January 29, 2008

Kematian

Filed under: Lain-lain — vincent @ 3:42 pm
kematian

Vincent Hakim R.

Amat beragam perilaku orang menghadapi dan menerima kenyataan kematian. Juga dalam hal memahami makna kematian.

Banyak orang menghadapi kematian dengan duka dan kesedihan yang teramat dalam. Bahkan cenderung menjadi berlebihan dalam menerima kedukaan, ketika ajal itu datang menjemput pada waktunya.

Peristiwa meninggalnya Soeharto, misalnya. Publikasi meninggalnya Pak Harto menjadi berlebihan ketika media massa setiap detik, setiap menit, setiap jam, dan setiap hari mendaraskan kesedihan. Bahkan masih ditambah lagi ajakan SBY untuk berkabung secara nasional selama 7 hari. Luar biasa!. Kedukaan yang jadi terkesan terlalu didramatisir.

Sangat sedikit orang yang mampu menghadapi kematian dengan senyum ikhlas.

Apakah itu kematian diri sendiri, atau kematian yang dialami oleh orang dekat kerabat keluarga. Suami atau istri, atau anak, cucu, sahabat, teman, dsb.

Demikian sedikitnya orang yang mampu menghadapi kematian dengan senyum, hingga kadang orang semacam ini dikategorikan “aneh”.

Terlepas dari makna spiritual kematian yang tetap menjadi misteri bagi manusia, bukankah kematian sebenarnya merupakan hal yang alamiah – biasa saja. Setiap hari selalu ada orang mati (dan di sisi lain ada pula bayi lahir).

Seorang sahabat sempat di-“tegur” oleh keluarganya ketika sang ibunda meninggal. Pasalnya dia tidak terlihat sedih. Malah dia sangat tenang dan tetap tersenyum. Raut wajahnya amat tenang ketika mendengar kabar bahwa ibundanya meninggal dunia.

Saat berhadapan dengan jenazah sang ibu, mukanya tampak kalem. Sementara anggota keluarga yang lain dan para sahabat terlihat amat berduka.

Saya pun penasaran ingin tahu, mengapa dia bisa menghadapi kematian ibundanya dengan tersenyum. Padahal saya tahu, hubungan sang sahabat ini dengan ibundanya begitu dekat. Bisa dibilang dia anak kesayangan—anak mama.

“Kematian itu hal yang biasa saja, alamiah. Semuanya sudah ada yang mengatur,” katanya.

“Aku tahu, ibuku ada di sana. Kehadiran tidak selalu berwujud fisik bukan? Dan kematian tidak berarti meniadakan kehadiran kan?” katanya menambahkan. Tetap dengan wajah tenang dan tersenyum.

Pandangannya tentang hidup, membuat sahabat saya ini selalu tersenyum dalam menghadapi hidup. Termasuk ketika menghadapi kenyataan ibunda tercintanya meninggal dunia.

Segala puja-puji (apalagi sampai setinggi langit), perlukah diungkapkan ketika seseorang meninggal?

Segala hal perbuatan baik memang sudah seharusnya dilakukan oleh setiap orang sesuai kodrat. Bukan karena supaya dilihat dan dinilai orang, atau agar dikenang dan dipuja-puji setinggi langit ketika meninggal kelak, atau agar dapat pahala dari Sang Pencipta. Jelas bukan itu!

Konsep bahwa manusia adalah Citra Sang Pencipta (Sang Pencipta adalah sumber segala Kebaikan dan KEBAIKAN itu sendiri) – itulah yang mengharuskan orang berbuat baik kepada orang lain dan segala sesuatu ciptaan-Nya. Dan inilah tugas utama hidup manusia : menyebarkan dan mengamalkan KEBAIKAN Sang Pencipta dalam kehidupan sehari-hari. Kebaikan tak perlu digembar-gemborkan dengan maksud agar dilihat orang atau dinilai hebat oleh orang lain. Apalagi agar terbebas dari jerat hukum bagi ahli warisnya atau para pengikut orang yang telah meninggal. (Dalam konteks wafatnya Pak Harto – ini jelas tidak relevan!). Bukankah “kebaikan” dalam dunia politik selalu bersayap? Tidak ada yang gratis di dunia politik. “Kebaikan” dalam konteks politik tidak bisa disejajarkan dengan kebaikan sejati yang tulus.

Setiap peran dalam hidup mempunyai tanggung jawab menyebarluaskan dan mewujudkan KEBAIKAN-Nya. Pak Harto misalnya, ketika menjadi penguasa berkewajiban melayani dan menyejahterakan seluruh rakyat, tak terkecuali. Apakah yang seideologi atau pun tidak! Jadi tidak ada hak sama sekali dari seorang pengemban kekuasaan untuk menelantarkan rakyat, untuk tidak berbagi kebaikan. Diminta atau pun tidak. Dalam hal ini kebaikan ada, bukan berkat kemurahan hati. Tapi itulah mandat dari SANG KEBAIKAN sejati.

Mengapa kita harus tersenyum saat menghadapi kematian?

Ketika kita mendapatkan kelahiran seorang bayi, senyum dan suka cita itu muncul dari hati sebagai ungkapan syukur. Selayaknya pula saat kematian itu tiba waktunya, senyum dan suka citalah yang mestinya mengembang di diri kita. Suka cita bukan berarti harus berpesta pora riuh rendah. Namun suka cita dalam wujudnya yang hakiki ucapan syukur dan keikhlasan hati.

Jadi tidak perlu berlebihan menghadapi kematian. Apalagi dengan puja-puji setinggi langit. Hadapi saja semuanya secara wajar dengan senyum.

11 Comments »

  1. Sedih itu adl hak hakiki manusia.Jd gak usah diatur2 kek gt.Emg ciy kematian gak hrz dhadapi dg duka yg mdalam tp scr kmampuan mns bt mencerna kmatian itu kan beda2 T_T

    Comment by Anak kecil — January 30, 2008 @ 3:15 pm

  2. Rasa sedih yg hadir ketika ditinggalkan orang-orang yg kita cintai merupakan fitrah yg ada pada diri manusia. Bukan pula “aneh” jika seseorang lebih memilih “tersenyum” dan kelihatan tegar ketika mendapati telah ditinggalkan oleh orang-orang yg mereka cintai.

    Bagi orang-orang Beriman…..
    Hidupnya tidak untuk Hidup…..
    Tapi hidupnya untuk yang Maha Hidup,

    Hidupnya bukan untuk Mati……
    Tapi justru Mati itulah untuk Hidup,

    Dia tidak takut Mati..….
    Dia tidak cari Mati..….
    Dan dia tidak lupakan Mati..….
    Tapi justru ia rindukan Mati…..
    Mengapa ?
    Karena Mati bukanlah Wafat..….
    Karena Mati bukanlah akhir dari Kehidupan ini……
    Tapi awal Kehidupan Sebenarnya……
    Karena Mati Satu-satunya Pintu berjumpa dengan-NYA,

    Kebahagiaan bagi Kekasih..….
    Saat – saat……
    Detik - detik……
    Berjumpa dengan-NYA……
    Saat Berjumpa……
    Itulah Kebahagiaan….…
    Bagi Orang-orang Beriman yang Mencintai ALLAH SWT.

    Jika kehidupan itu fana dan begitu pendek, maka sudah saatnya kita bersegera berbuat untuk yang Maha Hidup lagi kekal…

    Semoga petunjuk dan hidayah Allah SWT senantiasa bersama kita … amin.

    Comment by Fakhru — January 31, 2008 @ 10:05 am

  3. Penulisnya Kurang kerjaan X ya..? bukan nya beresin barang2 mau Pindahan Kantor? eh..malah nganjurin orang TERSENYUM dlm menghadapi Kematian? (secara ga langsung anda ga tau aturan?).Dlm Ajaran2 Agama Apapun Mengajarkan agar kita tidak membicarakan keburukan atau lain sebagainya pada saat Kematian terjadi pda seseorang tidak ada pengecualian nya termasuk Soeharto..Tangis itu adalah Bagian dari Kesehatan yg dperlukan pda Tubuh Kita,begitu juga dgn Senyuman…ISLAM tdk melarang Kita untk MENANGIS seperti yg terjadi pada Ibrahim a.s menangis saat akan mengorbankan putra nya sesuai Perintah Allah yg disampaikan Jibril pda nya guna mengetahui ketulusan hati nya…Hadith Bukhari..Hambali and so on. Isa Almasi a.s menangis saat dihianati Kaum nya..Berjuta manusia MENANGIS saat menunaikan ibadah Haji nya..(saya juga mengalaminya). Tindakan yg diambil SBY untk Berkabung tidaklah berlebihan..karna termasuk bagian dari aturan permainan yg ada dlm Kenegaraan pda Suatu Negara kecuali Soeharto terkena Tindak Pidana sebelum ajal nya tiba secara otomatis tdk berlaku lgi baginya untk mendapatkan Penghormatan dlsb nya dari Negara.Smoga suatu saat Penulis bisa Tersenyum dan Menangis guna keperluan Metabolism tubuh yg dibutuhkan Jasmani/Rohani……… Kritik itu Bagus..Wass,H.Dayat Aulia.

    Comment by Dayat Aulia — January 31, 2008 @ 1:08 pm

  4. kematian…pasti,meninggalnya pak harto adalah sebuah berita yang menggemparkan Indonesia dan dunia,karena mantan Penguasa Orde Baru itu meninggalkan bangsa yang maju ( Tidak seperti Sekarang ),apa yang di Publikasikan oleh para stasiun TV ( tanpa terkecuali )membantu masyrakat Indonesia untuk mengetahui dan memberikan penghormatan terakhir kepada mantan sang penguasa,sampai sekarang saja masyarakat indonesia masih suka sama pak harto…terbukti saat pemakaman di astana giribangun,brapa ribu orang yang datang untuk mengantarkan jenazah pak harto.( yang anda tulis itu terlalu berlebihan dan menangis itu wajar )by. Akhmad Yulianto. Surabaya

    Comment by Akhmad . Yulianto — February 1, 2008 @ 7:52 pm

  5. bisa dimengerti maksud anda, untuk tetap menghadapi kematian dgn senyum dsb. Memang kematian adalah hal yg wajar, tp jg tidak salah kalo org benar2 merasa kehilangan hingga menangis ketika yg dicintai meninggal. Katakanlah, pemahaman spiritualnya ttg kehidupan dan kematian belum emncapai taraf setinggi anda.
    Tapi dalam kasus seorang mantan Presiden, Pemimpin Besar…penetapan hari berkabung nasional selama 7 hari itu sangat wajar sbg bentuk penghormatan dan terimakasih. Apakah anda mengerti konsep berterimakasih yang sungguh terimakasih, bukan hanya ucapan di mulut?

    Comment by endang — February 2, 2008 @ 9:32 am

  6. Menangis atau gembira adalah emosi wajar manusia yang digerakkan oleh hati..hak mendasar orang yang tidak bisa dibuat buat. Kalau begitu banyak orang yang bersedih, terharu, menangis karena kematian p.harto artinya p. harto berhasil menyentuh hati begitu banyak orang. Ketersentuhan hati bisa terjadi..apalagi pada banyak orang… adalah karena ketulusan hati orang tersebut. Siapa yang mampu menggerakkan hati begitu banyak orang yang sebagian besar tidak mengenal langsung beliau kalau bukan karena ketulusan p.harto. Jadi daripada melarang or menghujat beliau dan orang2 yang berduka..mending kitacoba bertulushati berbuat bagi orang banyak agar pada saat pergi nanti kita tersenyum dan banyak orang menangis mengenang kita.

    Comment by arifah — February 2, 2008 @ 9:46 pm

  7. APa yang anda katakan benar tapi salah ? intinya adalah bagaimana caranya kita agar tidak selalu “MENANGIS BERLEBIHAN” apabila kita ditimpa cobaan dari-Nya, menangislah walau dengan setetes air mata karena itu akan memberikan kesehatan, karena memang menangis merupakan kodrat dari ILAHI, seperti layaknya bayi yang baru lahir yang menangis dengan sekencang-kencangnya, coba anda bayangkan jika bayi lahir tidak menangis ??? Apa yang dilakukan oleh rakyat Indonesia atas kematian Alm.H.MOCH SOEHARTO adalah hal yang wajar, karena tidak semua orang sama dengan sifat dan karakter anda.

    Comment by r mahfud — February 15, 2008 @ 8:08 am

  8. Wong Nabi Muhammad saja menangis kok waktu anak laki-laki semata wayangnya meninggal dunia…. dan beliau bilang : tidak apa kita menunjukkan kesedihan… asal jangan berlebihan…
    Itu Rasul, apalagi manusia biasa… kalau kematian itu biasa.. ya nangis itu juga.. biasa kok….

    Comment by hherawati — February 16, 2008 @ 8:55 am

  9. Kematian adalah proses natural kok. Pak Harto sampai Pak Ijo sama sajaa. Tapi tema kematian itu menarik. Cuma orang takut ngebahasnya. Menurut saya Budaya, tradisi dan Agama yang membuat kematian itu mengerikan ! Apalagi Agama, justru yang namanya mati itu menyeramkan. Harus ada pelepasan yang dibarengi dengan ritual dan tangisan meraung - raung, karena kata mereka setelah mati itu ada kehidupan, penghakiman. Yang merasa dosanya sejibun, pasti ketakutan. Yang merasa deket sama tuhan, matinya senyum…. Yaa terserah individunya. Kalau saya pikir kematian itu jangan dilihat dari kacamata orang hidup jadi sereeem. Padahal mati yaaa mati sudah.. seperti kita belum lahir. Buat Pak Harto wiss selesai. Kita justru yang sibuk. Ada yang ngedoain,dia pasti bahagia ketemu Ibu tin. Ada juga yang mikir dia pasti masuk neraka karena dosanya seabreeg. Gilanya lagi wartawan tv, Suharto menjelang sakratul maut dijadikan lahan bisnis.

    Yaaa,, itulah hidup, absurd ! 80 persen susah, ga ada enaknya. Pak Harto hebaaat, hidupnya banyaaak seneng, pas mati wuaaaaahhhh semua repot. Padahal dia sama sajaa dengan pa ijo, monyeet, kutu. Tuhan dan Agama yang membuat dia istimewa. iluussiiiii…………

    Comment by Epicurus — February 25, 2008 @ 7:38 pm

  10. Lebih baik memperbaiki apa yang rusak karena perbuatan orang yang sudah mati sekarang ini kan ?

    Comment by daniel.simanjuntak — March 19, 2008 @ 9:44 pm

  11. Memang Kelahiran dan Kematian itu adalah proses alamiah. Kita bisa tersenyum menyambut kelahiran, mengapa tidak demikian dengan kematian?
    Tapi menurut saya disini ada berpedaan yang jelas sekali. Saat menyambut Kelahiran kita bertemu dengan sebuah manusia yang baru, anggap saja kita mengenal teman yang baru. Dari proses kelahiran dan kematian ini ada jangka waktu yang mungkin membuat kita banyak berhubungan atau memiliki jalinan. Saat Kematian -suatu proses alami- datang menjemput, maka pergi jualah seseorang yang kita kenal itu untuk selamanya. Adalah kenyataan bahwa ia tidak akan hidup kembali. Ini membuat kita atau sebagian orang merasa kehilangan, itulah yang bikin kita menangis….
    ini menurut saya lho……..! *maap klo ada salah*

    Comment by Deska — June 9, 2008 @ 8:15 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment