February 22, 2008

Tuan Daendels, Al Fatihahku Buat Para Korbanmu

Filed under: Daerah, Lain-lain, Tokoh — syamsul @ 10:25 am
tuan-daendels-al-fatihahku-buat-para-korbanmu

Moh. Samsul Arifin

Namanya Herman Willem Daendels. Bacalah nama ini dari buku sejarah di bangku sekolah, Anda bakal terhubung dengan “luka” yang menganga! Ya, proyek ambisius Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808-1811) yang merentangkan jalan antara Anyer-Panarukan itu membawa petaka bagi anak bangsa. Ada beragam data ihwal korban tewas karena kerja paksa membangun jalan yang menyusuri sedikitnya 39 kota tersebut.

Sumber Inggris melansir korban sebanyak 12.000 orang. Ada pula yang menyebut “hanya” 5.000 orang. Pramoedya Ananta Toer dengan sangat baik “mendokumentasikan” kekejaman Daendels itu dalam bukunya, “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005)”. Jalan Raya ini tak hanya menyusuri kota besar, tapi juga kota-kota kecil semacam Juwana (Pati), Porong (Sidoarjo) atau Bangil (Pasuruan). Dengan tangan besi nan bengis, Daendels hanya perlu setahun untuk merampungkan jalan sepanjang 1.000 kilometer tadi.

Porong mengingatkan kita dengan “tragedi geologis” bernama Lumpur Lapindo! Puluhan ribu orang saat ini harus kehilangan rumah, tanah dan aset-aset mereka (dari ekonomi, sosial hingga budaya) lantaran semburan lumpur yang pecah, akhir Mei 2006. Manusia Porong, hakikatnya mesti menyadari betul bahwa korporasi dapat meluluh-lantakkan kebudayaan manusia dari musabab yang pada awalnya sepele.

Runyamnya, tak ada kata final (yang bersifat konsensual) di antara para geolog apakah semburan Lumpur Lapindo akibat fenomena alam, kelalaian manusia (human error) dan korporasi atau bahkan kombinasi dari keduanya. Geolog (maaf, geolog juga manusia!) kebetulan pecah suara untuk menyimpulkan apa penyebab semburan lumpur di Porong itu. Yang jelas, seluruh ingatan yang berada di Porong kini dan masa depan tak memiliki situs untuk dikenang. Tanpa situs, sejarah menjelma menjadi barisan huruf tanpa materi. Dari tiada menjadi ada, dan akhirnya kembali tak ada.

Sedangkan Juwana? Siapa pula yang mengingat nama ini, bahkan ketika Jalan Raya Pos dapat dirampungkan jutaan anak bangsa tahun 1808 silam? Yang terbaca, dari Juwana. Kota kecil ini dilalui aliran sungai Silugonggo, salah satu Daerah Aliran Sungai (DAS) Waduk Kedung Ombo. Memiliki pelabuhan, yang jadi salah satu tulang punggung kekuatan perekonomian. Penduduknya, bergantung pada hasil tambak dan laut semacam bandeng, udang, tongkol, kakap merah, kepiting, ikan pe, cumi, dan kerapu.

Juwana mengemuka akhir-akhir ini, karena kota kecil itu tersambung dengan “hujan”. Hujan di Juwana, Pati telah membuat badan Jalan Raya Pos tergenang air. Truk, bus, kendaraan pribadi hingga sepeda motor mesti minggir atau membiarkannya jalan bak siput. Saking tingginya genangan air, kendaraan tak bisa jalan. Antrean kendaraan puluhan kilometer tak terhindarkan. Transportasi stop, sehingga hilir-mudik pasokan pangan terkendala hebat. Pati-Juwana teronggok, bencana alam sekali lagi tak bisa benar-benar dikalahkan manusia.

Ah, ini belum bulan Juni, Mas Sapardi Djoko Damono. Tapi, hujan Februari ini begitu hebatnya, sampai-sampai saluran drainase di sekujur Juwana, Pati hingga Semarang tak mampu menampungnya. Dalam “Hujan Bulan Juni”, Sapardi menggerojok kita bagaimana memaknai hujan dengan hati bening bak filosof bijak bestari.

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

“Hujan” Sapardi adalah sebuah materi yang dirindu. Hujan itu tak meninggalkan akibat yang bersifat merusak, sehingga “dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu”. Beda dengan hujan yang jatuh di seantero Nusantara sekarang, termasuk di Trans Sulawesi, Trans Sumatra atau Jalan Raya Pos.

Hujan di ketiga jalan itu mengelupaskan aspal, meninggalkan lubang menganga dan genangan air. Praktis hujan (dan cuaca buruk) Februari ini sudah bagai musuh bagi manusia Indonesia, apalagi bagi pihak-pihak yang bergerak di bidang transportasi. Kita tak henti menuai bencana pada saat siap siaga belum direntangkan.

Tuan Daendels, warisanmu, Jalan Raya Pos masih ada. Namun, bukan Tuan alamat terima kasih kami. Al Fatihahku buat para korbanmu. Mereka telah menjadi pahlawan bagi kami untuk menguruk gunung-bebukitan, memecah batu dan membentangkan jalan tertata rapi. Kusuma bangsa yang tersimpan dalam hati.

9 Comments »

  1. memang ada konsekuensi dari semua yang telah dilakukan oleh Daendels sekalipun, banyak kerugian maupun keuntungan yang diperoleh. Tetapi kita lupa menjaganya agar kerugian yang telah dialami oleh pendahulu kita tidak hilang begitu saja, pengorbanan mereka sangat berarti bagi bangsa ini. Yang jelas kita harus menghargai mereka dengan menjaga agar jalan yang sudah dibuat tidak dibanjiri lagi, lalu bagaimana? apa yang dapat kita lakukan. Saya rasa LIPUTAN 6 dapat menyajikan liputan menarik tentang apa yang menjadi penyebab semua itu, dan saran saya kita dapat pelajari perubahan tata guna lahan dan banyaknya alihfungsi lahan pertanian dan kehutanan menjadi fungsi lain. Undang saja pihak ahli dari universitas spt UGM, UNPAD, ITB, dll untuk menyajika data konkrit penyebabnya, mungkin sebelum ditanyangkan dpat dilakukan diskusi forum khusus ini blog ini. Dari kacamata saya sebagai perencana (muda) wilayah, banyak rencana tata ruang yang ‘amburadul’ dalam arti fungsi ekologis SDA sudah berkurang daya dukungnya. banyak DAS (Daerah Aliran Sungai), jaringan irigasi, persawahan dsb tidak terawat atau tidak dimengerti fungsinya, sehingga banyak sempadan sungai ataupun penebangan pohon yang mengakibatkan tingginya sedimentasi di aliran sungai, sehingga membuat air hujan tidak dapat terserap oleh hutan. Karena hutan tak ada, run off tinggi sekali. Ini memang proses tetapi bukankah kita dapat mencegahnya sekarang?!

    Comment by yudi — February 22, 2008 @ 3:27 pm

  2. Tidak ada dalil, baik dari alquran & hadits mengenai kiriman atau bacaan alfatihah untuk orang yang sudah meninggal melainkan bersedekah atas nama si mayat dan mendoakannya, bisa berguna baginya dan sampai kepadanya, menurut ijmaâ kaum muslimin/ulama.

    Comment by al.asahany — February 23, 2008 @ 11:19 am

  3. walau diberbagi tempat di pulau jawa mengalami banjir yg terlihat begitu menyedihkan tapi ternyata di madura ternyata mengalami “penyurutan air laut”. kayaknya air seperti dipindahkan oleh hujan dari laut ke daratan.

    Comment by surya — February 25, 2008 @ 10:14 am

  4. blog baru nya liputan6 bagus juga

    Comment by imroen — February 25, 2008 @ 12:37 pm

  5. bagus

    Comment by imroen rosyadie — February 25, 2008 @ 12:37 pm

  6. cukup sudah kita melihat rakyat kecil ditindas. tapi alangkah baiknya kita yang “bertindak” sendiri. untuk mengusutnya……

    alangkah lebih baik apabila kita berharap akan “kejayaan ” kita bersama

    Comment by Zanikhan — February 28, 2008 @ 12:34 pm

  7. tapi kuat2x ya orang indonesia bisa naik dan turun gunung ditambah mecahin batu kali yang keras2x gitu… gw mah kabur ke laut dah mendingan… hehehe

    Comment by axeldead — February 28, 2008 @ 7:09 pm

  8. Akhirnya Al Fatihah menjadi hadiah bagi mereka para korban….

    Comment by Aulia — March 5, 2008 @ 11:08 am

  9. Alhamdulillah Allah telah mengirimkan peringatan buat umat NYA supaya kita tidak lalai mengingat kekuasaannya.

    Comment by andri — March 6, 2008 @ 10:30 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment