Tetap Juga Terkini
Iskandar Siahaan
(Catatan: Dua tulisan Iskandar Siahaan yang dimaksudkan sebagai tanggapan dua artikel Salomo Simanungkalit di Kompas tak dimuat. Kompas hanya menyediakan rubrik surat pembaca ini untuk menampungnya. Tulisan pertama Iskandar akhirnya kami terbitkan sebagai Catatan Produser. Berikut adalah tulisan keduanya, Admin.)
Hanya karena–dengan segala hormat–seorang Sutardji Calzoum Bachri menulis sebuah puisi–dan di dalamnya ada frasa paling mawar–Salomo Simanungkalit (Kompas, 15/2) bangun dari tidur dogmatisnya.
Semula–seperti terlihat dari tulisannya (Kompas, 8/2)–Salomo memegang dogma: bentuk superlatif hanya bisa disandingkan pada ajektiva. Di luar itu, taklah! Frasa paling percaya (verba), misalnya, tidak ada; karena tidak ada, siapa pun yang mengadakannya berarti menyimpang dari kaidah bahasa.
Andai Sutardji ketika itu, atau mungkin besok, kesambet, lalu menulis sebait puisi dan di dalamnya ada frasa paling percaya – seperti paling mawar (nomina) – Salomo pasti bisa membenarkannya. Tapi, soal bentuk – mengganti paling dengan prefiks ter- menjadi termawar, juga terpercaya – Saloma tetap dengan dogmanya. Maka, ia minta terkini ganti saja dengan paling kini! Sayang Sutardji tidak atau belum kesambet. Kalau Sutardji memasukkan kata termawar dalam puisinya–atau kelak terpercaya–pasti Salomo bilang lagi: ganti paling kini dengan terkini!
Apa begitu cara menentukan kaidah dalam sebuah bahasa? Rasanya, taklah! Kaidah bahasa adalah konstruksi para ahli bahasa atau bahasawan. Ia lahir dari penelitian yang cermat, dan, hati-hati mencari dan menemukan pola (tindak berulang) berbahasa masyarakat. Dari situ ditemukanlah hukum-hukum yang disebut kaidah.
Apakah memakai kata terkini–juga terpercaya–sudah menjadi sebuah pola dalam tindak berbahasa masyarakat kita? Serahkan pada ahlinya. Tapi, tak bisa dipungkiri, setidaknya kami di Liputan 6 sudah memakainya kira-kira tujuh tahun lalu (bukan lebih kurang sepuluh tahun. Yang lebih [bukan lebih kurang] sepuluh tahun itu pemakaian kata terpercaya).
Mungkin–saya tak terlalu yakin; barangkali Salomo lebih tahu–dulu ketika bahasa dikuasai istana dan penyair punya posisi penting dalam masyarakat, ada banyak bentukan kata baru dan kaidah datang dari tangan penyair. Tapi, sekarang?
Sekali lagi, dengan rasa hormat, hampir bisa dikatakan arah dan pola tindak masyarakat berbahasa lebih banyak dipengaruhi oleh bahasa media massa, terutama iklan. Sekadar contoh: gue (pronomina) banget (superlatif), megang (verba) banget (superlatif), dan bikin hidup (verba) lebih hidup (ajektiva).
Apa makna semantik dari frasa-frasa itu? Mulanya orang tercengang-cengang dibuatnya, bingung. Tapi, karena terus-menerus disebarkan oleh iklan baik di radio maupun televisi, lambat-laun orang terbiasa dan menemukan maknanya. Gue banget artinya pilihanku, megang banget artinya enak sekali, dan bikin hidup lebih hidup artinya buatlah hidupmu lebih bermakna. Beda betul dengan arti kata per kata, bukan?
Bagaimana dengan kata turunan terkini? Membuat superlatif tidak hanya terhadap ajektiva, tapi juga nomina, sudah dibolehkan oleh Salomo atas dasar yang sangat tidak kokoh. Yakni, ada paling kini. Membuat superlatif terhadap verba? Kita tunggulah Sutardji menulis puisi dan mudah-mudahan ada frasa paling percaya di dalamnya, baru Salomo mengubah lagi dogmanya: boleh saja ada paling percaya!
Tapi, jangan tuliskan atau gantikan paling dengan awalah ter-, Salomo pasti berang. Tak ada kata turunan terkini, seperti tak ada kata turunan terpercaya. Kini itu nomina dan percaya itu verba. Kalau mau pakai awalan ter- sebagai superlatif, jadikan dulu dua kata itu sebagai ajektiva.
Adakah contoh sebuah kata masuk ke dalam lebih satu kelas kata? Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996) tak terbilang banyaknya. Sekadar contoh: kopak masuk ke verba (mengupas, mengubak) dan ajektiva (patah, rusak), keruh masuk ke nomina (dengkur, dengkus, dengus) dan ajektiva (buram, kalut, kacau, tidak beres). Bentuk superlatifnya: terkopak (paling rusak), terkeruh (paling kacau).
Lalu apa keberatannya memasukkan percaya sebagai ajektiva selain di Kamus sebagai verba? Juga, apa keberatannya memasukkan kini sebagai ajektiva selain di Kamus sebagai nomina?
Ada soal di semantik, kata Salomo. Kata dia, kini itu titik, bukan selang. Karena titik, nilainya unik, tunggal. Tidak ada superlatif dalam sebuah titik. Apakah benar demikian?
Bagi kami, kini itu bukan titik, tapi selang. Rentangnya dari kemarin hingga besok. Kenapa selang, karena kita membagi kini itu menjadi pagi, siang, petang, dan malam. Karena itu, program berita yang diproduksi SCTV diberi nama (bukan cogan): Liputan 6 Pagi, Liputan 6 Siang, Liputan 6 Petang, Liputan 6 Malam, dan Liputan 6 Terkini.
Kalau program berita Liputan 6 Terkini itu ditayangkan dalam rentang pagi hari berarti item berita di dalamnya adalah yang terbaru atau terkini di pagi itu. Kalau ditayangkan dalam rentang atau selang siang hari, item berita di dalamnya adalah yang terbaru atau terkini di siang itu. Begitu seterusnya.
Jadi, kini, bagi kami, adalah juga ajektiva. Karena ajektiva, ia bisa mendapat bentuk superlatif menjadi terkini (paling kini). Batasannya mengikuti Dr. Gorys Keraf (1970): segala kata yang dapat mengambil bentuk se + reduplikasi + nya, serta dapat diperluas dengan paling, lebih, sekali. Maka, ada kalimat: se-kini-kini-nya baju itu, tetap saja modelnya kampungan.
Kalau Kamus memasukkannya ke nomina, itu sama dengan today dalam bahasa Inggris.Tapi yang kami maksud kini dalam terkini adalah new (ajektiva). Karena itu bentuk superlatifnya newest (terbaru). Jadi, penyusun Kamus edisi kelak hendaklah memasukkan kini tidak hanya ke kelas nomina, tapi juga ke ajektiva. Sebagai nomina artinya sekarang ini, pada waktu ini, sebagai ajektiva artinya baru.

kompas pun di indexnya masih menulis BERITA TERKINI
Comment by tioooooo — February 28, 2008 @ 7:57 pm
no koment aja ass
Comment by suwah — March 15, 2008 @ 10:27 pm
ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
Harusnya kita bersatu memikirkan apa yang saya utarakan dibawah ini setelah kita berhasil memikirkan apa yang saya utarakan kita duduki Senayan dan kita tahan semua yang korupsi, setalah kita buktikan bahwa mereka korupsi diatas Rp 1 Milyar kita hukum gantung berderet di bundaran HI setiap hari minggu pagi yang disaksikan oleh Presiden pilihan kita.
Pernahkah Kita Sadar? Pernahkah Kita Peduli? Bahkan Untuk Diri Kita Sendiri? Kalau Saya Jadi Pengurus SPSI Ataupun SPN !!!!!! Saya Akan Jadikan Buruh, Sebagai Anggota koperasi
Penduduk Indonesia = 222.192.000 (BPS, 2007)
Penduduk Indonesia > 20 th = 155.524400 (BPS, 2007)
Penduduk Jakarta = 7.776720 (Pikiran Rakyat, 2007), 5%
Penduduk Botabek = 10.887.408 (Pikiran Rakyat, 2007), 7%
Penduduk Indonesia Yang bekerja= 95.177.102 (BPS, 2007), 43%
Penduduk Jakarta Yang Bekerja = 3.331.199 (BPS, 2007), 43%
Penduduk Botabek Yang Bekerja = 4.663.678 ( BPS, 2007), 43%
Yang mau Menjadi Anggota koperasi = 1.598.975 orang
Iuran Bulanan Saldo Bulanan Saldo Tahunan
a. Rp 10.000 15.989.750.000 191.877.000.000
b. Rp 20.000 31.979.500.000 383.754.000.000
c. Rp 25.000 39.974.375.000 479.692.500.000
d. Rp 30.000 47.969.250.000 575.631.000.000
e. Rp 50.000 79.948.750.000 959.385.000.000
Dengan Jumlah Anggota = 1.598.975 orang atau hanya 20% orang yang bekerja di Jabotabek saja, dan setiap orang hannya menabung Rp 10.000, maka dana itu akan bisa digunakan untuk modal yang nantinya keuntungannya dibagikan dalam bentuk SHU tahunan, bagaimana kalau hampir seluruh rakyat kita bersatu membikin koperasi yang kuat ini,
Kalau kita terus mengandalkan semua pejabat pemerintah kita, itu hanya mimpi, dan kalaupun ada dewi fortuna Indonesia itupun hanya mimpi, hanya inilah cara kita untuk menjadi bangsa yang besar, serta untuk membuktikan bahwa kita bukan bangsa kuli, tetapi bangsa yang bermartabat,
Jadi bisa jadi kalau ini semua ini sudah kuat, maka tugas seluruh pengurus SPSI bukan hanya menuntut UMP, tetapi justru akan menentukan UMP itu sendiri, serta segala peraturan yang menyangkut ketenagakerjaan.
Pernahkah Kita Membayangkan Ini Semua????
DUKI MARSENO (021-4601412, 021-32170395, senji82@yahoo.com)
Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 9:06 am