Tuesday, May 21, 2013

Kehadiran

December - 17 - 2007
kehadiran

Vincent Hakim R.

Di saat-saat yang amat genting, orang sering membutuhkan kehadiran sosok yang bisa dipercaya, mau mendengarkan, membantu, dan mampu mengayomi. Syukur-syukur mampu memberikan kepastian dan mencarikan jalan keluar. Para korban lumpur Lapindo sampai detik ini butuh semuanya itu. Masyarakat lemah tergusur juga sama, memerlukan sosok itu. Demikian juga para pedagang di pinggir-pinggir jalan yang acap kali diusir polisi pamong praja. Atau orang-orang kecil yang tertindas oleh kaum penguasa dan dipermainkan para penegak hukum yang tidak adil. Rakyat amat rindu kehadiran sang sosok.

Kehadiran menjadi sebuah peristiwa bermakna di kala tak ada lagi jarak antara AKU dengan ENGKAU.

Gabriel Marcel, seorang filsuf Perancis (1889-1973) sangat cermat memberikan gambaran tentang hubungan sosial AKU dan ENGKAU yang penuh arti. Para pejabat pusat dan daerah juga para anggota parlemen memang sering datang mengunjungi rakyat yang sedang terkena musibah beramai-ramai— berombongan. Namun kedatangan mereka belumlah merupakan “kehadiran” sesungguhnya. Dan barangkali tak pernah ada maknanya sama sekali. Baik bagi para pengunjung maupun bagi orang-orang yang dikunjungi. Yang terjadi kemudian adalah realitas “seolah-olah” yang semu—kosong.

Apa itu kehadiran?

Hadir tidak berarti harus selalu secara objektif dalam lingkup ruang dan waktu yang sama. Bisa terjadi saya berada di dalam ruang dan waktu yang sama, namun tidak berarti saya “hadir” di situ. Kehadiran saya belum tentu dirasakan dan berarti bagi orang lain. Begitu pula sebaliknya. Mungkin bisa terjadi ada komunikasi (satu memancarkan—yang lain menerima, seperti radio). Namun tidak ada kontak.

Kehadiran baru bisa dirasakan bila AKU berjumpa dengan ENGKAU. Dalam relasi AKU dan ENGKAU terkandung makna sesama. Persona dengan persona. Individu dengan individu. Kehadiran ini dapat diwujudkan, meski dalam ruang dan waktu yang berbeda.

Secara istimewa kehadiran terealisasi konkrit dalam makna cinta. AKU dan ENGKAU mencapai level KITA. Keberadaan AKU bukan berdiri sendiri secara terpisah, demikian pula ENGKAU. Level AKU dan ENGKAU adalah satu kesatuan bagian tak terpisahkan. Dalam istilah filsafat antara AKU dan ENGKAU mewujud dalam satu kesatuan secara ontologis menjadi KITA. Sebuah kehadiran dalam bentuknya yang sempurna melebihi eksistensi memasuki strata “Ada.”

Mencintai selalu mengandung keinginan (permohonan) kepada sesama. Di dalam cinta AKU memohon kepada ENGKAU dan ENGKAU kepada AKU. Jadi dari kedua belah pihak harus ada kebersediaan. Baik untuk mendengarkan maupun menjawab. Ada posisi setara saling menghormati. AKU harus mau keluar dari egoisme dan membuka diri terhadap kehadiran ENGKAU. Begitu pula sebaliknya.

Kehadiran dalam konteks hubungan AKU dan ENGKAU yang terwujud dalam cinta, jika dipahami secara benar akan membawa kepada kesetiaan abadi. Kematian pun tidak berarti akan menghilangkan salah satu. Ikatan kesetiaan yang telah mewujud dalam KITA tidak berarti meniadakan AKU atau ENGKAU, meski maut menjemput. Kehadiran berlangsung terus-menerus melampaui ruang dan waktu.

Jadi, apa yang bisa melukai makna kehadiran?

Kembali kepada egoisme masing-masing amat menodai arti kehadiran—cinta atau makna KITA. Itu juga berarti kembali kepada AKU dan DIA (bahwa orang lain di luar kita adalah objek dan bukan subjek) bukan AKU dan ENGKAU.

Dalam kehidupan sehari-hari yang kita alami, di rumah, di kantor, atau dalam kehidupan sosial masyarakat, kita bisa merasakan–apakah kehadiran kita sudah efektif atau belum. Sudah me-manusia-kan manusia ataukah meng-objek-an manusia? Secara jujur, masing-masing diri kita bisa mengukur. Apakah kita sebagai penonton, pengamat, komentator, atau pemain. Ketika jarak mulai membentang, meski hanya serambut, kehadiran—AKU dan ENGKAU—belumlah menjadi KITA.

A friend in need is a friend indeed. Teman sejati adalah teman yang selalu hadir di saat kita sedang dalam kesusahan.

Tak mudah mencari teman sejati.

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

2 Komentar pada “Kehadiran”

  1. endoy says:

    masyarakat Indonesia termasuk di tempat saya tinggal masih AKU dan DIA. Filosofi AKU dan ENGKAU memang mesti ada di setiap level kehidupan dan berjalan seiring. Politisi sering memanfaatkan AKU dan ENGKAU atas dasar kepentingannya, Tokoh Agama pun terkadang memanfaatkan AKU dan ENGKAU hanya untuk meraih massa. Jadi AKU dan ENGKAU di negara kita hanya baru sebatas kepentingan sesaat yang tentunya tanpa cinta dan tidak memancarkan aura kekuatan dan kebersamaan. Maka -bisa jadi- pantas negara tetangga menginjak-injak harkat martabat negara kita.

  2. Rizki Gunawan says:

    “Kehadiran menjadi sebuah peristiwa bermakna di kala tak ada lagi jarak antara AKU dengan ENGKAU”
    ngena banget mas di hati. :)

Tinggalkan Komentar