Malu Aku Jadi Orang Indonesia
Moh. Samsul Arifin
Bandara Soekarno-Hatta lumpuh akibat banjir di sejumlah titik Tol Sedyatmo, yang menghubungkan Jakarta dengan bandara internasional tersebut. Gerbang pertama—sekaligus wajah pertama—menuju dan keluar Indonesia itu limbung. Antara 1-3 Februari lalu, penerbangan terpaksa dialihkan ke Halim Perdanakusuma, Palembang, Semarang, Surabaya dan bahkan Singapura! Di antara 30-40 ribu penumpang yang setiap hari datang dan pergi lewat Soekarno-Hatta, sekian ribu pastilah warga negara asing. Di mana akan ditaruh muka kita?
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
Saya bukan pembaca setia Taufiq Ismail, penyair angkatan 1966 yang hingga kini masih berkiprah dan menyantuni sastra Indonesia. Namun izinkan saya mengutip sepenggal sajaknya yang sangat relevan dengan Indonesia 2008. Sajak “Malu Aku Jadi Orang Indonesia” yang ditulis Taufiq tahun 1998 menampar muka Indonesia dengan telak, telak sekali.Setelak rasa malu negara kita menyaksikan Bandara Soekarno-Hatta lumpuh akibat banjir di sejumlah titik Tol Sedyatmo, yang menghubungkan Jakarta dengan bandara internasional tersebut. Gerbang pertama—sekaligus wajah pertama—menuju dan keluar Indonesia itu limbung. Antara 1-3 Februari lalu, penerbangan terpaksa dialihkan ke Halim Perdanakusuma, Palembang, Semarang, Surabaya dan bahkan Singapura! Di antara 30-40 ribu penumpang yang setiap hari datang dan pergi lewat Soekarno-Hatta, sekian ribu pastilah warga negara asing. Di mana akan ditaruh muka kita?
Taufiq terpukau wajah indah kota-kota di belahan bumi yang disinggahinya lewat sajaknya itu. Sang “Aku” yang diceritakan Taufiq adalah orang Indonesia yang kosmopolit, ia melanglang buana, menyusuri kota antarbenua dan menyaksikan keelokan kota dengan lanskap tersusun rapi. “Aku” mendapati kota yang berbeda ketimbang kota-kota di tanah air, sebuah kontras yang membuatnya menyembunyikan identitas sebagai “orang” Indonesia. “Aku” menyembunyikan “Indonesia” di balik kacamata hitam dan topi baret.
Apa yang bisa dibanggakan orang Indonesia tentang negerinya yang tersapu gelombang krisis sejak 1997. Harapan agar kesejahteraan hidup membaik tak kunjung terwujud. Selagi pemerintah memompa asa lewat kinerja ekonomi makro yang lumayan kinclong, negeri ini bertekuk lutut pada banjir. Banjir 2007 menyapu Jakarta membikin “tradisi lima tahunan” bak hantu.
Awal 2008, banjir menghempang Jawa Tengah dan Jawa Timur—sepanjang aliran Bengawan Solo. Negeri ini dipaksa menyerah. Ada yang mengambinghitamkan alam, padahal dengan itu mereka “yang lempar batu sembunyi tangan itu,” menepuk air ke mukanya sendiri. Bukankah kerusakan alam, terutama hutan di hulu hingga hilir Bengawan Solo berasal dari tabiat manusia yang tak lagi mencintai alam?
Banjir dan selaksa bencana tak pelak membuat produksi bahan pangan minus. Sebentar lagi “air bah” impor beras, jagung, kedelai hingga gandum akan menggerojok Indonesia. Negeri ini akan menjadi pasar—dan sudah!—yang besar bagi komoditas pertanian negara lain. Akibatnya, bisa ditebak warga miskin merasakan “gempa” dahsyat di dapur mereka sendiri. Sembako tak terbeli, lapar membelit dan kebahagiaan ke mana sudah!
Belum lepas “luka” yang membetot warga sekitar aliran Bengawan Solo, banjir menghempang KM 25-27 Tol Sedyatmo. Bukan kebetulan jika titik banjir itu berada di lokasi sama dengan kejadian tahun 1999. Kala itu, selama empat hari (28-31 Januari 1999), Tol Sedyatmo di ruas KM 26-28 tergenang air. Praktis pada hari pertama kejadian, tak kurang dari 121 jadwal keberangkatan pesawat tertunda.
Dan kini, setiap hujan deras turun, Tol Sedyatmo seolah menjadi pemandangan runyam. Air menjadi menakutkan. Bukan hanya menggenang. Persoalannya, lebih pelik dari itu. Siapa saja—khususnya mereka calon penumpang berbagai maskapai—yang hendak pergi dan keluar Jakarta harus tersiksa. Memilih jalan memutar dengan kemacetan yang parah. Atau pasrah, tiket penerbangan hangus lantaran terlambat tiba di bandara. Apabila hujan berlama-lama turun di Jakarta, Bandara Soekarno-Hatta tak sanggup lagi memanggul “peran” sebagai gerbang pertama menuju Indonesia.
Yang jelas, banjir di Tol Sedyatmo awal Februari 2008 bukanlah yang pertama. Banjir sudah terjadi tahun 1995 silam. Telunjuk sudah diarahkan ke sana-sini. Berbagai alternatif ditawarkan. Tapi, tetap saja solusi belum ada. Sekarang, usulan membuat jalan layang membubung tinggi. Kata akhir belum diputus! Sampai terwujudnya rekayasa teknologi—entah kapan—yang menyelesaikan masalah, banjir di Tol Sedyatmo hanya bisa dihambat satu hal: hujan menghilang dari Jakarta. Dan, itu berarti bergantung pada kebaikan Tuhan semata.
Seperti kau, Bung (Kakek) Taufiq, Aku (juga) Malu Jadi Orang Indonesia.

Hemmm, Kenapa harus malu jadi orang Indonesia. Kalau anda malu menjadi orang Indonesia anda tidak seharusnya tinggal di Indonesia, silahkan anda ke luar negeri dan menjadi warga negara lain, seperti halnya seorang mantan Menristek Jaman Rezim Orde Baru yang lebih baik pergi ke luar negeri meninggalkan Negeri Tercita Indonesia yang konon Gemah Ripah Loh Jinawi ini untuk menjadi warga negara lain dan mengembangkan potensi dan keahliannya untuk negara lain.
Kekecewaan anda memang beralasan. Saya juga merasakan hal semacam itu dari semenjak ikut pergerakan kampus menumbangkan rezim Orde Baru. Tapi saya berfikir, kenapa harus Malu menjadi Orang Indonesia hanya karena Indonesia dalam keterpurukan dan menjadi bahan ocehan negara2 lain.
Seharusnya kita harus berfikir dan berkata ” Aku Malu di urus oleh Walikota, Bupati, Gubernur, Menteri, Presiden Indonesia ”
karena dari pertama setiap pergantian pemerintahan selalu saja Indonesia SALAH URUS. Seharusnya kita bisa belajar dari pengalaman terdahulu, dan terus kuat dan Percaya Diri (PD) “Tidak Malu” untuk bangkit dan terus menumbuhkan rasa Nasionalisme kita terhadap Negara Indonesia yang kita Cintai yang konon katanya Gemah Ripah Loh Jinawi ini.
Comment by Rudy Lynggo — February 7, 2008 @ 7:01 am
Tapi di balik ujung sana, di antara lipatan-lipatan buku, ada yang menulis: “Kalau kau cintai negerimu sewaktu dia berjaya itu biasa nak, tapi kala dia sedang jelek-jeleknya tetap kau cintai, itu hebat namanya.”
Comment by saya — February 7, 2008 @ 8:18 am
Indonesia memang kerap dilanda masalah. Mulai dari banjir di Ibu Kota, kerusuhan sepak bola sampai banyak pejabat yang korupsi. Seolah hampir tak ada keberhasilan yang dibanggakan masyarakat Indonesia. Mau dibawa ke mana negeri ini?
Meski demikian, Aku tak akan malu. Aku justru akan malu jika aku tak mampu berbuat yang terbaik untuk negeriku, Indonesia.
Comment by rama narsis — February 7, 2008 @ 12:33 pm
wah gak seharusnya anda malu sebagai warga negara Indonesia…Anda harus jujur, anda kerja disini, dibayar, cari nafkah di sini kok malu…payah nih anda sok kritis tapi anda sendiri tak mau bersifat realistis !
Bangga Jadi WNI
saya
Comment by hero — February 7, 2008 @ 1:00 pm
what wrong wiht you?do you kill me?apabila mas arifin artikelnya hanya klise, is fun tapi jika mas arif itu menjadi malu jadi warga indonesia.astagfirllah kenapa ada bicara begitu seharusnya anda bangga, justru orang yang seperti ini ( mas arif maaf aja ) yang cuma biasa berkomentar tanpa berbuat apa2 tuk negeri kita ini.cobala mas arif renungkan INDONESIA INI banyak sekali kekayaan yang diberikan ALLOH SWT seharusnya kita bersyukur. memang diakui saya juga baru tahu dari mas arif tentang puisi TAUFIK ISMAIL ya memang kalau dikondisiskan sesuai kenyataan, tapi janganlah sugesti kita beramsumsi jadi malu jadi anak indonesi justru sebaliknya BANGGA JADI WARGA INDONESIA BAGIMU NEGERI JIWARAGA KAMI.
KITA HARUS PERANGI KETIDAKADILAN YANG MASIH ADA, DISKRIMINASI YANG MANA BANYAK WARGA KITA TIDAK SALING PEDULI TERHADAP SESAMA CATET JANGAN HANYA NGOMONG DOANG JANJI INI JANJI ITU DLLLLLLLLLLLLL
POKONA INDONESIA MARI KITA BENAHI BERSAMA BANGSA KITA DENGAN MENDEKATKAN DIRI PADA ILLAHI
‘DAN TOLONG MENOLONG KAMU DALAM HAL KEBAJIKAN’
AGUS PANGGILAN SUWAH SEGER.SLAM BUAT KRU LIPUTAN 6.OKE WASSALLAM.
Comment by suwah — February 7, 2008 @ 9:58 pm
Malu menjadi orang Indonesia?
Indonesia selalu Mendapat Bencana?
Indonesia selalu Rusuh dan tidak Aman?
Indonesia selalu menjadi negara paling terpuruk di Dunia?
So pasti !! kenapa? Karena:
1. Orang indonesia yang katanya mayoritas pemeluk islam terbesar di dunia, mereka tidak lagi percaya pada tuhanya,yang ada di benak orang indonesia adalah uang, harta, tahta dan foya-foya, tidak ada yang punya keikhlasan dalam menjalani hidupnya, selalu berprasangka buruk dengan tuhannya, selalu merengek dan putus asa.
2. Cara berfikir mayoritas orang Indonesia kampungan, bahkan yang memimpin Negara kita pun berasal asli dari kampung, oh ya tentu dong, gimana Indonesia mau maju, orang mikirnya ke belakang, masalah kecil dibesar-besarkan, masalah yang gak penting jadi hal yang di seriuskan. Masalah besar dianggap biasa. Anda semua tahu tidak masalah besar dan kecil itu apa?
Masalah Dunia ini di mata Tuhan tak ada nilainya dibanding dengan sayap nyamuk, tapi justru sayap nyamuk itulah yang yang oleh orang indonesia dianggap hal besar, urusan dengan tuhannya mereka lupa, padahal itu hal hal besar di mata Tuhan.
3. Sebentar-sebentar perang, saling membunuh, yach karna hatinya sensitif, tak ada keimanan, bahkan pemeluk sesama ormas islam pun perang hanya gara-gara pendapat berbeda, hanya gara-gara aliran dan kitab Hadistnya tidak sama, saling menuding saling menjelekkan, mudah diprovokasi syetan, sok keminter!
Jadi jangan malu dengan keadaan Negeri kita ini, tapi merasa malulah pada diri sendiri dan malu kepada Tuhan, serta malulah berkumpul bersama-sama dengan orang yang tidak mengerti arti hidup, orang yang tidak bisa menerima hidup ini dengan iklas, malulah berkumpul dengan orang-orang indonesia yang tidak dapat jujur pada dirinya sendiri, suka bohong, menipu, maling (apapun bentuknya, lebih-lebih maling berdasi), yang harus Anda malu adalah jika Anda berkumpul bersama dengan para pejabat negara, dan para selebriti yang senang berfoya-foya, yang memiliki gaya hidup gengsi yang tinggi.
Seandainya semua orang Indonesia terutama para pejabat negara mempunyai jiwa besar, dan selalu jujur pada diri sendiri, dan dapat bertanggung jawab atas dirinya sendiri, niscaya mereka dapat menjalankan tugasnya dg tanggung jawab yang sudah mereka tanamkan dalam dirinya sendiri, niscaya setiap ada permasalahan akan mudah diselesaiakn dengan keikhlasan dan kesabaran, sayang orang Indonesia banyak yang sifatnya kampungan, primitif dan tidak bisa berfikir ke depan, sifat pemarah yang tinggi, sayang mereka selalu lupa akan Tuhannya !
Seolah-olah negeri ini hanya dihuni penduduk yang tak berTuhan, agama sekedar identitas saja. Sayang Orang Indonesia lebih banyak percaya kepada ramalan Dukun (Orang-Orang yang menyekutukan Tuhan ), mereka tidak lagi percaya dengan kekuatan tuha, kekuasaan Tuhan, tapi mereka percaya dengan Ramalan-ramalan yang bersumber dari Mulut Syetan, yang disampaikan oleh para Dukun yang dilaknat Tuhan.
Sadar atau tidak, coba Anda tanyakan pada Diri Anda masing-masing!
Comment by Arriyyand Diemaz — February 7, 2008 @ 10:14 pm
itulah sisi baiknya era soeharto. yg pernah merasakan penataran p4, rasa kebangsaan kita digugah, terpelihara dengan baik, kita jd welas asih, pokoknya bla…bla…bla. coba setelah penataran tsb dihapus, apa jadinya.
Comment by a.karim siagian — February 8, 2008 @ 11:31 am
aku sih bangga jadi orang indonesia. aku fanatik dgn indonesia. fanatisme artinya, dlm segala kondisi, menang-kalah-seri..susah senang ..tetaplah indonesia.. jika separuh dari warga negara indonesia spt aku, maka indonesia akan sukses makmur sejahtera.
Comment by Aku — February 8, 2008 @ 12:05 pm
Warga negara sejati,” Buminya dipijak, langitnya dijunjung.”
Comment by gusti — February 8, 2008 @ 12:06 pm
Saya Bangga menjadi orang Indonesia.
Saya justru malu kalau mendengar ada Orang Indonesia yang mengaku malu jadi orang Indonesia tapi tetap tinggal di Indonesia bahkan memakai fasilitas Indonesia termasuk web Blog dan bahasanya.
Ethiopia dan negara afrika yg pernah miskin kerontang tapi atletnya tidak malu untuk terus berlari membawa bendera negaranya merebut emas marathon turun temurun.
Mengapa kita musti ngomong malu tapi tidak bergerak dan hanya menjadi penonton atau komentator yg memalukan sambil memajang foto diri. Orang malu kan mustinya gak mau keliatan wajahnya..
Comment by Ameq — February 8, 2008 @ 1:26 pm
Malu aku pada diriku sendiri yang belum bisa mencontohkan kebaikan pada diri sendiri dan orang lain. Malu aku bukan pada negaraku, malu aku bukan pada tanah airku yang kaya raya ini, malu aku bukan karena orang indonesia. Tapi malu aku sebagai orang yang tak bisa mengangkat harkat dan martabat bangsa sendiri. aku malu, aku malu.. kayak lagu aja… hehehe
Comment by gita devi — February 8, 2008 @ 4:27 pm
Beginilah Indonesia. Ketika di atas maupun di bawah, selalu dipandang sia-sia. Ketika jaya, penyair sekelas Taufik Ismail tentulah berjaya pula. Bisa mentas, bisa show. Tapi ketika di awal 1997 Indonesia mengalami krisis multidimensi, penyair sekelas itu pun tanpa malu memproklamirkan kemaluannya menjadi orang Indonesia. dan ada apa dengan orang Indonesia hari ini yang mengaku malu, hanya karena negaranya jadi langganan musibah?
Tidak pantas kita malu hanya karena kesalahan kita sendiri, yang telah menyebabkan Indonesia begini.
Comment by Obelix — February 9, 2008 @ 2:38 am
Jadi gimana neeh bung samsul…!!? apakah anda tetap Malu menjadi Orang Indonesia, atau tetap PD / Bangga menjadi Orang Indonesia.
Yang laen gimana …?
Comment by Rudy Lynggo — February 9, 2008 @ 6:13 am
sy sich, tdk malu jd wni cuman sy malu ama negara2 yg lain dan lebih malu lg mendengar kalau pejabat kita kebanyakan jd koruptor.dan malu mendengar kerusuhan dimana mana ,demo jg dimana mana lebih malu lg kalau sy mendengar demo di tanah air sampai bakar -bakaran,merusak fasilitas umum ,dan demo itu menewaskan seseorang,dan saya malu lg ama penegak hukum kita ngga profesional .dan malu lg mendengar sepak bola kita sering terjadi kerusuhan melulu.seandainya orang -orang itu sadar dan sadar akan arti negara ,mencintai negara ,menyayangi sesama sy yakin negara kita berjaya nantinya.sy harapkan berdemo secara positif,jangan merusak rusak fasilitas,bakar -bakaran karna semua itu ngga ada artinya.semoga tanah air kita kedepanya menjadi negara mandiri,sejahtera , menjadi negara maju.
Comment by ari — February 9, 2008 @ 10:55 am
sabar aja ini semua coban bangsa kita dr Allah
Comment by robby's — February 9, 2008 @ 6:17 pm
kenapa mesti malu jadi warga Indonesia..? wong orang luar aja banyak yang pengen jadi warga negara tercinta Indonesia, kenapa kita mesti lari jadi warga Indonesia. Ingat dulu para pejuang kemerdekaan mengorbankan jiwa dan raga demi tegaknya negara kesatuan republik Indonesia tercinta ini. Sekarang bagaimana kita membangun dan mempertahankan kedaulatan negara tercinta ini? membatasi berbagai budaya barat yang cenderung merusak citra bangsa kita dan yang lebih penting lagi menjebloskan para perusak bangsa ini yang tak lain para koruptor, kolusi dan nepotisme dimana saja yang hanya mementingkan perutnya sendiri demi kelurga dan familinya sendiri. makin banyak para KKN di berbagai birokrasi di semua daerah di tanah air ini yang hanya mementingkan perutnya sendiri dan itu adalah pembusuk bangsa tercinta ini. Semoga bangsa ini makin maju dari hari ke hari, tahun ke tahun dan seterusnya sampai hari kiamat tiba. dimana ksenjangan duniawi tidak perlu lagi kita bahas di dunia ini.
Comment by Akhid roviyanto — February 9, 2008 @ 6:48 pm
yang pasti kita hanya bisa malu, tidak bisa berbuat apa2 karena semua itu yg ngurusin kan para pejabat. sayangnya pejabatnya ngurusin pemerintahan dan infrastruktur denagn setengah hati. ada aksi jika ada reaksi, (eh,tebalik ya??)
Comment by Putri — February 10, 2008 @ 1:34 pm
justru orang yang malu menjadi orang indonesia ini yang menyebabkan ini terjadi. coba kalau kita bangga jadi orang indonesia, maka kita akan dengan senang hati melakukan apapun untuk membangun negeri ini. intinya semua itu harus mulai dari diri kita sendiri.kita melakukan hal yang terbaik untuk negeri ini .nggak perlu menengok orang lain.
Comment by dulilak ahing — February 11, 2008 @ 2:37 pm
ngapain juga malu, wong namanya juga bencana alam…kwakak..kwkak…but seharusnya itu dijadikan sebuah pelajaran, kenapa itu bisa banjir….gitu!!!
Salam,
Comment by Okta Sihotang — February 14, 2008 @ 8:58 pm
Yang malu silakan malu…
mungkin hanya kami para TKI yang nggak pernah akan merasa malu pada negeri kami sendiri.Walopun di negeri kami dilanda bencana bertubi-tubi,tapi darah kami tetap merah…tulang kami tetap putih…
SEMANGAT!!!
Comment by devisaku — February 19, 2008 @ 7:36 pm
Gw ga malu, karena di sini lah tanah air gw. Khan enak di kasih lebih tanah (longsor), en di kasih lebih air (banjir)… Musti di sukuri, n ingat, ucapkan terima kasih…
N Jangan malu, karena masih banyak orang yang ga kebagian tanah (tidur di kolong jembatan) dan kebagian air (musti di support aqua di NTB)…
Salam dari bengkulu
Comment by budi ansori — February 19, 2008 @ 8:14 pm
jika kita sebagai rakyat kita tidak usah malu tapi jika kita birokrat kita harus malu.
Comment by surya — February 20, 2008 @ 11:34 am
Alangkah baiknya jika kita tidak sekedar memiliki rasa malu, tapi bagaimana kita berusaha mengatasi dan mengubah rasa malu dengan senyum bangga dan berkata lantang inilah Indonesia. Tentunya dengan usaha dan karya sesuai kemampuan kita.
Comment by nia — February 21, 2008 @ 10:15 am
sudah saatnya bagi bangsa kita untuk menggalakkan budaya malu
Comment by rizqina — February 21, 2008 @ 1:33 pm
Memang harus malu, ga perlu munafik. Dengan tumbuh rasa malu orang baru akan bergerak dan sadar akan kekurangannya dan memperbaikinya. Kalau orang tetap merasa malu padahal seharusnya malu, yah sok hebat namanya (maaf..). Di negeri ini banyak orang sudah ga malu korupsi, ga malu nindas orang lain, ga malu jadi kaya dengan cara yang ga benar, walaupuan saya yakin nuraninya sempat berontak/menolak, tapi karena rasa tidak pernah malu itulah orang tsb jadi kebal dan merasa biasa korupsi, melanggar dll.
Saya salut atas kejujuranmu bang, semoga ungkapan hatimu itu dipahami dengan kebesaran jiwa.
Jangan sampai cuma punya ke…… tapi ga pernah punya rasa malu. Yang ga boleh dilakukan oleh setiap
WNI adalah berkhianat menjual negara, kalau cuma malu… dengan kondisi yang terpuruk ga entas2 seharusnya ga perlu bilang malu…. sudah merasa malu sendiri, cuma kadang orang suka gensila…kwatir dibilang lemah.
Comment by David — February 21, 2008 @ 9:29 pm
Jakarta bukan Indonesia !!!
sekali lagi - Jakarta bukan Indonesia
Comment by diff — February 21, 2008 @ 10:34 pm
Sebenarnya aku juga malu tuh jadi orang indonesia. Orang Indonesia itu kebanyakan menganggur…pemerintahnya juga kewalahan memberikan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya. Jadi, jikalau pemerintah menginginkan saya menjadi bangga jadi orang Indonesia, berikan saya pekerjaan…pleaze deh ah…
Comment by malioboro — February 22, 2008 @ 8:32 pm
Wah, saya kok jadi bingung nih baca komennya. Malu kok gak boleh? Bukankah budaya tak punya malu itulah yang menghancurkan sendi2 kehidupan bangsa ini? Kebanjiran dari taon adam gak ada penyelesaian-gak malu dengan bangsa lain, negeri dengan segudang koruptor-apakah gak boleh malu hanya karena bapaknya juga koruptor… mikir dong! Kita ini harus malu agar tetep semangat karena kita memang jauh ketinggalan. Terima kasih.
Comment by undercover — February 24, 2008 @ 11:33 pm
ya jgn salahin siapa2 kalo org indonesia ga punya malu, gimana yang nyontoinnya aja (baca=ulama dan umaro) kita mah ..org yg bener disalahin, yg salah malah nyesatin ..capee dech
Comment by kuncung — February 25, 2008 @ 5:08 pm
pada tgl 9 aku justru pulang ind dan benar ind
lumpuh walao tidak total tapi cukup membuat
pandangan mata nanar terkejut
ya ampuuuuuuunnnnnnn…….
kok bisa ya sampai begini
la kemana devisaku yang ku kirim tiap bulan itu
??????
mana hasilnya kok banjir masih di mana2
jakarta tenggelam
tau begini aku tak mau lagi menginjak ind
tiap bula kita para tki kirim devisa
entah pada raib ke mana?????????
Comment by yustin — February 27, 2008 @ 12:34 pm
indonesia indonesia………
gemah ripah loh jinawi
kok kamu jadi babu di negaraku[asia]
di negaramu gak ada pekerjaan layak ya???
itu pertanyaan majikanku saat aku pertama kali menginjak hong kong
memutuskan nasib menjadi TKW.
indonesia indonesia………..
kapan kamu bisa menyediakan lapangan pekerjaan yang layak untuk rakyatmu
hai bapak indonesia………
aku malu mengakuimu sebagai ayah
aku malu memanggilmu ayah indonesia
di saat saudara2ku harus meregang nyawa di negara orang
ayah mana yang sanggup menyaksikan anak2nya
menderita di kandang macan
indonesia indonesia……….
kapan kamu lepas dari bencana dan derita
????????????????
banjir,longsor,gempa ato seribu bencana alam dan manusia
makananmu setiap hari
indonesia indonesia……………
bagaimana caraku supaya aku bangga
memanggilmu di hadapan majikanku
bagaimana caraku supaya majikanku
bisa tersenyum saat aku menyebut namamu
bagimana….indonesia….
takut akan dosa ;katanya;
tak takut peraturan
di tempatku mengais rezeki
takut akan peraturan
tak takut dosa
………
coba indonesia bisa menerapkan sistem ini insyaalloh tak kan ada lagi yang namanya
nyawa melayang sia2
tak kan ada yang namanya kejar target
meski malu aku juga bangga padamu
hai INDONESIA MERAH DARAHKU
PUTIH TULANGKU
BERSATU DALAM SEMANGATMU
GEBYAR GEBYAR PELANGI JINGGA…..
mohon maaf kalo comentnya ala kadarnya
tapi ini adalah curahan hati dari
seorang TKW
+85295877282
YUSTIN.[GADIS GILA]
Comment by yustin — February 27, 2008 @ 12:58 pm
gak segitunya kaliiiiiiiiiiiiiii
kalo cuma ngomong malu, malu n malu kapan selesainya mari KITA BERSAMA SAMA maju biar ntar ga malu lagi
Comment by Emmilda — February 27, 2008 @ 3:50 pm
malu itu sebagian daripada iman ….dan seharusnya diubah menjadi energi positif yang membuat kita melakukan hal2 yang tidak akan membuat kita jadi lebih buruk, terpuruk, malah sebaliknya memberikan yang terbaik dari diri kita kepada lingkungan sekitar. Kalau cuma berhenti sampai pada malu itu saja atau malah jadi negatif dengan memburuk2kan, malah merusak, apatis, yaaaah…tidak bermanfaatlah.
Comment by arifah — February 28, 2008 @ 8:22 am
Aku setuju dengan Diff, bahwa Jakarta bukan Indonesia.
Kita harus bangkit, kenapa mesti malu????
Coba pikir, Jakarta sudah terlalu berat menanggung beban, banyak orangnya, banyak dosanya, banyak koruptornya, banyak manusia yang semau gue, gak disiplin ( lihat dari trafficnya ).
Aku setuju Jakarta jangan dijadikan Capital City. Pindahkan pemerintahan ditempat lain , jadi para executive, legistative, judicativenya dengan departemen2 terkaitnya bisa fresh mikirin kerjaannya,biarkan Jakarta jadi kota dagang dengan segala baik dan buruknya.
Tengook tetangga jiran kita, tengok Amrik, kalo ada niat pasti bisa asal jangan ditumpangi kepentingan2 yang tidak memihak masyarakat banyak.
Comment by Pribadi S. — February 28, 2008 @ 3:30 pm
Kenapa mesti malu?
Bandara Internasional Sukarno Hata Lumpuh akibat Banjir, Tapi tidak ada stasiun TV yang berani terus terang menyatakan penyebabnya, semuanya dibuat agak kabur, hanya pernyataan ini akibat hilangnya tanaman di daerah pantai kapuk. Apa susahnya sih mengatakan ini akibat dibangunnya perumahan Bukit Golf Pantai Indah Kapuk yang iklannya setiap hari muncul terus di Televisi. Harusnya anda jangan malu sebagai Warga ndonesia, tapi malu karena Media anda tidak berani menyatakan hal seperti itu
Comment by jakwir — March 2, 2008 @ 1:37 am
kenapa mesti malu, hilangkan malu dan katakan “aku bangga jadi orang indonesia”
gak usah mikirin orang lain yg bikin malu tapi berbuat sesuatu yg bisa membuat mu berkata “proud to be indonesian” (bener gak ya nulisnya gitu :D)
Comment by djawir — March 13, 2008 @ 7:14 pm
Sampean memang pinter menggugah rasa nasionalisme
Comment by lae — March 14, 2008 @ 4:01 pm
sepertinya rumput tetangga memang lebih hijau !
Comment by borsalino — March 15, 2008 @ 8:50 am
rumput tetangga memang lebih hijau, dan tugas kita lah melakukan penghijauan di ladang sendiri
Comment by j2 — March 15, 2008 @ 11:02 pm
siapa bilang rumput tetangga lebih hijau…,rumput di sumatera lebih hijau, si kalimantan hijau, di irian hijau, Hanya di pulau jawa sekarang gak ada rumputnya…
rumput nya sudah berganti dengan Lumpur…, jadi mendingan yang di jawa jadi trans aja yah di pulau sumatera biar lebih makmur dan banyak pekerjaan.
Comment by Rudy Lynggo — March 16, 2008 @ 6:04 am
malu itu hak asasi manusia kan, jadi tak perlu di komentarin dalam asal jangan malu maluin seperti pejabat korup uang rakyat !
Comment by daniel.simanjuntak — March 19, 2008 @ 6:43 pm
ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
Harusnya kita bersatu memikirkan apa yang saya utarakan dibawah ini setelah kita berhasil memikirkan apa yang saya utarakan kita duduki Senayan dan kita tahan semua yang korupsi, setalah kita buktikan bahwa mereka korupsi diatas Rp 1 Milyar kita hukum gantung berderet di bundaran HI setiap hari minggu pagi yang disaksikan oleh Presiden pilihan kita.
Pernahkah Kita Sadar? Pernahkah Kita Peduli? Bahkan Untuk Diri Kita Sendiri? Kalau Saya Jadi Pengurus SPSI Ataupun SPN !!!!!! Saya Akan Jadikan Buruh, Sebagai Anggota koperasi
Penduduk Indonesia = 222.192.000 (BPS, 2007)
Penduduk Indonesia > 20 th = 155.524400 (BPS, 2007)
Penduduk Jakarta = 7.776720 (Pikiran Rakyat, 2007), 5%
Penduduk Botabek = 10.887.408 (Pikiran Rakyat, 2007), 7%
Penduduk Indonesia Yang bekerja= 95.177.102 (BPS, 2007), 43%
Penduduk Jakarta Yang Bekerja = 3.331.199 (BPS, 2007), 43%
Penduduk Botabek Yang Bekerja = 4.663.678 ( BPS, 2007), 43%
Yang mau Menjadi Anggota koperasi = 1.598.975 orang
Iuran Bulanan Saldo Bulanan Saldo Tahunan
a. Rp 10.000 15.989.750.000 191.877.000.000
b. Rp 20.000 31.979.500.000 383.754.000.000
c. Rp 25.000 39.974.375.000 479.692.500.000
d. Rp 30.000 47.969.250.000 575.631.000.000
e. Rp 50.000 79.948.750.000 959.385.000.000
Dengan Jumlah Anggota = 1.598.975 orang atau hanya 20% orang yang bekerja di Jabotabek saja, dan setiap orang hannya menabung Rp 10.000, maka dana itu akan bisa digunakan untuk modal yang nantinya keuntungannya dibagikan dalam bentuk SHU tahunan, bagaimana kalau hampir seluruh rakyat kita bersatu membikin koperasi yang kuat ini,
Kalau kita terus mengandalkan semua pejabat pemerintah kita, itu hanya mimpi, dan kalaupun ada dewi fortuna Indonesia itupun hanya mimpi, hanya inilah cara kita untuk menjadi bangsa yang besar, serta untuk membuktikan bahwa kita bukan bangsa kuli, tetapi bangsa yang bermartabat,
Jadi bisa jadi kalau ini semua ini sudah kuat, maka tugas seluruh pengurus SPSI bukan hanya menuntut UMP, tetapi justru akan menentukan UMP itu sendiri, serta segala peraturan yang menyangkut ketenagakerjaan.
Pernahkah Kita Membayangkan Ini Semua????
DUKI MARSENO (021-4601412, 021-94677163, senji82@yahoo.com)
Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 9:22 am
ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
Tidak usah berpikir jauh ke Barat!!!!!!!!
dirumah kita sendiri (Indonesia), Bagaimana Seorang SBY, Jk dan konco2nya sering tidak pernah memperhatikan kesejahteraan rakyat jelata yang nantinya kita selalu dengar berita busung lapar dan gizi buruk ahirnya tewas mengenaskan, tak usah berpikir jauh ke daerah coba kita selalu jalan jalan menyusuri setiap jalan diJakarta ini selalu mendapati pemulung tanpa rumah yang sehat menurut SBY JK $ kroni. seharusnya seorang pemulung bukan dibuang yang seperti terjadi selama ini. mereka tak pernah diakui penduduk, tapi saya pun mengerti hati pemulung pun akan masa bodo terhadap semua kebijakan SBY JK $ kroni karena mereka pun sama seperti saya mencari nafkah tanpa perlu bantuan SBY JK $ kroni yang sok membela rakyat jelata. harusnya kita semua setuju untuk REVOLUSI sampai benar-benar kita MATI atau Kita BEBAS KORUPSI seperti yang selalu dikerjakan oleh GANGS OF KEJAGUNG, GANGS OF BI, GANGS OF MA, GANGS OF POLRI, dan masih banyak lagi GANGS yang selalu bersekongkol dengan GANGS OF SENAYAN,
HIDUP REVOLUSI
REVOLUSI ATAU MATI
REVOLUSI ATAU MATI
REVOLUSI ATAU MATI
WASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 9:23 am
[...] blog ini, kolega saya, Samsul Arifin, menulis artikel di bawah judul Malu Aku jadi Orang Indonesia. Tulisan ini mendapat banyak respon yang sebagian besar, jika tidak seluruhnya, adalah kritik. Para [...]
Pingback by Blog liputan6 » Seberapa Indonesiakah Anda? — April 13, 2008 @ 12:46 pm
kalau boleh dibilang, saya cinta dan malu juga dengan bangsa ini.
cinta karena emang disinilah ibu pertiwi saya, disinilah saya lahir, sekolah, tingga. tapi saya juga malu karna semuanya tidak berjalan dengan baik.
banjir saat musim hujan dengan baik hati menengok kita semua, harga yang tidak pernah mau turun seperti para petinggi yang gak mau turun dari jabatannya, dunia pendidikan yang bobrok (dana pendidikan yang besar dikemanain? kenapa tidak renovasi sekolah?), sifat pejabat yang protes saat gaji-nya yang sama dengan uang jajan saya 4 tahun dipotong.
saya tidak kebarat”an, karna pola pikir saya INDONESIA. gini nih klo orang Indonesia mengungkapkan suatu pendapat malah di bilang ga patriot..let think wise for the article key..
ngutip lagu slank, “I hate Indonesia, but I Love Indonesia.”
Comment by eighteen — April 15, 2008 @ 11:20 pm
Baca Tulisan Saya di http://endangmuhtadin.wordpress.com judulnya PENJARAKAN SAJA SEMUA GURU
Malu aku jadi guru di Indonesia
Comment by endang muhtadin — May 3, 2008 @ 1:16 am
“benci&cinta itu selisih tipis”
yang g pernah bisa bohong itu RASA…kl ternyata RASA malu buat kita bisa merubah sesuatu yg lebih berarti,,,why not?salah bukan berarti dosa,terkadang manusia susah kl di uji dgn kebahagian,tp sadar kl diuji dengan kesengsaraan.semua yg terjadi pasti ada hikmahnya!.
Kejujuran memang menyakitkan,paling tidak blog ini sudah menang satu langkah drpd tdk pernah mencoba untuk jujur&tdk mencoba melihat sekitar(apatis),itu lebih mengerikan dr tingal dineraka sekalipun ,,,!!!
Comment by Z — May 10, 2008 @ 12:31 am
[...] Bulutangkis boleh dibilang satu-satunya yang membuat kita berdiri tegak sebagai bangsa, dan tak perlu lagi memetik sepenggal syair Taufiq Ismail “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”. Kita pantas bangga, sebab sejak [...]
Pingback by Blog liputan6 » Merah Putih, Teruslah Kau Berkibar — May 13, 2008 @ 10:57 am
Good posting mas,
judulnya kontroversial, isinya faktual,
jago banget,
anyway, yang lucu adalah komen dari suwah
“what wrong wiht you?do you kill me?”
bener2 bikin malu…
Comment by LutV — May 14, 2008 @ 6:00 am
inilah konsekuensi jadi bangsa yg bodoh..3,5 abad dijajah sdh cukup menjadi bukti..bicara negara adalah bicara “person” dan sekarang pun terbukti negara adalah “agregat” dari person alias SDM yg…you knowlah…ambil kaca..lihat seberapa banyak ‘rekan’ sebangsa yg se”pintar” anda?
Comment by ri — May 14, 2008 @ 12:54 pm
Menurut saya Malu itu memang harusnya WAJIB ada!
Tentunya malu yang positif ya…
Saya TIDAK MALU jadi orang Indonesia!
Tapi saya MALU karena saya belum bisa menyumbangkan apa2 demi Negeri ini T__T
Comment by Deska — June 9, 2008 @ 4:55 pm