Dari Ethiopia ke Makassar Berkawan Maut
Moh. Samsul Arifin
“Kalau kita bisa tidur nyenyak tiap malam tanpa rasa lapar, bersyukurlah” (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono). Seorang bocah di Makassar dipaksa bermain-main dengan el-maut karena lahir dari orangtua miskin. Aco membawa pesan tegas: Kelaparan kian dekat, mungkin sudah di sebelah kanan dan kiri rumah kita. Sedangkan Jojo menyeru dunia ini timpang. Maka datanglah ke Ethiopia, “rumah” malaikat pencabut maut.
***
Sebagian di antara Anda barangkali telah menonton “Beyond Borders” yang dibintangi Angelina Jolie dan Clive Owen. Film yang dirilis tahun 2003 ini secara telanjang menyodorkan fakta penting betapa dunia yang kita huni timpang. Di sebelah Utara, warganya menikmati kesejahteraan, kemakmuran dan kemewahan. Sedangkan di Selatan bumi, warga setempat bergelut dengan segenap penderitaan hidup, bencana, kekejian hingga kelaparan.
“Beyond Borders” dibuka dengan pesta keluarga Bouford, seorang yang bekerja untuk lembaga donor internasional di London. Di tengah pesta itu, hadir Sarah Jordan (Angelina Jolie)—pekerja administrasi di Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR). Sarah hadir di pesta tadi lantaran hendak diperkenalkan Henry, putra Bouford, kepada calon mertuanya itu.
Mulanya pesta itu berlangsung sesuai keinginan tuan rumah. Sampai kemudian muncul Nick Callahan (diperankan dengan baik oleh Clive Owen). Nick “menginterupsi” pesta dan menyemburkan kalimat-kalimat menyodok tentang tentang kelaparan di Ethiopia. “Tuan Bouford bagaimana Anda menggelar pesta di sini, sementara di Ethiopia malaikat maut mengintip lewat kelaparan. Tidakkah Anda ingin menyalurkan bantuan untuk memperpanjang hidup mereka yang tinggal hitungan hari?”
Bukan hanya berkata-kata, Nick menggandeng Jojo, bocah Ethiopia korban kelaparan dengan tubuh tinggal tulang. Bak jurnalis, Dokter Nick ingin menghadirkan fakta langsung di hadapan tuan-tuan kaya London bahwa kelaparan (juga penderitaan) masih ada di planet bumi. Usaha Nick justru berbuah cemooh. Seorang yang hadir di pesta itu melempar pisang tepat di dekat Jojo. Kamera menangkap wajah Jojo. Nick tahu pesan dari “pisang” tersebut. Si pelempar pisang beranggapan, bocah Jojo tak ubahnya kera, yang menangkap pisang lemparan pengunjung Kebun Binatang.
Adegan menyayat hati dipajang Sutradara Martin Campbell. Ya ampun…Bocah Jojo mengambil pisang itu, memakannya dengan gaya kera makan pisang di Kebun Binatang. Adegan ini mengingatkan saya pada film “Gie” yang dibesut Riri Riza tahun 2005 lalu. Tokoh Soe Hok Gie dalam film ini, suatu hari berpapasan seseorang yang makan buah yang diambilnya dari tong sampah. Nah, jika Gie mencegah orang tersebut meneruskan makan buah itu dengan memberinya sejumlah rupiah, Nick justru meminta Jojo makan pisang layaknya kera.
Sayang seribu satu. Gedoran Nick hanya terpaut pada satu hati: Sarah Jordan. Nurani Sarah terkoyak. Bocah Jojo pula yang membawa Sarah ringan melangkahkan kaki ke Ethiopia, Kamboja, hingga Checnya untuk menyapa kemanusiaan. Sarah melemparkan kemewahan, dan bergelut dengan kerja kemanusiaan bersimbah peluh.
***
Sepenggal adegan “Beyond Borders” itu mengingatkan saya pada Aco, bocah korban gizi buruk di Makassar akibat kemiskinan orangtuanya. Aco—yang tak ada satu media pun di sini yang menuliskan nama lengkapnya, termasuk koran lokal—mengalami dehidrasi berat. Berat badannya tinggal 9 kilogram, dari berat ideal 15-20 kilogram bagi bocah usia empat tahun. Aco selamat dari maut bersama dua kakaknya, Bahar dan Salma. Demikian pula sang ayah, Dg Basri. Sedangkan ibunya, Dg Basse, abangnya Bahir serta calon adik dalam kandungan ibunya meninggal disergap kelaparan.
Kasus Aco membawa pesan tegas: Kelaparan kian dekat, mungkin sudah di sebelah kanan dan kiri rumah kita. Seperti suara yang kian kencang dari barisan demonstran yang menuntut harga kebutuhan bahan pokok diturunkan. Atau mungkin itu pula yang dipikirkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di depan ribuan orang di Lapangan Desa Kertamaya, Bogor kala berujar, “kalau kita bisa tidur nyenyak tiap malam tanpa rasa lapar, bersyukurlah.” Presiden Yudhoyono menyodorkan data 800 juta rakyat dunia dengan 200 juta di antaranya anak-anak tak bisa tidur nyenyak setiap malam karena kelaparan. Tapi, Presiden tidak menyebut berapa warga kita termasuk anak-anak yang menderita kelaparan seperti yang diacunya.
Soal Aco, negaralah (baca: Pemkot Makassar) yang dipersalahkan. Pemkot Makassar dinilai ikut menyumbang terhadap derita Aco dan kematian ibu, abang dan calon adiknya. Ayah Aco, Basri tidak punya akses pada layanan kesehatan, apalagi pada sumber dana yang membuatnya bisa membuka usaha. Dengan penghasilan Rp 10.000 per hari dari mengayuh becak, Basri tak sanggup untuk menghidupi lima kepala. Apalagi di tengah masyarakat yang kian asosial, derita Basri dan keluarganya diacuhkan.
Rasanya, kurang tepat jika bergantung pada negara untuk menyelesaikan kasus lain seperti Aco. Negara sering salah diurus, dan karena itu kesejahteraan rakyat baru terpampang di dalam konstitusi. Begitu pula, jika berharap pada keguyupan masyarakat yang kian hari makin kendor. Sebagian kita bahkan sudah disetir konsumerisme—libido yang digerakkan oleh citra dan bukan kebutuhan.
Tepat di sini tawaran Muhammad Zuhri, seorang sufi asal Sekarjalak, Pati layak dicermati. Katanya, manusia di bumi ini hakikatnya agen Tuhan. Manusia dapat menjadi saksi bahwa Tuhan ada dengan mewujudkan sifat-sifat Tuhan di muka bumi. Ketika ada tetangga sakit, lapar, atau teraniaya, ia harus menjadi “orang pertama” yang memberikan bantuan. Dengan cara itu, demikian Zuhri, manusia tadi dapat menghalau syak wasangka orang-orang tadi di muka bumi. Bukankah kita sering mendengar seseorang berujar, “Saya merintih, meminta, tapi Dia (Tuhan) tidak mengutus siapa pun dari hamba-hambanya untuk menyelamatkan saya.”
Mungkin Basri, Basse atau Aco merintih seperti hamba tadi. Tapi, tak satu pun dari kita mengulurkan tangan. Kita abai untuk menelisik tetanda. Padahal, tetangga, pengamen, pengemis atau pekerja kasar di pasar tak lain dan tak bukan adalah wakil “wajah” Tuhan di muka bumi.
Solusi ini barangkali amat partikular, hanya menyelesaikan sebagian persoalan. Namun, apa lagi yang bisa diharapkan untuk memutus kematian sia-sia?

bagaimana mau tidur nyenyak tiap malam, kalau saudara kita banyak yang kurang giji
Comment by daniel.simanjuntak — March 21, 2008 @ 9:43 am
yang selalu tidur nyenyak, tidak perduli dengan saudara sebangsa yang kurang giji dan kelaparan, perlu dipertanyakan kewarganegaraannya
Comment by daniel.simanjuntak — March 21, 2008 @ 9:49 am
Wahai para penguasa negeri, bisakah biaya politik di ganti menjadi Biaya mengatasi kemiskinan
Comment by Chicha — March 22, 2008 @ 10:49 pm
Mudah2an ini bs jadi pelajaran ba9i kita semua.
Khususx pemerintah. Apa bisa tenang kalau rakyatx mati kelaparan sedang pemerintahnya hampir mati karena kekenyan9an??
Comment by Eny — March 25, 2008 @ 6:11 pm
ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
Tidak usah berpikir jauh ke Barat!!!!!!!!
dirumah kita sendiri (Indonesia), Bagaimana Seorang SBY, Jk dan konco2nya sering tidak pernah memperhatikan kesejahteraan rakyat jelata yang nantinya kita selalu dengar berita busung lapar dan gizi buruk ahirnya tewas mengenaskan, tak usah berpikir jauh ke daerah coba kita selalu jalan jalan menyusuri setiap jalan diJakarta ini selalu mendapati pemulung tanpa rumah yang sehat menurut SBY JK $ kroni. seharusnya seorang pemulung bukan dibuang yang seperti terjadi selama ini. mereka tak pernah diakui penduduk, tapi saya pun mengerti hati pemulung pun akan masa bodo terhadap semua kebijakan SBY JK $ kroni karena mereka pun sama seperti saya mencari nafkah tanpa perlu bantuan SBY JK $ kroni yang sok membela rakyat jelata. harusnya kita semua setuju untuk REVOLUSI sampai benar-benar kita MATI atau Kita BEBAS KORUPSI seperti yang selalu dikerjakan oleh GANGS OF KEJAGUNG, GANGS OF BI, GANGS OF MA, GANGS OF POLRI, dan masih banyak lagi GANGS yang selalu bersekongkol dengan GANGS OF SENAYAN,
HIDUP REVOLUSI
REVOLUSI ATAU MATI
REVOLUSI ATAU MATI
REVOLUSI ATAU MATI
WASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 8:47 am