Monday, May 20, 2013

Pindah (2)

January - 31 - 2008 16 KOMENTAR
pindah-2

Merdi Sofansyah

Hari-hari terakhir di Gedung Mitra, Jl. Gatot Subroto, Jakarta. Semua awak redaksi sibuk dengan kerja mengepak barang-barang pribadi dan kantor. Selain soal teknis, pindahan kali ini termasuk pindahan yang paling seru, membawa awak redaksi dengan jumlah terbanyak dibanding pindahan sebelumnya.

Pindah memang membangkitkan gairah. Gairah karena di tempat yang baru, akan ada suasana baru, tempat nongkrong baru, teman-teman yang baru hingga lokasi parkir, pastinya, juga baru.
Selengkapnya »

Kematian

January - 29 - 2008 13 KOMENTAR
kematian

Vincent Hakim R.

Amat beragam perilaku orang menghadapi dan menerima kenyataan kematian. Juga dalam hal memahami makna kematian.

Banyak orang menghadapi kematian dengan duka dan kesedihan yang teramat dalam. Bahkan cenderung menjadi berlebihan dalam menerima kedukaan, ketika ajal itu datang menjemput pada waktunya.

Selengkapnya »

Pindah (1)

January - 25 - 2008 21 KOMENTAR
pindah-1

Merdi Sofansyah

“Siaran Liputan 6 harus tetap jalan!”. Jika kata-kata itu dinyatakan 3 atau 4 tahun yang lalu, sama sekali tidak akan banyak menimbulkan pertanyaan. Tapi saat ini? Saat SCTV akan memindahkan seluruh operasionalnya ke gedung yang baru di Senayan City, kata-kata itu pastinya membuat sebagian awak Liputan 6 deg-degan.

Selengkapnya »

sepak-bola-dan-fanatisme-yang-terkoyak

M. Samsul Arifin

Final Liga Indonesia I tahun 1995. Istora Senayan Jakarta bergemuruh. Stadion terbelah dua. Suporter Persib Bandung membirukan stadion megah yang dibangun Soekarno tahun 1962 tersebut. Pendukung Petrokimia Putra Gresik betul-betul minoritas, tak banyak suara sekalipun tetap terus memompakan semangat pada kesebelasan eks galatama (Liga Sepak Bola Utama) yang dimiliki salah satu BUMN ini.

Saat itu saya hadir di Senayan di tengah kerumunan suporter ‘Maung Bandung’ yang belakangan berjuluk The Viking. Sengaja saya datang dari Bandung untuk menonton final pertama kompetisi yang meleburkan perserikatan dan galatama. Alasannya sungguh sederhana: mendukung tim asal Jawa Timur, yang kebetulan diwakili Petrokimia! Dukungan untuk daerah ini menautkan saya dengan apa yang disebut fanatisme. Semua publik tahu, fanatisismelah yang merawat sepak bola Indonesia di era perserikatan dulu.

Selengkapnya »

Delapan Besar

January - 17 - 2008 14 KOMENTAR
delapan-besar

Anton Bahtiar Rifa’i

Selain kodratnya sebagai olahraga, sepakbola acapkali hadir dalam wujud jiwa yang lain. Ia sesekali menjadi semacam seni pertunjukan. Terkadang ia juga dibebani harapan untuk melunaskan dahaga publik yang larut dalam suatu drama kompetisi. Babak delapan besar Liga Indonesia yang kini tengah digelar di Solo dan Kediri –belakangan dipindahkan ke Sidoarjo akibat kerusuhan–menjadi gambaran bahwa sepakbola tanah air kini sedang menampakkan dirinya sebagai sebuah drama, di mana ribuan orang Indonesia menggantungkan harapan akan cerita yang gegap-gempita, meskipun mungkin sedikit diwarnai sentimen primordial. Selengkapnya »

buruk-muka-cermin-dibelah

Rahman Andi Mangussara

Di bawah judul Gejolak Pasokan dan Harga Pangan, Menteri Pertanian Anton Apriyantono menulis di Kompas (16/01/08) dengan pretensi menempatkan media massa, setidak-tidaknya televisi, sebagai salah satu sumber kekacauan pangan dan harga komoditi pertanian belakangan ini. Televisi dipersalahkan karena sudut pengambilan gambar yang melulu memperlihatkan banjir di atas hamparan tanaman padi siap panen. Akibatnya, dalam pandangan Pak Menteri, muncul persepsi bahwa ketahanan pangan kita terganggu, pasar pun bereaksi seakan-akan seluruh sentra produksi padi hancur sehingga pedagang melakukan spekulasi. Selengkapnya »

para-penerima-kutuk-globalisasi

Iskandar Siahaan

Globalisasi sebagai kutuk sedang menimpa orang kecil di negeri kita. Pedagang tahu dan tempe adalah salah satu contohnya. Sebelumnya, ibu-ibu rumah tangga miskin dan pedagang penganan kecil merasakan hal sama. Ketika itu terjadi kelangkaan minyak goreng. Bersamaan dengan kutuk harga kedelai, ibu-ibu rumah tangga dan para pedagang kecil juga sedang merasakan kutuk kelangkaan minyak tanah. Selengkapnya »

Bukan Bangsa Tempe…

January - 16 - 2008 20 KOMENTAR
bukan-bangsa-tempe

M. Samsul Arifin

Tiba-tiba saya terlempar ke masa 1960-an, saat menyaksikan ribuan produsen tahu-tempe tumpah ruah di depan Istana Merdeka, Jakarta, mengadukan ketidakberdayaan mereka akibat melangitnya harga kedelai. Boleh jadi, itu aksi paling demonstratif produsen tahu-tempe sepanjang Republik ini berdiri. Di masa Soeharto, aksi beginian absen. Demikian pula di era Sukarno. Sedikit liris Bung Karno berujar, “…(Kami) bukan bangsa tempe…”. Selengkapnya »

Bukan Kolam Susu

January - 15 - 2008 11 KOMENTAR
bukan-kolam-susu

Rahman Andi Mangussara

Apa yang kurang di negeri ini? Tidak ada, semua kita punya. Indonesia disebut negeri gemah ripah loh jinawi, negeri berlimpah, tanahnya luas dan subur serta berada di kawasan dengan iklim yang tidak ekstrim. Maka tidak salah jika Koes Plus melukiskannya dengan sangat hiperbolis:

“Bukan lautan, hanya kolam susu,
kail dan jala cukup menghidupimu,
tiada badai tiada topan kautemui,
ikan dan udang menghampiri dirimu.
orang bilang tanah kita tanah surga,
tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”
Selengkapnya »

ketika-eyang-sakit

Dwi Anggia

12 Mei 2006, kasus pidana mantan Presiden Soeharto ditutup oleh Kejaksaan Agung, dengan dikeluarkannya Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan Perkara (SKP3). Selengkapnya »

Hillary yang Gamang

January - 9 - 2008 6 KOMENTAR
hillary-yang-gamang

Yus Ariyanto

Ahad, 3 Januari 1999. Senator Robert Toricelli, Kepala Komite Rekrutmen Senator Partai Demokrat, berbicara di stasiun televisi NBC bahwa Hillary Rodham Clinton bakal maju dalam pemilihan senator New York.

Ini klaim sepihak. Seperti termuat di memoarnya, Living History, Hillary langsung memburu, “Bob, kok Anda bicara soal hidupku? Anda tahu bahwa saya tak akan maju. Tapi, kenapa Anda berbicara seperti itu?” Selengkapnya »

Jati Diri

January - 7 - 2008 13 KOMENTAR
jati-diri

Vincent Hakim R.

Dalam suatu kesempatan liputan ke luar negeri, saya pernah dipanggil petugas imigrasi dan diingatkan agar formulir tentang data diri diisi lengkap.

“Maaf, ini belum Anda isi,” kata perempuan petugas sambil menunjuk kolom agama.

“Apakah harus diisi?” saya bertanya dengan gaya santai sambil agak cengengesan. Selengkapnya »

Sisi Gelap

January - 2 - 2008 5 KOMENTAR
sisi-gelap

M. Samsul Arifin

Ada yang lupa disenggol atau dibicarakan tatkala Benazir Bhutto tewas diterjang peluru seorang penembak jitu di Rawalpindi, 27 Desember 2007 (ihwal ini masih belum menjadi simpul terang). Apa itu? Dinasti politik.

Ini adalah masa silam Pakistani People Party (Partai Rakyat Pakistan), namun juga menjadi masa depannya. Sebab ketok palu untuk melanggengkan dinasti tak pernah lekang. Kurang 72 jam dari kepergian Srikandi Pakistan, PPP menobatkan generasi ketiga Bhutto, Bilawal Bhutto Zardari sebagai ketua umum partai yang didirikan sang kakek, Zulfiqar Ali Bhutto, tahun 1957. Selengkapnya »