Bulan Para Peramal
Iskandar Siahaan
Desember di Indonesia – entahlah di negeri lain – adalah bulan para peramal. Pada bulan ini muncul banyak peramal. Aktornya macam-macam. Ada yang disebut atau menyebut diri paranormal, dukun, hingga pakar. Dasarnya meramal ada yang berbasiskan data dan pemikiran rasional, tapi ada pula yang tidak berbasiskan data sama sekali dan irasional. Hasil ramalan mereka dikonsumsi dengan rakusnya oleh rakyat Indonesia, baik secara langsung berkomunikasi dengan para peramal maupun melalui media-massa.
Pada golongan yang disebut atau menyebut diri pakar, yang paling getol melakukan profesi ini adalah para ekonom. Sejak ilmu ekonomi makin menjauh dari ilmu ekonomi-politiknya Adam Smith, para ekonom – tidak hanya di Indonesia – paling suka membuat ramalan. Mereka mencoba membuat ramalan – dalam bahasa mereka disebut proyeksi – keadaan ekonomi selama setahun mendatang dengan melihat unsur seperti pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, nilai tukar mata uang, harga minyak, neraca perdagangan, indeks saham, dan lain sebagainya.
Dibanding ilmu-ilmu sosial lainnya, ilmu ekonomi memang semakin matematis, dekat pada ilmu eksakta. Sejak Perang Dunia II usai, ekonom peraih nobel adalah mereka yang memperkenalkan dan menggunakan matematika sebagai alat. Dengan kian kaburnya batas antara ilmu-ilmu sosial dan humaniora dengan ilmu eksakta dalam ilmu ekonomi, para pengembannya merasa mampu dan layak membuat ramalan. Mereka meniru koleganya dalam ilmu eksakta, bahwa obyek ilmunya dalah benda-benda mati — karena itu ramalan bisa dilakukan. Di sana tidak ada respons dari si obyek. Ilmu-ilmu sosial dan humaniora sulit membuat ramalan, prediksi, atau proyeksi lantaran obyeknya manusia, makhluk hidup yang memberi respons pada ilmuwannya.
Tahukah Anda, apa akibat dari semua ini? Dalam banyak hal, ramalan para ekonom ini lebih sering melesetnya ketimbang tepatnya. Karena itu muncul “joke” di kalangan komunitas ilmu sosial, bahwa ekonom hanya mampu meramal yang pasti tidak akan terjadi. Ramalah mereka tentang apa yang akan terjadi lebih sering salah daripada benar. Tapi, begitulah. Seperti orang yang tersesat dalam hutan yang gelap, sekecil apa pun pelita yang ada, entah dari mana pun datangnya, lantas saja disambar. Orang-orang dalam hutan itu butuh kompas, panduan.
Ihwal begini juga terjadi pada industri penyiaran televisi swasta komersial. Semua berpedoman pada rating dan share yang dikeluarkan AC Nielsen Media Research. Padahal bagaimana cara kerja lembaga ini melakukan survei penonton, apakah sampel ditarik secara benar, apakah datanya dikumpulkan secara benar, apakah data dibaca dengan cara yang benar sebelum disajikan ke khalayak tak ada yang pernah tahu. Karena AC Nielsen adalah lembaga satu-satunya pembuat rating dan share program televisi di Indonesia. Ia bisa menolak untuk diaudit. Mau pakai silakan, tidak juga tak apa-apa. Padahal lembaga inilah yang menentukan “hidup matinya” stasiun televisi swasta komersial.
Pada area ramal-meramal di bidang ekonomi, keadaannya memang lebih tidak menyeramkan. Karena dalam bulan Desember, publik bisa mendengar dan membaca hasil ramalan dari banyak ekonom. Tidak ada satu ekonom yang bertindak seperti AC Nielsen yang hasil ramalannya diperlakukan layaknya seperti berhala. Kalau tidak puas, publik juga masih bisa membandingkannya dengan ramalan para dukun atau paranormal.
Karena itu, baiklah jika pada bulan Desember ini Anda tidak hanya percaya atau membaca satu ramalan dari satu ekonom. Kumpulkan dan bacalah sebanyak-banyaknya ramalan dari sebanyak-banyaknya ekonom, kemudian banding-bandingkan, lalu tarik kesempulan sendiri. Soalnya, meski sumber data mereka sama – dari BPS atau Bank Indonesia, misalnya – karena asumsi dan orientasinya berbeda, hasilnya pun bisa berbeda.
Celakanya, belakangan ini kesukaan meramal di negeri kita ternyata tidak lagi menjadi ekslusif milik para ekonom. Di bulan Desember, beberapa tahun terakhir ini, kita juga mulai sering mendengar dan membaca ramalan yang dilakukan oleh (yang disebut dan menyebut diri) pakar ilmu politik, sosiologi, bahkan filsafat. Hasilnya? Ramalan ekonom yang ilmunya kian matematis saja sering salah, apalagi ramalan mereka. Tapi, entah apa sebabnya, kesukaan membuat ramalan ini tetap saja dilakukan. Mungkin inilah negeri para peramal yang bedanya memang begitu tipis dengan negeri takhayul.

good article bang…more lik this
Comment by djoko — December 19, 2007 @ 10:18 pm
MUNGKIN MEMANG BANGSA INDONESIA LEBIH CENDeRUNG TERTARIK PADA BERITA ABSTRAK DARIPADA BERITA NYATA. KARENA ITU RAMALAN LEBIH BANYAK DIKONSUMSI SEBAGAI PERBINCANGAN DARI PADA PENEMUAN. BAHKAN UNTUK RAMALAN YANG NYATA-NYATA AKAN MERESAHKAN MASYARAKAT SENDIRI MASIH DIKONSUMSI DAN DIDUKUNG DENGAN HIPERBOLA YANG MEMPERPANJANG KEABSTRAKAN RAMALAN TERSEBUT. ALHASIL BERUJUNG PADA KERESAHAN DAN KETAKUTAN PADA MASA DEPAN BERDASARKAN RAMALAN.
Comment by EVA — December 19, 2007 @ 11:01 pm
Perkiraan pun tetap ramalan.
Comment by comicusmnn — December 20, 2007 @ 8:16 pm
Saya pun senang diramal kalau ramalannya bagus, hehehe…. sebenarnya bukan ramalan aja yang diberhalakan, liat saja sekarang kok tayangan yang mempertontonkan aurat baik pria/wanita di dunia ini semakin lumrah???? Maybe some people say “fortune teller is # 1 and God is # 2″…
Comment by gytha devie — December 21, 2007 @ 10:06 am
yang aneh… yang disukai
Comment by Muhamad Arpan — December 22, 2007 @ 2:29 pm
mungkin ilmuwan yg akan meramalkan bengkulu akan terjadi tsunami dan gempa bumi yang dahsyat sudah sakit jiwa. tinggal kita perbanyak ibadah kepada tuhan agar tuhan mai mengampuni dosa-dosa kita semua. amien.
Comment by punya_transformasi — December 24, 2007 @ 5:05 pm
saya dengar juga peramal dari brasil. katanya bengkulu akan terjadi gempa yang dahsyat. waktu itu saya sangat kuatir sekali, walaupun saya bukan warga bengkulu, saya merasakan, bagaimana kalau ramalan tsb terbukti. sampai saya ngga bisa tidur.trus, saya berdoa semoga hal itu tidak terjadi di tanah air. besoknya, saya buka internet lihat website liputan 6. ternyata gempa tidak terbukti. saya baru lega dan senang.
Comment by ari — December 28, 2007 @ 5:36 pm
oya,sy kepingin menyampaikan komentar dan lain2 tp sayang ngga bisa,karna harus melengkapi,kode keamanan dan lain2.kebetulan sy ada di luar negri jd ngga bisa melengkapinya,kalau bisa,dlm menyampaikan komentar ,cuman ada,name dan email. agar praktis oya sy minta maaf karna menyampaikanya lewat bagian ini.oya kepada staff sctv selamat tahun baru,terima kasih. ilike sctv
Comment by ari — December 28, 2007 @ 5:52 pm
bangsa Indonesia memang sukanya meramal, mas…liat saja siaran langsung sepakbola, yang jago tuh komentatornya meramal. seharusnya bangsa Indonesia harus bisa mengubah pola pikir dari hanya meramal menjadi bergerak.
Comment by iwan — December 31, 2007 @ 11:31 am
Ramal meramal memang terjadi bukan hanya pada segi kepemerintahan seperti yg penulis katakan bahwa apa yg diramalkan baik dari para ahli yg mengaku pakar dllsbnya tdk ada satupun yg menjdi kenyataan nya. Pakar ekonomi meramal..sgala macam yg menyebut dirnya pakar ikutan meramal? ramalan bintang..ramalan jodo pun ikut andil dlm siklus yg ada..Saya jdi ikut tertarik dgn apa yg penulis kemukakan dlm blog ini dlm prediksi yg akurat akan terjadi(djamin halal)Saya mulai dgn masalah Ekonomi di indonesia…Hutang Negara pada Bank Dunia etc yg sebagian besar masuk kantong para Pejabat dan hilang tanpa rimba nya takkan pernah bsa terbayar kan sampai penulis mempunyai anak cucu buyut….. Sekarang so’al jodo… Kalau saja alat2(life support) yg ada pada Soeharto mantan Presiden di cabut tdk dpasangkan cc alat pembantu pernapasan..tabung pencuci darah..dlsbnya? dlm wkt 2×24jam Predikat Mantan Presiden akan resmi untk Soeharto. Apakah ada lgi yg penulis inginkan dlm soal ramal meramal?
Comment by Dayat Aulia — January 20, 2008 @ 5:22 am
La media massa sendiri lebih suka menampilkan ramalan krn lebih menguntungkan, tidak beresiko (wong cuma ramalan). Org2 jg melihat peramal sbg profesi yg plg menguntungkan, tanpa upaya keras n resiko pula, tinggal cuap2 dapat duit. Jadi…dimana ada gula disitu ada semut, semua jd pengen jadi peramal. Tinggal kita sendirilah…mau jadi orang yang percaya begituan atau percaya pada diri sendiri dan Allah SWT.
Comment by arifah — January 29, 2008 @ 7:05 pm
[...] saya, Iskandar Siahaan, menyentil keberadaan rating dan share (untuk kepentingan tulisan ini saya hanya akan memakai kata rating) dalam tulisannya di blog [...]
Pingback by Blog liputan6 » Tirani Rating — February 13, 2008 @ 3:40 pm
saya setuju jika bbm dinaikkan
Comment by aditya — May 17, 2008 @ 10:45 pm