Kata-kata
Vincent Hakim R.
Semua berawal dari kata-kata.
Bukan hanya seseorang. Ada banyak orang yang malu dengan kondisi di negeri ini yang tak juga membaik. Bahkan makin hari, kian tidak menentu. Tapi ada juga orang yang bangga dengan kondisi negeri ini, apa pun yang terjadi, bagaimana jua situasi dan kondisinya. Baik-buruk, salah-benar – inilah negeriku. Perbedaan ekspresi atas pemahaman makna cinta negeri pun bisa menjadi salah kaprah tidak karuan.
Negeri ini sejatinya tak pernah punya kesalahan apa pun. Kecuali para penguasa dan orang-orang di sekitarnya yang ikut mendukung kekeliruan turun-temurun. Baik secara sadar atau pun tidak. Nasib orang hanya diombang-ambingkan dengan permainan kata-kata.
Mulanya mereka menjual kata-kata. Lalu diberi mandat untuk mengelola negeri ini. Mereka bermain dengan kata-kata. Lalu dengan berbagai dalih berwujud kata-kata, mereka mengutamakan diri sendiri. Orang-orang yang telah dipercaya karena tebaran kata-katanya, ternyata mengabaikan dan melupakan kesejahteraan seluruh rakyat.
Rasanya baru kemarin Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo alias Foke menjual kata-kata dalam kampanye pemilihan gubernur. Akhirnya ahli Jakarta pun terpilih. Ketika Jakarta dilanda kebanjiran dan kemacetan di mana-mana serta proyek bus transjakarta dipermasalahkan, kata-kata pun berhamburan. Kini eranya penggusuran. Dan lagi, kata-kata meluncur bertebaran di mana-mana. Para korban penggusuran berkata-kata menuntut realisasi janji atas kata-kata.
Tragedi besar kemanusiaan lumpur Lapindo belum tuntas, entah sampai kapan. Namun orang-orang pemilik kebijakan hanya sibuk dengan adu argumentasi soal istilah – bermain dengan kata-kata. Para korban Lapindo telah kehabisan kata-kata dan hanya mampu berdemonstrasi menuntut hak. Sebuah wujud perjuangan akhir ketika kata-kata tak didengar dan tak ada lagi.
Ada apa dengan kata-kata?
Ada kata-kata yang kosong tanpa makna. Ada kata-kata yang dalam, penuh arti dan tajam bagai pisau silet. Orang-orang bijak cerdik pandai sejak zaman para nabi telah mengingatkan, betapa luar biasanya energi suatu kata-kata. Para leluhur keimanan ini mengibaratkan – dalamnya sebuah keyakinan terhadap kata-kata, akan mampu memindahkan gunung.
Orang-orang bijak mempersonifikasikan lahirnya alam semesta berasal dari kata-kata. Para filsuf Yunani purba pun tidak hanya sibuk dengan berbagai persoalan pemikiran fenomena kosmologi alam semesta dan antropologi saja. Mereka juga memikirkan tentang makna kata-kata. Orang-orang bijak dari Tiongkok klasik mengatakan, terlalu banyak berkata-kata justru akan menjauhkan diri dari kebijaksanaan.
Sebuah buku sederhana diberi judul “Kata-Kata” untuk merangkum betapa luasnya karya pemikiran seorang sastrawan-filsuf ternama Perancis Jean-Paul Sartre (1905-1980) yang amat kaya.
Di hampir semua tradisi dan kebudayaan, seorang bayi mungil “dipaksa” mengeluarkan kata-kata dalam wujud tangisan ketika baru meluncur keluar dari rahim sang ibu. Dalam perkembangannya, kemampuan berkata-kata si anak akan terus diasah agar terampil berkata-kata secara universal dan dapat bergaul secara sosial.
Betapa sangat pentingnya kata-kata dalam hidup manusia.
Kata-kata bisa menimbulkan ketenangan, kenyamanan, kedamaian, keriaan, cinta kasih, kebahagiaan, dan pengharapan. Tapi kata-kata juga bisa melahirkan fitnah, konflik, kebencian, peperangan, dan petaka.
Kata-kata tak sekadar kata-kata
Bermainlah dengan kata-kata
Tapi jangan coba-coba mempermainkan kata-kata
Permainan kata-kata, akan menuai kata-kata
Kata-kata yang dipermainkan akan kehilangan makna sejati kata-kata
Kekuatan kata-kata terletak pada kejujuran makna kata-kata
Berkata-katalah… dan berhati-hati dengan kata-kata.

saya setuju dengan apa yang ditulis diatas,pemerintah REPUBLIK INDONESIA mulai dari Presiden hingga mungkin Kepala RT adalah negara yang berdasarkan kata - kata BUKAN kata - kata dengan tindakan nyata dan ini terbukti dengan adanya banjir,lumpur lapindo dimana pemerintah hanya bisa bermain dengan yang namanya KATA dan rakyat yang sengsara….
lebih baik negara ini diganti namanya menjadi Republik Kata Indonesia…
Comment by ERVANCA — February 28, 2008 @ 7:46 pm
Dari pada mengguru terus, alangkah baiknya apabila kita sendiri melakukan tindakan nyata untuk mengobati Indonesia.
Comment by Putra — February 28, 2008 @ 8:48 pm
Tuhan, jangan Kau sesatkan aku dalam permainan kata, sebab kupaham penjara yang paling ngeri adalah kata.
Keindahan dan kebenaran kini terbunuh dalam kata, gila!!!
Dan orang-orang pun saling membunuh karena kata. Kini jangan cari bentuk-bentuk keindahan pada baris-baris kataku.
(ujan ujan becyek ngga ada ojyekkk*) *cinta laura
Comment by sikunyuk — February 29, 2008 @ 1:13 am
Tidak ada yang salah dengan Kata-Kata……..
Yang salah ada pada kita nya yang tidak bisa berbuat suatu tindakan nyata untuk Indonesia Tercinta.
Jangan kan tindakan nyata…bermimpi membantu diri sendiri aja masih susah apa lagi membangun indonesia..
Oh Tidaaaaaaakkkkkkkkk!!
besok Saya coba deh Bantu indonesia…Bantu dengan kata “DOA” aja yah………….:P
Comment by pasya The b16_one Jgc4 — February 29, 2008 @ 12:14 pm
Seorang Ulama pernah berkata yg maksudnya, bahwa “Hati adalah raja, sedangkan anggota tubuh adalah bala tentaranya. Jika Sang Raja memerintahkan yg baik, maka bala tentaranya akan melaksanakan perintah yg baik itu dan jika Sang Raja memerintahkan yg buruk, maka bala tentaranya akan melaksanakan perintah yg buruk itu”.
Dan anggota tubuh itu meliputi seluruh bagian yg ada pada tubuh manusia, bukan hanya lidah sebagai alat untuk menelurkan kata-kata, melainkan tangan, kaki, pikiran dan seluruh bagian yg mendukung terlaksananya suatu tindakan/pekerjaan. Dan suara hati kecil manusia tidak akan mampu berbohong ketika melakukan suatu kesalahan, karena disanalah letak perebutan antara kebaikan [bisikan malikat] dan kejahatan [bisikan syeitan]. Akan berwujud tindakan seperti apa? tergantung siapa yg dimenangkan.
Alangkah baiknya dengan sedikit bicara, kita lebih banyak bekerja. Ada sedikit ilmu, namun wujud dengan amal-amal. Semoga petunjuk Allah SWT senantiasa bersama kita.
Wallahu a’lam.
Comment by Rozy — February 29, 2008 @ 5:16 pm
kata ..kata !..bagaimana kalau kita dekonstruksi al la derrida …satre sudah usang pak Vincent!. Filsafat adalah proses dan kita kini diperhadapkan antara kata- kata dan makna. Bagaimana kalau kata - kata bukan lagi lagi esensi al a satre .. tetapi roh sekaligus tubuh ? Tidak ada ada lagi pemisahan.Ingat! jangan bermain dengan kata - kata, bila anda tidak bisa membedakan kata dan makna ….
Comment by Epicurus — February 29, 2008 @ 10:26 pm
kata2 yang baik memang harus diiringi dengan kelakuan yang baik
Comment by orang baik — March 4, 2008 @ 3:38 pm
betul sekali, manusia yang dipegang adalah kata2nya yang nantinya akan dipertanggung jawabkan dihadapan ILLAHI yaitu ALLOH YANG MAHA BESAR………………………
saya masih ingat dengan pembimbing saya ketika praktek di rumahsakit jiwa dr.marzuki mahdi bogor.beliau berpesan’JAGALAH BIBIRMU KARNA DENGAN BIBIRMU KAMU KAN MENGELUARKAN KATA2 YANG MANA KATA2 ITU BERMAKNA KAMU HIDUP BAIK,BAIK DI HADAPI TUHAN ATAUPUN MANUSIA’
dari sana saya berpikir ya orang katakanlah non muslim (bukan berarti ane fanatik agamaku )bisa jaga bibirnya kenapa yang sebagian besar muslim banyak ngomong doang tidak mengontrol sedikit kata2nya pun kita sudah lelah……betul bahwa survai pola tingkah laku seseorang berhubungan dengan kata2 yang diomongkannya.
untuk indonesia allohu akbar…..
SUWAH
zakatun@yahoo.co.id
Comment by suwah — March 4, 2008 @ 8:24 pm
kalo gak salah ada di Quran deh. amat besar kebencian di sisi Allah bagi orang yang tidak melaksanakan apa yang menjadi perkataannya..jadi gak munafik gitu, mulai dari diri sendiri. insya allah kita dapat mengubah Indonesia. amin.
Comment by thyA — March 5, 2008 @ 6:53 am
Kata - kata adalah kuasa lidah selain oleh Tuhan. Maka Lidah adalah pedang tak bertulang. Karena lidah kerap membunuh dengan umpatan. Karena lidah cenderung menghancurkan dengan ejekan.
Comment by Mihael Ellinsworth — March 15, 2008 @ 5:11 pm
setuju dengan pernyataan vincent hakim. semua berawal dari kata-kata, tetapi yang membedakan kita dengan negara-negara maju lainnya adalah bagaimana kata-kata tersebut menjadikan negara bekerjasama, menjalin solidaritas untuk majunya negara, kita masih punya satu poin penting yaitu kita adalah negara yang memiliki agama, agama yang asli tidak dicampuri unsur duniawi apapun akan membawa negara indonesia maju dan berkualitas.
Comment by herdz — March 18, 2008 @ 5:19 pm
karena sudah banyak rakyat di negeri yang tidak percaya dengan kata kata tokoh tokohnya, makanya golongan putih (golput) makin tambah jumlahnya !
Comment by daniel.simanjuntak — March 19, 2008 @ 7:00 pm
Sudah saatnya dunia pendidikan kita meningkatkan Wajib belajar 12 th, soalnya jika masih “WAJAR 9 tahun” wajar pula jika para pemimpin kita tindakannya masih pada “KATA-KATA” lha wong rakyatnya juga baru bisa mendengar kata-kata saja sudah tenang, tenteram dan bahagia.
Comment by Chicha — March 22, 2008 @ 10:59 pm
kata.. KATAK! cukup satu kata..ketika ingin bicara ttng bara didada..cukup satu kata..”kalau mnurut ane sih tergantung niatnya ketika ingin berkata..kr kenyataanya kata itu belum takdir..makanya politisi yg banyak berkata itu niatnya suka2 dia..kr siapapun takkan pernah tau niat dalam dada..Waspadalah..Waspadalah krna pd setiap kata itu mengandung SIHIR..(aku di negri para penyair padang pasir…yg sangat kesohor dikala itu…tapi para penyair itu semuanya takluk dg kata2 MUHAMMAD SAW..Dialah sang ahli kata2 yg paling sesuai dg perbuatannya..)”
Comment by idhar/idang/da'ang/idam — April 17, 2008 @ 1:50 am
Barangsiapa percaya kepada Allah dan hari akhir/kiamat maka hendaklah dia berkata kata yang baik dan benar atau DIAM.
Comment by Arifah — April 17, 2008 @ 4:44 pm
Bukan banyak kata..Ketika ingin bicara..Tentang bara didada..cukup satu kata…”MEMANG kata yg baik bisa menyejukan hati..menentramkan jiwa”seperti yg sering diucapkan oleh Aa Gym..namun sgalanya berubah maknanya..tak lagi menyejukan hati apalagi menentramkan jiwa!!kr kisah cintanya tak direstui oleh masyarakat umum..bukan kr KATANYA yg tak eperti dulu..tetapi kr prilakunya tak sesuai dg kata2…(JEDDAH..bersama malam yg tak pernah berkata..namun selalu kutunggu kata CINTANYA..)
idangdaang@yahoo.co.id/idhar@sctvnews.com
Comment by idhar/idang/da'ang/idam — April 20, 2008 @ 2:18 am