March 24, 2008

Lapar

Filed under: Sosial Kemasyarakatan — anton @ 5:03 pm
lapar

Anton Bahtiar Rifa’i

Udara ini sudah terlalu bergemuruh bagi segala keluh kesah. Hari sudah terlalu letih bagi jiwa-jiwa yang murung. Lantas, kemanakah lelaki itu akan membawa kegelisahan hatinya? Nadi, lelaki itu, hanya bisa duduk dengan wajah kuyu di hadapan majelis hakim. Dalam tatapan matanya, bergulung kegelisahan.

Semua itu bermula dari ketakutan Nadi akan rasa lapar. Anak yatim warga desa Rancasanggal, Cinangka, Kabupaten Serang, itu adalah tulang punggung bagi ibu dan enam adiknya. Lelaki berusia 27 tahun itu mencari nafkah sebagai kuli panggul kayu setiap ada penebangan pohon di kampungnya. Namun, tidak setiap hari ada pohon untuk ditebang. Jika tak ada pohon untuk ditebang, itu berarti: tak ada upah untuk membeli beras.

Hingga suatu hari, Nadi tak juga mendapatkan uang untuk makan. Kebuntuan akal mendorongnya mencuri 20 gram emas milik tetangganya. Sialnya, emas itu ternyata palsu. “Saya maling soalna di imah geus te boga beas, padahal adi-adi saya masih laleutik, butuh dahar. (Saya mencuri karena di rumah sudah tidak ada beras, padahal adik-adik saya masih kecil, butuh makan),” ujar Nadi seperti dikutip harian Radar Banten. Nasib pun menggiring Nadi ke balik jeruji besi.

Hukum, sebagai salah satu sistem bernegara, sudah menjalankan fungsinya bagi pelaku kriminal kelas teri semacam Nadi. Namun, adakah sistem kenegaraan yang mampu menjawab kegelisahan hidup Nadi? Di manakah pemerintah –serta retorika para pejabat— ketika orang-orang yang takut akan lapar, orang-orang miskin itu, disesaki rasa gelisah?

Kita harus mendapati kenyataan tentang ironi nasib kita. Negeri yang pernah berjaya di bidang pangan ini ternyata tidak terbebas dari ketakutan akan rasa lapar. Kasus yang paling ekstrem adalah ketika ibu dan anak di Makassar, Besse dan Bahir, serta janin dalam kandungan, harus meregang nyawa setelah berhari-hari menahan rasa lapar. Berita-berita tentang gizi buruk adalah sesuatu yang sering kita baca di koran, sambil kita menyantap sarapan pagi. Manusia-manusia yang antre beras dan minyak adalah bentuk kepahitan kolektif yang ada di sekitar kita.

Mungkin, pengelola negeri ini sudah kehilangan inspirasi tentang pendekatan kemanusiaan. Seperti kita tahu, negeri ini memang memiliki segudang program untuk orang-orang miskin, seperti pembagian beras untuk rakyat miskin (raskin), konversi minyak tanah ke gas, juga program layanan kesehatan untuk rakyat miskin. Namun, terkadang program itu tidak dijalankan dengan kesungguhan hati untuk menyentuh orang-orang miskin. Program-program tadi tak jarang disertai dengan cerita penyelewengan dana raskin, pungli saat pembagian raskin, pembagian kompor gas yang jatuh ke tangan orang yang tidak berhak, serta orang miskin yang tetap kesulitan mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan. Data-data kemiskinan disusun, namun orang-orang lapar seperti Besse dan Bahir malah tidak terlihat.

Jika sudah begitu, program melawan kemiskinan menjadi sesuatu yang melayang-layang di langit. Sementara di bumi, orang-orang harus disesaki ketakutan akan rasa lapar. Mereka bergentayangan di ruang-ruang yang pengap, di jalanan, serta di lorong-lorong gelap yang tak tersentuh oleh kebijakan yang mengawang-awang. Menyedihkan? Ah, tanah ini sudah terlalu basah bagi setiap tetes air mata.

5 Comments »

  1. melihat berita yang ada di media sekarang ini sepertinya “mereka”, buta mata, hati dan tuli. Janji muluk pada saat kampanye hanya janji gombal saja, sumpah jabatan yang di ucapkan hanya simbol belaka. Mungkin yang terhormat lupa karena banyaknya kepentingan pribadi yang harus di utamakan dari pada kepentingan rakyatnya. Buktinya banyak pejabat yang terpaksa meninggalkan jabatannya karena melanggar hukum,dan harus berlama lama tinggal di hotel prodeo.

    Comment by daniel.simanjuntak — March 26, 2008 @ 7:09 am

  2. Membaca tulisanmu dik, membuatku berpikir, apa yang aku bisa lakukan untuk orang miskin?
    Penghasilan cukupan saja, tidak berkelimpahan..Waktu sudah habis untuk bekerja dan kuliah lagi, dari pagi sampai malam, sedang Sabtu Minggu adalah waktu untuk suami dan anak-anak serta membereskan urusan rumah tangga..Yang bisa kulakukan hanya menjadi ibu, isteri dan pegawai yang baik, seraya selalu bersiap-siap mengatur strategi ekonomi agar keluargaku tetap aman dan nyaman dari setiap dampak kebijakan pemerintah yang hampir selalu merugikan rakyat..Rasanya seperti hampir kehilangan harapan ya.
    Melihat bangsa ini, seperti melihat kapal yang hendak karam..
    Melihat bangsa ini, seperti bangsa yang terjajah, oleh pemerintahannya sendiri..

    Comment by yaya — March 26, 2008 @ 10:56 am

  3. kalo kita sedikit berpikir membumi, ke arah program riil dan bukan skedar ungkapan keprihatinan atau jargon2x simpati belaka, yg lumayan bagus diimplementasikan kira2x apa ya. Dapur umum gratis di skitar wilayah miskin ?

    Comment by Tigis — March 26, 2008 @ 11:50 am

  4. kalo bayak yng laper, itu negara lagi sakit..

    Comment by Brandy — March 27, 2008 @ 5:20 pm

  5. ingat lagu bongkar iwan fls, kalau cinta sudah di buang jgn harap keadilan akan datang, kesedihan hnya tontonan bagi mereka yang di perbudak jabatan

    Comment by anti.kemiskinan — March 29, 2008 @ 11:02 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment