December 28, 2007

Sang Waktu

Filed under: Sosial Kemasyarakatan — vincent @ 4:15 pm
sang-waktu

Vincent Hakim R.

Pergantian tahun selalu menjadi ajang pesta perayaan. Pesan biasa di balik perayaan pesta tutup dibarengi ucapan: Selamat tinggal masa lampau selamat datang tahun baru.

Apa yang terjadi dengan pergantian tahun?

Sebagian orang mungkin cemas, khawatir, dan bahkan takut karena bertambah umur. Ada orang yang menjadi kecut hati karena tambah usia – tambah tua. Rasa cemas tidak mengenal jenis kelamin. Pria wanita sama saja, takut menjadi tua. Ketuaan identik dengan keterbatasan dan dekat dengan kematian.

Anak-anak barangkali adalah perkecualian. Pergantian tahun berarti dekat dengan pesta ulang tahun yang erat dengan kegembiraan dan hadiah.

Banyak wanita takut menjadi tua. Mungkin khawatir menjadi tidak menarik lagi bagi pasangannya. Pusat kebugaran, salon kecantikan, dan operasi kecantikan, laku keras memanfaatkan kondisi psikologis kaum perempuan ini.

Dari waktu ke waktu – tahun ke tahun – masa ke masa, lebih kurang begitulah yang terjadi. Roda kehidupan berbungkus waktu terus berputar.

Manusia tidak pernah terlepas dari Sang Waktu. Apa pun suku, jabatan, dan profesinya, dan siapa pun dia.

Sang Waktu membuat lingkaran kehidupan menjadi amat pendek. Dimulai dari KELAHIRAN, masuk ke dunia kerja lalu memasuki tahap PERKAWINAN, dan diakhiri dengan masa tutup buku kehidupan KEMATIAN. Hanya itu! (Adakah yang lain?).

Nasib roda kehidupan manusia ini bahkan telah tertulis sejak ratusan tahun sebelum masehi. Dalam sebuah literatur berbentuk syair berbahasa Mesir Kuno dikatakan “Umur manusia hanya sampai 70 tahun jika kuat!” Artinya jika umur seseorang melebihi 70 tahun, anggaplah sebagai bonus belaka.

Apa itu waktu? Mengapa ada waktu? Bagaimana awal mula datangnya? Dan ke mana perginya?

Semua bangsa memiliki tradisi dan penyebutan tentang Sang Waktu. Ada sebutan Lingkarang Cakra, Sang Kala, Matahari, Chronos, Titi Mangsa, dan entah apalagi namanya, sebutannya.

Para pemikir Gereja pada abad permulaan melihat makna waktu secara ontologis dengan merujuk pada masa penciptaan alam semesta. Diawali dari Logos atau Kata atau Sabda. Sang Logos ada sejak sebelum segala sesuatu ada. Keberadaan Logos berasal dari dirinya sendiri. Belum ada langit dan bumi. Belum ada Sang Waktu.

Dalam konteks penciptaan, Sang ADA menciptakan unsur terang dan gelap. Unsur waktu berawal dari terang dan gelap yang tercakup dalam satuan: “Jadilah petang dan jadilah pagi…”. Sang Waktu diciptakan Sang ADA pertama kali pada hari pertama.

Dalam perjalanan waktu, Sang ADA oleh kaum beriman disebut sebagai Yahwe, Elohim, El, Allah, Sang Hyang Widi, Gusti, Tuhan, dan berbagi sebutan lain. Semua merujuk pada keberadaan subtansi Sang ADA yang mutlak.

Sang Waktu ada bersama Sang ADA.

Para teolog Kristen pada abad awal seolah kian memperkokoh pemikiran ontologis para filsuf tentang waktu dengan mengutip beberapa teks Kitab Suci literatur kuno yang berkaitan dengan Sang Waktu. Di antaranya:

“Sebab di mata-MU, seribu tahun sama seperti kemarin…” (teks ini diperkirakan ditulis pada zaman Musa, 1.600 tahun Sebelum Masehi di lingkungan budaya Mesir kuno) dan teks lain: “…di hadapan Allah, satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun, sama seperti satu hari”.

Seorang ahli matematika Mesir Euclidius mengaitkan makna waktu dengan hitungan matematis. Bahwa waktu mempunyai arti jelas dan mutlak, seperti halnya matematika. Waktu berkaitan langsung dengan ruang yang juga bersifat mutlak dan kaku. Dengan pemahaman dan pemikiran demikian Sang Waktu berjalan terus. Tidak dapat diganggu dan dihentikan oleh siapa pun dan dalam kondisi apa pun. Itulah Sang Waktu. Pemikiran zaman Mesir kuno ini diterima dunia hingga akhir abad ke-19. Sampai akhirnya tahun 1905 teori Relativitas Albert Einstein membuktikan bahwa ruang dan waktu tidak lagi mempunyai makna mutlak dan kaku.

Jadi apa arti waktu? (Bagi orang zaman sekarang?)

Saya akan mencuplik suatu pepatah bijak tentang makna Sang Waktu untuk orang masa kini.

Bila kau ingin tahu apa artinya waktu setahun, tanyakan pada siswa yang tidak naik kelas.

Bila kau ingin tahu apa artinya waktu sebulan, tanyakan pada peternak bebek yang menunggu telurnya menetas. Atau tanyakan pada orang yang harus membayar utang karena jatuh tempo.

Bila kau ingin tahu apa artinya waktu sehari, tanyakan pada orang yang besok mau kawin.

Bila kau ingin tahu apa artinya waktu sedetik, tanyakan pada atlet lari 100 meter. Atau tanyakan pada ibu yang menunggu detik-detik persalinan.

Atau jika kau ingin tahu tentang waktu-–tanyakan pada wartawan yang sedang dikejar deadline! Atau jurnalis TV yang harus mengirim gambar secepatnya!

Atau jika kau ingin tahu lebih jauh tentang makna waktu dan hidup, tanyakan pada orang yang akan dihukum mati esok hari.

Ketika aku merenungkan lagi tentang Sang Waktu. Makin tidak tahulah aku, apa itu Sang Waktu. Makin aku renung dan pikirkan lagi, makin misterilah Sang Waktu. Yah… lebih baik aku jalani saja waktuku. Kehidupan berjalan terus beriringan dengan Sang Waktu. Kapan berawal–- kapan berakhir– kapan hidup, kapan mati–-siapa yang tahu?

Selamat menyambut SANG WAKTU 2008 – yang penuh dengan misteri.

4 Comments »

  1. Jangan pikirin waktu, kau jadi gelisah. Takut tertinggal, takut tua, takut mati.
    Orang takut mati, karena menganggap dunia ini segalanya, tidak rela melepasnya, tetap ingin menikmati.
    Supaya tidak takut mati, kau sebut saja tahun 100 SM. Kita belum ada, tapi orang lain yang sekarang sudah mati, pada waktu itu mereka hidup. Kemudian sebut lagi tahun 3007. Kita sudah mati, tapi masih ada orang lain yang sedang menikmati dunia ini, termasuk cucu buyut kita.

    Comment by nawanug — December 28, 2007 @ 8:15 pm

  2. Hadapilah Kenyataan, Hadapilah Sang waktu..

    Comment by Andhee — December 29, 2007 @ 12:53 pm

  3. Manusia seringkali menyalahkan Sang Waktu, padahal manusia hanya bisa menilai keberadaan waktu. Ada yang merasa hari demi hari berganti terlalu cepat, ada juga yang merasa waktu yang dia jalani berjalan terlalu lambat. Yang kita butuhkan bukanlah alat pengukur waktu dengan akurasi tinggi, karena kita -manusia- seringkali mengingkari waktu. Kita semestinya bisa menghargai waktu

    Comment by Dony — January 2, 2008 @ 8:56 pm

  4. Bertambahnya waktu pada hakikatnya adalah dekatnya setiap yang bernyawa dengan kematian dan segera berakhirnya kehidupan. Seberapa banyakkah persiapan kita menuju ke “sana”?

    Comment by Fakhru — January 14, 2008 @ 2:43 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment