Saturday, April 19, 2014

Dili, Horta, dan Leo Kristi

February - 12 - 2008
dili-horta-dan-leo-kristi

Yus Ariyanto

 

 

Saya tiba di Dili, September 1999, beberapa hari setelah kerusuhan pasca-jajak pendapat yang mengoyak Timor Timur. Jurnalis yang tersisa bisa dihitung dengan jari tangan. Rata-rata senior, sementara saya amat hijau.

Suasana masih mencekam, meski relatif telah terkendali. Yang langsung menyerbu pikiran saya adalah lirik lagu Timor Timur dari trubadur eksentrik, Leo Kristi:

Tubuh-tubuh terbujur kaku
Di antara altar dan bangku-bangku
Rumput sabana jadi merah
Ternak-ternak pun musnah

****

Di jalanan, para milisi pro-integrasi berkeliaran. Para staf United Nations Mission in East Timor (UNAMET) , fasilitator jajak pendapat yang dimenangi kaum pro-kemerdekaan, tak bisa leluasa bepergian. Tiap kali keluar markas, mereka senantiasa dikawal tentara Indonesia, tanpa alpa mengenakan helm dan rompi antipeluru. Mereka potensial menjadi sasaran kemurkaan anggota milisi.

Di kejauhan, di lereng-lereng bukit, tampak sejumlah titik yang bergerak. “Itu orang-orang pro-kemerdekaan,” kata seorang prajurit TNI. Saya meminjam teropongnya. Lebih jelas terlihat wajah-wajah itu. Mereka pergi ke hutan dan perbukitan, demi menghindari para milisi yang terbakar amarah.

Dengan menumpang truk tentara, bersama seorang wartawan majalah lain, saya ikut berkeliling kota. Menyedihkan, memang. Sejauh mata memandang, sisa-sisa bangunan terbakar teronggok. Di sejumlah tembok, terbubuh grafiti dari kapur, “Merdeka dan Makan Batu.”

Kompleks keuskupan Dili pun tak luput dari amuk. Saya lihat koleksi perpustakaannya yang selamat berserakan, diletakkan di halaman. Hanya sejumput, sebagian besarnya lenyap dilalap api.

Ketika gelap memeluk Bumi Lorosae, sesekali  terdengar bunyi senapan menyalak. Entah milik siapa.

Di hari-hari itu, Jose Ramos Horta berada jauh dari para pendukungnya yang tunggang-langgang itu. Di hari-hari itu, ia bolak-balik antara Lisabon dan Sydney–sejak belasan tahun sebelumnya, kebagian jatah menggalang diplomasi demi kemerdekaan Timor Timur.

Beberapa pihak menyoroti kenyamanan hidup yang direguk Horta. Mereka membandingkannya dengan Xanana Gusmao yang memimpin langsung perlawanan bersenjata. Ada aroma sinisme yang meruap.

Tapi, siapa bilang Horta tak punya saham bagi kemerdekaan Timor Timur? Lewat aksi-aksi diplomasinya, Indonesia terus terdesak di forum-forum internasional (Meski beberapa kali, ia diuntungkan dengan blunder semacam insiden Santa Cruz pada November 1991). Nobel Perdamaian 1996, yang diperolehnya bersama Uskup Carlos Filipe Ximenes Belo, menjadi bukti.

****

Di hari-hari ini, setelah mendengar Horta tertembak, saya putar lagi lagu yang bertengger di album Nyanyian Tanah Merdeka (1977) milik Leo Kristi itu:

Malam itu angin bernyanyi sedih
Pucuk-pucuk rumput bukit cadas
Sekelompok awan putih serupa kuda-kuda
Bergerak dari barat ke timur
Sekelompok jubah hitam terlindung bayang-bayang
Bergerak dari timur ke barat

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

13 Komentar pada “Dili, Horta, dan Leo Kristi”

  1. timtim bergolak lagi….negara yg terus dirundung malang, lepas dari indonesia ternyata tak lebih baik. maunya apa….? rasain jadi bonekanya australia, akhirnya memakan anak bangsa sendiri.
    ya,…begitulah nasib negara kecil miskin lagi, beda jauh dgn brunai darussalam.

    gimana tuh hercules…..

  2. nawanug says:

    Timtim … wah saya dan Albert Kuhon adalah jurnalis terakhir yang meninggalkan Timtim saat bumi hangus terjadi, itu juga di bawah todongan senjata tajam di leher. Kaset hasil liputan terakhir disita dan dihancurkan.
    Sempet wawancara Uskup Belo saat gerejanya yang menjadi tempat mengungsi pro-kemerdekaan berlindung, dibakar.
    Ngeri situasi saat itu. Gak ada bedanya setelah merdeka sekarang….

  3. katanya dulu ingin lepas dari Indonesia biar makmur. emang gampang bikin negara…

  4. Opang says:

    Ya..begitulah kondisinya, saya ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa tetangga kita, tapi itulah pilihan mereka. Mereka memilih merdeka, mereka ingin kedamaian dan kesejahterahan, tapi mereka lupa akan makna kemerdekaan. Kalo asal merdeka ya beginilah jadinya. Sungguh ironis dengan apresiasi dunia internasional yang memberikan nobel perdamaian kepada 2 orang putra Timor Leste, ternyata perdamaian tidak kunjung terwujud di sana.

    Siapa yang mesti bertanggung jawab? Bila peraih nobel perdamaian pun tak sanggup untuk mendamaikan konflik yang terjadi, kira-kira siapa lagi? Sangat prihatin sekaligus ironis….

  5. NASIONALIS says:

    Buat Timtim: Siapa yang suruh/ tinggalin NKRI….

  6. rama says:

    timtim, bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya. bekas provinsi termuda di Indonesia ini tak pernah lepas dari masalah. pengen lepas dari Tanah Air karena merasa dianaktirikan…eeeehhh…malah diobok-obok australia….dua punggawa prokemerdekaan Timtim ramos horta dan xanana gusmao diteror “pemberontak”. kasihan rakyatmu terombang-ambing di jurang ketidakpastian…..

  7. arda says:

    Ditilik dari sejarahnya Timtim memang secara jujur harus kita akui hasil invasi indonesia jaman presiden sukarno. so dengan sedikit campur tangan australia waktu jajak pendapat dengan “mudah” lepas dari NKRI.

  8. setyo widodo says:

    berbekal minyak di selatnya mungkin……ausy?hmmmmmmmmhmmmmmhmmmmm?/lha wong masih ada yang ngurus juga ribut2 e malah mo ngurus sendiri, ya sama aja nambah masalah di base-nya masalah

  9. Duki Marseno says:

    Kalau lihat sejarah Timtim memang wilayah NKRI, Hanya saja kita mau terus dibodohi oleh Barat, mengapa bungkarno mau mengganyang Malaysia, karena Kalimantana Utara Adalah wilayah NKRI dilihat sejarah Lama(Majapahit) Mengapa kita mau dibodohi Belanda, Inggris dan Portugis yang datang belakangan, coba kalau kita selalu lihat kerajaan jaman dulu.

  10. Nazisterman says:

    Negara indonesia aja waktu merdeka juga banyak masalah,jadi itulah mau memilih merdeka, jadi harus menyelesaikan masalahnya sendiri bukan orang lain. Memang kita mengakui invasi indonesia di sana memang ilegal. Berapa sih pengorbanan indonesia di sana, hanya karena kebijakanya pemerintah waktu itu, ternyata tidak menguntungkan indonesia secara politik maupun ekonomi. Kita menyampaikan Solidaritas kita …………………..

  11. Mas Hengky says:

    Apakah bisa mengklaim kembali (reclaim) wilayah2 Nusantara seperti di jaman Majapahit?

    Dicari: Pemimpin yang sanggup melebarkan wilayah Indonesia!

  12. JAKA TINGKIR says:

    KAWANKU DI INDO, JANGAN SUKA CAMPURIN MASALAH ORANG LAIN, MASALAH KM SENDIRI BELOM BERES MAU OMONGIN MASLAH TIM2, DASAR ORANG BODOH MISKINNYA KEMANA2, TAPI MASIH MELIHAT KEMISKINAN ORANG LAIN KAMU KIRA KM JUGA GA TAHU KEMISKINAN INDONESIA, YAA KASIAN BANGAT.

Tinggalkan Komentar