Thursday, May 23, 2013

Hillary yang Gamang

January - 9 - 2008
hillary-yang-gamang

Yus Ariyanto

Ahad, 3 Januari 1999. Senator Robert Toricelli, Kepala Komite Rekrutmen Senator Partai Demokrat, berbicara di stasiun televisi NBC bahwa Hillary Rodham Clinton bakal maju dalam pemilihan senator New York.

Ini klaim sepihak. Seperti termuat di memoarnya, Living History, Hillary langsung memburu, “Bob, kok Anda bicara soal hidupku? Anda tahu bahwa saya tak akan maju. Tapi, kenapa Anda berbicara seperti itu?”

Tanpa dikehendaki, nasi perlahan-lahan berproses menjadi bubur. Publik kadung bereaksi, spekulasi berkembang. Suara-suara dukungan mulai muncul. Terutama, dari kalangan Demokrat.

Dari dalam, Hillary tak mendulang dukungan. Teman-teman dekat melarangnya. Demikian pula lingkaran staf di Gedung Putih. Mereka mencemaskan biaya psikologis yang terlalu mahal jika Hillary ikut bertarung. Saat itu, Bill, suami Hillary, tengah menghadapi ancaman impeachment gara-gara kasus Monica Lewinsky.

Hillary kukuh berpendirian: tak akan maju. Ia mafhum, Partai Republik telah menaruh Rudy Giuliani, walikota New York yang masyhur karena kepemimpinannya pasca-tragedi 11 September, sebagai kandidat (belakangan Giuliani urung maju setelah didiagnosis mengidap kanker prostat). Pun, Hillary bukan asli New York, melainkan Illinois. Posisi sebagai First Lady juga menyulitkannya.

Namun, dukungan kian membesar bak bola salju. Pada Februari 1999, saat Senat menolak untuk memakzulkan Bill, ibunda Chelsea ini mulai gamang.

Hari-hari berlalu, dan pendirian itu akhirnya longsor. Bukan lantaran omongan para penasihat, bukan pula saran politisi Demokrat. Pada Maret 1999, Hillary berangkat ke New York untuk mengampanyekan program khusus HBO soal partisipasi perempuan di kancah olah raga. Untuk urusan itu, ia hadir di sebuah sekolah menengah. Tiba-tiba, Sofia Totti, kapten tim bola basket sekolah tersebut, mendekat dan berbisik di telinganya. “Berani bertarung, Bu Clinton,” kata Sofia. “Berani bertarung.”

Kejadian ini membawa ingatannya pada film A League of Their Own. Bintang baseball perempuan, diperankan Geena Davis, ingin meninggalkan tim untuk kembali ke rumah dan hanya mengurus keluarga. Kepada pelatihnya, diperankan Tom Hanks, ia berujar, “Ini terlalu sulit untukku.”

Sang pelatih menjawab, “Memang sudah seharusnya begitu. Jika mudah, semua orang akan melakukannya. Kesulitan yang membuat sesuatu menjadi luar biasa.”

Luluh sudah. Hillary bersedia. “Keputusan tersulit dalam hidupku adalah mempertahankan pernikahan dengan Bill dan maju menjadi senator,” ujarnya. Dan, ia ternyata menang, mengungguli Rick Lazio–calon dari Republik.

Kita tahu, lulusan Universitas Yale ini kini bertarung dengan Barack Obama demi memperebutkan posisi orang nomor satu di Gedung Putih. Kita tahu, bab yang memuat fragmen kegamangan di atas bertajuk Dare to Compete…atau “Berani Bertarung.”

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

6 Komentar pada “Hillary yang Gamang”

  1. evelynpy says:

    Pernah jadi ibu negara nampaknya belum memuaskan kepuasaan mantan istri orang nomor Amerika itu, jadinya malah mencalonkan diri sendiri. Aduh bu…mending puas diri deh, buat apa susah2 jadi orang nomor satu US. kan dulu sudah pernah, berikan kesempatan pada orang lain saja. ;)

  2. nawanug says:

    Kasian ya Hillary … kaya PRT yang dirayu sama majikannya, janji mau dikawinin eh malah blangsak. kwalitas mentalnya sama, beda posisi aja.

  3. Tapi kita lihat saja dulu…Yang penting, Amerika bisa berubah imagenya jika Hillary terpilih… Namun kita bisa contoh ketertiban pemilu di sana untuk perubahan bangsa ini…

    Salam…

  4. Andhee says:

    Mending pilih Hillary Duff :)

  5. viva Barrack Obama!
    My old friends from Menteng.

  6. u2 says:

    yup. kalo hillary jadi presiden, dia bakal jadi sejarah baru di amerika. presiden wanita pertama. yah, mirip kaya commander in chief kali. gak apa-apa biar nanti hollywood bikin film yang nyaingin all president’s men-nya alan j. pakula

Tinggalkan Komentar