Delapan Besar
Anton Bahtiar Rifa’i
Selain kodratnya sebagai olahraga, sepakbola acapkali hadir dalam wujud jiwa yang lain. Ia sesekali menjadi semacam seni pertunjukan. Terkadang ia juga dibebani harapan untuk melunaskan dahaga publik yang larut dalam suatu drama kompetisi. Babak delapan besar Liga Indonesia yang kini tengah digelar di Solo dan Kediri –belakangan dipindahkan ke Sidoarjo akibat kerusuhan–menjadi gambaran bahwa sepakbola tanah air kini sedang menampakkan dirinya sebagai sebuah drama, di mana ribuan orang Indonesia menggantungkan harapan akan cerita yang gegap-gempita, meskipun mungkin sedikit diwarnai sentimen primordial.
Namun, sepakbola bukanlah seni teater atau seni film yang napasnya dibangun oleh skenario, dramaturgi, setting, serta berbagai sequence yang terencana dan terarah. Sebagai suatu tontonan, biarlah sepakbola membangun ceritanya sendiri secara rasional. Karena itulah, saya agak kurang mengerti ketika para petinggi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) merancang suatu kompetisi liga sepakbola yang teramat panjang, melelahkan, dan berliku. Mungkinkah institusi yang dipimpin terpidana kasus korupsi itu ingin merangkai babak-babak drama panjang, di mana setiap babak diwarnai cerita gegap gempita? Entahlah.
Bayangkan, 36 klub sepakbola –terbagi dalam grup barat dan timur—harus bertanding dalam sistem kompetisi penuh. Setelah setiap tim menjalani 34 pertandingan, ternyata perjalanan menuju juara masih jauh. Mereka masih harus mengikuti babak delapan besar yang terbagi dalam dua grup, sebelum kemudian terbang lagi ke Jakarta untuk mengikuti babak semifinal dan final.
Tidakkah disadari bahwa putaran delapan besar sesungguhnya mementahkan pencapaian prestasi yang diraih suatu klub sepakbola, serta mereduksi makna dari kompetisi itu sendiri? Jerih payah suatu klub dalam meraih prestasi sebagai pemimpin klasemen melalui musim kompetisi yang sangat panjang–tahun ini diraih Sriwijaya FC untuk wilayah Barat dan Persipura untuk wilayah Timur—menjadi agak kurang berarti. Karena, catatan prestasi itu “diputihkan” ketika mereka harus berlaga dalam babak delapan besar. Makna kompetisi juga menjadi tereduksi. Bayangkan, untuk menjadi juara, suatu kesebelasan tidak perlu menjadi pemimpin klasemen. Cukuplah di peringkat empat, baru setelah itu berjuang mati-matian di putaran delapan besar. Sebenarnya, jika juara grup Barat dan Timur langsung dipertemukan di babak final akan terasa lebih fair.
Di sejumlah negara yang memiliki peradaban sepakbola yang jauh lebih tinggi daripada Indonesia, sistem kompetisinya sudah jelas: juara klasemen otomatis menjadi juara liga. Secara logika moral, ini sangat masuk akal, karena memberikan apresiasi terhadap jerih payah dan prestasi yang diraih suatu kesebelasan setelah melewati rentetan pertandingan yang panjang.
Namun, PSSI rupanya lebih memilih suatu kompetisi yang lebih panjang, melelahkan, dan berliku. Suatu kompetisi yang penuh babak-babak drama. Padahal, selain menghabiskan ongkos materi yang tak sedikit, cara seperti ini juga menyita ongkos sosial yang mahal seperti kerusuhan suporter dan aksi anarkis lain. Ini bisa terlihat di hari pertama babak delapan besar: Stadion Brawijaya Kediri porak-poranda oleh amarah suporter, sementara wasit dapat dengan mudah dipukul oleh penonton di hadapan para aparat keamanan. Belum lagi, akibat kompetisi yang teramat panjang, Indonesia gagal mengirimkan wakil di ajang Liga Champions Asia. Ah, drama ini terlampau mahal dan melelahkan.

Ligina = kompetisi tanpa arti. Ya memang kayak gini kalau hidup di bawah kepemimpinan napi. Sayang, uang rakyat dhambur-hamburin buat klub bola yang nggak jelas prestasinya.
Comment by penikmat bola — January 18, 2008 @ 12:20 am
jangan terlalu banyak berharap ama PSSI. PSSI isinya cuma petualang.
Comment by irwan — January 18, 2008 @ 10:45 am
indonesia gitu lo!! pimpinan pssi-nya jangan cuma mikirin diri sendiri, ga berlapang dada buat diganti. trus ada sistem kompetisi yang aneh, peraturannya juga aneh, wasit yang juga aneh, suporter yang aneh. kompetisi bola yang aneh!!!
Comment by u2 — January 18, 2008 @ 7:03 pm
Saya turut prihatin atas kerusuhan yang terjadi. Ongkos menyelenggarakan pesta sepak bola tanah air itu begitu besar. Tapi hasil yang didapat masih mengecewakan. Semoga orang-orang petinggi sepak bola itu mengerti akan kehausan masyarakat Indonesia pada prestasi sepak bola. Please, ligina bukan tarkam, Profesional management please…
Comment by bodrox — January 18, 2008 @ 7:22 pm
ya itulah hasil dari Pementasan Drama Persepakbolaan kita.. Dmana-mana yg namanya Pementasan DRAMA itu pasti ada Sutradara nya..Siapakah Mereka? para sutradara persepak bolaan kita bukanlah Para Ahli Sepak Bola..mereka hanya ahli dlm mengeruk Dana Persepak bolaan kita guna keperluan Nasib nya.. Sehingga katagori Persepak bolaan kita hanyalah sebagai pelengkap penderita (pemain sandiwara) yg lakon nya ditangani oleh para sang sutradara. Bukan hanya dalam Persepak bolaan saja lakon2 nya ditangani oleh Sutradara…Diperbagai tempat diseluruh pelosok Tanah Air terdapat para Sutradara nya..System inilah yg harus diganti agar penempatan olah ragawan kita mampu berprestasi dalam bidang ke olahragaan.. Memang tidak semua cabang2 olah raga kita tidak berprestasi karna tidak semua sutradaranya bergantung nasib pada lakon yg dimilikinya.Tapi…? Dimana ada Gula? pasti ada Semut nya!
Comment by Dayat Aulia — January 20, 2008 @ 7:40 am
mungkin negara lain menilai,ketua pssinya aja napi,gimana sepakbola indonesianya jd maju,itu sangat memalukan punya ketua seorang napi,udah napi masih aja dipertahankan.gantiiiiiiiiiiiii ajaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.nah disanalah hukum harus ditegakan.yg menyimpang2,harus diadili.
Comment by ari — January 20, 2008 @ 12:49 pm
Bung Anton fotonya mana neh….??
kayaknya orangnya ganteng dan atletis yahhh..hehehe
Comment by si Akang — January 21, 2008 @ 2:36 pm
Kerusuhan sepakbola memang sepertinya tidak akan pernah hilang dari wajah persepakbolaan kita apabila semua pihak yang terkait belum memiliki kedewasaan. menang atau kalah, adil atau tidak adil sebaiknya dijadikan sebagai warna-warni yang menghiasi olah raga terfavorit di dunia ini. Tiap permasalahan yang muncul dalam sepakbola sebaiknya disikapi dengan kepala dingin dan diserahkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan jangan hanya mengandalkan otot tapi otak pun dipakai. Saya berkhayal, bagaiamana sepakbola kita akan maju jika kondisinya pun tidak menunjang bagi kemajuan sepakbola nasional.
Comment by Rizki Syarief — January 22, 2008 @ 6:39 pm
bung anton..
kerusuhan dan sepakbola indonesia seakan berkawan akrab.
Comment by indrasto indrajaya — January 24, 2008 @ 2:13 am
bravo pssi, semoga ditangan kepemimpinan para kriminal sepakbola indonesia bisa semakin tidak jelas arahnya dan semoga tambah makin terpuruk azaaaa…..
Comment by hadi — January 24, 2008 @ 7:33 am
pemerintah harus cepat membekukan atau membubarkan pssi. pssi isinya cuma pelaku kriminal. malu dong….!!!
Comment by fredick — January 26, 2008 @ 12:13 pm
ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
Harusnya kita bersatu memikirkan apa yang saya utarakan dibawah ini setelah kita berhasil memikirkan apa yang saya utarakan kita duduki Senayan dan kita tahan semua yang korupsi, setalah kita buktikan bahwa mereka korupsi diatas Rp 1 Milyar kita hukum gantung berderet di bundaran HI setiap hari minggu pagi yang disaksikan oleh Presiden pilihan kita.
Pernahkah Kita Sadar? Pernahkah Kita Peduli? Bahkan Untuk Diri Kita Sendiri? Kalau Saya Jadi Pengurus SPSI Ataupun SPN !!!!!! Saya Akan Jadikan Buruh, Sebagai Anggota koperasi
Penduduk Indonesia = 222.192.000 (BPS, 2007)
Penduduk Indonesia > 20 th = 155.524400 (BPS, 2007)
Penduduk Jakarta = 7.776720 (Pikiran Rakyat, 2007), 5%
Penduduk Botabek = 10.887.408 (Pikiran Rakyat, 2007), 7%
Penduduk Indonesia Yang bekerja= 95.177.102 (BPS, 2007), 43%
Penduduk Jakarta Yang Bekerja = 3.331.199 (BPS, 2007), 43%
Penduduk Botabek Yang Bekerja = 4.663.678 ( BPS, 2007), 43%
Yang mau Menjadi Anggota koperasi = 1.598.975 orang
Iuran Bulanan Saldo Bulanan Saldo Tahunan
a. Rp 10.000 15.989.750.000 191.877.000.000
b. Rp 20.000 31.979.500.000 383.754.000.000
c. Rp 25.000 39.974.375.000 479.692.500.000
d. Rp 30.000 47.969.250.000 575.631.000.000
e. Rp 50.000 79.948.750.000 959.385.000.000
Dengan Jumlah Anggota = 1.598.975 orang atau hanya 20% orang yang bekerja di Jabotabek saja, dan setiap orang hannya menabung Rp 10.000, maka dana itu akan bisa digunakan untuk modal yang nantinya keuntungannya dibagikan dalam bentuk SHU tahunan, bagaimana kalau hampir seluruh rakyat kita bersatu membikin koperasi yang kuat ini,
Kalau kita terus mengandalkan semua pejabat pemerintah kita, itu hanya mimpi, dan kalaupun ada dewi fortuna Indonesia itupun hanya mimpi, hanya inilah cara kita untuk menjadi bangsa yang besar, serta untuk membuktikan bahwa kita bukan bangsa kuli, tetapi bangsa yang bermartabat,
Jadi bisa jadi kalau ini semua ini sudah kuat, maka tugas seluruh pengurus SPSI bukan hanya menuntut UMP, tetapi justru akan menentukan UMP itu sendiri, serta segala peraturan yang menyangkut ketenagakerjaan.
Pernahkah Kita Membayangkan Ini Semua????
DUKI MARSENO (021-4601412, 021-94677163, senji82@yahoo.com)
Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 9:18 am
ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
Tidak usah berpikir jauh ke Barat!!!!!!!!
dirumah kita sendiri (Indonesia), Bagaimana Seorang SBY, Jk dan konco2nya sering tidak pernah memperhatikan kesejahteraan rakyat jelata yang nantinya kita selalu dengar berita busung lapar dan gizi buruk ahirnya tewas mengenaskan, tak usah berpikir jauh ke daerah coba kita selalu jalan jalan menyusuri setiap jalan diJakarta ini selalu mendapati pemulung tanpa rumah yang sehat menurut SBY JK $ kroni. seharusnya seorang pemulung bukan dibuang yang seperti terjadi selama ini. mereka tak pernah diakui penduduk, tapi saya pun mengerti hati pemulung pun akan masa bodo terhadap semua kebijakan SBY JK $ kroni karena mereka pun sama seperti saya mencari nafkah tanpa perlu bantuan SBY JK $ kroni yang sok membela rakyat jelata. harusnya kita semua setuju untuk REVOLUSI sampai benar-benar kita MATI atau Kita BEBAS KORUPSI seperti yang selalu dikerjakan oleh GANGS OF KEJAGUNG, GANGS OF BI, GANGS OF MA, GANGS OF POLRI, dan masih banyak lagi GANGS yang selalu bersekongkol dengan GANGS OF SENAYAN,
HIDUP REVOLUSI
REVOLUSI ATAU MATI
REVOLUSI ATAU MATI
REVOLUSI ATAU MATI
WASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 9:18 am