Moh. Samsul Arifin
Bandara Soekarno-Hatta lumpuh akibat banjir di sejumlah titik Tol Sedyatmo, yang menghubungkan Jakarta dengan bandara internasional tersebut. Gerbang pertama—sekaligus wajah pertama—menuju dan keluar Indonesia itu limbung. Antara 1-3 Februari lalu, penerbangan terpaksa dialihkan ke Halim Perdanakusuma, Palembang, Semarang, Surabaya dan bahkan Singapura! Di antara 30-40 ribu penumpang yang setiap hari datang dan pergi lewat Soekarno-Hatta, sekian ribu pastilah warga negara asing. Di mana akan ditaruh muka kita?
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak
Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak
Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza
Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia
Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata
Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia.
Saya bukan pembaca setia Taufiq Ismail, penyair angkatan 1966 yang hingga kini masih berkiprah dan menyantuni sastra Indonesia. Namun izinkan saya mengutip sepenggal sajaknya yang sangat relevan dengan Indonesia 2008. Sajak “Malu Aku Jadi Orang Indonesia” yang ditulis Taufiq tahun 1998 menampar muka Indonesia dengan telak, telak sekali.Setelak rasa malu negara kita menyaksikan Bandara Soekarno-Hatta lumpuh akibat banjir di sejumlah titik Tol Sedyatmo, yang menghubungkan Jakarta dengan bandara internasional tersebut. Gerbang pertama—sekaligus wajah pertama—menuju dan keluar Indonesia itu limbung. Antara 1-3 Februari lalu, penerbangan terpaksa dialihkan ke Halim Perdanakusuma, Palembang, Semarang, Surabaya dan bahkan Singapura! Di antara 30-40 ribu penumpang yang setiap hari datang dan pergi lewat Soekarno-Hatta, sekian ribu pastilah warga negara asing. Di mana akan ditaruh muka kita?
Taufiq terpukau wajah indah kota-kota di belahan bumi yang disinggahinya lewat sajaknya itu. Sang “Aku” yang diceritakan Taufiq adalah orang Indonesia yang kosmopolit, ia melanglang buana, menyusuri kota antarbenua dan menyaksikan keelokan kota dengan lanskap tersusun rapi. “Aku” mendapati kota yang berbeda ketimbang kota-kota di tanah air, sebuah kontras yang membuatnya menyembunyikan identitas sebagai “orang” Indonesia. “Aku” menyembunyikan “Indonesia” di balik kacamata hitam dan topi baret.
Apa yang bisa dibanggakan orang Indonesia tentang negerinya yang tersapu gelombang krisis sejak 1997. Harapan agar kesejahteraan hidup membaik tak kunjung terwujud. Selagi pemerintah memompa asa lewat kinerja ekonomi makro yang lumayan kinclong, negeri ini bertekuk lutut pada banjir. Banjir 2007 menyapu Jakarta membikin “tradisi lima tahunan” bak hantu.
Awal 2008, banjir menghempang Jawa Tengah dan Jawa Timur—sepanjang aliran Bengawan Solo. Negeri ini dipaksa menyerah. Ada yang mengambinghitamkan alam, padahal dengan itu mereka “yang lempar batu sembunyi tangan itu,” menepuk air ke mukanya sendiri. Bukankah kerusakan alam, terutama hutan di hulu hingga hilir Bengawan Solo berasal dari tabiat manusia yang tak lagi mencintai alam?
Banjir dan selaksa bencana tak pelak membuat produksi bahan pangan minus. Sebentar lagi “air bah” impor beras, jagung, kedelai hingga gandum akan menggerojok Indonesia. Negeri ini akan menjadi pasar—dan sudah!—yang besar bagi komoditas pertanian negara lain. Akibatnya, bisa ditebak warga miskin merasakan “gempa” dahsyat di dapur mereka sendiri. Sembako tak terbeli, lapar membelit dan kebahagiaan ke mana sudah!
Belum lepas “luka” yang membetot warga sekitar aliran Bengawan Solo, banjir menghempang KM 25-27 Tol Sedyatmo. Bukan kebetulan jika titik banjir itu berada di lokasi sama dengan kejadian tahun 1999. Kala itu, selama empat hari (28-31 Januari 1999), Tol Sedyatmo di ruas KM 26-28 tergenang air. Praktis pada hari pertama kejadian, tak kurang dari 121 jadwal keberangkatan pesawat tertunda.
Dan kini, setiap hujan deras turun, Tol Sedyatmo seolah menjadi pemandangan runyam. Air menjadi menakutkan. Bukan hanya menggenang. Persoalannya, lebih pelik dari itu. Siapa saja—khususnya mereka calon penumpang berbagai maskapai—yang hendak pergi dan keluar Jakarta harus tersiksa. Memilih jalan memutar dengan kemacetan yang parah. Atau pasrah, tiket penerbangan hangus lantaran terlambat tiba di bandara. Apabila hujan berlama-lama turun di Jakarta, Bandara Soekarno-Hatta tak sanggup lagi memanggul “peran” sebagai gerbang pertama menuju Indonesia.
Yang jelas, banjir di Tol Sedyatmo awal Februari 2008 bukanlah yang pertama. Banjir sudah terjadi tahun 1995 silam. Telunjuk sudah diarahkan ke sana-sini. Berbagai alternatif ditawarkan. Tapi, tetap saja solusi belum ada. Sekarang, usulan membuat jalan layang membubung tinggi. Kata akhir belum diputus! Sampai terwujudnya rekayasa teknologi—entah kapan—yang menyelesaikan masalah, banjir di Tol Sedyatmo hanya bisa dihambat satu hal: hujan menghilang dari Jakarta. Dan, itu berarti bergantung pada kebaikan Tuhan semata.
Seperti kau, Bung (Kakek) Taufiq, Aku (juga) Malu Jadi Orang Indonesia.




















Menurut saya Malu itu memang harusnya WAJIB ada!
Tentunya malu yang positif ya…
Saya TIDAK MALU jadi orang Indonesia!
Tapi saya MALU karena saya belum bisa menyumbangkan apa2 demi Negeri ini T__T
Mas Samsul, selagi dulu tinggal di Indonesia(jaman Orde Baru), Aku malu dengan kebanyakan perilaku bangsa kita, malu dengan sistem birokrasi kita, malu dengan sistem pendidikan kita, malu dengan sistem hukum dan peradilan kita etc…dan percayalah rasa malu ternyata boleh sampai membuat “muak”.
Now setelah menetap di luar…Aku boleh rasa apa yg Taufik Ismail rasakan…aku buat sama dengan puisi-nya.
“…Dan kubenamkan topi baret di kepala
Malu aku jadi orang Indonesia”…. ini fakta
Aku cuma boleh berusaha jadi individu yang tidak lebih memalukan Indonesia.
Satu satunya yang aku syukuri dari Indonesia, karena di bumi indonesia aku boleh terlahir sebagai orang Islam..
ya saya malu jadi orang indonesia,andai saya boleh dilahirkan kembali saya milih jadi orang jepang.
hanya keburukan yang saya tahu dari negaraku ini,hanya orang-orang yang belum keluar negeri yang bilang masih bangga dengan indonesia.coba anda keluar sekali kali dan lihat perbedaannya.
cara berpikir, karakter, sopan santun, dan perilaku orang luar sangat berbeda jauh dengan indonesia yang konon negara muslim terbesar,tapi perilaku rang muslim malah banyak dipraktekan orang luar..
indonesia…
menjijikan melihat tingkah laku orang2 yg mengendalikan dan menguasai Indonesia…:(
malu aku punya pejabat2 yg korup n ga jujur…:(
iya bener… aku malu menjadi orang indonesia… bener-bener malu… malu… malu dan malu… korupsi dimana-mana, lebih malu dan menjijikan lagi melihat para anggota dewan yang berkata sok alim, nasionalis, jujur padahal kenyataannya sebaliknya …
jangan pernah malu menjadi orang indonesia kita menyadari indonesia selama 30 tahun lebih hanya mendapat pendidikan anarkis dari ordebaru sama suhartonya.beginilah kalau sistim jahilyah.
kenapa mesti malu jadi orang indonesia
apakah karena anda menilai dari sumber daya manusianya ?
padahal indonesia memiliki kekayaan alam dan peninggalan2 sejarah yang bisa di banggakan
kalo aku boleh memilih aku mau jadi orang korea selatan….
hehehe kenapa mesti malu…itulah keunikan bandar udara international di indonesia….bandara nyambi jadi empang..hahahahahaa
KOK malu sih jadi orang indonesia?????????
padahal banyak loh orang asing yang rela tinggal di indonesia
tapi kalau masalah bencana yang sering menimpa negara kita, itu bukan karena negara kita bernama indonesia
tapi pertanyakanlah perbuatan orang yang ada di dalam negara ini
apakah mereka menjaga kebersihan, menjaga alam?
sebelum anda merasa menyesal menjadi orang indonesia pertanyakan kepada diri Anda
apa yang telah saya lakukan untuk Indonesia?
trimz
Aku juga mengalami syndrom yang sama tuh…kalo ditanya orang di sini kamu berasal dari negara mana? Gugup aku menjawab INDONESIA…kadang2 aku bilang saja BALI, banyak orang Australia malah ga tau atau menghindar untuk tau yang namanya Indonesia. Mereka cenderung mengelakkan masa lalu kelam dari benaknya tentang bom Bali kali yaaa…Meskipun malu, aku bertekad untuk membangun Negaraku dengan membangun diriku sendiri sepulangnya nanti.
Adelaide City, South Australia
aku malu tau tidak terserah semua
tapi yang jelas aku kasian pada INDONESIA yang kita buat merana atas ulah kita semua ( termasuk aku )
tapi apakah semudah itu kita merusak INDONESIA kapan kita berubah ( aku ) jika tidak sekarang
saya malu punya sodara-sodara yang malu hidup di indonesia. manusia yang tidak pernah berterima kasih untuk hidup yang diberikan ALLOH untuknya,manusia-manusia yang selalu mengeluh tanpa mau berusaha, manusia-manusia yang hanya bisa menyalahkan orang lain,manusia yang tidak percaya bahwa tuhan itu ada,manusia picik yang tidak pernah menghargai bangsanya.Belajarlah untuk mensyukuri hidupmu hari ini karna mungkin nanti atau besok kamu tidak punya kesempatan lagi untuk mensyukurinya.
saya bangga jadi bangsa indonesia.
[...] Bulutangkis boleh dibilang satu-satunya yang membuat kita berdiri tegak sebagai bangsa, dan tak perlu lagi memetik sepenggal syair Taufiq Ismail “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”. Kita pantas bangga, sebab sejak [...]
cuys katro bgt loe!!!!!!pa mang da dari nenek kakek loe da jadi penghianat apa mang mereka penjilat belanda yang ga ikut ke nederlands wktu RI merdeka jd loe lahir sebagai seorang kritikus penghianat bangsa!!! bangsa ini da mengayomi dan kasih loe makan pendidikan pe loe kaya gn..semua guru loe pasti nyesel da ngajarin penghianat kaya loe…gw rasa klo indonesia perang loe pasti ngumpet di tete ema loe..katro loe ga usah hidup di indonesia….
Hmm Indonesia memang banyak bencananya Sih..
Apalagi sebagian besar orang indonesia sudah acuh tak acuh.. Hikz 3x
malhae juseyo!!!
emang sih indonesia negara yang agak memperihatinkan, saya berasal dari korea, saya baru 7 tahun tinggal di indonesia, setelah saya bandingkan negara indonesia dan korea selatan, perbedaannya sangat jauh….
smoga saja negara ini bisa menjadi seperti negara korea yg hidup damai tanpa korupsi….
kamsahabnida…
Apapun yang terjadi pada Bangsaku, aku tetap bangga pada Bangsa Indonesia ku tercinta. Aku tidak malu pada bangsaku. Tetapi mungkin aku malu pada mereka yang SALAH URUS bangsa ini. Bangsa ini menangis melihat orang-orang yang katanya sekolah sampai ujung tembok, hasilnya hanya jadi muka tembok dan merusak negara.
Jadi pantasnya, bukan bangsa ini yang kita masalahkan. Tapi orang-orang yang “tahu” cara urus bangsa dengan baik tapi pura-pura “buta-tuli” dengan bangsa ini.
kalau saya jadi anda! saya yang berbalik malu! kenapa?
ngk perlu ditanya!
kenapa hanya bisa mencibir tanah kelahirannya? tanah tumpah darahnya! tanah tempat ia dihadirkan! tanah yang telah menompang tubuhnya berdiri hingga kini!
dan tanha yang akan menjadi tempat terakhirnya!
Daripada anda mencibir negara anda yang menjadikan nilai nasionalis anda rendah dari pada seorang anak dan orang-orang yang lebih rendah baik dari batasan pengetahuannya, batasan pendidikannya, batasan segala yang ia banggakan dari orang lain! Kenapa anda tidak mencoba suatu hal yang dapat dijadikan suatu kebanggan oleh indonesia ini? nah terlintaskah dipikiran anda untuk melakukan hal yang berguna? jangan hanya ada cibiran, seperti pepatah tong kosong nyaring bunyinya! lakukanlah suatu hal yang nantinya bisa nada banggakan!
mungkin saya jauh dibawah anda, mungkin saya tidak sebaik adan dan mungkin saya tidak sebanding dengan anda! setidaknya saya bangga mengatakan saya orang INDONESIA. saya berusaha menjadikan indonesia lebih baik walupun dari hal terkecil sekalipun! baik dalam kehidupan saya sehari-hari yang dapat menjadikan saya bangga di indonesia!
mungkin tulisan saya hanya dipandang sebelah mata oleh anda! tapi berbanggalah pada indonesia! apapun dia, bagaimanapun dia, seperti apapun dia! berusahalah lakukan yang terbaik!
akhir kata! talk less do more 4 our country! I LOVE INDONESIA
maap ya kalo kosa katanya salah!
jangan hina negaraku!!!!!!!!!!!!
udah sana pergi aja jauh2 mas Moh Samsul Arifin!!!
negara kita gak butuh pengeluh lain, udah cukup banyak, berbuat lah jangan cuma mengeluh
INDONESIA I LOVE FULL…..!!!!!
Eh PLNegara,jgn nko matikan lampu setiap hari donk..ada tamu malaysia nginap ni, malu saya ni… Iuran listrik udah saya bayar, pajak2 semua saya bayar, hukum saya taat,apalagi yg bs saya lakukan utk membantu bangsa ini? pergi demo kah?atau hakimi maling sendirikah?
ngapain mesti malu sih jadi orang Indonesia, harus nya kita bangga, mungkin harus nya malu jadi orang MALINGsia yang slalu menjiplak karya kita, kita juga semua tau, para pelajar Indonesia juara olympiade matematika, biologi, fisika di luar negeri. ngapain mesti malu sih MAS!!! trus yang membuat saya bangga jadi orang Indonesia saya slalu menjadi imam mesjid di tempat saya bekerja, yang notabene negeri asalnya Islam. mereka bilang “Indonesia Ahsan”
kita boelh amlu jadi orang Indonesia jika memang kita juga ikut golongan yang malu-maluin.
tapi selama kita berbuat baik dan menciptakan hal baik walau dari skala kecil, kenapa harus malu??
kita tidak mencibir negara tercinta ini, kita mencibir pemimpin negeri ini. lusinan negarawan muncul di awal kemerdekaan dan kini satu pun tak bersisa. kondisi politik bahkan lebih buruk dibanding orba. zaman orba sebelum otonomi tidak ada bupati dan gubernur yang korupsi hingga bermilyar0milyar. sekarang semua berebut dan pak presiden kita masih bisa sibuk karaoke, cuhat dan mematut-matut di depan kaca.
Kenapa tidak malu, juga kenapa harus bangga, kalo ditanya yg membanggakan apa nya, apa karena negara Islam terbesar di dunakah, atau karena negara terkorup di dunia, di indonesia yg konon kebebasan beragama dijamin oleh undang2 masih jauh lebih gampang membuat panti pijat ketimbang rumah ibadah, laskar hanya garang di kampung klo di LN, ngomong a aja gak berani, yg dieksport bukan product tapi manusia alias pembantu alias budak maka dgn bangganya mereka dijuluki pahlawan devisa, bgaiman gak malu mbak mega Sipadan Ligitan hilang habibie yg katanya di otak nya ada komputer baru sebentar jadi presiden Timtim tinggal kenangan, mata uang hanya ini yg membuat kita bangga Rp masih lebih tinggi dibanding mata uang negara Timor Leste.
di lihat dari manapun aku tetap malu jadi orang Indonesia..
Saya gak malu.. selama kita masih bisa bertindak buat negri ini (sekecil apa pun) kita harus bangga!
gua cari ke-wargaanegaraan baru, ada yang resmi gak, kasih tau ye
) RI ok, cuman policy e yg gak Banget!!!
Aku malu jadi orang Indonesia.Pejabat yang tidak tahu malu,rakyatnya yang tak kunjung dewasa,menyelesaikan masalah dengan masalah yang selalu diselesaikan dengan otot dan emosi……….
Aku malu jadi orang Indonesia….
Saya tidak peduli orang berkata apa….
Karena apapun yg terjadi kita akan tetap WNI
Aku tidak malu jadi orang Indonesia … Biar orang bilang apa saja,
biar, biar … Indonesia negara paling korup di dunia…
Indonesia negara gagal… Indonesia negara
lemah… Indonesia melanggar HAM …
Elite Indonesia serakah harta dan
kekuasaan…
Presiden-presiden Indonesia dilecehkan negara lain…
Tapi aku tetap setia…
Untuk indonesiaku…
Sebenarnya saya merasa kalo puisi yang ditampilkan itu cuma sepotong aja. Coba ditampilin penuh, pasti gak ada suara2 sumbang mencibir Anda.
Puisi tersebut menceritakan tentang keadaan SosPol Indonesia setelah Orde Baru. Andaikata hidup di masa 1945, aku pasti milih angkat kaki ke Eropa saat Indonesia merdeka, karena terbukti sebagaimana negara Dunia Ketiga lainnya, negara yang merdeka dari penjajah pasti terjebak dalam kediktatotan.
banyak aturan yang tidak jelas, itu yang tidak menyenangkan.
pintar sipp
indonesia sekedar tanah dan air.
buat apa dibuat setia yang bisa hidup di negri ini hanyalah tukang tipu.