JK, Ayat-ayat Cinta, dan Tiga Dara
Rahman Andi Mangussara
Sudah lama, lama sekali, terbilang tahun, saya tidak menonton film Indonesia. Begitu lamanya, sampai saya sudah lupa kapan terakhir menonton, pun saya tidak ingat apa judulnya. Saya sulit untuk memastikan, apakah Pacar Ketinggalan Kereta atau Cinta dalam Sepotong Roti yang menjadi film terakhir yang saya tonton. Anggaplah, saya terakhir menonton Cinta dalam Sepotong Roti, itu berarti 16 tahun lalu, karena film besutan Garin Nugroho itu menjadi pemenang Festival Film Indonesia tahun 1992, sedangkan Pacar Ketinggalan Kereta diproduksi setahun lebih dulu.
Ibarat cinta, saya sudah lama patah hati dengan film Indonesia. Begitu dalamnya perasaan kecewa itu, sampai-sampai beberapa film dalam negeri yang bagus yang diproduksi setelah periode 1992, juga luput saya tonton. Tapi, tahun lalu, ketika Naga Bonar Jadi 2 beredar, saya mencoba mengobati patah hati saya itu dengan melangkah memasuki bioskop. Setelah itu, saya kembali tidak melirik film Indonesia, hingga Sabtu sore pada 22 Maret lalu, kawan saya menelepon dan mengundang saya menonton Ayat-ayat Cinta. ‘”Bagaimana kalau malam minggu ini kita menonton Ayat-ayat Cinta,’’ begitu ajakan di seberang sana.
“Nggak salah? Apa hebatnya film itu sampai saya harus mengorbankan acara keluarga,’’ tanya saya.
‘’Bukan filmnya. Tapi Pak JK ingin teman-teman wartawan ikut menemaninya menonton,’’ jawab kawan saya itu, yang sehari-hari memang bekerja di kantor Wakil Presiden. Saya pun bergegas ke Plasa Senayan.
Rombongan JK dipenuhi orang berambut cepak–tampaknya ia membawa semua pengawal presiden yang bertugas di kantornya –tiga menteri, sejumlah kerabat dekat, dan beberapa wartawan (di luar yang datang untuk meliput). Kami menunggu satu setengah jam, hingga pukul 21.30, karena JK tidak mau menonton di studio khusus yang sudah disiapkan. Di tengah-tengah waktu menunggu itu, saya bertanya kepada JK yang kebetulan menghampiri tempat duduk saya (JK punya kebiasaan mendatangi orang hanya untuk menanyakan kabar tanpa terkesan basa-basi dan dalam soal ini dia patut dipuji). ‘’Film apa yang terakhir Pak Wapres tonton, sebelum Naga Bonar Jadi 2 yang Bapak tonton tahun lalu?’’
JK membutuhkan waktu sedikit lama untuk menjawab. ’’Saya sudah lupa, tapi mungkin Tiga Dara,’’ jawab JK dalam logat Makassar yang kental.
Jawaban JK itu membuat saya kesulitan untuk menghindari kesimpulan bahwa dia bukan tipe orang yang rajin menonton film, setidaknya film dalam negeri, lalu mengingat-ingat judulnya, dan karena itu wawasan filmnya tidak memadai. Tiga Dara dibuat tahun 1956 dan dibintangi Bambang Irawan, Mieke Widjaja, dan Fifi Young. Film yang disutradarai Usmar Ismail itu pernah ditayangkan di TVRI sekitar tahun 70-an–semoga saya tidak salah mengenai tahunnya.
Kesimpulan saya mengenai JK itu seperti terkonfirmasi ketika dia memberi semacam sambutan sebelum masuk bioskop, yang secara gamblang mengatakan bahwa dia menonton Ayat-ayat Cinta demi menghargai anak-anak muda kreatif yang berada di balik film itu. Bahkan setelah selesai menonton pun, JK yang didaulat untuk memberi komentar, hanya berkata singkat: film ini bagus karena tidak membohongi akal sehat. Luar biasa. JK meringankan langkah menuju bioskop, sekalipun bukan pecandu film, hanya untuk memberi dorongan kepada anak-anak muda yang dia tidak kenal itu. Dia berada di tengah-tengah warganya untuk memberi semangat, dan JK melakukannya bukan sekali dua saja. Dia, misalnya, menonton Java Jazz yang saya yakin bukan genre musik yang dia senangi–setahu saya jarang orang Bugis suka jazz…he…he…–juga dengan semangat yang sama.
Tentang Ayat-ayat Cinta sendiri, saya sulit untuk tidak mengungkapkan keheranan kenapa film ini bisa menyedot perhatian publik. Jika data yang disampaikan produsernya, Manoj Punjabi, benar, sungguh luar biasa, hingga pekan ketiga Maret, film ini sudah ditonton 3 juta orang dan angka ini masih akan terus bertambah. Penontonnya berasal dari beragam latar belakang sosial dan agama, padahal film ini sarat dengan idiom dan perlambang agama Islam, sutradaranya sendiri Hanung Bramantyo di depan JK terang-terangan menyebut filmnya sebagai film agama, sebuah istilah yang bagi saya sulit untuk didefinisikan.
Keheranan saya, terutama karena film ini sama sekali tidak menghadirkan gambar-gambar indah mengenai kota Mesir. Piramida, hanya muncul sekali dalam durasi sekian detik, Sungai Nil juga tidak ada indah-indahnya, dan kampus Al-Azhar tidak pernah diperlihatkan dalam posisi kamera long shot, sehingga penonton tidak pernah tahu seberapa besar dan seberapa luas kampus universitas ternama itu. Semua itu terjadi karena memang tidak ada pengambilan gambar di Mesir. Jadi dari awal memang film ini tidak mengandalkan keindahan Mesir.
Lalu, jika tidak menghadirkan visual indah, dan isi filmnya sendiri sarat idiom Islam, kenapa penontonnya tidak hanya beragama Islam? Kenapa anak-anak SMA yang umumnya tidak mengerti ajaran Islam mengenai poligami, juga berebut tiket? Kenapa orang yang seumur-umur belum pernah ke bioskop, rela antre di depan loket? Dugaan saya adalah gabungan antara “timing” yang tepat dan pemasaran yang bagus.

ah,…. AAC biasa aja tuh, kagak ade hebatnya datar aja, kaku banyak adegan yg terlalu kaku dan buang2 waktu. promosinya aja yg kelewatan. masih mending lihat si naga jadi 2 bonar. ntah kapan ya sineas2 muda dan berbobot dan bisa dijual ke hollywood eh apa iya bisa…? mestinya para sineas kita belajar dong sampe ke paman sam. biar filem kita bisa “megang banget” kata si jablai.
Comment by a.karim siagian — March 25, 2008 @ 10:02 am
untuk angka penonton 3 juta orang kita patut salut buat film indonesia ini, jangan terjebak pada kondisi pesimis dengan perfilman lokal biar bagaimana pun ini usaha yang baik dari anak bangsa untuk negrinya.Terus terang kalau di suruh buat film saya tidak sanggup, mungkin anda sanggup tapi kena apa kog tidak berbuat ???
Comment by daniel.simanjuntak — March 26, 2008 @ 6:48 am
Film ini sampai digilai seorang pejabat mungkin bukan karena kebagusan filmnya. Film ini bagus soalnya kena imbas kebagusan novelnya. Kalau novelnya nggak bagus lalu film ini dibuat mana ada pejabat yang rela menonton dan disorot media demi film yang menghabiskan waktunya dengan sia2? Imbas film dari novel best seller ya seperti ini
Comment by evelynpy — March 26, 2008 @ 9:08 am
makin semaraknya film indonesia skrg ini saya bangga sekali melihat karya anak2 bangsa yang positif ingin membangun perfilmn yg sempat redup, walaupun cara menilai masing2 orang berbeda, AAC bagi saya adalah salah satu film terbaik yg pernah dimiliki indonesia meski penuh keterbatasan, bravo film indonesia!!!
Comment by lls setiawati — March 26, 2008 @ 9:09 am
stuju sama evelyn. Di sisi lain, pilem2x tentang “Cinta” slalu laku di kalangan anak2x muda dan remaja. Jadi trik buat ngakalin pilem ini bukan menjadi pilem agama, tp lebih kental nuansanya cintanya. Kalau judulnya bukan Ayat Ayat Cinta, tapi Ayat Ayat Tuhan mgkin rasa ketertarikannya ga begitu besar
Comment by Tigis — March 26, 2008 @ 11:48 am
emang bukunya top banget, mengandung nilai religi yang tinggi, khususnya mengenai hijab antara pria dan wanita yang bukan muhrimnya, filmnya lumayan bagus meskipun ada beberapa bagian yang sengaja dihilangkan untuk mempersingkat cerita, bisa dimaklumilah
Comment by all — March 26, 2008 @ 1:48 pm
Film Ayat Ayat Cinta tak lebih sekadar film sinetron yang ditayangkan televisi. Tak lebih.
Sebagai sutradara Hanung seharusnya berani menampilkan adegan seperti yang di muat dalam novelnya. Banyak sekali nilai-nilai agama yang bisa ditampilkan dalam film AAC. Dialog antara Fahri dan Maria dalam novel sangatlah bagus jika dimasukkan kedalam filmnya. Dialog antara dua agama.
Ada pula kejanggalan lain dalam penggambaran Hanung. Seperti adegan saat Fahri menasehati seseorang didalam kereta. Apakah selalu dengan suara yang keras barulah orang lain akan mengerti? Sosok Fahri dalam novel tegas bukan kasar.
Film berjalan lambat, mengalir datar tanpa konflik yang membetot seluruh rasa penasaran dan emosi penonton. AAC tidak ubahnya cinta segiempat beda negara.
Saya merasa usaha sutradara untuk ‘membohongi’ dengan film ini benar-benar keterlaluan. Bagaimana saya bisa memercayai bahwa Surya Saputra sebagai orang German? Sementara sosoknya kental di ingatan sebagai pemain film Indonesia. (Yaaa..iyaa…lahhhh)
Sutradara berupaya ‘memalsukan’ mereka, tidak ubahnya sandiwara-sandiwara atau film-film zaman dulu di mana yang berperan sebagai tentara Belanda adalah pemain dengan tampang Indonesia juga.
—
kau bukan siapa-siapa… sama sama makan tahu.
Comment by sikunyuk — March 27, 2008 @ 12:50 am
Setelah nonton langsung filmnya, ternyata biasa biasa aja, nilai agamanya tidak begitu menonjol, padahal kalau kita baca novelnya sangat luar biasa, menurut saya sangat jauh bedanya antara film dan novelnya
Comment by Moelyo — March 27, 2008 @ 12:22 pm
memang lebih enak mengkritik daripada di kritik
Comment by detnot — March 27, 2008 @ 2:18 pm
Idem. Setelah menonton filmnya imajinasi saya yang terbentuk setelah membaca novelnya malah berantakan gara-gara film yang tidak sesuai dengan novelnya. Sang sutradara terlalu berlindung pada dalih film dan novel adalah media yang berbeda sehingga sah-sah saja jika film dan novel menjadi tidak sama. Buku ini sudah terbit sejak 2005 dan sudah dibaca sekian juta orang sehingga ketika ada kabar buku ini akan difilmkan membuat banyak orang berharap dapat melihat visualisasi asli dari imajinasi mereka terhadap buku tersebut. Tapi ternyata kenyataan yang ada berbeda sehingga banyak menuai kekecewaan.
Kabar terakhir produser film tersebut akan membuat film versi extendednya yang akan menyamai versi novelnya nanti.
Untuk itu mari kita tunggu lagi filemnya yang akan datang.
Comment by fred-em — March 28, 2008 @ 10:36 am
usaha sang sutradara untuk membuat film ini patut dihargai, sama seperti ketika kita membaca harry potter begitu difilmkan hasilnya tidaklah sama dengan pada saat kita membaca novelnya begitu banyak adegan yang bisa dikatakan bagus terkadang tidak ada didalam film…bagi yang sudah menonton AAC alangkah lebih baik diimbangi dengan membaca novelnya sooo buruaaaaaann beli!!!!
Comment by xientha — March 28, 2008 @ 3:49 pm
apapun komentar kita,film AAC ttp mempesona!!!
sampai2 pak presiden aja nonton!
Comment by Putri — March 29, 2008 @ 4:45 pm
ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
Tidak usah berpikir tentang seni, budaya dan lain lain kalao masih memntingkan golongan dan parpolnya coba bayangkan Indonesia yang Kaya Raya ini selalu digerigoti oleh GANGS OF KEJAGUNG, GANGS OF BI, GANGS OF MA, GANGS OF POLRI, GANGS OF SBY, GANGS OF JK dan masih banyak lagi GANGS yang selalu bersekongkol dengan GANGS OF SENAYAN,
dan semua GANGS diatas dulu waktu mereka biasa atau kere yang mereka pikirkan adalah perut kalau sekarang yang mereka pikirkan adalah Uang segunung yang agan mereka gunakan untuk menyuap MALAIKAT agar mereka bisa mauk SURGA
HIDUP REVOLUSI
REVOLUSI ATAU MATI
REVOLUSI ATAU MATI
REVOLUSI ATAU MATI
WASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 8:53 am
gua aja heran, padahal banyak banget lo umat kristiani yang nonton tapi dilarang sama orang2 fanatik. jadi mau gimana lagi ? mereka mengkritik kaya iri gitu deh…
Comment by hahaha — March 31, 2008 @ 3:25 pm
Ayat-Ayat Cinta memang fenomenal. Di tengah maraknya film nasional bergenre cinta renaja dan horor, AAC menggebrak dengan tema sensasional, agama. AAC ibarat oase di padang tandus film religi.
Dari isi cerita, saya melihatnya memang lebih berbobot ketimbang film nasional era reformasi lainnya. Hanya NAgabonar JAdi 2 (NJ2) yang bisa disetarakan bobotnya dengan AAC. Bedanya, NJ2 lebih bernuansa patriotisme. Satu genre yang jarang diangkat selepas mati surinya perfilman Tanah Air.
Ada Apa Dengan Cinta juga sempat booming dan menyedot jutaan penonton itu lebih karena gebrakan awal bangkitnya film Indonesia. Tema yang diangkat pun cukup mengena di hati pemirsa, cinta remaja. AADC pun menjadi penyejuk kesuraman pemirsa dengan sinetron.
Kembali ke AAC, dari segi penokohan, memang sang tokoh utama Fahri yang diperankan Fedi Nuril kurang greget. Sosok Fahri yang religius tapi moderat belum dihayati sepenuhnya oleh Fedy. Image remaja urban dalam film Fedi terdahulu Mengejar Matahari dan Garasi masih kental.
Sedangkan tokoh Aisya yang peankan VJ Rianti, bolehlah dibilang cukup mewakili. Sayangnya, Rianti sendri mengaku belum membaca novel AAC sebelum syuting. Ini patut disesalkan sebab, seorang pemain film profesional setidaknua membaca dulu novelnya agar bisa lebih mendalami karakter yang akan diperankan. Apalagi, AAC diangkat dari novel besar. Bagaimana mungkin seorang Rianti yang notabene memerankan salah satu tokoh sentral dalam novel malah belum membaca novelnya???
Kalau dari segi pengambilan gambar, AAC patut diacungi jempol. AAC sudah cukup cerdas dan modern. Begitu pula sang sutradara HAnung Bramantyo. Ia cukup jeli meilhat peluang pasar. Ini bisa memotivasi sutardara lainnya untuk lebioh kreatif melihat selra konsumen tanpa mengekor kesuksesan orang lain.
Comment by RAMA — March 31, 2008 @ 6:52 pm
bagus kok…!walaupun kita gak nonton filmnya secara full dari awal hingga akhir, tapi ada pelajaran yang dapat dipetik dari itu semua, walaupun saya bukan pengamat film, tapi saya tahu betul apakah sebuah film itu bisa dijadikan suatu contoh yang baik dan tidak mengandung unsur erotisme didalamnya.kebanyakan kan sekarang ini film hanya mempertontonkan aurat para pemainnya karna bisa mendongkrak popularitas film tersebut, padahal apa???? itu cuma sekedar taktik belaka untuk menjerumuskan bangsa ini ke hal - hal yang negatif yang dapat merusak moral anak bangsa. film yang dibuat berdasarkan suatu pemahaman yang mengandung nilai agama pasti bisa menjadi suatu pelajaran baik bagi si pemain dan kru filmnya maupun para pecinta filmnya.terima kasih,,,,,….
Comment by diana — April 1, 2008 @ 1:47 pm
film AAC yah ckp salut deh…
ide cerita yg bgus tpi byk adegan yg ngbosenin…
tpi pas liat ktanya bpk. Sby dtang bwt nonton,yg terbayang:
1. hebat, yah berinteraksi lah dgn masyarakat
2. heran, liat AAC nangis tpi klo sya lbh nangis liat lumpur lapindo….
Comment by dewi — April 1, 2008 @ 3:08 pm
Salut dengan penggarapan film AAC walaupun tidak sedahsyat yang diharapkan dari novelnya,tapi itu hal yang lumrah,karena seting pikiran kita yang membaca dan hanung yang sutradara memang berbeda,demikian juga dengan pengarangnya, habiburahman, saya kira.
Misalnya, peran fahri yang saya bayangkan dari novelnya demikian berwibawa,cerdas namun bersahaja,baik dari omongan maupun prilakunya, tidak terwakili dengan pas.
Jujur saja, gak pernah sekalipun saya ikut desak-desakan di bioskop hanya untuk nonton film lokal, tapi setelah di tonton, ternyata gak rugi, cukup menyentuh.
Ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil.
Sejatinya kita harus lebih menghormati, menghargai, mencintai, dan peduli terhadap diri sendiri, keluarga dan orang lain karena hidup ini hanya sementara. So..berikanlah yang terbaik untuk mereka selagi kita bisa.
wassalam
Comment by imay — April 6, 2008 @ 11:34 am
Mungkin saya bisa membantu jawaban kebingungan Bung Andi mengapa film itu menyedot banyak perhatian publik?
Saya menyebut orang-orang yang menonton film tersebut dengan istilah “orang yang sedang mencocokan diri”. Artinya, saya melihat bahwa dari sekian banyak penonton AAC dengan ragam motivasinya, terdapat sejumlah kelompok penonton tersebut yang sedang melihat pengalaman pribadinya (yang dalam kondisi poligami) dalam film tersebut.
Bukankah poligami saat ini menjadi suatu yang biasa dan marak terjadi ? yang jumlahnya kian merangkak naik meski tak ada jumlah resmi yang menyebutkannya? Maka tak mengherankan, bila jumlah statistik penonton AAC menyentuh angka 3 juta orang karena di antara dari penonton itu adalah mereka yang sedang dipoligami, berpoligami, atau mungkin mencari inspirasi untuk menegaskan niat untuk berpoligami.
Comment by cenil — April 6, 2008 @ 6:22 pm
menurt saya film AAC patut kita hargai,yahh,,, walaupun memang jauh dari harapan,greget’a kurang dpt,akting pemain’a kurang mendukung,poko’a jauh bgt dr novel deh,,tapi kita juga perlu mengerti ga semua ide yang tertuang dalam tulisan bisa terwujudkan dalam kenyataan,kita bisa berharap tapi Tuhan yang menentukan toh!!! usaha sang sutradara perlu kita hargai loh,lagian kalo bkn kita, sapa agy yang bkal ngehargain perfilman Indonesia?? lagipula,menurt saya AAC lbh mending daripada film horor yg agy merajalela,,ga da bobot’a,,,
Comment by pepiyu — April 7, 2008 @ 6:25 pm
Seharusnya, AAC layak sebagai sinetron. Bukan layar lebar. Kita tidak mendapatkan kenikmatan dari unsur filmis-nya, karena didomonasi gambar padat. Mas Hanung, sampean Mbok yang jujur dalam berkarya, sekarang sekolah yang mengajarkan tentang perfilman bukan hanya IKJ, tetapi hampir seluruh Universitas di negeri ini ada jurusan komukinasi yang mengjarkan dasar-dasara broadcast. Mereka sudah tahu perbedaan Film layar lebar dan sinetron. Tidak heran, saat melihat film langsung protes mengalir deras. Karena sampean ubang setting Mesir ke India. Masak sungai Nil yang menjadi roh film itu, gambarnya itu-itu juga. Padahal penenton juga ingin tahu kayak apa sih Nil itu, bagaimana posisi Nil dengan Mesir. Bukan hanya dalam ungkapan verbal aja….
Comment by Awam — April 10, 2008 @ 7:59 am
Saya apresiasi positif film ini. Walaupun masih ada kekurangan disana sini tapi saya yakin kerja keras mereka tidak terbuang percuma. Saya heran kenapa masih ada bagian dari rakyat Indonesia yang menilai dengan kaca mata majikan. Saya yakin tataran dan suasana film di Indonesia belum seperti itu, film Indonesia masih harus dibangun dan didukung bersama-sama. Saya juga paham bahwa film ini harus tetap menguntungkan sehingga berbagai cara dilakukan untuk membuat film ini diterima oleh sebanyak mungkin orang, dan saya yakin Hanung juga mempertimbangkan itu. Saya mendukung sepenuhnya film-film Indonesia yang bertujuan “selain profit” juga mulia. Saya yakin jelek tidaknya film Indonesia bergantung kepada seberapa besar dukungan masyarakat terhadap mimpi itu.
Comment by Ade — April 10, 2008 @ 9:02 pm
kalau film itu disutradarai oleh Dedi mizwar mungkin lebih baik..aku liat kiamat sdh dekat ok banget tuh..tapi aku pengen dengar juga tuh komentar dari pakar perfileman..kalo aku lagi garap filem judulnya Ki.Joko bodo jadi presiden..tapi masih tahap lamunan..
Comment by idang-da'ang-idhar-idam — April 16, 2008 @ 1:59 am
Saya setuju dengan Bang Andi, seperti keheranan saya ketika seorang teman mengaku sudah enam kali masuk bioskop untuk menyaksikan film ini. Tapi ini kembali pada soal selera yang memang tidak harus dan tak akan pernah sama.
Comment by pegasus — May 28, 2008 @ 5:50 pm
dah pernah nonton film tiga dara ??
film itu jauh lebih bagus daripada ayatw cinta kalo menurutku..
bagi yang belum pernah menonton, dengar2 film itu akan diproduksi ulang dengan bintang dian sastro, christine hakim dan sutradaranya rudi sudjarwo..
semoga tidak kalah bagus dari film originalnya..
Comment by www.ayodyapulsa.com — July 22, 2008 @ 3:32 pm