December 31, 2007

Tragedi Bhutto

Filed under: Luar Negeri — andy @ 1:08 pm

Andy Budiman

Rawalpindi, seolah menjadi kota kutukan bagi dinasti politik Bhutto. April 1979, Zulfikar Ali Bhutto tewas di tiang gantungan penjara Rawalpindi oleh rejim militer Zia Ul Haq. Dua puluh delapan tahun kemudian, anaknya, Benazir Bhutto, tewas dibunuh di atas kendaraan usai kampanye di Lapangan Liaqat Bagh, Rawalpindi.

Dua bulan lalu, Benazir pulang ke tanah kelahirannya, setelah delapan tahun tinggal di pengasingan. Ia datang ketika Jenderal Pervez Musharraf, berada di senjakala kekuasaan. Sang Jenderal, sedang terjepit diantara kelompok Islam garis keras dan kelas menengah yang tak suka padanya. Pulangnya Benazir, membuka harapan baru bagi sebagian rakyat Pakistan, yang selama ini hanya punya dua pilihan: mendukung rejim militer Musharraf yang korup dan bengis, atau jatuh ke tangan kelompok Islam garis keras.

Dalam sebuah wawancara TV, dengan sorot mata tajam dan penuh percaya diri, Benazir mengaku sadar telah mempertaruhkan nyawanya. Sejak jauh hari, kelompok Al Qaida telah mengancam akan membunuh Benazir jika berani pulang. Bagi kelompok ini, ada dua dosa besar Benazir, pertama karena ia membawa agenda Barat, yakni demokrasi dan perang melawan terorisme. Kesalahan lain, ia terlahir sebagai perempuan, yang dalam pandangan kaum ortodoks tak boleh menjadi pemimpin.

Kehidupan Benazir, hampir mirip panggung film India yang penuh intrik. Tempat kemenangan dan tragedi datang silih berganti. Benazir Bhutto lahir dari keluarga kaya. Usia16 tahun, ia dikirim ke Amerika Serikat, untuk belajar di Universitas Harvard. Benazir muda, sempat bergabung dengan para aktivis mahasiswa yang turun ke jalan menentang perang Vietnam.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Universitas Oxford di Inggris untuk mengambil jurusan politik, filsafat, dan ekonomi. Di sana, ia mencatatkan diri dalam sejarah sebagai perempuan Asia pertama yang menjadi presiden kelompok debat Oxford Union yang dikenal sangat bergengsi.

Benazir memenangkan pemilu, sesaat setelah Jenderal Zia Ul Haq yang menghukum gantung ayahnya, tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat misterius. Tahun 1988, ia dilantik menjadi perdana menteri dalam usia sangat muda, 35 tahun, sekaligus tercatat sebagai pemimpin perempuan pertama, di negara berpenduduk mayoritas muslim.

Jasa terbesar Benazir adalah membawa perubahan politik di Pakistan. Ia memulihkan hak-hak kaum sipil yang sebelumnya dibungkam di bawah rejim militer. Benazir, juga mencabut larangan berkumpul bagi para mahasiswa dan serikat buruh. Media massa juga menikmati bulan madu kebebasan pada masa itu.

Bagi rakyat Pakistan, dinasti Bhutto adalah simbol perlawanan sipil atas dominasi militer. Terpilihnya Benazir lewat pemilu demokratis, bahkan menjadi sumber insipirasi bagi para perempuan khususnya di negara berpenduduk mayoritas muslim dunia. Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Benazir menyebut kemenangannya dalam pemilu adalah berkah dari kehamilan. Ia menyebut Jenderal Zia Ul Haq, ketika itu bersedia menyelenggarakan pemilu demokratis karena tahu Benazir sedang hamil. Perkiraan Zia Ul Haq meleset, dalam kondisi mengandung, Benazir tetap mampu berkeliling negeri untuk kampanye dan merebut simpati rakyat Pakistan.

Ketika berkuasa, Benazir termasuk orang yang percaya, negara tak boleh terlalu campur tangan dalam soal ekonomi. Sebagaimana penganut faham pasar bebas lain, ia lebih banyak memberi tekanan pada isu pertumbuhan. Meski oleh beberapa kalangan ia juga dianggap “kiri,” karena program pendidikan dan kesehatan bagi rakyat miskin di pelosok pedesaan.

Dua kali terpilih sebagai perdana menteri, dua kali pula Benazir terpental karena tuduhan korupsi. Kelompok oposisi, banyak mengritik sepak terjang sang suami, Asif Ali Zardari, yang oleh Benazir diangkat sebagai menteri investasi. Para oposan menuduh mereka berdua telah menerima suap bernilai jutaan dollar.

Ketika berkuasa, Benazir juga sempat berselingkuhdengan kelompok Islam garis keras, saat ia memberikan dukungan finansial kepada kelompok Taliban di perbatasan. Ketika para pelajar (baca: Taliban) ini mengambil alih Kabul pada  1996, pemerintahan Benazir Bhutto menjadi satu dari hanya tiga negara di dunia, yang memberikan pengakuan atas pemerintahan Taliban di Afghanistan. Kalau benar, Al Qaida dan Taliban ada di balik pembunuhan Benazir, maka lengkaplah kiranya tragedi dinasti politik Bhutto.

Pertengahan Oktober lalu, Benazir memutuskan untuk meninggalkan tempat pengasingannya yang yang nyaman di Dubai, Uni Emirat Arab. Tekadnya satu: merebut kembali kekuasaan dan mengembalikan Pakistan ke rel demokrasi. Bhutto menyebut, kepulangannya adalah takdir politik. Sebuah pilihan yang ia harus bayar mahal dengan nyawanya.

10 Comments »

  1. pertama-tama saya turut berduka cita atas kematian bhuto. Menurut saya ga enaknya jadi tokoh politik ya gitu. Jadi kalo masuk dunia politik harus siap terbunuh oleh lawan politiknya :D

    Comment by bocah — December 31, 2007 @ 11:29 pm

  2. Pandangan kebanyakan pengamat, selalu melihat nilai-nilai Barat, baik dan jadi acuan. Sedangkan keyakinan Islam Kaffah diidentikkan dengan garis keras. Sekali lagi soal Benazir Bhutto, penulis ini melihatnya sebagai tokoh pembaharu yang memberikan “surga” pada Pakistan. Tapi, cobalah memahami pandangan-pandangan Islam yang kita sebut garis keras. Agar kita tahu bagaimana mereka memahami Islam. Al Qaeda dan Taliban yang sering jadi kambing hitam, sebenarnya di mata banyak muslim, tak kecuali di Indonesia, merupakan pejuang. Banyak yang rindu ingin menjadi seperti syuhada Al Qaeda.

    Soal Bhutto yang tewas karena kekerasan politik, sebenarnya tidak hanya terjadi di negeri Muslim, tapi di negeri-negeri lain juga. Jika Bhutto mlayang nyawanya karena kekuasaan, apa bedanya dengan AS dan UE yang merampas kekayaan negara-negara berkembang, sehingga penduduknya juga mati kelaparan.

    Ahh … seringkali kita menjadi komparador bagi kepentingan Barat dan menyalahkan langkah kelompok dan orang-orang yang tak sesuai dengan kepentinga n Barat. Kita sudah sangat dalam terserag hegemoni peradaban Wastern.

    Comment by A.Khalik — January 1, 2008 @ 6:51 am

  3. Matinya Bhutto, adalah simbol matinya perjuangan kaum moderat. ikut berduka.

    Comment by niko — January 1, 2008 @ 5:07 pm

  4. [...] Kini, Bilawal tercatat mahasiswa hukum tingkat pertama di Universitas Oxford, Inggris. Jelas, Bilawal bau kencur untuk urusan politik, apalagi ia lebih banyak tinggal di luar tanah lahirnya—tanah air mata tempat Dinasti Bhutto memimpin Pakistan dan kemudian berakhir secara tragis. [...]

    Pingback by Blog liputan6 » Sisi Gelap — January 2, 2008 @ 12:15 pm

  5. Pagi-pagi buka koran, langsung terperanjat ketika membaca kematian Bhutto sebagai headline.
    Kasian dan amat kejam, well kadang ada pikiran yang sebenarnya aku sendiri berpikir itu tidak mungkin, apa mungkin keluarganya sendiri yang membunuhnya demi kedudukan politik di negri itu?
    Maybe yes…maybe no…

    Comment by evelynpy — January 4, 2008 @ 6:50 pm

  6. Al qaedah mengklaim bahwa ia lah yang telah berhasil membunuh bhutto. Membaca berita tersebut spontan terucap astaghfirullah, berhakkah manusia menghukum manusia lain dan mencabut nyawanya?? Tetapi ketika tahu bahwa kepulangan Bhutto ke Pakistan ditunggangi oleh kepentingan politik Amerika, terucap juga Astaghfirullah tidak cukupkah Amerika yang telah menguasai dan mendekte beberapa negara Islam? Semoga negara kita tidak terdekte oleh arogansi dan kepentingan pribadi Amerika.

    Comment by maya — January 6, 2008 @ 12:57 pm

  7. si benazir terlalu pede, masuk kandang singa nganggap enteng..nah begitu dah jadinya…sorry for her.

    Comment by sea man — January 10, 2008 @ 1:42 am

  8. hix…hix…

    how could this happen to her??
    deeply sorry from this bottom o’my heart…
    syapa pun yg melakukan tindakan “cowardly” itu…
    then it’ll be condemned by International’s life…

    Bhutto,, i’ll be always on ur own..
    wish democratic could be committed soon in Paqistan..

    labouyle_lady

    Comment by labouyle_lady — January 14, 2008 @ 5:57 pm

  9. wanita tangguh hebat cerdas pemberani!!!
    demokratis, hancurkan pemerintahan bejad sang penjajah bangsa sendiri

    Comment by R. MULIA — March 28, 2008 @ 9:23 am

  10. Kekerasan atas nama agama lagi marak, neh…
    Makanya disarankan jangan gampang percaya kalo ada yang bilang Islam adalah agama….
    Bisa saja terjadi bahwa ternyata ISLAM BUKAN AGAMA……..
    BENAR DAN SALAH GAK PENTING…., deh…! Penasaran gak percaya, coba aja dateng ke :
    http://islamreguler.wordpress.com

    Comment by ayeszemboque — June 12, 2008 @ 9:15 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment