenci negara mereka. Kebijakan luar negeri biasanya lolos di kongres tanpa pengawasan ketat dari masyarakat. Keputusan politik luar negeri biasanya adalah hasil kerja keras para kelompok lobi yang bertebaran di sana.

Salah satu contoh adalah AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) yang didirikan tahun 1950-an. Kelompok lobi ini, dibangun oleh komunitas Yahudi Amerika untuk menjaga kepentingan Israel. AIPAC memiliki lima atau enam pelobi resmi di Kongres dengan staf berjumlah 150 orang, dengan dukungan budget tahunan sebesar 15 juta dollar. Dana yang antara lain mereka kumpulkan dengan cara “memeras” diaspora Yahudi yang tinggal di Amerika. Mengeksploitasi perasaan bersalah para diaspora yang dianggap hidup enak di negeri orang, sementara saudaranya yang tinggal di Israel setiap hari harus berhadapan dengan intifada atau bom bunuh diri dari kelompok perjuangan Palestina.

AIPAC merupakan salah satu kelompok lobi paling berpengaruh. Di Amerika, kelompok lobi adalah sesuatu yang legal. Kegiatan dan tujuan politik mereka harus terbuka dan transparan, karena lembaga ini diaudit dan diawasi pemerintah. Mereka bekerja dengan cara meyakinkan dan memengaruhi para anggota kongres untuk mengambil keputusan sesuai rekomendasi mereka. Membantu pejabat lama yang selama ini mendukung mereka agar terpilih kembali dalam pemilu, atau sebaliknya “menghukum” mereka yang tak sejalan dengan kepentingan AIPAC, dengan cara mendukung calon lawan.

Kelompok diaspora Yahudi di Amerika sejak awal sadar harus mengorganisir diri untuk menjaga kepentingan politik mereka. Sebuah kesadaran, yang ironisnya justru belum muncul dari kelompok-kelompok yang selama ini tak setuju dengan keberadaan lobi Yahudi. Tapi masalahnya, kelompok-kelompok ini belum secara canggih mengorganisasi diri. Paling jauh, kekuatan politik mereka hanya digunakan pada saat pemilu.

Apa yang terjadi pada komunitas muslim Amerika pada Pemilu 2000 bisa menjadi contoh menarik. Pada saat itu, komunitas muslim Amerika yang berpusat di Washington DC sebetulnya punya suara signifikan untuk menentukan, apakah Bush atau Al Gore yang akan menjadi pemenang (terbukti hasil akhir diantara mereka sangat tipis sehingga harus diselesaikan melalui pengadilan).

Tapi apa yang terjadi ? komunitas muslim Amerika saat itu akhirnya memilih mencurahkan suara kepada Bush. Alasannya karena wakil presiden Al Gore yakni Joseph Lieberman adalah seorang Yahudi. Sebuah keputusan yang belakangan mereka sesali, setelah melihat sepak terjang Bush terutama pasca peristiwa 11 September.

Dengan catatan ini, saya kira terlalu berat beban yang dipanggul Obama. Kalau ingin memengaruhi Amerika, Anda bisa mulai dengan menjalin kontak dengan orang atau kelompok yang punya tujuan dan kepentingan yang sama di Amerika. Membangun network, dan bekerja keras untuk mencapai tujuan itu. Saya kira, inilah cara yang bisa dilakukan untuk “mengubah” Amerika. Tak cukup jika hanya berharap pada Obama.

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

15 Komentar pada “Bisakah Berharap pada Obama?”

  1. apa yang ditulis oleh bung Andi ada benarnya,bahwa Amerika yang kita kira selama ini ternyata berbeda 180 derajat,yang ada sekarang rakyat Amerika sedang mencari jati dirinya.

    saya berharap Obama yang duduk manis di Ouval Room White House,siapa tahu dengan duduknya Obama sanksi embargo senjata yang dikeluarkan oleh Amerika bisa diperlunak bahkan dilepaskan dari segala sanksi,kalau ini benar berarti Militer kita akan kembali ke jaman emasnya tetapi dengan melihat aspek HAM dan Hak Sipil tentunya

  2. Dor!

    Saya kok memiliki keyakinan bahwa bila Obama terpilih sebagai Presiden Amerika, akan muncul “kreativitas” di negeri ini oleh kelompok Islam yang melihat kemenangan Obama sebagai kemenangan kaum Muslim. Ia dinilai representasi kesuksesan Islam dalam memimpin negeri yang pernah menjadi korban teroris. Tentu ini adalah suatu kemenangan balik.

    Lantas efek lainnya adalah semakin menegaskan langkah kelompok Islam (radikal) Indonesia untuk melakukan aksinya di negeri ini. Dengan demikian, jalan pluralisme di Tanah Nusantara akan semakin terjal.

    Tidakkah Bung Andi melihat hal ini???

  3. kabbulamma’nu bush…!

  4. jang

    bravo obama !!

  5. obama tidak bisa menjadi presiden AS…
    yaitu karena dia tidak sejalan dengan Aipac maupun B’rit B’nai

  6. sigit

    tadi pagi saya liat di tv obama tetap akan dukung
    israel…saya jadi ragu apakah obama bisa membawa angin sejuk bagi timur tengah khususnya…

  7. el_anam

    apakah barack obama akan membangun pangkalan militer as di asia tenggara? khususnya di indonesia. kalo iya, bahaya besar buat persatuan dan kesatuan nkri

  8. Tulisan anda bagus sekali. Sy baru tau ttg fakta beda tipis bush dan al gore. Jg ttg ke kuper an org amerika. Makasih atas infonya.

  9. Ya, Allah angkatlah menjadi presiden Amerika Serikat orang yang mau mencari ridlo-Mu, bukan orang yang sering mencerca kebenaran yang kau turunkan pada manusia demi manusia itu sendiri. Hai, Obama, aku salut caramu berpolitik, semoga Allah memberimu petunjuk yang memabawa dirimu pada jalan yang benar.

  10. kenapa sih agama Obama kok dipersoalkan? Itu kan privasi Obama? Apakah ia Islam atau Keristen atau apa saja, kan nggak perlu kita ungkit2. Yang penting kan ia orang yang baik di mata manusia, dan semoga di sisi Allah ia juga baik.Kita nikmati ajalah cara berpolitiknya!!Kita tunggu aja setelah pemilu presiden Amerika.Aku aja ingin jadi presiden, kan nggak apa2, toh!Padahal aku bukan politisi yg sering manggung. Ngaoain dipersoalkan soal politsi, nggak penting kan, yg penting saya pintar, cerdas, dan disenangi masyarakat, dan diridloi Allah.

  11. Hmm…mau Obama mau McCain, Demokrat atau Republik, semua sama sajaaa…karena kelompok-kelompok lobi yang danai mereka berdua adalah kelompok-kelompok lobi yang kurang lebih sama dengan yang mendanai presiden yang sekarang ini….rakyat amerika, ketipu abis deee…:)

  12. [...] tapi ada kekuatan di balik layar yang dapat mengatur gerak langkah pemerintah, khususnya oleh lobi yahudi. Jadi, kebijakan mengenai Israel misalnya, tak akan banyak berubah seperti pernah diungkap Obama di [...]

  13. [...] tapi ada kekuatan di balik layar yang dapat mengatur gerak langkah pemerintah, khususnya oleh lobi yahudi. Jadi, kebijakan mengenai Israel misalnya, tak akan banyak berubah seperti pernah diungkap Obama di [...]

  14. bagusnya kalau presiden bodoh gampang ditunggangi seperti george bush bisa disetel untuk menggantung saddam husein.

  15. mini

    Dengan terpilihnya Obama sebagai presiden Amerika Serikat yang baru, saya berharap beliau dapat memperbaiki kekacauan yang terjadi selama ini.
    Kacaunya keadaan ekonomi Amerika yang berimbas ke perekonomian dunia semoga dapat segera ditangani agar semuanya bisa kembali menjadi lebih baik. Tidak hanya dalam bidang ekonomi saja. Dalam bidang politik, peranan Obama sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah2 politik yang berhubungan dengan negara lainnya. Seperti konflik di Gaza. Peranan Amerika sebagai “pembantu Israel” memaksa dunia memberikan beban ke pundak Obama untuk dapat menengahi konflik yang terjadi di Gaza.Mau tidak mau…
    Seperti yang digembor-gemborkan dalam pidato kampanyenya, Obama harus dapat merangkul negara2 Arab untuk menciptakan kedamaian bersama.

Tinggalkan Komentar