Bukan Bangsa Tempe…
M. Samsul Arifin
Tiba-tiba saya terlempar ke masa 1960-an, saat menyaksikan ribuan produsen tahu-tempe tumpah ruah di depan Istana Merdeka, Jakarta, mengadukan ketidakberdayaan mereka akibat melangitnya harga kedelai. Boleh jadi, itu aksi paling demonstratif produsen tahu-tempe sepanjang Republik ini berdiri. Di masa Soeharto, aksi beginian absen. Demikian pula di era Sukarno. Sedikit liris Bung Karno berujar, “…(Kami) bukan bangsa tempe…”.
Andai saja Bung Karno masih hidup saat ini, ia mungkin bakal menangis. Apa sebab? Untuk mencukupi kebutuhan kedelai nasional saja, pemerintah tak mampu. Akibat produksi nasional hanya 0,8 juta per tahun, terpaksa kedelai impor sekitar 1,2 juta ton diguyurkan ke dalam negeri. Tak seluruhnya untuk tahu-tempe memang. Ada kan di antara kita-kita yang minum susu kedelai dan sejenisnya?
Tapi, percayalah stok terbesar dari 2 juta ton kedelai itu untuk “membayar” kegemaran bangsa ini, makan tahu dan tempe. Maklum dua jenis makanan bergizi ini (orang Jawa kerap menyebutnya “ikan”), yang paling pas dengan kantong rakyat.
Dan tahukah kita tempe ternyata jauh lebih tua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang baru dideklarasikan 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Konon, tempe sudah dikenal orang Jawa sejak 1600-an, kala Sultan Agung memerintah Mataram. Jadi, jika kedelai melambung hingga naik lebih dari 100 persen, tak hanya orang Jawa yang menjerit, tapi juga manusia Indonesia di sekujur Nusantara.
***
Mengapa ini terjadi?
Mari kita berkaca dari data Badan Pusat Statistik (BPS) ini. Sampai Oktober 2007, realisasi luas tanam kedelai masih di bawah target. Bayangkan saja, realisasi tanam kedelai hanya 362.390 hektar, padahal targetnya 740.740 hektar (ramalan II BPS). Ya udah, negeri ini terpaksa mengimpor kedelai hingga 1,2 juta ton, setara Rp 3 triliun. Belum lagi untuk impor 1,3 juta bungkil kedelai setara Rp 2 triliun.
Dana Rp 5 triliun itu bisa digunakan untuk meningkatkan uang makan PNS di lingkungan Mabes TNI/Dephan dan uang lauk pauk anggota TNI, yang hanya sebesar Rp 15 ribu dan Rp 35 ribu per hari.
Bukan salah petani jika mereka tak mampu meningkatkan produksi kedelai nasional. Harus dikatakan pemerintah tak punya desain kebijakan ketahanan pangan pasca-Soeharto. Swasembada tidak lagi menjadi pekik pemerintah. Indonesia makin mesra dengan logika liberalisasi perdagangan, pada saat yang sama tak pernah membentengi petani untuk mumpuni bersaing di era “kampung global” ini. Sudah begitu, tak ada insentif kepada petani. Karena itu kelewat mewah membayangkan petani kedelai mendapat insentif, jika mereka yang menanam padi saja dibiarkan.
Pada praktiknya, budidaya kedelai jauh lebih sulit ketimbang padi atau jagung—produk pangan yang paling dicari di tanah air. Beragam penyakit dan hama kerap menghantui petani, sehingga mereka jadi jera menanamnya. Dus petani kita acap terjerat ekonomi subsisten, sehingga terpaksa bertindak pragmatis. Akhirnya mereka yang masih punya sawah, tegal atau lahan, tak bisa tidak memilih yang paling mudah: Tanam padi, padi, padi sepanjang tahun atau padi, jagung, padi. Dan seterusnya. Fakta ini bisa dikonfirmasi dari reaksi pemerintah belakangan yang berniat meningkatkan areal kedelai di Nusa Tenggara.
Saya lahir dalam kultur agraris. Ayah saya petani. Tapi, sepanjang yang saya tahu jarang sekali sawah miliknya ditanami kedelai. Masih saya ingat tahun 1980-an silam, ketika ia memilih membuka pasar sendiri agar kedelai yang dihasilkan bisa dibeli dengan angka ekonomis. Ia tak melepas kedelainya itu di sawah, tapi membawanya ke kota.
Dengan pick up bututnya, kedelai itu diantarkan ke produsen tahu di Jember—kota yang berjarak 20-an kilometer dari kampung kami. Ups, jangan bayangkan ia bisa langsung membawa pulang duit hasil bertanam kedelainya. Ia harus menunggu, 3-7 hari sebelum produsen tahu itu membayar. Ini di masa Soeharto lho…Kala desain kebijakan ketahanan pangan pemerintah jelas.
Sekarang? Anda tahu jawabnya.
***
Soal langkanya biji-bijian ini, pernah diingatkan Emha Ainun Nadjib saat negeri ini dihantam kelangkaan minyak goreng menyusul naiknya minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) media tahun 2007. Awal tahun ini terawang Cak Nun itu terbukti. Kedelai melangit hingga menembus Rp 8.000 – 11.000 per kilogram. Menurutnya, di masa mendatang, bangsa ini harus bersiap dengan krisis biji-bijian. Duh…masa datang itu ternyata tak lama, awal 2008 saja krisis kedelai sudah menjelma sebagai mimpi buruk.
Apakah ini pertanda bangsa ini bukan bangsa tempe?
Yang disampaikan Bung Karno memang sosiologis. Namun, sejatinya proklamator itu tak pernah ingin mengolok-olok rakyat. Sebaliknya Si Bung yang jago orasi itu hendak memompakan semangat kepada rakyat Indonesia untuk merawat mimpi dan mewujudkannya dengan kerja keras.
“Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita,” ujar Bung Karno.
Apakah kita sudah bekerja keras untuk membeli cita-cita?

saya sangat kagum dgn perjuangan bung karno. pemerintah kurang efisien, mengatasi ekonomi rakyat, coba pikir negara kita agraris kenapa kedelai aja diimpor. coba belajar mencintai produk dlm negri. lihat tuch negara jepang dia ngga mau rakyatnya impor bahan pangan. karena bahan pangan yg dimpor belum tentu halal, belum tentu bagus, dan belum tentu jg menjamin kesehatan. karena banyak obat-obatan yg berbahaya bagi tubuh kita digunakan. kayaknya pemerintah kita ngga serius dan mementingkan dirinya sendiri.
Comment by ari — January 16, 2008 @ 2:28 pm
Bravo..bravo…tulisan nya hebat sekali..kita bukan bangsa tempe dan tahu..bukan bangsa yang bodoh…TAPI?
Kenyataannya kita adalah bangsa yg dibuat jadi tempe dan tahu yg dibikin jdi bodoh….sampai kapan ya? pda thn 70an saya pemuda yg pas2an yg rutin makan di warteg hanya dgn sayur tahu dan tempe..eh di thn 2008 ini mungkin para pemuda yg pas2an mirip saya dahulu saya jamin tidak akan mampu lagi untuk makan tahu tempe di warteg karena pengelola tahu tempenya sudah pada bangkrut karena harga bahan baku nya sudah tdk terbeli saking muahal nya….? Kesempatan indah untuk SBY…. Dunia hanya mengenal dua nama besar Soekarno dan Soeharto untuk Indonesiaku… Semoga SBY mampu menjadi yang ketiga dgn membuktikan pada Dunia kalau bangsaku bukanlah bangsa tahu tempe…tapi bangsaku bisa menikmati tahu tempe murah meriah.
Comment by Dayat Aulia — January 16, 2008 @ 6:53 pm
Tempe yang merupakan makanan asli Indonesia, ternyata hak patennya dimiliki
negara lain. Antara lain, Amerika Serikat telah memiliki 35 hak paten yang
berhubungan dengan tempe dan Jepang lima buah, sedangkan Indonesia hanya
dua. Itu pun baru tahap pendaftaran belum memiliki nomor paten.
Comment by hherawati — January 17, 2008 @ 5:43 pm
anda pintar. terlihat kalau berkomentar selalu menarik perhatian. kesalahan negeri ini bukan terletak pada pemerintahannya. tapi diri kita sendiri. coba anda bertanya kepada anak-anak jaman sekarang. mau apa kalau sudah besar?ndak mungkin menjawab mau jadi PETANI. apakah anda mau jadi petani? yak jadi petani itu tidak enak, panas, lelah. benar tanah kita luas, benar jaman bungkarno pertanian kita maju, sebab kita dulu semuanya petani. lha sekarang? cobalah anda merenungi, jangan selalu menyalahkan pemerintah.
Comment by wong jatim — January 20, 2008 @ 3:55 pm
Salut atas tulisan anda. Ada solusi buat yang lagi memerintah,agar kita tidak import kedelai??
Comment by kusdiyono — January 22, 2008 @ 7:51 am
cool tulisannya, tapi tempe bergizi loh… hehehe, jangankan biji2an, buah2an mungkin akan jadi barang langka di Indonesia dan jadi muahal… karena saya dulu termasuk anak kampung’ yang tinggal di daerah pinggir kota, masih segar dan sejuk banyak tanaman pangan. sekarang, pepohonan itu kian hari lenyap dan bukan kampung lagi… mereka bilang banyak pohon banyak penunggunya’… tapi kenyataannya, selama saya hidup di sana dengan banyak pohon nggak pernah di ganggu sang penunggu.hehe Jadi menurut saya, tempe cuma secuil problem yang nantinya akan menggumpal seperti gunung es…
Comment by gita devie — January 22, 2008 @ 9:23 am
Anda benar, itu untuk menggelorakan semangat. Tapi bukankah itu juga tersirat kurangnya penghargaan terhadap produk tempe yang dikonsumsi bangsa sendiri? Mengapa Bung Karno tidak menyebut bangsa roti, Bangsa jagung seperti yang dikonsusmi oang Meksiko dan Brasilia? tau bangsa telo seperti yang dikonsusmi masyarakat Afrika, dsb?
Saya kira mindset seperti itu tidak hanya dimiliki oleh seorang Bung Karno, tetapi juga pak Harto, yang memandang selain nasi memiliki nilai sosial yang rendah. Bahkan dijaman yang katanya reformasi itu, mindset seperti itu masih banyak, bahkan umum. Orang makan ubi lalu serta merta dikatakan rawan pangan, padahal dari sisi gizi, kandungan gizinya tidak beda jauh. Mindset itu adalah mindset keterjajahan, menunjukkan seseoarang yang tidak memiliki alternatif lain, sehingga kalau tidak ada nasi duiia kimat!!! Mungkin kita semua masih memiliki mindset keterjajahan itu, atau mungkin juga mindset kita adalah mindset penjajahan, sehingga merasa benar sendiri dan yang tidak sama dengan kita adalah salah. Kita semua harus memerdekakan mindset kita agar republik ini lebih makmur. Benar katanya Bung Karno, kita bukan bangsa kuli, tetapi kenyataanya banyak orang bernedidikan memilih jadi kuli daripasda membeli cita-cita yang lebih baik……
Comment by Hari — January 22, 2008 @ 2:31 pm
wih,,,,,keren euy comment nya….
Comment by ima — January 22, 2008 @ 4:15 pm
- Demo penjual tahu-tempe tidak cukup hanya didepan Istana Negara/Merdeka, tapi didepan Gedung WTO di New York sana.
- Kenaikan harga kedelai akibat imbas harga minyak dunia tentunya juga tuah yang berharga bagi petani kedelai, kalau Bulog tidak mematok harga dasarnya.
- Yang susah rakyat miskin kayak aku ini, apa mungkin tempe-tahu senilai dengan burger…?
Comment by YN.Wisnuardhi — January 24, 2008 @ 10:12 am
Kalo ada kejuaraan impor, indonesia pasti menang bos.. Masalahnya adalah kita bangsa indonesia ini sepertinya sudah terkutuk untuk tidak bangga terhadap apa yang kita miliki. Kita masih (lebih) bangga terhadap apa-apa yang dari luar negeri, termasuk kedelai..makanya pemerintah lebih milih impor daripada harus swasembada..
Comment by teguh dh — January 24, 2008 @ 6:39 pm
Menurut saya, tergantung pemerintahnya. Apa ada arah kebijakan pembangunan nasional yang riil diketahui semua penduduknya? Jangan dalam konsepsi saja. Rakyat Indonesia yang dipompa sebagai mesin produsen untuk memenuhi bahan makanan pokok, selama ini tidak dibina secara intensif, terpola, dan berkelanjutan. Beda dengan era Orba. Lembaga-lembaga kepanjangan tangan pemerintah pusat dan daerah tidak bisa berempati dan menyatu dengan persoalan riil yang dihadapi rakyat petani. Tapi hanya dibahas dalam tatanan konsep, seminar, dan perdebatan di meja pejabat. Kalau rakyatnya, sudah mati-matian kerja. Tapi tidak terarah, karena tidak ada pembimbingnya. Bagaimana bisa maju, lha kesadaran pendidikan saja baru beberapa tahun terakhir ini digalakkan pendidikan dasar 9 tahun. Kalau mau melepas rakyat tanpa binaan, tunggu saja sampai generasi ini sudah berpendidikan seluruhnya. Padahal pertanian di negara2 yang maju, keilmuan dan manajemen yang bisa membuat mereka bisa bersaing dan maju. Kalau di Indonesia, petani sekadar untuk menyambung hidup, seandainya bisa kaya pun karena petaninya sudah jadi tuan tanah. Akhirnya generasi petani kecil pun, malas menanam padi dan palawija. Kapan petani Indonesia bisa kaya?
Ini semua pendapat penjual donat kampung, di Jombang, Jatim. Salam.
Comment by Rosidah W. Utami — January 25, 2008 @ 9:26 am
Nasib kita tergantung usaha kita, nasib bangsa tergantung kepemimpinan, visi dan misi dari pemimpinnya. Kita bisa memulai dari diri kita sendiri, antara lain belajar dari Gandhi…mencintai produk dalam negeri, makan makanan olahan anak negeri, lebih memperhatikan dan mengenal tarian dan budaya negeri sendiri daripada budaya MTV, bangga berbicara berbahasa Indonesia. Jadi orang yang bermartabat dan berintegritas tinggi tidak harus kehilangan identitas lokal kita masing2. Mudah2an para pemimpin juga orang2 pintar yang berintegritas dan bermartabat tinggi yang mampu menentukan arah negara ini menuju kemakmuran rakyat… bukan cuma berebut kuasa dan harta duniawi saja.
Comment by arifah — January 30, 2008 @ 9:00 am
very nice..
melihat dari sisi orang ketiga sekaligus orang pertama, data akurat, tidak kentara mencari kambing hitam, setidaknya tidak terjebak di satu sisi saja..
tulisan yang bagus bung..
ayo kawan, kita bukan bangsa tempe, jangan menyerah..
mari menggelorakan samudera sekali lagi!
Comment by rizal — February 2, 2008 @ 6:04 pm
ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
Harusnya kita bersatu memikirkan apa yang saya utarakan dibawah ini setelah kita berhasil memikirkan apa yang saya utarakan kita duduki Senayan dan kita tahan semua yang korupsi, setalah kita buktikan bahwa mereka korupsi diatas Rp 1 Milyar kita hukum gantung berderet di bundaran HI setiap hari minggu pagi yang disaksikan oleh Presiden pilihan kita.
Pernahkah Kita Sadar? Pernahkah Kita Peduli? Bahkan Untuk Diri Kita Sendiri? Kalau Saya Jadi Pengurus SPSI Ataupun SPN !!!!!! Saya Akan Jadikan Buruh, Sebagai Anggota koperasi
Penduduk Indonesia = 222.192.000 (BPS, 2007)
Penduduk Indonesia > 20 th = 155.524400 (BPS, 2007)
Penduduk Jakarta = 7.776720 (Pikiran Rakyat, 2007), 5%
Penduduk Botabek = 10.887.408 (Pikiran Rakyat, 2007), 7%
Penduduk Indonesia Yang bekerja= 95.177.102 (BPS, 2007), 43%
Penduduk Jakarta Yang Bekerja = 3.331.199 (BPS, 2007), 43%
Penduduk Botabek Yang Bekerja = 4.663.678 ( BPS, 2007), 43%
Yang mau Menjadi Anggota koperasi = 1.598.975 orang
Iuran Bulanan Saldo Bulanan Saldo Tahunan
a. Rp 10.000 15.989.750.000 191.877.000.000
b. Rp 20.000 31.979.500.000 383.754.000.000
c. Rp 25.000 39.974.375.000 479.692.500.000
d. Rp 30.000 47.969.250.000 575.631.000.000
e. Rp 50.000 79.948.750.000 959.385.000.000
Dengan Jumlah Anggota = 1.598.975 orang atau hanya 20% orang yang bekerja di Jabotabek saja, dan setiap orang hannya menabung Rp 10.000, maka dana itu akan bisa digunakan untuk modal yang nantinya keuntungannya dibagikan dalam bentuk SHU tahunan, bagaimana kalau hampir seluruh rakyat kita bersatu membikin koperasi yang kuat ini,
Kalau kita terus mengandalkan semua pejabat pemerintah kita, itu hanya mimpi, dan kalaupun ada dewi fortuna Indonesia itupun hanya mimpi, hanya inilah cara kita untuk menjadi bangsa yang besar, serta untuk membuktikan bahwa kita bukan bangsa kuli, tetapi bangsa yang bermartabat,
Jadi bisa jadi kalau ini semua ini sudah kuat, maka tugas seluruh pengurus SPSI bukan hanya menuntut UMP, tetapi justru akan menentukan UMP itu sendiri, serta segala peraturan yang menyangkut ketenagakerjaan.
Pernahkah Kita Membayangkan Ini Semua????
DUKI MARSENO (021-4601412, 021-32170395, senji82@yahoo.com)
Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 9:10 am
Tentang “Mindset keterjajahan”komentar dari bung.Hari saya sependapat kr rasional,betapa mitos masyarakat kita tentang tahu&tempe terkait langsung dg nasi yg dijadikan MITOS sbg makanan pokok,kr tahu&tempe tdk dimakan jika tdk dg nasi, sehingga definisi makan menurut rakyat indo adalah makan nasi..dan saya bukan hanya bicara tapi saya coba dan laksanakan ga makan nasi sehat &fit juga bukan hanya 1-2 hari tapi dah 3 bulan..yg penting pengetahuan ttng makanan yg bergizi yg kita konsumsi dijamin kenikmatan & kesehatan ga kurang..
Comment by idhar/idang/da'ang/idam — April 21, 2008 @ 3:00 am
benar.. apa yang tersirat dan tersirat dari orasi bung karno .. kerja keras akan membuahkan suatu hasil dari mimpi dan harapan kita ..
sedih rasanya apabila bangsa kita ini .. menuju ke arah pembabtisan bangsa tempe
Comment by dhodykoko — July 7, 2008 @ 4:19 pm
Tapi bukankah tempe tuh makanan lezat yang kaya gizi,dan semua orang Indonesia menyukainya menjadi makan pavorit,bahkan kita marah kalo tempe diakui /dipatenkan negara lain?Sudah saatnya kita sekarang mengubah image menjadi bangsa TEMPE yang kuat.energik mampu berdikari.kalo tidak dimulai dari kita ,siapa lagi? banggalah menjadi bangsa tempe.
Comment by andre — July 9, 2008 @ 5:20 am