Monday, May 20, 2013

2008

December - 29 - 2007
2008

Anton Bahtiar Rifa’i

Menatap 2008 dalam gundah. Adakah di sana kemungkinan-kemungkinan baru, ataukah kita hanya akan mendapati almanak menjadi lembaran-lembaran usang? Kita telah menggulung rangkaian tanggal dalam gelombang harapan yang bergemuruh, namun hanya gundah yang menepi.

Ketika di akhir tahun ini jutaan orang Indonesia berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan –bahkan dalam bungkus ritual materialistik– Achwan Alwaris justru telah melunaskan kemungkinan hidupnya di sudut kemuraman gang sempit di kawasan Gubeng, Surabaya. Sebuah rumah petak triplek yang pengap ditempati lelaki berusia 80 tahun itu, dengan biaya sewa lima puluh ribu rupiah per bulan. Rumah itu sebenarnya tak layak disebut rumah, karena hanya ada satu ruangan dengan dipan dan lemari usang di dalamnya, serta tungku hitam di bawah jendela.

Siapakah Waris?

Ia adalah bekas pejuang, yang di penghujung 1945 tergabung dalam Laskar Pemuda Indonesia dan ikut bertempur mempertahankan kemerdekaan. Dalam peristiwa heroik perobekan bendera Belanda di hotel Yamato (kini hotel Majapahit) Surabaya, Waris merupakan salah seorang pemuda yang ikut berdiri di bawah tiang bendera. Salah seorang adiknya gugur terkena tembakan di leher, dalam pertempuran di depan Gedung RRI Surabaya. Kini, setiap bulan Waris hidup dengan uang tunjangan dari pemerintah sebesar Rp500 ribu. Itu pun masih dipotong cicilan utang, sehingga yang ia terima hanya Rp190 ribu per bulan.

Dalam suatu kesempatan, saya pernah bertemu Waris dan menatap nasibnya dengan mata berkaca. Namun, di setiap kata yang terucap dari mulutnya, tak sedikit pun terpancar penyesalan: yang ada hanya bangga. Bagi Waris, mempertaruhkan nyawa untuk Indonesia adalah harga kehidupan yang sangat berarti, bahkan tak mungkin luntur oleh kemiskinan dan penderitaan yang menderanya. Melawan penjajahan dan penindasan adalah harga diri yang terlampau mahal untuk diukur dengan materi.

Kita mungkin harus belajar tentang harga kehidupan atau harga diri dari sosok Waris. Dalam konteks kolektif, kita menyebutnya sebagai martabat bangsa. Bagi bangsa ini, harga diri sering tampak sebagai sesuatu yang samar. Ia sesekali menjadi nyata dalam bentuk letupan-letupan.

Amarah yang mengatasnamakan martabat bangsa, misalnya, meletup tatkala tersiar kabar bahwa lagu Rasa Sayange, juga seni angklung dan reog Ponorogo, diklaim sebagai milik Malaysia. Namun sayangnya, itu hanya letupan. Sadar atau tidak sadar, bukankah selama ini kita sendiri yang memarjinalkan kesenian rakyat tradisional itu dari kehidupan kita? Kita seperti tidak memiliki kesungguhan menjadikannya sebagai bagian dari harga diri dan kehormatan bangsa. Kemudian kita hanya terhenyak, dan mengekspresikan “harga diri bangsa” itu dalam bentuk letupan amarah. Ya, harga diri telah terlanjur menjadi sesuatu yang samar.

Pembangunan yang lebih berorientasi ekonomi mungkin telah menjebak masyarakat kita dalam pola pikir yang materialistik. Pencapaian-pencapaian hidup selalu diukur dengan materi. Padahal ada nilai-nilai dan harga kehidupan yang tidak terukur oleh materi. Masih bisa tegakkah wajah kita saat mendapati kenyataan pencapaian prestasi olahraga kita bergitu tertatih-tatih, bahkan “hanya” di pentas Sea Games? Atau lihatlah betapa seragamnya layar bioskop kita oleh cerita hantu dan percintaan yang mengabaikan logika, karena kuatnya cengkraman bisnis. Mental sogok dan suap menghiasi meja birokrasi. Karena, pencapaian hidup sudah terlanjur diukur oleh materi. Harga diri dan nilai hidup telah menjadi sesuatu yang rapuh.

Di tahun 2007, kita belum beranjak dari kenyataan nasib seperti itu. Dan, kita melangkah menuju 2008 dengan membawa gundah. Adakah di sana kemungkinan-kemungkinan baru, ataukah kita hanya akan mendapati almanak menjadi lembaran-lembaran usang?

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

9 Komentar pada “2008”

  1. S a k t i says:

    Segala sesuatu itu adalah titipan Tuhan. Disaat kita sudah tidak peduli akan sesuatu itu, Tuhan akan mengambilnya dari kita dengan cara-Nya sendiri. Termasuk harga diri bangsa ini.

  2. chevy says:

    Nasionalisme kita luntur oleh harga BBM yang terus melambung. Nasionalisme kita pun terlupakan karena disibukkan oleh pertanyaan siapa presiden kita nantinya? padahal presiden kita sibuk memikirkan nasibnya sendiri.

  3. ryco says:

    gw setuju banget. orang indonesia udah pada matre, and makin gak peduli ama sesama, termasuk gak peduli ama harga diri bangsa.

  4. abustomih says:

    setiap kejadian dalam kanvas kaleidoskop 2007 sejatinya adalah hardikan dari Tuhan kepada makhluk-Nya yang sombong. mereka yang tak pernah mau berubah dan mereka yang selalu meresolusikan bangsa di tiap penghujung tahun lalu lalai dalam merealisasikannya. betapa banyak kebodohan pemerintah yang seakan tak pernah disadari, mulai dari pendidikan indonesia yang terkomersialisasikan, ekonomi rakyat yang termarjinalkan, korupsi yang dikorporasikan, kesejahteraan rakyat yang terasingkan, penanganan bencana yang kebobolan, sampai pada keangkuhan pemimpin bangsa yang tidak malu tidur di istana sementara diseberang jalan tidur para manusia kardus di trotoar taman kota. 2008 akankah berubah? kita sudah tahu hasilnya.

  5. A.Khalik says:

    Jika kita tak pernah mensyukuri segala kelimpahan yang selama ini diberikan melalui bumi pertiwi yang kaya. Yakinlah, Tuhan akan menggantinya dengan bencana dan kerusakan, memberikan pemimpin yang zhalim, dan menyisakan alam yang berang. Jika demikian keadaannya, siapa peduli dengan harga diri. Mental inlander agaknya masih lebih baik dari kondisi kita saat ini.
    Duh … malangnya bangsa besar ini …

  6. jaya says:

    Sungguh ironi bangsa ini,mereka yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini
    dengan jiwa raga tak mendapatkan perhatian yang selayaknya oleh pemerintah,ban
    bukankah tanpa jasa mereka kita tdk dapat menghirup udara kemerdekaan?
    sebaliknya mereka yang merampok,menjarah.mengkorup,kekayaan bangsa ini
    mendapatkan penghargaan yg tinggi.benarlah kata orang bijak Bangsa yang
    maju adalah bangsa yang mengahargai para PAHLAWANNYA.

  7. Dony says:

    Angka-angka dalam kalender memang bisa menorehkan sejarah-sejarah penting. Angka-angka itu juga menyimpan berjuta kisah, yang kadang diliputi kabut misteri. Tapi, percayalah bahwa waktu jua yang akan menjawabnya sendiri, meskipun manusia seringkali mengingkarinya.

    *Untuk liputan 6, Selamat datang di dunia blog, menggelindinglah!

  8. julia says:

    sekilas, rasa geram menyelimuti wajah “bangsa indonesia”, ketika para “garong” dari malaysia mencuri banyak harta pertiwi kita. tapi coba, hilangkan pandangan sekilas..dan amati dalam2. bangsa indonesia yang mana yang merasa kehilangan harta “diri” sekaligus harga dirinya? apakah bangsa indoensia yang hidup dalam bingkai hedonis, pragmatis??? bukankah mereka senang, dengan itu semua? bukankah mereka lebih senang makan spageti daripada lalapan sambal terasi??
    atau bangsa indonesia seperti waris?? dia pasti sangat teramat miris dengan ini semua, bukan miris karena kehidupannya yang termat sederhana..bukan karena uang sewa 50rb/bln nya. dia miris karena otak generasi 2008 yang termat sedrhana dan uang sewa pulau kita terhadap malaysia yang lebih murah dari sewa kontrakannya! i’m sorry to hear that…

  9. Dayat Aulia says:

    Namanya aja WARIS….? kata yg yg lengkap adalah AHLI WARIS..karna berjuta Ahli Waris yg dicampakkan Negara tanpa ada rasa kebanggaan pada para waris trsebut.. Seperti dkatan dlm komentar jaya diatas..Bangsa yg maju adalah bangsa yg bisa menghargai Para Pahlawan2 nya.Waris anggota Laskar Pemuda..Ayah saya serdadu resmi pemerintah berpanggkat Peltu yg melanglang buana dari sabang hingga marauke meninggalkan anak istri demi perjuangan Bangsa..terkadang harus juga membawa anak istri untuk berpindah dari satu kota ke kota lainnya menghindari desing peluru tentara Belanda dan kebuasan tentara Jepang yg mengaku saudara tua Bangsa…..Pada achirnya Nyawa pun menjadi taruhannya..Timah panas berbicara membantai satu kompi rombongan ayah saya yg menjadi Bunga2 Bangsa..Pahlawan kah Beliau yg meninggalkan istri dgn 4 anak2nya yg pada saat trsbt masih belum mengerti tentang apa yg Beliau perjuangkan? Seingat saya terachir kali tunjangan Negara yg diterima Ibunda Alm di thn 2001 hanya sebesar Rp 673.000 per bulan nya.. Walaupun Nyawa beliau tidak ada harga nya dimata Negara? tapi kami bangga..Bangga buanget.. Karna Nyawa Beliau2lah Bangsa ini bisa terjadi.Sampai kapankah Negara dan Bangsaku akan terus memperkaya dri sendiri tanpa melihat Para Waris yg berjuta banyak nya hidup membanting tulang berteduh dlm rumah2 petak yg berstandard rumah hewan? Saya dan berjuta Waris psti mengharap agar ada Pemimpin Bangsaku ini yg akan bisa merubah Nasib Para Waris………….MERDEKA!

Tinggalkan Komentar