Bisakah Berharap pada Obama?
Andy Budiman
Bagi dunia, ada dua kabar baik dari Amerika Serikat. Pertama, sebentar lagi kepemimpinan Bush akan segera berakhir. Kedua, calon terkuat penggantinya adalah Barack Obama.
Obama, kini menjadi magnet baru di jagad politik dunia. Jajak pendapat dalam negeri Amerika Serikat, menempatkan Obama sebagai favorit menggantikan George W. Bush yang sebentar lagi akan menjadi the lame duck president. Di luar negaranya, dunia kini harap-harap cemas menantikan terpilihnya Obama.
Bagi dunia, Obama adalah metafora wajah Amerika yang lebih ramah. Ia berjanji, segera menarik pasukan Amerika dari Irak jika terpilih sebagai presiden. Dalam diplomasi internasional, ia berjanji merangkul para “musuh” Amerika: Hugo Chavez di Venezuela, Mahmoud Ahmadinejad di Iran, dan Fidel Castro di Kuba. Kehidupan masa kecilnya di Indonesia, juga membawa harapan Obama akan mampu lebih berempati kepada dunia ketiga, khususnya negara-negara berpenduduk muslim.
Pertanyaan penting kini muncul: apakah harapan ini pantas kita tempatkan pada seorang Obama? Saya khawatir, harapan dunia khususnya kita di Indonesia, terlalu berlebihan. Ada sejumlah alasan.
Politik Amerika didesain sangat lokal. Siapapun yang terpilih akan dipaksa “tunduk” pada kepentingan konstituen (baca: rakyat Amerika). Ingat, presiden Amerika dipilih oleh orang Amerika dan bekerja untuk kepentingan rakyat Amerika, bukan untuk dunia.
Keinginan untuk segera menarik pasukan dari Irak, bukan didorong oleh kecaman internasional. Tapi lebih banyak karena tekanan dalam negeri: orang tua yang keberatan anaknya mati sia-sia karena dikirim perang ke Irak. Sebuah perang, yang dianggap tak punya tujuan dan manfaat yang jelas bagi kebanyakan orang Amerika. Keberatan juga datang dari para ekonom yang melihat perang Irak dan Afghanistan sebagai beban ekonomi bagi Amerika, yang sedang berada di jurang resesi akibat sub-prime mortgage. Harap diingat, penarikan pasukan Amerika dari Vietnam atau perang Korea bukan karena desakan internasional. Itu semua terjadi karena kecaman dari dalam negeri, yang menganggap perang itu sia-sia.
Bagi orang Amerika, politik luar negeri bukan isu penting. Mereka lebih peduli dalam soal bagaimana ekonomi (baca: kesejahteraan) dikelola, apakah pajak akan naik? bagaimana dengan tunjangan kesehatan dan pendidikan?
Karena itu, banyak orang Amerika tak begitu faham atau peduli soal politik luar negeri. Mereka kaget, ketika tahu begitu banyak orang di dunia yang membenci negara mereka. Kebijakan luar negeri biasanya lolos di kongres tanpa pengawasan ketat dari masyarakat. Keputusan politik luar negeri biasanya adalah hasil kerja keras para kelompok lobi yang bertebaran di sana.
Salah satu contoh adalah AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) yang didirikan tahun 1950-an. Kelompok lobi ini, dibangun oleh komunitas Yahudi Amerika untuk menjaga kepentingan Israel. AIPAC memiliki lima atau enam pelobi resmi di Kongres dengan staf berjumlah 150 orang, dengan dukungan budget tahunan sebesar 15 juta dollar. Dana yang antara lain mereka kumpulkan dengan cara “memeras” diaspora Yahudi yang tinggal di Amerika. Mengeksploitasi perasaan bersalah para diaspora yang dianggap hidup enak di negeri orang, sementara saudaranya yang tinggal di Israel setiap hari harus berhadapan dengan intifada atau bom bunuh diri dari kelompok perjuangan Palestina.
AIPAC merupakan salah satu kelompok lobi paling berpengaruh. Di Amerika, kelompok lobi adalah sesuatu yang legal. Kegiatan dan tujuan politik mereka harus terbuka dan transparan, karena lembaga ini diaudit dan diawasi pemerintah. Mereka bekerja dengan cara meyakinkan dan memengaruhi para anggota kongres untuk mengambil keputusan sesuai rekomendasi mereka. Membantu pejabat lama yang selama ini mendukung mereka agar terpilih kembali dalam pemilu, atau sebaliknya “menghukum” mereka yang tak sejalan dengan kepentingan AIPAC, dengan cara mendukung calon lawan.
Kelompok diaspora Yahudi di Amerika sejak awal sadar harus mengorganisir diri untuk menjaga kepentingan politik mereka. Sebuah kesadaran, yang ironisnya justru belum muncul dari kelompok-kelompok yang selama ini tak setuju dengan keberadaan lobi Yahudi. Tapi masalahnya, kelompok-kelompok ini belum secara canggih mengorganisasi diri. Paling jauh, kekuatan politik mereka hanya digunakan pada saat pemilu.
Apa yang terjadi pada komunitas muslim Amerika pada Pemilu 2000 bisa menjadi contoh menarik. Pada saat itu, komunitas muslim Amerika yang berpusat di Washington DC sebetulnya punya suara signifikan untuk menentukan, apakah Bush atau Al Gore yang akan menjadi pemenang (terbukti hasil akhir diantara mereka sangat tipis sehingga harus diselesaikan melalui pengadilan).
Tapi apa yang terjadi ? komunitas muslim Amerika saat itu akhirnya memilih mencurahkan suara kepada Bush. Alasannya karena wakil presiden Al Gore yakni Joseph Lieberman adalah seorang Yahudi. Sebuah keputusan yang belakangan mereka sesali, setelah melihat sepak terjang Bush terutama pasca peristiwa 11 September.
Dengan catatan ini, saya kira terlalu berat beban yang dipanggul Obama. Kalau ingin memengaruhi Amerika, Anda bisa mulai dengan menjalin kontak dengan orang atau kelompok yang punya tujuan dan kepentingan yang sama di Amerika. Membangun network, dan bekerja keras untuk mencapai tujuan itu. Saya kira, inilah cara yang bisa dilakukan untuk “mengubah” Amerika. Tak cukup jika hanya berharap pada Obama.

apa yang ditulis oleh bung Andi ada benarnya,bahwa Amerika yang kita kira selama ini ternyata berbeda 180 derajat,yang ada sekarang rakyat Amerika sedang mencari jati dirinya.
saya berharap Obama yang duduk manis di Ouval Room White House,siapa tahu dengan duduknya Obama sanksi embargo senjata yang dikeluarkan oleh Amerika bisa diperlunak bahkan dilepaskan dari segala sanksi,kalau ini benar berarti Militer kita akan kembali ke jaman emasnya tetapi dengan melihat aspek HAM dan Hak Sipil tentunya
Comment by ervanca — March 28, 2008 @ 3:09 pm
Saya kok memiliki keyakinan bahwa bila Obama terpilih sebagai Presiden Amerika, akan muncul “kreativitas” di negeri ini oleh kelompok Islam yang melihat kemenangan Obama sebagai kemenangan kaum Muslim. Ia dinilai representasi kesuksesan Islam dalam memimpin negeri yang pernah menjadi korban teroris. Tentu ini adalah suatu kemenangan balik.
Lantas efek lainnya adalah semakin menegaskan langkah kelompok Islam (radikal) Indonesia untuk melakukan aksinya di negeri ini. Dengan demikian, jalan pluralisme di Tanah Nusantara akan semakin terjal.
Tidakkah Bung Andi melihat hal ini???
Comment by Dor! — April 6, 2008 @ 7:00 pm
kabbulamma’nu bush…!
Comment by IhsanJIe — April 15, 2008 @ 1:19 pm
bravo obama !!
Comment by jang — April 16, 2008 @ 12:13 pm
obama tidak bisa menjadi presiden AS…
yaitu karena dia tidak sejalan dengan Aipac maupun B’rit B’nai
Comment by torasham — May 21, 2008 @ 5:00 pm
tadi pagi saya liat di tv obama tetap akan dukung
israel…saya jadi ragu apakah obama bisa membawa angin sejuk bagi timur tengah khususnya…
Comment by sigit — June 5, 2008 @ 7:53 pm
apakah barack obama akan membangun pangkalan militer as di asia tenggara? khususnya di indonesia. kalo iya, bahaya besar buat persatuan dan kesatuan nkri
Comment by el_anam — August 4, 2008 @ 11:03 am
Tulisan anda bagus sekali. Sy baru tau ttg fakta beda tipis bush dan al gore. Jg ttg ke kuper an org amerika. Makasih atas infonya.
Comment by Manika — August 5, 2008 @ 10:08 pm