December 21, 2007

Capello Sejajar Monarki?

Filed under: Lain-lain, Olah Raga, Sejarah — syamsul @ 3:44 pm
capello-sejajar-monarki

M. Samsul Arifin

Terbentang jarak 40 tahun, publik Inggris merayakan kemenangan mereka di Piala Dunia 1966—saat itu masih Piala Jules Rimet—dengan menggelar reuni di Stadion Wembley, 21 Maret 2006. Reuni itu dibuat mirip pertandingan aslinya, skuad Inggris dan Jerman dihadirkan minus sejumlah pemain The Three Lions yang sudah mangkat seperti sang kapten Booby Moore.

Bobby Charlton, Geoff Hurst, George Cohen, Alan Ball, Gordon Banks, Jack Charlton, Roger Hunt hingga Martin Peters berjumpa lagi dengan Jerman yang diisi Franz Beckenbauer, Helmut Haller, Siegfried Held, Karl-Heinz Schnellinger, Willi Schulz, Uwe Seeler, Wolfgang Weber, Horst-Dieter Hoettges hingga kiper Hans Tilkowski.

1966 adalah tonggak monumental bagi Inggris, karena setelah itu The Three Lions tak pernah lagi memuncaki Piala Dunia, seperti Argentina 1986 atau Italia 2006. Itu momen paling berkesan bagi pecinta sepakbola Inggris kala Moore Cs mencium Piala Jules Rimet karya perupa Perancis, Abel La Fleur. Piala seberat 3,8 kilogram dan tinggi 35 sentimeter, berbentuk oktagonal berlambangkan bumi dipegang oleh Dewa Kemenangan yang bernama Nike (dewa Yunani purba).

Piala ini terakhir kali diperebutkan di Piala Dunia 1970, sebelum diganti dengan piala baru besutan perupa Italia, Silvio Gazzaniaga pada Piala Dunia 1974. Pemain Inggris, termasuk Garry Lineker hingga David Beckham tak pernah mampu mencium piala terbuat dari emas 18 karat, dengan berat 4,97 kilogram dan tinggi36 centimeter.

Liga Inggris boleh menjadi kompetisi terhebat dan menyedot perhatian warga Bumi. Tapi di Piala Dunia Inggris memble. Jangan bandingkan dengan Jerman yang telah memuncaki Piala Dunia 1954, 1974 dan 1990.

Dengan Belanda pun, kiprah Inggris kalah mengkilat. Betul, Belanda belum pernah memenangkan Piala Dunia. Namun, John Cruyjff Cs pada Piala Dunia 1974 telah memperlihatkan revolusi sepakbola yang hampir tandas: Total Football. Keberuntungan saja yang tak berpihak pada Cruyjff Cs, saat Belanda ditekuk Jerman (Beckenbauer, 1-2). Total Football kembali memesona di Piala Dunia 1978, sebelum ditekuk Argentina 1-3 di partai puncak.

Setelah 1966, prestasi terbaik Inggris adalah semifinalis Piala Dunia 1990. Selebihnya kandas di perempat final tahun 1970, 1986, 2002, dan 2006. Bahkan mereka gagal merumput di Piala Dunia 1974, 1978 dan 1994. Di ajang Piala Eropa Inggris–bahkan kalah dengan Yunani (juara Eropa 2004)–sama sekali tak pernah mengecap final, apalagi juara.

Saat menjadi tuan rumah Piala Eropa 1996, Alan Shearer Cs hanya mencapai semifinal. Seperti tiga perhelatan Piala Eropa 1964, 1976 dan 1984, tahun depan Inggris absen. Frank Lampard, Wayne Rooney hingga Ashley Cole tak bakal kita saksikan mengocek si kulit bundar. Lampard Cs harus sabar dengan hanya menjadi penonton saat 16 negara, termasuk tuan rumah Swiss dan Austria, berlaga memperebutkan lambang supremasi sepakbola Eropa.

Dengan timbunan sejarah itulah Fabio Capello menerima tantangan FA (Asosiasi Sepakbola Inggris) menukangi timnas Inggris yang akan dipegangnya secara resmi 7 Januari 2008 nanti. Sebuah jabatan panas, sebab harapan pecinta sepakbola negeri itu serupa sejarah 1966. Bisa dibayangkan betapa merindunya publik Inggris mendekap piala berlapis emas yang dipeluk Brasil dalam dua perhelatan Piala Dunia 1994 dan 2002 tersebut. Di sini, FA harus membikin skala prioritas. Agenda minimal seyogianya didapukkan pada Capello. Misalnya tembus semifinal Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Dalam dua tahun mendatang, Timnas Inggris harus fokus pada Piala Dunia—sebab itu satu-satunya perhelatan akbar yang tersedia di depan mata.

Memberi beban hanya lolos Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012, tentu terlalu rendah bagi sosok “spesialis juara” kelahiran 18 Juni 1946 di San Canzian d’Isonzo, Gorizia, Italia ini. Sejak menakhodai AC Milan 1991, pecinta seni dan filsafat ini telah mengantar AC Milan, Juventus, AS Roma atau Real Madrid menjuarai liga domestik. Bukan itu saja, Madrid kembali merengkuh Piala Champions Eropa 1997/1998 (saat ini Liga Champions) setelah ditangani Madrid. Milan pun memuncaki Piala Champions 1993/1994.

Dengan kapasitas Liga Inggris dan talenta yang bertebaran di sana, Capello tidak sulit memilih the winning team. Yang harus dibangkitkan, ia harus mampu menjamin permainan anggota skuad The Threee Lions sehebat jika membela klub mereka di liga domestik dan liga Eropa. Seluruh talenta yang tersedia memiliki kesempatan sama membela tim berkostum kebesaran putih tersebut. Tak ada pemain bintang yang diistimewakan. Capello mesti pandai menghitung kapasitas pemainnya agar berkontribusi maksimal bagi Timnas Inggris.

Ini yang tak konsisten dalam penampilan Inggris saat ditangani Sven Goran Eriksson dan Steve McClaren dekade 2000-an ini. Sentuhan Eriksson pernah membikin publik Inggris penuh harap tatkala menghancurkan Jerman 5-1 di kualifikasi Piala Dunia 2002. McClaren juga menerbitkan asa sebelum dikalahkan Rusia dan membuang peluang lolos ke Swiss dan Austria saat ditekuk Kroasia 2-3 di depan publik sendiri, 21 November lalu. Hanya butuh seri, Steven Gerrard harus melempar handuk. Menyesali takdir dan menangis di Wembley!

Satu lagi yang harus dicermati Capello: Pers Inggris. Di negeri tersebut, kuli disket sangat keras menguntit manajer/pelatih The Threee Lions. Bahkan hal yang tak berurusan dengan sepakbola memenuhi halaman koran dan tabloid di negeri Ratu Elizabeth II itu jika terkait pelatih timnas mereka. Percaya atau tidak, kelakuan Eriksson yang sering gonta-ganti perempuan mempengaruhi kontrak kerjanya dengan FA. Pers Inggris acap kali mengabarkan kisah cinta Erikkson dengan sejumlah wanita. Dari Nancy Del’ Olio hingga selingkuhan seperti Ulrike Johansson, Faria Adams sampai model bugil London, Jayne Connery.

Del’ Olio yang sebangsa dengan Capello sudah mewanti-wantinya agar berhati-hati dengan pers Inggris. Demikian pula sang bunda, Evelina Tortul yang mengaku tidak gembira Capello ditunjuk menukangi Inggris. Saya kira ucapan Del’ Olio ini layak dicantumkan Capello dalam catatan hariannya. “Setelah monarki dan perdana menteri, menjadi pelatih Inggris adalah pekerjaan paling penting di negeri itu.” Lonceng sejarah terus maju. Akankah Capello diingat warga Inggris seharum Monarki?

4 Comments »

  1. saya setuju banget,karena Don Fabio adalah pelatih yg mempunyai karakter yg sangat kuat.terbukti terahir di Madrid dia mampu buktikan dirinya adalah pelatih terhebat yg pernah ada di bumi eropa…THE SHOW MUST GO ON DON….

    Comment by noer ally — January 23, 2008 @ 9:16 pm

  2. ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
    Harusnya kita bersatu memikirkan apa yang saya utarakan dibawah ini setelah kita berhasil memikirkan apa yang saya utarakan kita duduki Senayan dan kita tahan semua yang korupsi, setalah kita buktikan bahwa mereka korupsi diatas Rp 1 Milyar kita hukum gantung berderet di bundaran HI setiap hari minggu pagi yang disaksikan oleh Presiden pilihan kita.
    Pernahkah Kita Sadar? Pernahkah Kita Peduli? Bahkan Untuk Diri Kita Sendiri? Kalau Saya Jadi Pengurus SPSI Ataupun SPN !!!!!! Saya Akan Jadikan Buruh, Sebagai Anggota koperasi

    Penduduk Indonesia = 222.192.000 (BPS, 2007)
    Penduduk Indonesia > 20 th = 155.524400 (BPS, 2007)
    Penduduk Jakarta = 7.776720 (Pikiran Rakyat, 2007), 5%
    Penduduk Botabek = 10.887.408 (Pikiran Rakyat, 2007), 7%
    Penduduk Indonesia Yang bekerja= 95.177.102 (BPS, 2007), 43%
    Penduduk Jakarta Yang Bekerja = 3.331.199 (BPS, 2007), 43%
    Penduduk Botabek Yang Bekerja = 4.663.678 ( BPS, 2007), 43%
    Yang mau Menjadi Anggota koperasi = 1.598.975 orang

    Iuran Bulanan Saldo Bulanan Saldo Tahunan
    a. Rp 10.000 15.989.750.000 191.877.000.000
    b. Rp 20.000 31.979.500.000 383.754.000.000
    c. Rp 25.000 39.974.375.000 479.692.500.000
    d. Rp 30.000 47.969.250.000 575.631.000.000
    e. Rp 50.000 79.948.750.000 959.385.000.000

    Dengan Jumlah Anggota = 1.598.975 orang atau hanya 20% orang yang bekerja di Jabotabek saja, dan setiap orang hannya menabung Rp 10.000, maka dana itu akan bisa digunakan untuk modal yang nantinya keuntungannya dibagikan dalam bentuk SHU tahunan, bagaimana kalau hampir seluruh rakyat kita bersatu membikin koperasi yang kuat ini,

    Kalau kita terus mengandalkan semua pejabat pemerintah kita, itu hanya mimpi, dan kalaupun ada dewi fortuna Indonesia itupun hanya mimpi, hanya inilah cara kita untuk menjadi bangsa yang besar, serta untuk membuktikan bahwa kita bukan bangsa kuli, tetapi bangsa yang bermartabat,

    Jadi bisa jadi kalau ini semua ini sudah kuat, maka tugas seluruh pengurus SPSI bukan hanya menuntut UMP, tetapi justru akan menentukan UMP itu sendiri, serta segala peraturan yang menyangkut ketenagakerjaan.
    Pernahkah Kita Membayangkan Ini Semua????

    DUKI MARSENO (021-4601412, 021-94677163, senji82@yahoo.com)

    Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 9:19 am

  3. ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH

    Tidak usah berpikir jauh ke Barat!!!!!!!!
    dirumah kita sendiri (Indonesia), Bagaimana Seorang SBY, Jk dan konco2nya sering tidak pernah memperhatikan kesejahteraan rakyat jelata yang nantinya kita selalu dengar berita busung lapar dan gizi buruk ahirnya tewas mengenaskan, tak usah berpikir jauh ke daerah coba kita selalu jalan jalan menyusuri setiap jalan diJakarta ini selalu mendapati pemulung tanpa rumah yang sehat menurut SBY JK $ kroni. seharusnya seorang pemulung bukan dibuang yang seperti terjadi selama ini. mereka tak pernah diakui penduduk, tapi saya pun mengerti hati pemulung pun akan masa bodo terhadap semua kebijakan SBY JK $ kroni karena mereka pun sama seperti saya mencari nafkah tanpa perlu bantuan SBY JK $ kroni yang sok membela rakyat jelata. harusnya kita semua setuju untuk REVOLUSI sampai benar-benar kita MATI atau Kita BEBAS KORUPSI seperti yang selalu dikerjakan oleh GANGS OF KEJAGUNG, GANGS OF BI, GANGS OF MA, GANGS OF POLRI, dan masih banyak lagi GANGS yang selalu bersekongkol dengan GANGS OF SENAYAN,
    HIDUP REVOLUSI
    REVOLUSI ATAU MATI
    REVOLUSI ATAU MATI
    REVOLUSI ATAU MATI

    WASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH

    Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 9:20 am

  4. bravo capello…tolong kembali ke AS roma kalo sudah selesai dengan inggris. capello adalah sosok pelatih yang banyak bicara kalo di lapangan, tapi itulah kelebihan dia. piss.

    Comment by dixi — April 19, 2008 @ 11:30 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment