December 28, 2007

B’li, Tidak Hanya Kau…

Filed under: Lain-lain, Sosial Kemasyarakatan — dwi @ 9:49 pm
bli-tidak-hanya-kau

Dwi Anggia

Hhhhmmm…. Saya menarik nafas panjang, ketika bangun pagi, berada di atas sebuah bukit dengan hamparan lautan hijau kebiruan di depannya. Bau air laut.

Pagi yang panas!!! Hah, ternyata bukan pagi, saya yang bangun kesiangan. Hehe...kecapean.

Tapi semua terbayarkan, dengan panorama di depan mata saya. Lautan bersih, batu karang dan hamparan pasir putih. Dari kejauhan tampak orang-orang sedang berolah raga air. Snorkling, surfing, atau hanya sekadar duduk manis sambil menikmati alam Nusa Lembongan. Cuma 45 menit dari Pantai Sanur, Bali.

Tak kurang dari sepuluh menit, panasnya pasir putih sudah terasa di kaki saya. Sayup-sayup terdengar bunyi gergaji dan ketokan palu pada paku.

“Lagi ngebangun apa, b`li?” Saya bertanya pada seorang tukang yang sedang bekerja.

“Ohh, ini vila orang Australia,” jawab b`li tersebut.

Saya balik bertanya, “Kalau yang ini?.” Tangan saya menunjuk sebuah vila megah.

“Itu punya orang Jepang,” seru b`li sambil terus bekerja.

Ternyata memang banyak area di Nusa Lembongan ini yang dimiliki wisatawan asing. Biasanya wisatawan asing membeli dengan mengatasnamakan salah seorang warga lokal.

Wah, b`li dan gek (begitu sebutan untuk laki-laki dan perempuan di Bali), mengontrak di tanah sendiri. Bali yang dengan sejuta pesonanya, “The Goddess Island”, nyaris dimiliki oleh wisatawan asing dengan cara membeli dan membangun resort di atasnya. Pengunjung yang ingin menikmati, harus membayar. Termasuk saya, Anda, dan wisatawan lokal. Alhasil b`li tidak punya tanah di Bali…

Ini hanya sebagian kecil. Ironisnya tidak hanya di Bali. Di tanah kelahiran saya pun, hal serupa juga terjadi. Sebuah bukit dengan pemandangan indah pantai air manis, tempat legenda Malin Kundang berada, kini dimiliki oleh nelayan lobster Australia.

Hmm, b`li, tidak hanya kau yang tidak punya tanah di Bali…

20 Comments »

  1. Ini mba Anggi yang Mlancong kemarin ya? Aku liat syutingnya, mau negor malu. salam kenal mbak.

    Comment by Asri — December 29, 2007 @ 1:11 pm

  2. Hai, Anggi. Saya suka sama acara Melancong Yukkk.

    Mau tanya memangnya Pemda setempat sudah tahu yang di Aie Manis? Biasanya disana tanah ulayat …

    Comment by auliahazza — December 29, 2007 @ 4:05 pm

  3. ada yang lupa .. Anggi sudah gabung dimilis rantau@net ? gabung yukk kalau belum …

    Comment by auliahazza — December 29, 2007 @ 4:05 pm

  4. hemm…akan semakin banyak lagi mbak kekayaan bangsa ini berpindah ke bangsa lain, tanah, tambang, udara, air, laut yang terus dicolong dst. Akan semakin parah. Bangsa kita kaya. Tapi belum dikelola dg efesien dan mandiri. Masih bermental budak. Semua….dan harus kita hentikan. ayo sama-2

    Comment by Ar-to — December 30, 2007 @ 8:22 am

  5. anggi, itu karena harga diri sudah tidak ada, harga pulau apalah itu. mungkin harga bangsa ini juga sudah tergadai dan kita menangisi pulau terjual karena harga diri kita sudah lama tidak laku lagi

    Comment by chaerul dharma — December 30, 2007 @ 12:45 pm

  6. Itu potret kecil dari sinetron besar yang dipertontonkan pemimpin negeri ini. Bukankah para pemimpin kita, tabiatnya sama dengan b’li dan gek itu. Mereka jual yang jadi milik bangsa, untuk menumpuk kocek pribadi.(Ingat kasus Indosat????)

    Nah … kini ramai-ramailah jualan. Jual pulau dan jual harga diri …. Aq kadang gemes …huhuh negeri brengsek. Temen saya bilang nyesel lahir di negeri ini. Lho, kok …

    Comment by A.Khalik — January 1, 2008 @ 7:11 am

  7. Bli uli Bali, kenken kabare?? Saya lahir dan dibesarkan di Denpasar. Wkt itu seakan pantai Sanur milik kami anak2 kecil yg setiap minggu pagi bermain, berlari, mandi dilaut menyambut terbitnya mentari. Seingat saya,disana hanya ada 3 bangunan permanen Sindu Beach, rmh pelukis Le Mayeur dan Rmh Makan Mak Beng. Apa yg terjadi sekarang? Ya. Begitulah. Pernah saya mandi pagi diSanur, mau nostalgia. Tapi agak susah, krn tempat yang ada sdh milik orang (investor/pengusaha).Seharusnya Pemda setempat menyediakan 20% dari lokasi yang ada untuk publik/masyarakat lokal, spy mereka tdk seperti gelandangan. Trims anda sdh mengingatkan kita semua, paling tdk kedepan bs lebih baik. Ngomong2 saya sedang belajar BLOG. Apa itu BLOG? Apa itu ngeBLOG?

    Comment by Nyoman Wardhana — January 2, 2008 @ 8:51 am

  8. kelihatannya tinggal tunggu waktu aja, negara ini habis dijual pada orang asing.. memang kita benar-benar bangsa yang miskin moral juga miskin harta. kaciaaan deh luu…..

    Comment by tri suparyanto — January 4, 2008 @ 12:17 pm

  9. tidak hanya di nusa lembongan yang begitu, anggi. seluruh bali, yang punya view bagus udah dikuasai orang luar bali, baik orang2 jakarta atau orang2 indon lainnya atau orang2 bule yang kaya.

    Comment by nelson — January 4, 2008 @ 11:12 pm

  10. Mbak Anggi… yah begitu deh. Kami orang Bali sudah jadi tamu di rumah sendiri kok. Apalagi seperti saya yang orang Bali rantau, kalau pulang ke Bali yah seperti tamu saja, kecuali di rumah keluarga tentu. Hehe…

    Ini karena kebijakan pemerintah yang kurang tegas. Contohna: Dulu, jalur hijau ditetapkan di jalan-jalan tertentu. Ehhh, patoknya lama kelamaan bergeser dan lambat laun hilanggggg. Pokoknya kalau lihat uang, matanya yang ijo, jalur ijo jadi perumahan. Dan itu milik orang lain.

    Ada pemeo yang membuat kami miris ris ris: Orang Jawa jual bakso untuk beli tanah, sementara orang Bali jual tanah buat beli bakso. Kacian becul wargaku.

    Comment by Darmayasa — January 9, 2008 @ 1:00 pm

  11. Salam kenal ya mbak, memang kita wajib untuk mengurut dada dg keadaan indonesia dan masyarakatnya.. Kita gk usah heran dg kondisi masyarakat indonesia tp kita juga harus melihat kebawah seperti apa keadaan masyarakat indonesia, kita gk usah jauh jauh menilai keadaan masyarak indonesia karena kita masih ingat situs penjualan pulau yg digawangi sendiri oleh warga bali sendiri. Dari sini kita bisa menilai sebenarnya yg salah bukan orang asingnya dan juga bukan warga indonesianya, karena memang melakukan atas peraturan yg berlaku dan kebutuhan keduanya yg memang berbeda yg saling membutuhkan. Kita seharusnya bangga dg banyaknya warga asing yg mau tinggal di indonesia karena ini membuktikan bahwa bangsa indonesia memang layak ditempati, jadi tinggal bagaimana sistem pemerintahan mampu mengatur dan mengelola keadaan rumah atau warga asing sehingga antara warga pribumi, warga asing dan pemerintah indonesia tidak ada yg merasa dirugikan dan merugikan. Sehingga kedepan kita tidak usah lg seperti tahun 2007 yg kebingungan dg berbagai aksi klaim dr malaysia soal kebudayaan. Ini baru budaya bagaimana jika tanah ?

    Comment by Zarod — January 10, 2008 @ 6:21 pm

  12. kita hanya bisa menangis meratapi bumi pertiwi yg semakin habis, karena bangsa sendiri tak dapat memiliki buminya sendiri. kerinduan akan kenikmatan hidup diatasnya entah kapan kita bisa menikmati. kita butuh sosok yg mampu mengusir orang asing menguasai segala aspek kehidupan. Pertambangan milik siapa? Tidak adakah anak bangsa ini yang bisa membangun negerinya sendiri? Ataukah kita memang benar2 hanya sebagai negeri para kuli di negeri sendiri? Kemanakah cita2 proklamator itu disembunyikan? Kemanakan anak bangsa yang cerdik cendekia “dibuang”. Tabahkan lah anak pertiwi.

    Comment by erwin — January 14, 2008 @ 11:31 am

  13. kayanya tinggal tunggu waktu aja kita menumpang di negeri sendiri, “indonesia in memoriam”. percuma para pembesar negeri ini bilang nasionalisme kalau mereka sendiri yang membekingi penjualan asset bangsa kita. daripada cuma mereka yang menikmati lebih baik indonesia di “go public” kan saja, pasti malaysia, singapura n australia berminat. hasil penjualannya dibagi rata untuk semua bangsa indonesia buat bekal biaya kontrak di bekas negerinya. bye bye indonesia….

    Comment by hadi — January 15, 2008 @ 7:21 am

  14. Assalamu’alaikum, Wr.Wb. Emang kita kok yang salah mbak, demi materi kita juga mau menjual tanah air kita sendiri, jangankan di Bali dengan pesona alam yang indah (tentu harganya mahalkan…), ditempat saya aja mbak, tanah yang ada dikota mau dijual (ya karena permeternya lumayan), trus beli aja deh tanah di pinggiran kota sebagai gantinya, bisa bikin rumah + beli mobil sekalian, habis tu goyang kaki aja dirumah sambil nikmati hari tua, ha…..ha…..ha…..

    Comment by Andy — January 15, 2008 @ 9:36 am

  15. kepada bli nyoman,salam kenal sy kt ari.blog itu adalah,seperti karya tulis,kumpulanlink internet yg menghubungkan kita dgn orang lain agar karya tulis kita bisa di baca,dan mengunkapkan sudut pandang kita kpd orang lain untuk di mengerti,dilihat dan di tanggapi.kalau pingin jelasnya,coba lihat di http://www.blog indosiar.com ,disctv jg ada disana kita bisa ngeblog.salam ama rakyat bali

    Comment by ari — January 26, 2008 @ 9:51 am

  16. Apa saya yg salah nyimak tulisan anggi? atau anggi nya yg ga ngarti? c ketut..c nyoman terpaksa menjual tanah nya di Bali karna ekonomi nya tidak bisa lagi menunjang kebutuhan hidup nya hari2..tambah lagi Pemda setempat ga punya duit(dana yg ada dah habis di KKN)untuk membuat resort2 guna fasilitas pariwisata di daerah nya…kalau kita melihat kenyataan yg ada kita harus berterimakasih pada mereka2 c modal asing yg telah membangun mempropagandakan Negara kita guna keperluan turism tsb…dilain crita juga membuat extra incoma pada penduduk setempat membuka lapangan kerja yg ada…jdi kita tidak boleh menyalahkan c ucok atau c ketut menjual lahan nya pada orang asing..kalau saja Pemerintahan kita bebas dari KKN…? mungkin c ketut dan c ucok tetap akan menjual lahan yg ada karna faktor ekonomi lain nya yg bermunculan sehingga ketut dan ucok terpaksa harus menjual tanah milik nya…bukan begitu anggi? Contoh kecil lain nya yg ada di Bali dgn kerajinan perak nya yg sangat digemari para turis dari manca Negara yg dikelola oleh pribumi beda harga nya dgn yg di KELOLA oleh John Hardy warga USA yg ga tau gimana cara nya? bisa tinggal bertahun-tahun di bali bermandikan RUPIAH hasil perak bakar yg dikelola nya dgn keringat warga setempat..Bisa anda bayangkan gelang perak seharga 400 ribu rupiah John Hardy menjual nya di Amrik dgn seharga 4JUTA sampai 7JUTA RUPIAH… Sekarang kita sama2 menggunakan KACA MATA yg sama melihat..merenungkan..mengqanalisa knapa bisa bdegitu/bagini? Karna KKN di Negara Kita Sudah Menjadi Tradisi dlm Pemerintahan yg ada..Kalau saja Rakyat Bisa Korupsi? Mungkin c ketut..c ucok..c yoman GA BAKALAN JUAL TANAH NYA PADA ORANG ASING……….

    Comment by Dayat Aulia — January 26, 2008 @ 7:14 pm

  17. yg dibilang dayat aulia itu bener,kita harus bersyukur ma orang asing.karna mau menanamkan modalnya untuk kemajuan pariwisata coba kalau ngga dng modal asing pariwisata kita mungkin ngga seperti sekarang.pemerintahanya kebanyakan koruptor, coba renungkan juga kalau ngga karna orang asing,bali tdk akan terkenal,apa bisa orang lokal mempromosikan ,memperkenalkan, kepariwisataan kita? ya entek entenya pasti melalui orang asing agar banyak orang asing menggunjungi indonesia trutama pd bali.sekarang mari kita saling tukar informasi pd orang asing,orang lokal agar kita ngga ketinggalan,agar ada kemajuan untuk bangsa indonesia.

    Comment by ari — January 30, 2008 @ 2:18 pm

  18. Tidak perlu dibahas investor yang menanam modal karena keindahan Bali. Harusnya kita bersyukur. Toh banyak orang Indonesia yang sanggup untuk memiliki aset dalam negeri, malah investasi ke negara tetangga dengan harga 10x lipat. Karena rakyat susah, mereka jual. Karena kita harus lebih banyak belajar, bukan berkomentar dari sisi negatif.

    Comment by Saptahadi — February 9, 2008 @ 9:39 pm

  19. halo anggi, sctv akan smakin kokoh & solid jika bnyk di dukung orang2 yg smart, cerdas, gigih sperti km, i gv a big hands 4 ya anggi, jd smangat aja nonton liputan6 kalo km yg bawain beritanya, btw add ak kalo ada waktu ya, bluedyo@yahoo.com or 081559567010@mobile.indosat.net.id .. mksh anggi .. dyo

    Comment by dyo purnomo — February 21, 2008 @ 12:10 pm

  20. Wah wah wah, jangan jangan jangan, para pemimpin kita juga sudah merasa tidak punya rakyat yang harus selalu diayomi dan diperhatikan.

    Comment by Chicha — March 22, 2008 @ 11:57 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment