Dalai Lama
Anton Bahtiar Rifa’i
Tahun 1933, bertepatan dengan tahun Burung Air, Tibet diselimuti mendung kesedihan. Pemimpin mereka, Dalai Lama ke-13, meninggal dunia. Namun dalam keyakinan Budha Mahayana, satu dari dua sekte besar Budhisme, para pemimpin agama akan mengalami reinkarnasi dan mereka sendiri yang dapat mengendalikan prosesnya. Selama reinkarnasi Dalai Lama belum ditemukan, maka pemerintahan Tibet dipimpin oleh Wali.
Melanjutkan tradisi yang sudah berjalan selama berabad-abad, seperti terurai dalam buku Reincarnation yang ditulis wartawati Daily Mail Vicki Mackenzie, orang-orang bijak dan para petapa Budhis mulai mencari tanda-tanda datangnya dewa-raja yang akan memimpin mereka di masa yang akan datang. Suatu ketika, sang Wali pergi menuju telaga sakral, Lhamo Namtso, 140 kilometer di tenggara Lhasa, tempat “orang-orang pintar” menatap ke dalam air untuk memperoleh gambaran tentang masa depan. Saat sang Wali menatap ke telaga–sementara angin bertiup dan air telaga yang biru berubah menjadi putih—ia melihat gambaran suatu tempat, di mana pohon persik sedang berbunga dan seorang wanita menggendong bayi. Wali pun mahfum, ia telah melihat pemimpinnya di masa depan. Tahun 1950, Tenzin Gyatso atau Dalai Lama ke-14 menjadi kepala Negara dalam usia 15 tahun.
Proses kekuasaan di Tibet memang melampaui pemahaman manusia. Namun, Dalai Lama bukanlah cerita dongeng. Ia ada di dunia nyata dan harus berhadapan dengan problematika kekinian. Seribuan warga Tibet tewas saat menentang aksi pendudukan Cina tahun 1959. Bukan hanya itu. Tibet juga harus menghadapi pemberangusan peradaban–Dalai Lama menyebutnya sebagai genosida budaya. Revolusi Budaya Cina yang masuk ke Tibet sejak 1966 hingga akhir tahun 1970-an ditandai dengan banyaknya biara dan artefak budaya Tibet yang hancur, serta transmigrasi bangsa Han Cina ke Tibet. Etnis Tibet sendiri terpinggirkan dari deru pembangunan. Ini menjadi bom waktu hingga beberapa waktu lalu terjadi demonstrasi anti-Cina di Tibet.
Ya, Dalai Lama bukan cerita dongeng. Ia bukanlah seorang yang gagah perkasa, karena ia juga tak berdaya menghadapi invasi kekuasaan Cina, bahkan sejak Mao Zedong masih berkuasa. Ia kini hanya berstatus pengungsi di Dharamsala, India. Pemimpin spiritual Tibet itu telah “jatuh” dari Istana Potala yang indah ke sebuah bungalow yang sederhana.
Meski begitu, peraih Nobel Perdamaian 1989 itu tetap menjadi sumber inspirasi bagi nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian. Bahkan, ia telah menggagas suatu “revolusi peradaban”, dengan memberi isyarat akan menghentikan tradisi menunjuk penggantinya, suatu tradisi yang berlangsung selama berabad-abad. Bayangkan, dengan usia Dalai Lama yang kini mencapai 73 tahun dan ditambah usia semua reinkarnasi Dalai Lama yang diakui, berarti tradisi tersebut telah berlangsung 671 tahun. Bahkan, belakangan, Dalai Lama juga menyatakan akan mengundurkan diri.
Pesan kuat dari kehendak Dalai Lama itu adalah: justru rakyat Tibet yang harus berperan menghadapi pendudukan Cina dan genosida budaya. Dalam sebuah wawancara dengan Vicki Mackenzie, wartawati Daily Mail, Dalai Lama pernah berucap, “Kadang-kadang saya merasa, mungkin saya adalah Dalai Lama terakhir…Sejarah Tibet panjang sekali, sedangkan sejarah Dalai Lama sangat singkat. Dalai Lama hanya menyangkut satu individu, yang lebih penting adalah bangsa kami.”
Dalai Lama rupanya ingin menempatkan perjuangan dalam ruang yang lebih luas, bahkan dengan mengorbankan kedalailamaan. Perjuangan menghadapi pemberangusan peradaban, genosida budaya, serta pelanggaran nilai kemanusian, memang harus ditempatkan dalam skala yang luas. Ia bukan lagi menjadi tugas individu atau komunitas, tetapi semesta manusia. Mungkin, Dalai Lama tak ingin terus-menerus melihat bangsa Tibet menjadi “kerdil”, seperti dalam penggalan puisi Cina:
Perahu kecil terlalu rapuh
Menahan kepedihan hati yang mendidih
(Li Ching Chao)

kita harus mencontoh semangat Dalai Lama dalam berjuang untuk bangsanya, agar kita bisa keluar dari kerisis di negri ini. Teori sudah banyak dikemukakan orang orang pintar bahkan terlalu pintar sehingga negri ini makin terpuruk !
Comment by daniel.simanjuntak — March 19, 2008 @ 7:39 pm
Bung Anton, Tibet emang hebat….!! walau pemimpinnya dipilih pakai mistik tapi mereka punya pemimpin yg hebat yang sayang ama rakyat. Beda ama indonesia yang pemimpinnya dipilih rakyat tapi gak peduli ama rakyat.. Bravo sctv!
Comment by Ahmad Sangga — March 20, 2008 @ 6:37 pm
mmm…apa yang bisa kita contoh dari kasus Tibet dengan dalailamanya? meskipun pemilihan itu terlahat janggal namun satu yang pasti, mereka percaya tersebut adalah benar dan didasarkan pada sesuatu yang mereka yakini benar (yaitu agama). jika pemilihan yang kita pakai selama ini kita anggap benar (dengan jargon demokrasinya), maka seharusnya kita telah bisa membuktikan kebenaran itu. Bung Anton, bagus loh tulisanya ^_^
Comment by Indah Rahmawati — April 17, 2008 @ 5:50 pm