January 31, 2008

Pindah (2)

Filed under: Liputan6, Perjalanan — Merdi Sofansyah @ 11:43 am
pindah-2

Merdi Sofansyah

Hari-hari terakhir di Gedung Mitra, Jl. Gatot Subroto, Jakarta. Semua awak redaksi sibuk dengan kerja mengepak barang-barang pribadi dan kantor. Selain soal teknis, pindahan kali ini termasuk pindahan yang paling seru, membawa awak redaksi dengan jumlah terbanyak dibanding pindahan sebelumnya.

Pindah memang membangkitkan gairah. Gairah karena di tempat yang baru, akan ada suasana baru, tempat nongkrong baru, teman-teman yang baru hingga lokasi parkir, pastinya, juga baru.
(more…)

January 29, 2008

Kematian

Filed under: Lain-lain — vincent @ 3:42 pm
kematian

Vincent Hakim R.

Amat beragam perilaku orang menghadapi dan menerima kenyataan kematian. Juga dalam hal memahami makna kematian.

Banyak orang menghadapi kematian dengan duka dan kesedihan yang teramat dalam. Bahkan cenderung menjadi berlebihan dalam menerima kedukaan, ketika ajal itu datang menjemput pada waktunya.

(more…)

January 25, 2008

Pindah (1)

Filed under: Liputan6, Perjalanan, Sains dan Teknologi — Merdi Sofansyah @ 9:17 am
pindah-1

Merdi Sofansyah

“Siaran Liputan 6 harus tetap jalan!”. Jika kata-kata itu dinyatakan 3 atau 4 tahun yang lalu, sama sekali tidak akan banyak menimbulkan pertanyaan. Tapi saat ini? Saat SCTV akan memindahkan seluruh operasionalnya ke gedung yang baru di Senayan City, kata-kata itu pastinya membuat sebagian awak Liputan 6 deg-degan.

(more…)

January 24, 2008

Sepak Bola dan Fanatisme yang Terkoyak

Filed under: Lain-lain, Olah Raga — syamsul @ 2:24 pm
sepak-bola-dan-fanatisme-yang-terkoyak

M. Samsul Arifin

Final Liga Indonesia I tahun 1995. Istora Senayan Jakarta bergemuruh. Stadion terbelah dua. Suporter Persib Bandung membirukan stadion megah yang dibangun Soekarno tahun 1962 tersebut. Pendukung Petrokimia Putra Gresik betul-betul minoritas, tak banyak suara sekalipun tetap terus memompakan semangat pada kesebelasan eks galatama (Liga Sepak Bola Utama) yang dimiliki salah satu BUMN ini.

Saat itu saya hadir di Senayan di tengah kerumunan suporter ‘Maung Bandung’ yang belakangan berjuluk The Viking. Sengaja saya datang dari Bandung untuk menonton final pertama kompetisi yang meleburkan perserikatan dan galatama. Alasannya sungguh sederhana: mendukung tim asal Jawa Timur, yang kebetulan diwakili Petrokimia! Dukungan untuk daerah ini menautkan saya dengan apa yang disebut fanatisme. Semua publik tahu, fanatisismelah yang merawat sepak bola Indonesia di era perserikatan dulu.

(more…)

January 17, 2008

Delapan Besar

Filed under: Olah Raga — anton @ 6:06 pm
delapan-besar

Anton Bahtiar Rifa’i

Selain kodratnya sebagai olahraga, sepakbola acapkali hadir dalam wujud jiwa yang lain. Ia sesekali menjadi semacam seni pertunjukan. Terkadang ia juga dibebani harapan untuk melunaskan dahaga publik yang larut dalam suatu drama kompetisi. Babak delapan besar Liga Indonesia yang kini tengah digelar di Solo dan Kediri –belakangan dipindahkan ke Sidoarjo akibat kerusuhan–menjadi gambaran bahwa sepakbola tanah air kini sedang menampakkan dirinya sebagai sebuah drama, di mana ribuan orang Indonesia menggantungkan harapan akan cerita yang gegap-gempita, meskipun mungkin sedikit diwarnai sentimen primordial. (more…)

January 16, 2008

Buruk Muka, Cermin Dibelah

Filed under: Ekonomi dan Bisnis — rahman @ 11:43 pm
buruk-muka-cermin-dibelah

Rahman Andi Mangussara

Di bawah judul Gejolak Pasokan dan Harga Pangan, Menteri Pertanian Anton Apriyantono menulis di Kompas (16/01/08) dengan pretensi menempatkan media massa, setidak-tidaknya televisi, sebagai salah satu sumber kekacauan pangan dan harga komoditi pertanian belakangan ini. Televisi dipersalahkan karena sudut pengambilan gambar yang melulu memperlihatkan banjir di atas hamparan tanaman padi siap panen. Akibatnya, dalam pandangan Pak Menteri, muncul persepsi bahwa ketahanan pangan kita terganggu, pasar pun bereaksi seakan-akan seluruh sentra produksi padi hancur sehingga pedagang melakukan spekulasi. (more…)

Para Penerima Kutuk Globalisasi

Filed under: Ekonomi dan Bisnis — iskandar @ 6:48 pm
para-penerima-kutuk-globalisasi

Iskandar Siahaan

Globalisasi sebagai kutuk sedang menimpa orang kecil di negeri kita. Pedagang tahu dan tempe adalah salah satu contohnya. Sebelumnya, ibu-ibu rumah tangga miskin dan pedagang penganan kecil merasakan hal sama. Ketika itu terjadi kelangkaan minyak goreng. Bersamaan dengan kutuk harga kedelai, ibu-ibu rumah tangga dan para pedagang kecil juga sedang merasakan kutuk kelangkaan minyak tanah. (more…)

Bukan Bangsa Tempe…

Filed under: Ekonomi dan Bisnis, Lain-lain, Sejarah — syamsul @ 1:23 pm
bukan-bangsa-tempe

M. Samsul Arifin

Tiba-tiba saya terlempar ke masa 1960-an, saat menyaksikan ribuan produsen tahu-tempe tumpah ruah di depan Istana Merdeka, Jakarta, mengadukan ketidakberdayaan mereka akibat melangitnya harga kedelai. Boleh jadi, itu aksi paling demonstratif produsen tahu-tempe sepanjang Republik ini berdiri. Di masa Soeharto, aksi beginian absen. Demikian pula di era Sukarno. Sedikit liris Bung Karno berujar, “…(Kami) bukan bangsa tempe…”. (more…)

January 15, 2008

Bukan Kolam Susu

Filed under: Ekonomi dan Bisnis — rahman @ 9:20 pm
bukan-kolam-susu

Rahman Andi Mangussara

Apa yang kurang di negeri ini? Tidak ada, semua kita punya. Indonesia disebut negeri gemah ripah loh jinawi, negeri berlimpah, tanahnya luas dan subur serta berada di kawasan dengan iklim yang tidak ekstrim. Maka tidak salah jika Koes Plus melukiskannya dengan sangat hiperbolis:

“Bukan lautan, hanya kolam susu,
kail dan jala cukup menghidupimu,
tiada badai tiada topan kautemui,
ikan dan udang menghampiri dirimu.
orang bilang tanah kita tanah surga,
tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”
(more…)

January 12, 2008

Ketika “Eyang” Sakit…

Filed under: Politik, Tokoh — dwi @ 8:07 pm
ketika-eyang-sakit

Dwi Anggia

12 Mei 2006, kasus pidana mantan Presiden Soeharto ditutup oleh Kejaksaan Agung, dengan dikeluarkannya Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan Perkara (SKP3). (more…)