Pada Lumpur Kita Menyerah
Zaenal Bhakti
Perlahan tapi pasti, derita korban Lumpur Lapindo semakin menciut di ruang pemberitaan media massa. Lebih delapan belas bulan berlalu, nasib mereka masih tak menentu. Sementara peristiwa-peristiwa lain hadir silih berganti, mengisi ruang-ruang utama di media massa.
Lumpur itu masih mengalir. Berbagai upaya telah dilakukan, memasukkan ratusan bola-bola beton ke lubang semburan, memanggil paranormal untuk mengerahkan daya-daya magis menghentikan semburan. Membangun tanggul, dan mengalirkan lumpur ke sungai dan laut. Tapi, lumpur seperti tak mau berhenti, seolah mengejek dengan kata-kata, “Jangan main-main dengan lumpur.”
Boleh jadi, ejekan itu ada benarnya. Terbukti kita tergagap dan tak berdaya sama sekali. Di depan mata, kita saksikan bagaimana harapan, cita-cita, kehidupan, bahkan peradaban yang selama ini diusung oleh para korban Lumpur, pelan-pelan hilang, punah dalam endapan.
Tiba-tiba, ruang utama media massa dihiasi berita soal Aburizal Bakrie yang menjadi orang paling kaya di Indonesia. Sebagian orang mencibir berita ini, sebagian lagi berupaya menjaring harapan bahwa dengan jumlah uang yang cukup besar dimiliki Aburizal Bakrie (5,4 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 50,2 triliun), maka soal ganti rugi korban Lumpur Lapindo dapat teratasi.
Tak kurang Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan, hal serupa. “Dengan kekayaan itu, pasti dibayar,” kata Kalla. Kerugian yang harus dibayar Aburizal Bakrie akibat Lumpur Lapindo kurang lebih Rp3,4 triliun, jelas ini jauh lebih kecil dari kekayaan yang dimiliki Ical.
Boleh jadi ini secercah harapan bagi korban Lumpur Lapindo. Tapi boleh jadi, juga bukan apa-apa, seperti menggantang asap. Bagi mereka, delapan belas bulan lebih, hidup dalam derita lumpur, mengajarkan banyak hal, termasuk juga soal janji-janji yang terabaikan, atau perjuangan mereka yang seolah tak henti membentur tembok ketidakpedulian para pengambil keputusan.
Tiba-tiba pula, tahun akan berganti. Tahun 2007 tinggal menghitung hari, sementara tahun 2008 telah merona di depan mata. Konon, pada setiap pergantian tahun, selalu ada kalkulasi untung-rugi, menang-kalah, atau apalah namanya. Tapi yang paling utama selalu muncul pertanyaan, akan dikenang sebagai apa kita pada tahun 2007 yang sebentar lagi berlalu?
Bagi korban Lumpur Lapindo, pergantian tahun, akan tetap sama, derita itu belum mau jua pergi. Tapi bagi mereka yang seharusnya mampu menyudahi penderitaan korban Lumpur Lapindo, tahun 2007 adalah tahun dimana mereka kalah oleh lumpur.
Kalau itu penguasa, maka penguasa itu akan dikenang sebagai penguasa yang kalah oleh Lumpur. Kalau ia pengusaha, maka pengusaha itu, adalah pengusaha yang kalah oleh lumpur. Kalau ia media, maka ia adalah media yang kalah oleh lumpur. Kalau ia negara, maka negara itu adalah Negara yang kalah oleh lumpur. Kalau ia…Ya! Pada Lumpur kita menyerah.
Maka menangislah anak cucu kita kelak, tatkala mereka tahu, bahwa dalam satu lintasan sejarah, nenek moyangnya ternyata mereka yang tak sanggup mengatasi Lumpur dan membiarkan korban lumpur terus menderita…Ah! Tak hendak saya dikenang seperti itu…

Jadi inget puisi Emily Dickson yg berjudul I’M NOBODY! WHO ARE YOU? Di bait kedua dia ungkapkan;
How dreary – to be – Somebody!
How public – like a Frog –
To tell one’s name – the livelong June –
To an admiring Bog!
Comment by muhib — December 21, 2007 @ 3:22 pm
memang sungguh2 ironis… di satu sisi… itu biank kerok jd org number wahid kayanya di negeri ini… but di sisi yg lain…… sungguh malang nasibmu wahai warga lapindo, sidoarjo……
Comment by Muhamad Arpan — December 22, 2007 @ 2:42 pm
Pada Cak Nun, Zaenal menyerah ….
Comment by nawanug — January 3, 2008 @ 2:01 pm
Inilah salah kaprahnya bangsa ini. Dahulu kala ketika rakyat memilih penguasa negri ini berpikirkah kita bahwa yang kita pilih pasti mampu membentuk team yang selalu berpihak kepada rakyatnya ?????????????? Jika kala itu kita belum berfikir, mari kita renungi kembali “SALAH SIAPA SAJA INI”.
Comment by Chicha — March 22, 2008 @ 11:22 pm