January 15, 2008

Bukan Kolam Susu

Filed under: Ekonomi dan Bisnis — rahman @ 9:20 pm
bukan-kolam-susu

Rahman Andi Mangussara

Apa yang kurang di negeri ini? Tidak ada, semua kita punya. Indonesia disebut negeri gemah ripah loh jinawi, negeri berlimpah, tanahnya luas dan subur serta berada di kawasan dengan iklim yang tidak ekstrim. Maka tidak salah jika Koes Plus melukiskannya dengan sangat hiperbolis:

“Bukan lautan, hanya kolam susu,
kail dan jala cukup menghidupimu,
tiada badai tiada topan kautemui,
ikan dan udang menghampiri dirimu.
orang bilang tanah kita tanah surga,
tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”

Bukan main. Laut digambarkan sebagai kolam susu, dimana hanya bermodalkan kail dan jala, sudah pasti menghidupi. Tanahnya, jangan ditanya, apa saja yang ditanam di atasnya pasti tumbuh, bahkan jika menanam batu sekalipun tetap akan berbuah karena tanahnya dari surga.

Tapi, lagu Koes Plus itu kini hanya pantas dijadikan lagu nina bobo sebagai pengantar tidur untuk anak-anak kita yang belum mengerti keadaan sebenarnya, tapi dengan risiko kelak ketika dewasa, mereka akan menuduh kita sebagai pembohong besar. Bagaimana tidak. Kini, tidak ada lagi kolam susu. Produksi pertanian tidak lagi mencukupi. Apa yang ditanam belum tentu tumbuh. Bahkan jika tumbuh sekalipun, harganya tidak seberapa. Petani kita makin terpuruk daya belinya. Harga produk pertanian bergerak perlahan, sedangkan harga produk nonpertanian melesat cepat, itulah yang secara teknis disebut sebagai merosotnya nilai tukar petani.

Saya teringat ketika dulu mengunjungi sentra-sentra pertanian di Pantura untuk liputan pada pertengahan 90-an, petani di sana menggambarkan keberhasilan produksi padinya hanya dengan kalimat ini: “Tahun ini kami naik haji lagi.” Saya biasanya menimpalinya dengan joke, “Kawin lagi, dong…”

Kini, nyaris semua kebutuhan pangan diimpor. Apa yang tidak kita impor saat ini? Beras yang dulu produksinya pernah mencukupi semua kebutuhan rakyat, kini harus kita datangkan dari Vietnam. Menyakitkan untuk mengetahui fakta bahwa dalam delapan tahun terakhir ini sebagian kebutuhan beras terpaksa kita impor karena lahan-lahan pertanian tidak mampu lagi memproduksi padi.

Kedelai, gula, dan garam juga kita datangkan dari negara lain. Paradoks ini melengkapi kenyataan bahwa sebagai negara dengan lahan yang luas, subur lagi beriklim bagus, kita tidak mampu mengatasi masalah dasar: memenuhi kebutuhan pangan warganya. Dilihat dari perspektif politik dan keamanan, ketergantung kita pada negara lain dalam masalah pangan jelas membahayakan. Tapi, kita tidak perlu menggurui pemerintahan sekarang ini tentang semua bahaya itu. Bukan saja karena presidennya seorang tentara yang berpengalaman teritorial dan sosial politik sekaligus, terlebih karena presiden kita itu bergeral doktor pertanian, lulusan Institut Pertanian Bogor, salah satu lembaga pendidikan bergengsi, untuk yang satu ini mudah-mudahan saya tidak salah. Jadi, jika pemerintah akhirnya tidak mampu mengatasi masalah pangan ini, patutlah kita bertanya: ada apa dengan mereka?

11 Comments »

  1. Tapi..sayang..indoensia juga sangat berlimpah dengan koruptor

    Comment by Daeng Leo — January 16, 2008 @ 10:15 am

  2. lihat aja jepang negara yg sempit, bahan pangan ngga mau dia mengimpor. pemerintahnya suka buatan sendiri. negara kita negara agraris dan luas kenapa bahan pangan aja harus mengimpor, khan aneh. di situ pemerintah kurang memperhatikan struktur pertanian. seandainya pemerintah mencintai produk sendiri, bahan pangan ngga bakalan mengimpor. kayaknya pemerintah mementingkan dirinya sendiri. nanti bagaimana negeri ini?

    Comment by ari — January 16, 2008 @ 2:49 pm

  3. yang parahnya lagi, kenapa impor garam? memang kurang luas ya lautan di indonesia? atau kurang asin ? atau kurang gizi jadi mesti beli garam beryodium? (X_X) sungguh ironis indonesia ini….

    Comment by gita devi — January 25, 2008 @ 3:03 pm

  4. Harta Terpendam Tanah Airku

    Harta terpendam tanah airku!

    Sampaikanlah berita gembira bahwa di tanah air negeri kita tercinta yang teramat luas ini adalah tersimpan harta yang terpendam bagi sang pencari. Harta yang terpendam dan baru akan muncul bilamana kita mau mencarinya! Harta yang bernilai ratusan juta bahkah milyaran rupiah dan hanya akan ada bilamana kita benar-benar mau mencarinya! Harta yang bilamana kita mau mencarinya maka tidak akan hanya saja menyelamatkan 1 anak bangsa yang terlahir di negeri ini akan tetapi berjuta bahkan ratusan juta anak bangsa yang akan terlahir di negeri ini akan terselamatkan pada generasi selanjutnya!

    Banyak kita berjumpa dengan orang-orang di negeri ini yang sedari dulu telah menyadari keberadaan harta ini! Banyak kita bertemu dan berbagi kisah dengan orang-orang di negeri ini yang paling tidak pernah merasakan nikmatnya hasil kerja keras serta keringat dari pencarian harta ini! Harta terpendam yang kenapa saat ini dibiarkan terus terpendam dan semakin jauh terpendam diantara hutan beton dan ladang kontruksi baja!

    Seakan hilang gairah untuk mencari dan mencari keberadaan harta terpendam tersebut! Seolah tiada sinar lentera untuk menuntun pencarian harta terpendam dimaksud! Kesejukan embun dan kokok ayam jantan di pagi hari yang jarang lagi mengiringi ayunan keyakinan derap langkah kaki sang pencari harta! Keindahan senyum mentari pagi yang seakan sirna ketika sang pencari harta memulai pencariannya! Semakin terpendamkah harta itu ? ? ?

    Tuhan yang Kuasa pastinya tidak akan pernah berhenti memberi selama sang pencari terus berusaha mencari. Tuhan yang Pengasih selalu akan memberi selama sang pencari tetap berupaya mencari. Harta terpendam itu tidak akan pernah lari selama sang pencari bertekad penuh untuk mencari. Masih ada tempat di negeri ini di mana Harta Terpendam itu tentunya tetap dapat untuk kita cari! Berikanlah ruang kepada sang pencari di mana dia akan mencari dan terus mencari! Tidak terhalangi hutan beton dan ladang kontruksi baja maka akan segera terlihatlah hasilnya nanti! Berikanlah ilmu pasti dan tidak hanya sekedar teori! Saatnya untuk beraksi dan janganlah menunggu lama lagi! Harta terpendam itu sudah lama menanti untuk kembali dicari! Jangan biarkan bangsa lain untuk merebut Harta yang kita miliki dan masih tetap akan terus kita cari, sudahlah cukup kita terjajah 350 tahun dan menderita 3,5 tahun karena harta yang kita miliki dan tetap kita cari! Inilah saatnya negeri ini Bangkit dan Jaya kembali! Petani dan Peternak Indonesia, sang pencari Harta Terpendam di negeri ini. Salam! Agus Ramada Setiadi.

    http://www.dombagarut.blogspot.com
    http://www.organicindonesianvanilla.blogspot.com

    Comment by Agus Ramada Setiadi — January 25, 2008 @ 10:01 pm

  5. ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
    Harusnya kita bersatu memikirkan apa yang saya utarakan dibawah ini setelah kita berhasil memikirkan apa yang saya utarakan kita duduki Senayan dan kita tahan semua yang korupsi, setalah kita buktikan bahwa mereka korupsi diatas Rp 1 Milyar kita hukum gantung berderet di bundaran HI setiap hari minggu pagi yang disaksikan oleh Presiden pilihan kita.
    Pernahkah Kita Sadar? Pernahkah Kita Peduli? Bahkan Untuk Diri Kita Sendiri? Kalau Saya Jadi Pengurus SPSI Ataupun SPN !!!!!! Saya Akan Jadikan Buruh, Sebagai Anggota koperasi

    Penduduk Indonesia = 222.192.000 (BPS, 2007)
    Penduduk Indonesia > 20 th = 155.524400 (BPS, 2007)
    Penduduk Jakarta = 7.776720 (Pikiran Rakyat, 2007), 5%
    Penduduk Botabek = 10.887.408 (Pikiran Rakyat, 2007), 7%
    Penduduk Indonesia Yang bekerja= 95.177.102 (BPS, 2007), 43%
    Penduduk Jakarta Yang Bekerja = 3.331.199 (BPS, 2007), 43%
    Penduduk Botabek Yang Bekerja = 4.663.678 ( BPS, 2007), 43%
    Yang mau Menjadi Anggota koperasi = 1.598.975 orang

    Iuran Bulanan Saldo Bulanan Saldo Tahunan
    a. Rp 10.000 15.989.750.000 191.877.000.000
    b. Rp 20.000 31.979.500.000 383.754.000.000
    c. Rp 25.000 39.974.375.000 479.692.500.000
    d. Rp 30.000 47.969.250.000 575.631.000.000
    e. Rp 50.000 79.948.750.000 959.385.000.000

    Dengan Jumlah Anggota = 1.598.975 orang atau hanya 20% orang yang bekerja di Jabotabek saja, dan setiap orang hannya menabung Rp 10.000, maka dana itu akan bisa digunakan untuk modal yang nantinya keuntungannya dibagikan dalam bentuk SHU tahunan, bagaimana kalau hampir seluruh rakyat kita bersatu membikin koperasi yang kuat ini,

    Kalau kita terus mengandalkan semua pejabat pemerintah kita, itu hanya mimpi, dan kalaupun ada dewi fortuna Indonesia itupun hanya mimpi, hanya inilah cara kita untuk menjadi bangsa yang besar, serta untuk membuktikan bahwa kita bukan bangsa kuli, tetapi bangsa yang bermartabat,

    Jadi bisa jadi kalau ini semua ini sudah kuat, maka tugas seluruh pengurus SPSI bukan hanya menuntut UMP, tetapi justru akan menentukan UMP itu sendiri, serta segala peraturan yang menyangkut ketenagakerjaan.
    Pernahkah Kita Membayangkan Ini Semua????

    DUKI MARSENO (021-4601412, 021-94677163, senji82@yahoo.com)

    Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 9:11 am

  6. segala sesuatu pasti berubah, dan itu sedang kita rasakan, (oleh yang peka tentunya, karena yang pekok enggak bakal bisa). Ya… manusia harus berubah juga (entahlah kalau selain manusia, gendruwo misalnya). Emang mana yang realistis, kita yg ngikut zaman, atau zaman yg ngikut kita?

    Comment by nugroho — May 7, 2008 @ 7:55 pm

  7. duka ibu pertiwi.. diperas susunya sampai kering… dikuras kolam nya sampai kering… dibombardir lautnya sampai kering…

    mau makan apa bangsa ini???

    Comment by Mas Hengky — May 22, 2008 @ 10:59 am

  8. Tulisan yang diblog ini sungguh enak dibaca.Ayatnya bagai air mengalir lalu tanpa halangan.Terus mengalir. Tapi apakah bahasa yang enak itu akan tentunya memberi kesan yang cukup untuk mengubah minda, daya fikir dan meningkat usaha untuk menjadi bangsa yang kuat. Atau ayat hanya sekadar penyejuk hati yang duka oleh bangsa yang mundur.Lihatlah bangsa yang kuat dan maju bahasa yang diguna untuk menyampaikan hajat cukup mudah dan tidak sukar difahami. Mereka mementingkan masa dan ruang helaian yang pendek untuk menyampai maksud.Penyampaian yang tegas,jelas dan tidak merugikan masa. Zaman ini bukan lagi zaman berbahasa indah untuk semua keadaan.Zaman ini ialah zaman berkejar untuk membena kekuatan bangsa. Ayuh bapak2 di indonesia kita sama-sama membena negara kita. Kita serumpum. Bapak membena indonesia yang gagah. Kekuatan indonesia adalah kekuatan melayu di malaysia. Kita mesti ingat dihujung tanjung sana sebuah negara bernama singapura seadng membena kekuatan tentera untuk menjadi Israel di Asia Timur.Kelemahan kita sangat memalukan kita nanti.Singapura bukan sahaja membena kekuatan tetapi mereka melebarkan penguasaan mereka dengan membeli harta indonesia yang harta yang murah.Kemudian nanti mereka akan menjadi majikan kepada bapak-bapak dinegara bapak sendiri.Mereka akan menguasai kontor-kontor bank-bank dan institusi kewangan. Sumber-sumber dibawa balek dan diproses untuk dijual kembali kepada pasaran indonesia. Pulau-pulau dipersekitaran singapura milik indonesia ekonominya dikuasai oleh mereka.Kita bangga dengan bahasa yang indah-indah tetapi bangsa kita maseh jauh kebelakang bangsa lain. Kita dengan jumlah yang besar tapi memiliki asset tentera yang sedikit dan berkulat. Dimana kekuatan kita …..

    Comment by wan sarjono — July 17, 2008 @ 9:39 am

  9. inti dr si ‘kolam susu’ itu adlh betapa kayanya indonesia.

    sampai detik ini indonesia masih kaya raya!

    jika memang benar miskin barangkali investor sudah buru2 hengkang dari bumi pertiwi

    indonesia masih kaya!

    tapi kekayaannya dijarah pemain asing atas nama investasi, privatisasi, liberalisasi dalam berbagai sektor,

    anehnya tata aturan yang memiskinkan penduduk indonesia malah dibuat oleh segelintir org indonesia sendiri yg mengaku bahwa dia adl wakil rakyat, preeett!

    melalui UU Migas, UU SDA, UU penanaman modal, dan sebagainya…

    yah, kita harus tanya siapa jika indonesia miskin???

    Comment by ghopink — July 18, 2008 @ 4:29 am

  10. Terima kasih semuanya yang sudah menanggapi tulisan saya, terima kasih untuk Ghopink, sudah mampir di blog liputan 6. Kami di sini menghargai perbedaan pendapat.

    tabik
    rahman

    Comment by rahman mangussara — July 18, 2008 @ 11:17 am

  11. Terim kasih juga untuk Wan Sarjono yang jika melihat caranya menulis dan kata-kata yang dipakainya, mudah ditebak, dia orang Malaysia. Salam untuk warga serumpun.

    Berbahasa yang baik itu penting dalam pergaulan, begitu kata orang - orang tua kita dulu. Bagaimana pun, sekali lagi, sudut pandang Anda cuku bagus.

    tabik
    rahman

    Comment by rahman mangussara — July 18, 2008 @ 11:22 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment