Vincent Hakim R.
Sederhana tidak sesederhana makna kata-katanya.
Keserderhanaan. Sebuah kata yang amat sulit dipahami arti sebenarnya. Mungkin karena biasa dipakai orang untuk “menipu” makna sesungguhnya hingga sering bias. Banyak orang bersembunyi di balik arti kata sederhana. Arti kesederhanaan merangkul pikiran, memeluk erat kata-kata dan perilaku. Dan yang pasti, menyatu dalam kemesraan kedalaman penghayatan hidup spiritual penuh ketulusan. Dalam bahasa Jawa ada kata bermakna filosofis SUMELEH. Artinya: lepas, tulus ikhlas, tanpa beban, tidak ada pretensi negatif apa pun di belakangnya. Ada makna “kepasrahan diri” di sana.
Alkisah ada seorang duda tua miskin yang hidup bersama dua anak. Setelah istrinya meninggal, ia seorang diri mengasuh dua anaknya. Seorang anak laki-lakinya gagah dan tampan. Adiknya seorang perempuan cantik dan cerdas. Kemiskinan Pak Tua dan kondisi kedua anaknya sering jadi perbincangan warga desa. Pak Tua tidak terlalu ambil pusing dengan berbagai omongan orang. Dia tetap hidup sederhana dan rajin bekerja sebagai buruh tani di sawah.
(more…)
Anton Bahtiar Rifa’i
30 Maret, Hari Film Nasional. Dan, saya teringat film-film garapan almarhum Sjuman Djaya. Saya memang baru menonton beberapa dari 16 judul film karya sutradara sekaligus penulis skenario yang langganan Piala Citra itu. Namun, kesan itu melekat kuat: film-film garapan Sjuman selalu memancarkan bahasa jiwa yang kuat. Karyanya seringkali mengartikulasikan suatu kegelisahan atas realitas sosial.
Salah satu film Sjuman yang paling saya ingat adalah Si Doel Anak Betawi (1973), dibintangi Rano Karno yang ketika itu masih anak-anak. Film ini sangat menghibur. Namun, pencapaian Sjuman dalam berkarya tampaknya tidak pernah berhenti pada sebatas kata “menghibur”. Lewat film yang diadaptasi dari novel karya Aman Datoek Madjoindo itu, Sjuman – kelahiran Purworejo yang lebih merasa sebagai Anak Betawi—menyampaikan kegelisahan tentang nasib orang-orang Betawi yang terpinggirkan. (more…)
Andy Budiman
Bagi dunia, ada dua kabar baik dari Amerika Serikat. Pertama, sebentar lagi kepemimpinan Bush akan segera berakhir. Kedua, calon terkuat penggantinya adalah Barack Obama.
Obama, kini menjadi magnet baru di jagad politik dunia. Jajak pendapat dalam negeri Amerika Serikat, menempatkan Obama sebagai favorit menggantikan George W. Bush yang sebentar lagi akan menjadi the lame duck president. Di luar negaranya, dunia kini harap-harap cemas menantikan terpilihnya Obama.
Bagi dunia, Obama adalah metafora wajah Amerika yang lebih ramah. Ia berjanji, segera menarik pasukan Amerika dari Irak jika terpilih sebagai presiden. Dalam diplomasi internasional, ia berjanji merangkul para “musuh” Amerika: Hugo Chavez di Venezuela, Mahmoud Ahmadinejad di Iran, dan Fidel Castro di Kuba. Kehidupan masa kecilnya di Indonesia, juga membawa harapan Obama akan mampu lebih berempati kepada dunia ketiga, khususnya negara-negara berpenduduk muslim.
Pertanyaan penting kini muncul: apakah harapan ini pantas kita tempatkan pada seorang Obama? Saya khawatir, harapan dunia khususnya kita di Indonesia, terlalu berlebihan. Ada sejumlah alasan.
(more…)
Rahman Andi Mangussara
Sudah lama, lama sekali, terbilang tahun, saya tidak menonton film Indonesia. Begitu lamanya, sampai saya sudah lupa kapan terakhir menonton, pun saya tidak ingat apa judulnya. Saya sulit untuk memastikan, apakah Pacar Ketinggalan Kereta atau Cinta dalam Sepotong Roti yang menjadi film terakhir yang saya tonton. Anggaplah, saya terakhir menonton Cinta dalam Sepotong Roti, itu berarti 16 tahun lalu, karena film besutan Garin Nugroho itu menjadi pemenang Festival Film Indonesia tahun 1992, sedangkan Pacar Ketinggalan Kereta diproduksi setahun lebih dulu.
Ibarat cinta, saya sudah lama patah hati dengan film Indonesia. Begitu dalamnya perasaan kecewa itu, sampai-sampai beberapa film dalam negeri yang bagus yang diproduksi setelah periode 1992, juga luput saya tonton. Tapi, tahun lalu, ketika Naga Bonar Jadi 2 beredar, saya mencoba mengobati patah hati saya itu dengan melangkah memasuki bioskop. Setelah itu, saya kembali tidak melirik film Indonesia, hingga Sabtu sore pada 22 Maret lalu, kawan saya menelepon dan mengundang saya menonton Ayat-ayat Cinta. ‘”Bagaimana kalau malam minggu ini kita menonton Ayat-ayat Cinta,’’ begitu ajakan di seberang sana. (more…)
Anton Bahtiar Rifa’i
Udara ini sudah terlalu bergemuruh bagi segala keluh kesah. Hari sudah terlalu letih bagi jiwa-jiwa yang murung. Lantas, kemanakah lelaki itu akan membawa kegelisahan hatinya? Nadi, lelaki itu, hanya bisa duduk dengan wajah kuyu di hadapan majelis hakim. Dalam tatapan matanya, bergulung kegelisahan.
Semua itu bermula dari ketakutan Nadi akan rasa lapar. Anak yatim warga desa Rancasanggal, Cinangka, Kabupaten Serang, itu adalah tulang punggung bagi ibu dan enam adiknya. Lelaki berusia 27 tahun itu mencari nafkah sebagai kuli panggul kayu setiap ada penebangan pohon di kampungnya. Namun, tidak setiap hari ada pohon untuk ditebang. Jika tak ada pohon untuk ditebang, itu berarti: tak ada upah untuk membeli beras. (more…)
Moh. Samsul Arifin
“Kalau kita bisa tidur nyenyak tiap malam tanpa rasa lapar, bersyukurlah” (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono). Seorang bocah di Makassar dipaksa bermain-main dengan el-maut karena lahir dari orangtua miskin. Aco membawa pesan tegas: Kelaparan kian dekat, mungkin sudah di sebelah kanan dan kiri rumah kita. Sedangkan Jojo menyeru dunia ini timpang. Maka datanglah ke Ethiopia, “rumah” malaikat pencabut maut. (more…)
Anton Bahtiar Rifa’i
Tahun 1933, bertepatan dengan tahun Burung Air, Tibet diselimuti mendung kesedihan. Pemimpin mereka, Dalai Lama ke-13, meninggal dunia. Namun dalam keyakinan Budha Mahayana, satu dari dua sekte besar Budhisme, para pemimpin agama akan mengalami reinkarnasi dan mereka sendiri yang dapat mengendalikan prosesnya. Selama reinkarnasi Dalai Lama belum ditemukan, maka pemerintahan Tibet dipimpin oleh Wali.
Melanjutkan tradisi yang sudah berjalan selama berabad-abad, seperti terurai dalam buku Reincarnation yang ditulis wartawati Daily Mail Vicki Mackenzie, orang-orang bijak dan para petapa Budhis mulai mencari tanda-tanda datangnya dewa-raja yang akan memimpin mereka di masa yang akan datang. Suatu ketika, sang Wali pergi menuju telaga sakral, Lhamo Namtso, 140 kilometer di tenggara Lhasa, tempat “orang-orang pintar” menatap ke dalam air untuk memperoleh gambaran tentang masa depan. Saat sang Wali menatap ke telaga–sementara angin bertiup dan air telaga yang biru berubah menjadi putih—ia melihat gambaran suatu tempat, di mana pohon persik sedang berbunga dan seorang wanita menggendong bayi. Wali pun mahfum, ia telah melihat pemimpinnya di masa depan. Tahun 1950, Tenzin Gyatso atau Dalai Lama ke-14 menjadi kepala Negara dalam usia 15 tahun. (more…)
Yus Ariyanto
Asia, termasuk Malaysia, sempoyongan dihajar krisis moneter. Pada Oktober 1997, majalah Time menemui Anwar Ibrahim, Deputi Perdana Menteri merangkap Menteri Keuangan Malaysia. Lebih penting lagi, ia adalah “putra mahkota” Mahathir Mohamad, sang Nomor Satu.
Perbincangan mengalir. Dimulai dari penyikapan atas krisis sampai menyentuh soal persilangan pendirian di antara Anwar dan Mahathir. Sejumlah kalangan menyebut Anwar terlalu keras menabuh genderang reformasi sehingga justru seperti “duri dalam daging.” Time menjadi perpanjangan rasa ingin tahu publik: lalu, apa yang membuatnya bertahan? (more…)