January 24, 2008

Sepak Bola dan Fanatisme yang Terkoyak

Filed under: Lain-lain, Olah Raga — syamsul @ 2:24 pm
sepak-bola-dan-fanatisme-yang-terkoyak

M. Samsul Arifin

Final Liga Indonesia I tahun 1995. Istora Senayan Jakarta bergemuruh. Stadion terbelah dua. Suporter Persib Bandung membirukan stadion megah yang dibangun Soekarno tahun 1962 tersebut. Pendukung Petrokimia Putra Gresik betul-betul minoritas, tak banyak suara sekalipun tetap terus memompakan semangat pada kesebelasan eks galatama (Liga Sepak Bola Utama) yang dimiliki salah satu BUMN ini.

Saat itu saya hadir di Senayan di tengah kerumunan suporter ‘Maung Bandung’ yang belakangan berjuluk The Viking. Sengaja saya datang dari Bandung untuk menonton final pertama kompetisi yang meleburkan perserikatan dan galatama. Alasannya sungguh sederhana: mendukung tim asal Jawa Timur, yang kebetulan diwakili Petrokimia! Dukungan untuk daerah ini menautkan saya dengan apa yang disebut fanatisme. Semua publik tahu, fanatisismelah yang merawat sepak bola Indonesia di era perserikatan dulu.

Sial…Petrokimia yang kala itu bertumpu pada pemain impor asal Brasil, Jacksen Ferreira Tiago tak mampu melanjutkan dominasi tim eks galatama yang saat itu menguasai semifinal. Sutiono Lamso menghancurkan Petrokimia pada menit ke-76 dan saya tertunduk lesu. Persib mencatatkan supremasi eks perserikatan di pentas Ligina. Sejak menit pertama, saya nyaris tak bisa mengekspresikan dukungan pada Petrokimia lantaran terjebak di blok suporter Bandung. Inilah pengalaman saya mendukung sebuah tim sepak bola dengan diam, tanpa kata. Namun, saya puas tak ada kerusuhan yang diletupkan para bobotoh atau warga Gresik dan Jawa Timur yang menyaksikan pertandingan itu.

***

Ini beradu punggung dengan kehadiran saya di banyak pertandingan Arema di Musim Kompetisi Galatama XII, 1992/1993. Di Stadion Gajayana Malang, mayoritas pertandingan tandang Arema saya tonton. Bukan hanya menikmati Aji Santoso dan kawan-kawan menghajar tim-tim tamu, atraksi penonton bola Malang sungguh menggugah adrenalin.

Singgih Pitono, ujung tombak Arema saat itu, selalu merayakan gol-golnya dengan mengepalkan tinju ke suporter. Bagi Singgih dkk. selalu ada kebanggaan didukung suporter fanatik yang tumpah ruah di Gajayana. Seperti kebanggaan warga Malang bergabung dengan Arema Fans Club yang dipimpin putra Ebes Acub Zaenal, Lucky Zaenal, dan mendendang lagu kebesaran Arema yang memompa semangat.

Di tengah kerumunan suporter fanatik Arema, Aremania, saya bak berada di rumah sendiri. Yang ini, sekali lagi lantaran unsur daerah. Ada kebanggaan tertentu yang terpatri di dada kala klub se-daerah melibas pesaingnya untuk merebut juara. Kebetulan sekali Andi Teguh (alm.) dan kemudian dilanjutkan Gusnul Yakin mengantar Arema menjadi kampiun Galatama. Bukan itu saja, Singgih Pitono yang beringas di kotak penalti menjadi top scorer Galatama XII. Aremania pun mematahkan ‘mitos’ bahwa hanya tim-tim perserikatan yang memiliki pendukung setia dan fanatis!

Tapi, Aremania bukan tanpa cela. Perseteruan panjang mereka dengan suporter Persebaya adalah pemandangan yang tidak sedap menjelang pertandingan Arema-Persebaya. Antara 1992-1993, pemilik kendaraan apa pun yang berplat nomor “L” (Surabaya) memilih memarkir kendaraannya itu di rumah atau kantor ketimbang menyusuri jalan-jalan di kota dingin di Selatan Surabaya ini. Maklum, Aremania yang beraliran keras acap kali merazia kendaraan berplat nomor Surabaya, sekalipun pemiliknya mungkin warga Malang. Ini catatan buruk, yang sayangnya juga menular pada The Viking di Bandung dan Jakmania di Jakarta.

***

Fanatisme pula yang membenamkan saya untuk mendukung PS Bentoel Galatama yang memilih ber-home base di Jember setiap kali Mohtar Hidayatullah Cs melakoni pertandingan kandang di Musim Kompetisi Galatama 1990/1991. Bentoel bukan klub ‘pribumi’ Jember. Warga kota tembakau ini memiliki anggota perserikatan, Persid—kendatipun tak pernah mentas di Divisi Utama.

Dahaga warga Jember akan pertandingan sepak bola bermutu terpuaskan berkat kesediaan PT Bentoel menempatkan Stadion Notohadinegoro sebagai tempat bermain tim besutan Rudi William Keltjes ini. Saya masih ingat, setiap Bentoel menjamu tim tamu, saya selalu menyempat hadir. Belum ada organisasi suporter memang. Namun, warga Jember amat antusias mendukung Bentoel untuk rawe-rawe rantas, malang-malang putung setiap melakoni pertandingan, termasuk duel dengan tim bertaburan bintang nasional seperti Pelita Jaya Jakarta. Ini penting diingat, suporter pula yang menambah kocek klub, selain guyuran dana dari perusahaan rokok asal Malang itu.

Poin dari tiga keping cerita ini: suporter adalah energi positif bagi klub, PSSI dan sepak bola nasional. Salah besar jika apa yang terjadi di balik kerusuhan yang bertubi-tubi di delapan besar Liga Indonesia 2007/2008, suporter dikambing-hitamkan. Amuk Aremania yang berakhir dengan pembakaran gawang beberapa waktu lalu, tidak berdiri sendiri. Ada faktor kepemimpinan wasit, mental pemain, disiplin Panitia Pelaksana Pertandingan, ketidaksigapan aparat keamanan hingga ketidakteguhan PSSI yang ikut ‘memicunya’.

Suporter memang tetap harus sportif. Tapi, mereka perlu dijamin bahwa pertandingan yang mereka saksikan tak berlumuran masalah kepemimpinan wasit yang berat sebelah. Wasit menegakkan aturan di lapangan, pemain menghormatinya dan pelatih tahu batas. PSSI mesti menjadi soko guru untuk perubahan tersebut.

Semalam di Topik Minggu Ini bertajuk “Sepak bola Indonesia: Prestasi No, Rusuh Yes”, saya mendapatkan kembali gemuruh kerinduan akan prestasi tim nasional. Sudah 17 tahun, tim nasional gagal mengukir prestasi di pentas internasional. Terakhir, timnas mendulang emas di Sea Games 1991 di Manila, Filipina. Masa 17 tahun adalah lama.

Di Eropa, talenta-talenta hebat semacam Christiano Ronaldo atau Cesc Fabregas muncul pada usia-usia tersebut. Kiprah mereka di liga-liga Eropa dapat dinikmati publik bola nasional lewat televisi. Saya khawatir, fanatisme publik bola dalam negeri kepada klub atau timnas pudar di masa-masa mendatang jika kerusuhan menjadi menu sehari-hari dan prestasi timnas terus jeblok.

Momentum Piala Asia, pertengahan 2007 lalu seyogianya tetap dipelihara biar kecintaan publik kepada sepak bola nasional tidak luntur. Semua stakeholder sepak bola memiliki waktu setahun untuk melihat kompetisi terus bergulir di tanah air atau tidak. Mennegpora Adhyaksa Dault mengancam, apabila dalam setahun ini kerusuhan tak kunjung sirna, Liga Indonesia akan dihentikan. Solusi yang paling mudah memang, sekalipun terkesan sebagai cuci tangan.

8 Comments »

  1. Lebih seru ini

    http://brethrencourtstories.blogspot.com/2007/12/cerita-6d.html

    Comment by elang jawa — January 25, 2008 @ 9:34 am

  2. yg dibilang,kalau kerusuhan terjadi lg,liga indonesia dihentikan,itu sich bukan solusi yg tepat,solusi yg pertama? adili dulu nurhalid si napi.kok seenaknya aja ngomong ,jd pemimpin harus berlapang dada,jangan asal asalan.kalau liga indonesia dihentikan,itu makin gila dan ngga ada bibit baru untuk sepak bola indonesia dan tdk ada kemajuan,moral,dan martabat dimata dunia.kerusuhan itu terjadi lapangan sepak bolanya ngga ada mutu,tdk nyaman,tdk berstandar stadium internasional.lapanganya asal asalan.coba tuch uang untuk membenahi fasilitas2 kerusuhan ngga terjadi.coba lihat negara maju stadiumnya nyaman, tdk saling desak desakan untuk menontonsepak bola.ok semoga sepak bola indonesia bisa maju,kedepanya ada penerus yg mengharumkan nama bangsa dan semoga seperti negara jpn.

    Comment by ari — January 25, 2008 @ 1:17 pm

  3. Bener juga kata ari yah, kalau pemimpinnya PSSI aja blom bener gimana mau olahraganya sukses? itu kan cuma segelintir permasalahan. Belum lagi masalah utang stadiun untuk penyelenggaraan senilai miliyaran rupiah itu juga belum selesai… sekarang aja publisitas tentang itu sudah memudar, jadi nggak ketauan lunas atau belumnya atau minimal sudah sejauhmana hutangnya terbayar. yah, bertambah lagi utang negara pascakerusuhan..hehe

    Comment by gita devi — January 25, 2008 @ 2:48 pm

  4. Suporter Indonesia itu belum bisa dewasa. Andai saja mereka sdh paham akan hal itu, mungkin kerusakan dan pertumpahan darah dalam sepakbola kita dapat dihindari. Wasit juga acap kali tidak tegas, yang paling jelas yaitu wasit Indonesia gak ada mental untuk memimpin pertandingan.

    Andai mereka bisa paham makna “sanksi” dan pandangan dunia luar serta kemajuan prestasi bangsa……

    Comment by Farhan — February 4, 2008 @ 3:43 pm

  5. PERMASALAHAN HUKUM DI INDONESIA SAAT INI SANGAT RUMIT DIPAHAMI, SEBAGAI CONTOH HUKUMAN TERHADAP TIBO CS, MENGAPA TERGESA-GESA DIEKSKUSI, TIDAK DIUNGKAP DULU PERMASALAHAN YANG BENAR-BENAR DILAKUKAN DAN SIAPA SEBENARNYA DALANG DARI APA YANG DILAKUKANNYA, TETAPI MENGAPA YANG SUDAH JELAS DAN SANGAT MENDUKA BAGI KELUARGA KORBAN BOM BALI I + II SAMPAI SEKARANG BELUM JADI DIEKSKUSI MATI. MALAHAN MASIH MENGAJUKAN PK II LAGI, KALAU SAMPAI BERLARUT-LARUT SAYA MENYAYANGKAN KALAU MASYARAKAT BALI TIDAK BISA MENERIMA KENYATAAN ITU,MEREKA MELAKUKAN HUKUM RIMBA. BAGAIMANA TANGGAPAN PERINTAH MENGHADAPI PERSOALAN TERSEBUT. APALAGI KALAU PK II DITERIMA PEMERINTAH. APA YANG AKAN TERJADI HUKUM DI INDONESIA?

    Comment by hardono soesanto — February 21, 2008 @ 1:47 pm

  6. ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
    Harusnya kita bersatu memikirkan apa yang saya utarakan dibawah ini setelah kita berhasil memikirkan apa yang saya utarakan kita duduki Senayan dan kita tahan semua yang korupsi, setalah kita buktikan bahwa mereka korupsi diatas Rp 1 Milyar kita hukum gantung berderet di bundaran HI setiap hari minggu pagi yang disaksikan oleh Presiden pilihan kita.
    Pernahkah Kita Sadar? Pernahkah Kita Peduli? Bahkan Untuk Diri Kita Sendiri? Kalau Saya Jadi Pengurus SPSI Ataupun SPN !!!!!! Saya Akan Jadikan Buruh, Sebagai Anggota koperasi

    Penduduk Indonesia = 222.192.000 (BPS, 2007)
    Penduduk Indonesia > 20 th = 155.524400 (BPS, 2007)
    Penduduk Jakarta = 7.776720 (Pikiran Rakyat, 2007), 5%
    Penduduk Botabek = 10.887.408 (Pikiran Rakyat, 2007), 7%
    Penduduk Indonesia Yang bekerja= 95.177.102 (BPS, 2007), 43%
    Penduduk Jakarta Yang Bekerja = 3.331.199 (BPS, 2007), 43%
    Penduduk Botabek Yang Bekerja = 4.663.678 ( BPS, 2007), 43%
    Yang mau Menjadi Anggota koperasi = 1.598.975 orang

    Iuran Bulanan Saldo Bulanan Saldo Tahunan
    a. Rp 10.000 15.989.750.000 191.877.000.000
    b. Rp 20.000 31.979.500.000 383.754.000.000
    c. Rp 25.000 39.974.375.000 479.692.500.000
    d. Rp 30.000 47.969.250.000 575.631.000.000
    e. Rp 50.000 79.948.750.000 959.385.000.000

    Dengan Jumlah Anggota = 1.598.975 orang atau hanya 20% orang yang bekerja di Jabotabek saja, dan setiap orang hannya menabung Rp 10.000, maka dana itu akan bisa digunakan untuk modal yang nantinya keuntungannya dibagikan dalam bentuk SHU tahunan, bagaimana kalau hampir seluruh rakyat kita bersatu membikin koperasi yang kuat ini,

    Kalau kita terus mengandalkan semua pejabat pemerintah kita, itu hanya mimpi, dan kalaupun ada dewi fortuna Indonesia itupun hanya mimpi, hanya inilah cara kita untuk menjadi bangsa yang besar, serta untuk membuktikan bahwa kita bukan bangsa kuli, tetapi bangsa yang bermartabat,

    Jadi bisa jadi kalau ini semua ini sudah kuat, maka tugas seluruh pengurus SPSI bukan hanya menuntut UMP, tetapi justru akan menentukan UMP itu sendiri, serta segala peraturan yang menyangkut ketenagakerjaan.
    Pernahkah Kita Membayangkan Ini Semua????

    DUKI MARSENO (021-4601412, 021-94677163, senji82@yahoo.com)

    Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 9:16 am

  7. ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH

    Tidak usah berpikir jauh ke Barat!!!!!!!!
    dirumah kita sendiri (Indonesia), Bagaimana Seorang SBY, Jk dan konco2nya sering tidak pernah memperhatikan kesejahteraan rakyat jelata yang nantinya kita selalu dengar berita busung lapar dan gizi buruk ahirnya tewas mengenaskan, tak usah berpikir jauh ke daerah coba kita selalu jalan jalan menyusuri setiap jalan diJakarta ini selalu mendapati pemulung tanpa rumah yang sehat menurut SBY JK $ kroni. seharusnya seorang pemulung bukan dibuang yang seperti terjadi selama ini. mereka tak pernah diakui penduduk, tapi saya pun mengerti hati pemulung pun akan masa bodo terhadap semua kebijakan SBY JK $ kroni karena mereka pun sama seperti saya mencari nafkah tanpa perlu bantuan SBY JK $ kroni yang sok membela rakyat jelata. harusnya kita semua setuju untuk REVOLUSI sampai benar-benar kita MATI atau Kita BEBAS KORUPSI seperti yang selalu dikerjakan oleh GANGS OF KEJAGUNG, GANGS OF BI, GANGS OF MA, GANGS OF POLRI, dan masih banyak lagi GANGS yang selalu bersekongkol dengan GANGS OF SENAYAN,
    HIDUP REVOLUSI
    REVOLUSI ATAU MATI
    REVOLUSI ATAU MATI
    REVOLUSI ATAU MATI

    WASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH

    Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 9:17 am

  8. walaupun saya warga INDONESIA tapi saya tidak menyukai sepak bola INDONESIA, karena :
    1. kurang tegasnya sanksi.
    2. kurangnya fasilitas.
    3. fanatisme yang berlebihan.
    PSSI sebagai induk olah raga sepak bola di INDONESIA harusnya berkaca pada liga-liga luar misalnya liga inggris. di inggris sepak bola sudah menjadi bisnis yang menggiurkan, mendatangkan banyak investor sehingga pembiayaan club sudah pasti ditanggung.coba lihat liga kita masih aja pake APBD.

    Comment by dani — August 6, 2008 @ 1:58 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment