Luka
Andy Budiman
Seorang pria ditikam karena keyakinannya. Di bawah terik, Udin Saefudin yang mencoba mempertahankan langgar dan rumahnya, ditikam dada kirinya oleh segerombolan orang yang datang dan menyerang atas nama kebenaran.
Manis Lor, Kuningan, Jawa Barat, adalah desa yang tenang. Udin lahir di sana, empat puluh lima tahun silam. Sebagai buruh bangunan, hidupnya sederhana, kalau tak bisa dikatakan miskin, dengan penghasilan tak tentu. Kalau nasib lagi baik, ia bisa membawa pulang Rp500 ribu tiap bulan. Dengan uang itu, ia harus menafkahi istri dan tiga anaknya yang masih kecil.
Meski hidup miskin, Udin dulu punya kebebasan. Bebas untuk memilih dan memeluk keyakinan. Kini, satu-satunya milik Udin itu direnggut.
Kehidupan Udin dan lebih dari tiga ribu Jamaah Ahmadiyah Kuningan, mulai berubah lima tahun terakhir. Entah dari mana, selebaran hasutan mulai beredar dari tangan ke tangan di antara warga. Ahmadiyah dicap sebagai aliran sesat. Pilihan bagi mereka hanya dua, pergi meninggalkan desa atau pindah keyakinan. Udin dan ribuan orang lainnya memilih bertahan.
Puncaknya Senin lalu, saat segerombolan orang menyerang dan membakar langgar dan merusak tempat tinggal mereka. Merinding saya, melihat para ibu dengan wajah pasi, memblokade jalan dengan keberanian tersisa, sambil berharap belas kasihan para penyerang. Harapan yang sia-sia. Api amarah tetap berkobar menyambar tempat ibadah dan meninggalkan sisa kehancuran atas harta benda yang bertahun-tahun mereka kumpulkan.
Ahmadiyah punya sejarah panjang di Indonesia. Pada zaman pergolakan, mereka mereka ada di pihak Republik. Ketua pertama Ahmadiyah, R. Muhyiddin, dibunuh oleh Belanda saat agresi militer kedua. Tokoh Ahmadiyah lainnya, Abdul Wahid dan Ahmad Nuruddin ikut berjuang, menjadi penyiar RRI dan menyebarluaskan pesan kemerdekaan Indonesia dalam bahasa Inggris dan Urdu kepada dunia. Tak hanya itu, simbol gerakan mahasiswa tahun 66, Arief Rahman Hakim yang tewas saat turun ke jalan, juga lahir dari keluarga Ahmadiyah.
Ironis, 62 tahun setelah kemerdekaan, warga Ahmadiyah kini dikejar-kejar karena keyakinannya. Siti Musdah Mulia, aktivis perempuan NU, sambil menerawang bilang, “Inilah titik nadir kehidupan toleransi keberagamaan di negeri ini.”
Menyaksikan nasib Udin dan ribuan orang di Manis Lor, saya teringat Tardji “yang tertusuk padamu, berdarah padaku” (Sutardji Calzoum Bachri, 1979).

memang ada yang salah dengan teman kita para anggota ahmadiah, coba saudara fikirkan lagi lebih jauh bahwa kalian keliru, insyaf dan bertobatlah pada Allah….., maka kalian akan menjadi tenteram,,,,,. amien…
Comment by Zulkifli Abdi — December 21, 2007 @ 8:05 am
ironi, negeri yang katanya didasari pancasila, yang menerima perbedaan justru anti-perbedaan.. parahnya lagi, bangsa ini bodoh. terlalu mudah disulut. inilah bangsa kami, bangsa yang berapi-api, bangsa yang membara dengan kebodohannya.
Comment by iambirong — December 21, 2007 @ 1:47 pm
manusia memang aneh ya, Ndy…
dikasih anugerah perbedaan tapi malah tak dijadikan bekal untuk mengembangkan diri
Comment by blonty — December 24, 2007 @ 5:51 pm
Silakan mendirikan agama baru, tapi jangan membawa label Islam. Namakan saja Ahmadiyah dan tanggalkan nama Islam padanya. Penodaan terhadap agama Islam bukan perkara sepele.
Comment by Rahmat taufik hidayat — December 27, 2007 @ 6:42 am
Andy Budiman … Tulisan anda selalu kontroversi, dalam pandangan saya. Kebenaran itu jangan dilihat relatif. Itu berbahaya.
Jika Ahmadiyah punya jasa … tidakkah ratusan juta umat Islam lainnya juga punya jasa pada republik ini. Sebagai keyakinan mainstream … Islam berhak untuk bersikap dan negara wajib melindunginya.
Anda … melihat nasib Udin Saefuddin dengan keyakinannya. Tapi lihat juga nasib warga yang protes dan anarkis. Mereka protes karena mereka merasa terancam. Tapi ketika protes mereka diabaikan, anarkis salah satu jalan keluarnya.
Kenapa marah pada pembuat anarkis. Jika anak anda atau istri anda beda keyakinan. Apa yang anda lakukan? Membiarkannya ato protes. Ayoo … hehehe
Comment by A.Khalik — January 1, 2008 @ 7:32 am
that’s right brother!silahkan dg keyakinan mu..toh ini negara demokrasi.tapi,jangan bawa-bawa nama agama lain.itu namanya penodaan agama.. agama lain juga gitu kok.coba aja ngaku jadi yesus terus bikin -maaf- agama “kristen sejati” pasti diuber-uber^^
Comment by akri — January 1, 2008 @ 8:25 am
Katanya Idonesia itu menghargai berbagai perbedaan ? tapi kok gitu ya ? Dimana peran MUI sebagai penengah, Masak MUI bisanya cuma bisa ngomong HARAM & HALAL THOK.
Kasus itu terus terang aku dapat berkata
“AKU MALU JADI ORANG INDONESIA”
Ingat: TUHAN ITU TIDAK PERNAH MEMBEDAKAN AGAMA MAUPUN ALIRAN, TUHAN HANYA MEMPERHATIKAN SEGALA KEBAIKAN DAN KEJAHATAN KITA DI DUNIA. TITIK !!!!!!!!
Comment by wufehoung — January 7, 2008 @ 2:38 pm
Cara-cara anarkis dalam rangka protes apapun tidak boleh dengan cara anarkis. Dalam agama Islampun tidak ada yang memerintahkan umatnya untuk berbuat anarkis, apalagi merusak tempat ibadah, merusak rumah tempat tinggal, menyakiti, bahkan membunuh. Hal itu sungguh bukan tuntunan Islam dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Cara2 yang dituntunkan adalah melalui musyawarah langsung dengan para tokoh masyarakat yang sedang bermasalah, dan kalau hal tersebut belum bisa diselesaikan maka harus dilakukan pendekatan persuasif oleh pemerintah setempat, dan kalau tidak berhasil baru melalui jalur hukum. Jangan sampai tahapan tersebut dilakukan sudah melakukan tindakan anarkis. Pada dasarnya Islam membebaskan orang untuk memilih agamanya masing2/ lakum dinukum waliayadin. Namun dalam kasus ini ada penistaan terhadap agama Islam, mengingat dalam Islam sudah jelas nabi Muhammad adalah nabi terakhir, namun dalam ahmadyah memunculkan nabi baru, yang tentunya ini tidak bisa diterima oleh masyarakat muslim. Anjuran saya kepada ahmadyah agar kembali ke Islam yang benar dengan nabi Muhammad sebagai rosul Alloh dan tolong dalami dulu kitab Alqur’an, sehinnga tahu betul ajaran yang benar, karena dalam islam tidak ada ajaran yang merugikan manusia, sebaliknya memberi petunjuk untuk umat manusia dalam menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Wassalam
Comment by bambang gunadi — February 19, 2008 @ 12:23 pm
sepertinya negri ini sudah memakai hukum rimba, tugas yang seharusnya aparat penegak hukum yang menangani, sekarang sudah dilakukan sekelompok orang yang memakai kebenaran sebagai tameng.
Comment by daniel.simanjuntak — March 19, 2008 @ 7:24 pm
Wahai saudaraku sesama Muslim, tidakkah engkau selalu ingat ajaran yang Rosululloh selalu sampaikan dan ajarkan : Toleransi, perdamaian, persaudaraan dan saling memahami.
Negeri ini sedang meradang karena kemiskinan dan pendzoliman kekuasaan, JANGAN TAMBAH DERITA BANGSA INI DENGAN KEKERASAN DAN KESEWENANGAN.
Mari kita selesaikan setiap masalah dengan mengatasnamakan perdamaian.
Comment by Chicha — March 22, 2008 @ 10:45 pm
ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
Harusnya kita bersatu memikirkan apa yang saya utarakan dibawah ini setelah kita berhasil memikirkan apa yang saya utarakan kita duduki Senayan dan kita tahan semua yang korupsi, setalah kita buktikan bahwa mereka korupsi diatas Rp 1 Milyar kita hukum gantung berderet di bundaran HI setiap hari minggu pagi yang disaksikan oleh Presiden pilihan kita.
Pernahkah Kita Sadar? Pernahkah Kita Peduli? Bahkan Untuk Diri Kita Sendiri? Kalau Saya Jadi Pengurus SPSI Ataupun SPN !!!!!! Saya Akan Jadikan Buruh, Sebagai Anggota koperasi
Penduduk Indonesia = 222.192.000 (BPS, 2007)
Penduduk Indonesia > 20 th = 155.524400 (BPS, 2007)
Penduduk Jakarta = 7.776720 (Pikiran Rakyat, 2007), 5%
Penduduk Botabek = 10.887.408 (Pikiran Rakyat, 2007), 7%
Penduduk Indonesia Yang bekerja= 95.177.102 (BPS, 2007), 43%
Penduduk Jakarta Yang Bekerja = 3.331.199 (BPS, 2007), 43%
Penduduk Botabek Yang Bekerja = 4.663.678 ( BPS, 2007), 43%
Yang mau Menjadi Anggota koperasi = 1.598.975 orang
Iuran Bulanan Saldo Bulanan Saldo Tahunan
a. Rp 10.000 15.989.750.000 191.877.000.000
b. Rp 20.000 31.979.500.000 383.754.000.000
c. Rp 25.000 39.974.375.000 479.692.500.000
d. Rp 30.000 47.969.250.000 575.631.000.000
e. Rp 50.000 79.948.750.000 959.385.000.000
Dengan Jumlah Anggota = 1.598.975 orang atau hanya 20% orang yang bekerja di Jabotabek saja, dan setiap orang hannya menabung Rp 10.000, maka dana itu akan bisa digunakan untuk modal yang nantinya keuntungannya dibagikan dalam bentuk SHU tahunan, bagaimana kalau hampir seluruh rakyat kita bersatu membikin koperasi yang kuat ini,
Kalau kita terus mengandalkan semua pejabat pemerintah kita, itu hanya mimpi, dan kalaupun ada dewi fortuna Indonesia itupun hanya mimpi, hanya inilah cara kita untuk menjadi bangsa yang besar, serta untuk membuktikan bahwa kita bukan bangsa kuli, tetapi bangsa yang bermartabat,
Jadi bisa jadi kalau ini semua ini sudah kuat, maka tugas seluruh pengurus SPSI bukan hanya menuntut UMP, tetapi justru akan menentukan UMP itu sendiri, serta segala peraturan yang menyangkut ketenagakerjaan.
Pernahkah Kita Membayangkan Ini Semua????
DUKI MARSENO (021-4601412, 021-94677163
, senji82@yahoo.com)
Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 9:15 am
gmana kalau format liputan 6 pagi-nya diubah. makin enak sambil ngopi di pagi hari dan kriminalnya dibanyakin dunk.
Comment by Roland — April 21, 2008 @ 12:39 pm
Astagafirulla halazim.
Wahai pengikut ahmadia bertobatlah kepada ALLAH SWT karena kamu sudah menyimpang dari ajaran Al-Quran dan Al-Hadist. Rasul yang terkhir adalah Muhammad SAW bukan Mirza Gulam Ahmad.
Nauzubillahiminjalik…
wassalam
Comment by menre — April 21, 2008 @ 1:55 pm
JIKA PEMERINTAH KITA TEGAS TAK AKAN TERJADI HAL-HAL KERINCUAN & KEKACAUN SEPERTI INI, CONTOH SAJA ARAB SAUDI WARGANYA MANUT DAN NURUT APA KATA PEMIMPINNYA. JIKA ADA WARGA/ ALIRAN SESAT DI SURUHLAH BERTOBAT SAMPAI 3X KALO TETAP MEMBANGKANG POTONG LEHERNYA. HAL INI AKAN MENJADI PELAJARAN BAGI YANG LAINNYA.
Comment by Al Faruq — August 1, 2008 @ 2:04 am