“Jangan Berharap Jakarta Tertib, Meskipun Kita Sudah Mati”
Gunawan
Pesimis memang. Tapi itulah faktanya, mungkin hampir semua penduduk Jakarta punya perasaan itu. Akibat putus asa orang jadi skeptis, masa bodoh.
“Berapa jumlah bintang di langit? Tak terhitung! Berapa banyak jalan rusak dan berlubang di Jakarta? Tak terhitung!”
Kalimat di atas adalah jawaban seorang supir taksi, waktu saya minta sarannya mencari jalan yang lancar. “Gak bisa milih jalan pak, semua sama. Terserah bapak deh mau lewat mana,” katanya.
Saya hanya terpaku. Untuk bisa berkendara dengan layak yang merupakan hak saya sebagai warga kota dan pembayar pajak yang taat, saya tidak punya pilihan. Saya dipaksa untuk menerima apa adanya, no choice!
Ini salah satu dari sekian banyak “paksaan” yang harus dialami warga kota Jakarta. Kita terpaksa antri minyak tanah, kita terpaksa tidak makan tempe dan tahu, terpaksa mengungsi karena banjir, terpaksa tidak jadi terbang karena bandara ditutup, dan kita terpaksa memilih calon Gubernur karena tidak ada pilihan lain dari jalur independen.
Nah, lo! Ngomong-ngomong kemana ya Gubernur? Tahu gak sih beliau kalau jalan buanyak yang rusak? Pasti tahu dong, setiap hari pasti beliau melewati jalan-jalan ketika ke Balai Kota. Apa tidur waktu di jalan? Apa…mirip doang? Hahahaha…iklan deh.
Baiklah! Kita anggap saja Foke tahu bahwa jalan pada rusak. Foke tahu bahwa infrastruktur jalan rusak, akan berakibat laju perekonomian terhambat, kerugiannya melebihi biaya perbaikan jalan itu sendiri. Waktu banyak terbuang sia sia karena macet. Tapi … Mana ekspresinyaaaa…? Kok gak seperti waktu kampanye? Begitu ekspresif mengatakan, “ Masalah Jakarta, serahkan pada ahlinya, yang ada kumisnya.” Kemon…Bang Foke, rakyat sudah percaya dengan memilih ente, balikin dong kepercayaan itu dengan tindakan konkret.
Apa jawaban bang Foke? “Membenahi Jakarta tidak bisa dalam waktu singkat, Mas!” “Apalagi saya baru menjabat, yang bisa saya lakukan baru merencanakan dasar dasarnya saja dulu. Kalau harapannya lebih dari itu, anda salah memilih saya. Pilih aja tukang sulap.”
Hah? Selama sepuluh tahun mendampingi Bang Yos, seharusnya sudah berpengalaman, bukan? Oke. Fauzi Bowo sudah terlanjur jadi Gubernur, kalaupun masyarakat harus menunggu kapan rencana beliau akan terwujud, mestinya ada target dong ya, setahun, dua tahun, atau lima tahun? Selesai dong masa jabatan? So … blame it on the nature!
Bruuk!!!. Dua motor beradu persis di depan taksi yang saya tumpangi. Rupanya salah satu motor awalnya hendak menghindari lubang di jalan, tapi dari sisi kiri melesat cepat biker lain, terjadi adu mulut saling menyalahkan. Wajah keduanya nyaris saling tempel, masing-masing suaranya lantang dan keras. Saya tidak tertarik untuk mengetahui siapa yang salah. Bagi saya aneh, jarak sedekat itu kenapa harus teriak-teriak? Berbisik pun seharusnya sudah terdengar. Jarak mereka memang dekat, tapi hati keduanya sangat jauh, di belah jurang emosi dan ego.
Itulah akibat hukum dan peraturan tidak dijalankan dengan benar, tidak ada panutan bagi masyarakat untuk urusan sosial, hasilnya banyak orang apatis, egois, apa yang dimaui terpenuhi. Orang jadi tidak toleran. Lihat saja ulah pengemudi kendaraan bermotor di jalan, prilakunya seperti pembalap di sirkuit, mobil lain adalah lawan yang harus dilewati, pantang melihat pantat mobil lain, kalau perlu serobot. Kalau saja mereka mengerti bahwa definisi mengemudi adalah mengatur kecepatan dan arah kendaraan dengan mengikuti aturan lalu lintas, tentu tidak semrawut di jalan. Demikian juga dengan para biker, selama paradigma “naik motor lebih cepat” mereka pegang, maka tidak akan mengubah cara mereka berkendara, selap-selip, tidak sabaran, pantang berhenti walau cuma satu detik, karena merasa harus (pasti) lebih cepat itu. Akhirnya semua menyamaratakan bahwa bikers sebagai pencetus kemacetan.
Gerak lalu-lintas di Indonesia sudah seperti air mengalir, setiap celah kosong pasti terisi, melawan arah gak peduli. Tidak hanya di jalan raya, di pemukiman kecepatan mobil terbatas, tapi tetap saja ngebut. Akibatnya penghuni sakit hati maka dibuatlah undakan atau polisi tidur, gak tanggung tanggung setiap 15 meter ada undakan, gantian pengendara yang sakit hati. Nah … haruskah kita saling menyakiti seperti ini? Kalau sudah begini, jadi urusan siapa? Gubernur? Mana mau bang Foke disalahkan, siapapun tidak ada yang mau disalahkan. Jakarta ruwet seperti ini karena semua orang ikut menebar “racun,” secara langsung maupun tidak. Jalan rusak, macet, banjir, adalah kerugian yang akan selalu kita alami. Paling berbahaya adalah jika jiwa dan mental ikut kena racun. Makan waktu tahunan untuk penyembuhan.
Maka jangan berharap bisa melihat Jakarta tertib, jika kita mati Jakarta masih juga ruwet, sebaiknya siapkan surat wasiat untuk anak cucu kita, satu kalimat saja.
“ Anak dan cucuku, jangan kalian tangisi kematianku, tapi menangislah untuk keruwetan Jakarta.”
Salam SCTV

Dramatis, mas. Sad but true. Mungkin memang pejabat itu kalo mau bobrok ya bobrok sekalian, biar revolusi semakin cepat ?
Comment by reynaldi — February 22, 2008 @ 10:43 pm
Disadari atau tidak. Wajah Foke memang mirip Rhenald Kasali (RK), salah satu enterpreneur top Indonesia. Orang berharap banyak pada RK. Orang memimpikan RK memimpin Jakarta. Tapi RK ogah. Momentum ini tampaknya dimanfaatkan betul oleh Foke. Dengan modal tampang mirip RK, dia berani maju jadi pemimpin Jakarta. Padahal secara kualitas, no comment deh. He..he, just kidding. Susah ya, jadi manusia. Apalagi manusia Jakarta.
Comment by Boni Wardhana — February 23, 2008 @ 8:49 am
saya pernah jadi warga Jakarta. dulu datang pertama ke Jakarta disambut banjir, tahun 2002 meninggalkan Jakarta dilepas banjir… sekarang ternyata Jakarta masih banjir tho? cuma dulu meski banjir,jalan mulus di mana-mana - sekarang banyak lubang tho? Padahal gubernur sudah silih berganti (suryantoro - http://www.misterihartakarun.blogspot.com)
Comment by suryantoro — February 24, 2008 @ 8:13 am
Jalanan macet dan berlubang, bandara internasional semrawut mirip terminal dan terminal tak kalah bau pesing dengan wc umum… bukankah identitas jakarta? Sebaiknya surat wasiatnya satu kalimat saja, jika aku mati tolong bangunkan aku jika kau lihat jakarta tertib. Wakaka… salam kenal. Mas nya seniman ya kok gondrong?
Comment by undercover — February 24, 2008 @ 9:52 pm
Yang saya bingung soal lubang di jalan-jalan Jakarta itu kok semakin sering jalan dilapis ulang aspalnya malah menambah semakin banyak lubang. Seperti yang terlihat di jalan-jalan yang berdampingan dengan koridor busway yang baru dibangun seperti di jalan MT. Haryono dan Gatot Subroto. Jalan-jalan itu setelah dilapis ulang sejalan dengan pembangunan busway malah jadi berlubang di mana-mana, dalamnya dan lebarnya nggak tanggung-tanggung pula, bisa sampai kedalaman 10 cm dan diameter 50 cm!!! Padahal sebelum dilapis ulang lubang-lubang yang ada gak sebesar dan dalam itu. Mendingan gak usah dilapis sekalian deh.. lubang-lubang baru ini banyak sekali terdapat di jalan-jalan utama Jakarta. Padahal busway yang paling pertama itu umurnya belum sampai 5 tahun, apalagi di MT Haryono dan Gatot Subroto, beroperasi pun belum!!!
Ini yang salah siapa ya???? Alam lagi kah yang salah????
Comment by Caesar Alvino — February 25, 2008 @ 9:27 am
aku selalu suka gaya penulisannya, ringan, menyenangkan tapi tajam. Wah, kalau saya naik transjakarta bus suka ngomel2 sendiri, “katanya bebas hambatan? mana yang bebas? ah, cuma basa-basi”. mana ekspresinya itu loh… saya suka.. hehehehe. cool…
Comment by gita devi — February 25, 2008 @ 10:14 am
bener bgt tuh mas Gunawan, bang Foke harusnya punya date line untuk membenahi Jakarta, tapi sayang date line nya ternyata 5 tahun kedepan…yg intinya akan dialihkan ke gubernur yang baru, dan gubernur yang baru tersebut akan memberikan estafet ke gubernur berikutnya…
Comment by agustiyan — February 25, 2008 @ 12:59 pm
aku ora pesimis, ora sinis, ora nyumpah ..lha pikir2 buat apa juga mberesi jakarta, wong mengko klelep .. byurrr, bablas “kotorane” ..
Comment by Muhammad Ginanjar — February 25, 2008 @ 5:01 pm
turun temurun sama aja, janji2 doank waktu kampanye ….
Comment by Tinggal di Jakarta sejak 1945 — February 26, 2008 @ 9:26 am
Foke lupa, jakarta bisa seperti ini karena “karya sulap”nya Sutiyoso. Ruang hijau jadi Mall, contoh Plaza Semanggi, lalu lintas sebelumnya lancar “disulap” jadi macet. Lalu taman taman jadi pom bensin. Jalur jalan dibelah jadi Busway yang prakteknya jadi “All Way”.
Saya punya “trik sulap” buat SBY; Segera pindahkan pusat pemerintahan dari Jakarta, biarkan Jakarta penjadi pusat bisnis.
Comment by gusti — February 26, 2008 @ 9:39 am
gitu aja kok repot (sambil ngutik ngutik telunjuk kiri keatas kebawah)
“Serahkan pada ahlinya?
Yaa bukan saya … pasti ada ahlinya, gampang toh.” ujar Foke.
kayak begini mau benahin jakarta… benerin kumismu tuh?
Comment by sikunyuk — February 26, 2008 @ 1:51 pm
ngapain ribet-ribet si kLo ga mau macet ya jaLan kaki
waLau akhirnya kena radang paru-paru seminggu kemudian
atau Lengkapi kendaraan anda dengan fitur-fitur entertaiment ( kaLo sepeda motor bisa bawa tape compo mini, kan bisa karaoke bareng-bareng dengan yang terjebak macet )
Comment by iRin — February 27, 2008 @ 2:14 am
makanya ibukota/pusat pemerintahan dipindahkan aja ke kota lain… pusat bisnis dan perdagangan tetep di jakarta, kawasan industri TI di Batam(misalnya), industri textil dsb di Jawa tengah… dibagi2lah, supaya tidak terkonsentrasi di jakarta smua. Serakah sih…semuanya mau di jakarta tanpa memikirkan beban sampingan yang timbul kalau semua dipusatkan di satu tempat. Dana pembangunan akan merata ke daerah lain orang2 gak nyerbu jakarta semua.
Comment by arifah — February 28, 2008 @ 8:43 am
KALO GAK BERLUBANG
KALO GAK PESING
KALO GAK BANJIR
KALO GAK MACET
ITU
BUKAN JAKARTA
………..
Comment by kecoak _nungging — February 28, 2008 @ 9:56 am
assakamu’alaikum wr. wb
lha wong semua yang ikut ngomong itu aneh yang ada pada ngomongin salah orang (ini salah, itu salah, ini semua salah) terus yang benar yang kaya apa? WNI itu sudah tidak tahu arti kata “benar” kalo boleh hapus aja kata itu dari kamus bahasa indonesia, terus cari artinya, dari dasar dulu (begitu kata foke), tapi ya jangan sampe 5 tahun (mbok jadi alasan pejabat yang akan datang, adi inget SBY)
kembali kagi, mbok ya semua ga usah ngomong salah-salah aja, jadi ngomongin orang tokk!! mending ya dirembug yang bener kaya apa?(jadi nyindir)
serahkan pad ahlinya, (waduh sapa y, waktu itu foke cume ngomong gitu….?)
ya jadi ngomong ga karuan pada ga nyambung kaya pejabat aja, hehehehe
wass
Comment by ajbranx — February 28, 2008 @ 10:06 am
pusiiiiiiiiiiiiiing jalan rusak banjir harga2 mahal, e ketambahan bus way di jalur all way kebakaran, hahahahahahahahah
Comment by slamet riyanto — February 28, 2008 @ 10:08 am
iya nih… padahal saya masih sekolah…. jalan lewat mana aja pasti macet… sekolah dari selatan ke timur past ada sekitar 200 lubang yang saya lalui… pernah ban motor vespa peninggalan ayah saya ban belakangnya lepas… huhuhu sungguh terlalu
Comment by axeldead — February 28, 2008 @ 6:34 pm
Mas Gunawan, kolom ini hanya jadi ajang uneg2 atau ada “way out”nya ,dengan bantuan SCTV ya tentunya, maksudnya agar omongan para uneger-uneger ini bisa didengar orang2 yang berkepentingan untuk ngebangun JKT , tentunya ya Foke Cs.
Kita rakyat kecil dibikin bingguuung melulu, waktu PILKADA waah menggebu gebu kampanyenya, tapi giliran udah duduk dikursi eeh malah bilang “” kalo mau cepet pilih aja Tukang Sulap?? itu namanya similikithi weleh-weleeeh.
Aku setuju bangeet sama ide nya Gusti, pindahin Pemerintahan Pusat dari Jakarta, cari tempat lain yang jauh dari Jakarta, biar Jakarta jadi kota bisnis berdiri sendiri.Githuu looh thenk ki yuu
Comment by Akhbar Rahadi — February 29, 2008 @ 9:30 am
Itulah ciri JAKARTA….
Jakarta yang berlubang…Oke
Jakarta Yang kebanjiran..Oke
Jakarta Yang Macet…….Oke
Kayak nya seru ya bikin web http://www.jakartaoke.com hahahaha
Pindahin lagi aja Ibukota Negara Ke Jogja lagi…… Biar Presiden & Raja bisa hidup berdampingan……….. Adem ayem trus leyeh leyeh dah……. Biarin Jakarta dengan keruwetan nya itulah wajah jakarta.. Janji ya tinggal janji dari pemerintah sebelum nya ke pemerintah selanjut nya sama aja……. Ember Lobang hahahahahaha Btw Kangen Jakarta euy :(( pengen pulannnnngggggggggggg…… huaaaaaaawaaaaa Pulang ke jakarta pas lebaran aja nggak macetttt
hihihi
Comment by pasya The b16_one Jgc4 — February 29, 2008 @ 11:57 am
Jakarta memang mantabss…
Comment by Ghatel — March 4, 2008 @ 3:39 pm
jakarta bukan indonesia
kalo bukan indonesia
mana yaaaaaaaaaaaaaaaa?????????????????
jakarta
jakarta
di sinilah aku pernah
hampir kehilangan selenbar nyawa
jakarta
jakarta
kapan kau tutup lubangmu yang berserakan di tiap nadi jantungmu itu
jakarta
jakarta
aku rindu
aku juga benci melihatmu
kalo da waktu
liat aku di
gadisgila.blogspot.com
bye…………..bye…………
jakarta
oh jakartaaaaaaaaaaaaa
Comment by yustin — March 6, 2008 @ 2:21 pm
mungkin “jakarta” memang butuh lahirnya nabi baru atau juru selamat masa kini ?
Comment by borsalino — March 15, 2008 @ 8:48 am
ciang bungggggg
kok blog saya jadinya kacao
di apain bung
kan tadinya bercerita tentang kisah hidup saya
kok sekarang berganti tentang
jakarta
ayo bung……..
jangan di kacoin dong
aku kan hanya berusaha membuka kebenaran
kok………..
mohon tanggapanya ya
sctv
salam hormat
Comment by yustin — March 15, 2008 @ 12:53 pm
oklah
thx sctv atas tanggapanya
habisnya saya kaget,bengong se….
kok berubah
itu aja
tapi sekarang tidak lagi
dan saya ucapkan banyak2 terimakasih atas
respon baik dari pihak sctv
hehehe……..
karna saya gila kali ya
jadinya asal selonong aja…
maaf maaf maaf
semoga lain kali saya bisa
lebih selektif lagi
tapi tetap aja saya bertanya
kok……….???
ok salam manis sctv
maju terus
beritakan tentang kebenaran yang nyata
lain kali ketemu ya……….
hormat saya,yustin
Comment by yustin — March 15, 2008 @ 1:22 pm
Mau menyalahkan Gubernur ? Mau menyalahkan Pemerintah ? Sehaurnya berkaca lagi pada diri sendiri, siapa yang suka membawa kuda besi tatkala kuda - kuda lain merayap di jalan dan tanpa sengaja meretakkan aspal ?
Siapa yang selalu membawa motor beroda dua dengan gaya seorang biker tatkala berada di jalan kecil dan banyak anak ?
Comment by Mihael Ellinsworth — March 15, 2008 @ 5:24 pm
http://www.gadisgila.blogspot.com
salam sctv
Comment by yustin — March 17, 2008 @ 4:40 pm
untuk ngatasi persoalan di jakarta aku orang medan ngusulkan agar jakarta di pindah kan ke TAPANULI aja laey kan beres !
Comment by daniel.simanjuntak — March 19, 2008 @ 7:12 pm
ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
Tidak usah berpikir jauh ke Barat!!!!!!!!
dirumah kita sendiri (Indonesia), Bagaimana Seorang SBY, Jk dan konco2nya sering tidak pernah memperhatikan kesejahteraan rakyat jelata yang nantinya kita selalu dengar berita busung lapar dan gizi buruk ahirnya tewas mengenaskan, tak usah berpikir jauh ke daerah coba kita selalu jalan jalan menyusuri setiap jalan diJakarta ini selalu mendapati pemulung tanpa rumah yang sehat menurut SBY JK $ kroni. seharusnya seorang pemulung bukan dibuang yang seperti terjadi selama ini. mereka tak pernah diakui penduduk, tapi saya pun mengerti hati pemulung pun akan masa bodo terhadap semua kebijakan SBY JK $ kroni karena mereka pun sama seperti saya mencari nafkah tanpa perlu bantuan SBY JK $ kroni yang sok membela rakyat jelata. harusnya kita semua setuju untuk REVOLUSI sampai benar-benar kita MATI atau Kita BEBAS KORUPSI seperti yang selalu dikerjakan oleh GANGS OF KEJAGUNG, GANGS OF BI, GANGS OF MA, GANGS OF POLRI, dan masih banyak lagi GANGS yang selalu bersekongkol dengan GANGS OF SENAYAN,
HIDUP REVOLUSI
REVOLUSI ATAU MATI
REVOLUSI ATAU MATI
REVOLUSI ATAU MATI
WASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 9:21 am
ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
Harusnya kita bersatu memikirkan apa yang saya utarakan dibawah ini setelah kita berhasil memikirkan apa yang saya utarakan kita duduki Senayan dan kita tahan semua yang korupsi, setalah kita buktikan bahwa mereka korupsi diatas Rp 1 Milyar kita hukum gantung berderet di bundaran HI setiap hari minggu pagi yang disaksikan oleh Presiden pilihan kita.
Pernahkah Kita Sadar? Pernahkah Kita Peduli? Bahkan Untuk Diri Kita Sendiri? Kalau Saya Jadi Pengurus SPSI Ataupun SPN !!!!!! Saya Akan Jadikan Buruh, Sebagai Anggota koperasi
Penduduk Indonesia = 222.192.000 (BPS, 2007)
Penduduk Indonesia > 20 th = 155.524400 (BPS, 2007)
Penduduk Jakarta = 7.776720 (Pikiran Rakyat, 2007), 5%
Penduduk Botabek = 10.887.408 (Pikiran Rakyat, 2007), 7%
Penduduk Indonesia Yang bekerja= 95.177.102 (BPS, 2007), 43%
Penduduk Jakarta Yang Bekerja = 3.331.199 (BPS, 2007), 43%
Penduduk Botabek Yang Bekerja = 4.663.678 ( BPS, 2007), 43%
Yang mau Menjadi Anggota koperasi = 1.598.975 orang
Iuran Bulanan Saldo Bulanan Saldo Tahunan
a. Rp 10.000 15.989.750.000 191.877.000.000
b. Rp 20.000 31.979.500.000 383.754.000.000
c. Rp 25.000 39.974.375.000 479.692.500.000
d. Rp 30.000 47.969.250.000 575.631.000.000
e. Rp 50.000 79.948.750.000 959.385.000.000
Dengan Jumlah Anggota = 1.598.975 orang atau hanya 20% orang yang bekerja di Jabotabek saja, dan setiap orang hannya menabung Rp 10.000, maka dana itu akan bisa digunakan untuk modal yang nantinya keuntungannya dibagikan dalam bentuk SHU tahunan, bagaimana kalau hampir seluruh rakyat kita bersatu membikin koperasi yang kuat ini,
Kalau kita terus mengandalkan semua pejabat pemerintah kita, itu hanya mimpi, dan kalaupun ada dewi fortuna Indonesia itupun hanya mimpi, hanya inilah cara kita untuk menjadi bangsa yang besar, serta untuk membuktikan bahwa kita bukan bangsa kuli, tetapi bangsa yang bermartabat,
Jadi bisa jadi kalau ini semua ini sudah kuat, maka tugas seluruh pengurus SPSI bukan hanya menuntut UMP, tetapi justru akan menentukan UMP itu sendiri, serta segala peraturan yang menyangkut ketenagakerjaan.
Pernahkah Kita Membayangkan Ini Semua????
DUKI MARSENO (021-4601412, 021-94677163, senji82@yahoo.com)
Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 9:21 am
mari kita serahkan pada ahlinya??????????
Comment by jardeeq — March 31, 2008 @ 8:19 pm
knp ga minta bantuan ki.joko bodo aja “bukan joko BoDoH.. loh”mungkin dg kemenyan&bunga 7 rupa bisa beres tuh..hati masyarakat tergerak untuk menyumbangkan1 kg aspal+batu&pasir,krn kalau diterawang dg kaca benggala(punya mak lampir) ternyata jmlh kendaraan bermotor lebih banyak dari pd lubang dijalan tsb..
Comment by idang alias idhar/da'ang/idam — April 16, 2008 @ 5:28 am
salut buat sctv
Comment by tri — April 18, 2008 @ 3:39 pm
wah, bung, masih lumayan di jakarta.
lha yang di sumatera?
kita gak punya jalanan yang berlubang disana,, sori bukannya sombong,,
tapi,,
lubang-lubang yang ber-jalan,,
saking banyaknya lubang
Comment by rizal — May 8, 2008 @ 1:18 am
Betul Bung. Aku setuju ama ente. Jakarta nggak tertib itu memang dipelihara. Soalnya kalo tertib, nggak ada proyek lagi. kalo nggak ada proyek pejabat susah untuk korupsi. Jadi kalau bangun jalan, jembatan, gedung SD Inpres dan sejenisnya, semua dikerjakan di bawah standar. Biar cepet rusak. Sehingga repeat order proyek nya juga cepet. Mudah2 an Indonesia negeri federasi atau merdeka sendiri2. Biar masing2 negeri makmur sperti Eropa, Amerika, Malaysia, atau Singapura. Negerinya kecil tapi makmur. Daripada besar Amburadul.
Comment by mcdamas — June 27, 2008 @ 7:29 pm