Menanti Protokol Baru
Henry Sianipar
Jumat siang, di Media Center BICC, tempat penyelenggaraan KTT Perubahan Iklim (UNFCCC). Mungkin karena di Bali, nuansa sholat Jumat, tidak terlalu terlihat di sini. Sebagian besar jurnalis di tempat ini didominasi wartawan asing, dari beraneka bangsa. Kasak-kusuk, gosip sana sini, hilir-mudik membawa tripod, kamera, lampu, laptop, dan perabotan peliputan lain. Beragam peralatan, saya yakin mereka berpikir sama saat ini: apakah Konferensi ini bisa menghasilkan sesuatu yang berguna untuk menyelamatkan bumi dari perubahan iklim.
Amerika menjadi sorotan tajam. Semua sudah tahu dan mengerti, negara adidaya ini memang kerap berbuat semaunya. Tetapi untuk masalah penyelamatan bumi dari perubahan iklim, mengapa juga harus terus berbuat semaunya? Paula Debrowsi, Ketua Delegasi AS, masih bersikukuh bahwa Amerika tidak harus meratifikasi Protokol Kyoto. Wakil Menlu AS ini berkilah, bahwa Protokol Kyoto bukanlah satu-satunya jalan menyelamatkan bumi dari perubahan iklim. “Yang penting Amerika ikut dalam Action Plan,” kilah Paula…
Duuuh, pernyataan seorang birokrat sejati. Ngeles dan bermakna semu. Bagaimana mungkin Amerika bisa dapat ikut dalam Rencana Aksi Dunia menyelamatkan bumi, kalau dalam sidang-sidang konferensi, delegasi Amerika selalu berusaha mengganjal kesepakatan pengurangan persentase emisi?
Sore ini, pukul 18 WITA , Sekretaris Eksekutif UNFCCC Y De Boer akan menjelaskan hasil final konferensi ini. Tetapi kasak-kusuk para wartawan di ruangan media center ini masih bernada negatif. Dua kesepakatan penting belum bisa dicapai. Pengurangan emisi 25-40 persen pada tahun 2020 belum disepakati. REDD atau bahasa sederhananya: pemberian dana untuk pelestarian hutan, belum juga disetujui semua delegasi.
Banyak peserta, banyak kepala, banyak pemikiran, seribu satu alasan mendukung dan menerima.
Seluruh peserta delegasi yang mewakili seluruh jiwa di bumi ini, sudah berkesimpulan sama: PEMANASAN GLOBAL SUDAH TERJADI. PERUBAHAN IKLIM SUDAH TERASA. Tetapi kalau pertanyaan kedua diajukan, bagaimana cara menyelamatkan bumi dari perubahan iklim? Semua menjawab berbeda.
Biarlah para birokrat lingkungan ini berceloteh, bernegosiasi atau apalah namanya, tetapi sepertinya protokol baru yang diprediksi akan menggantikan Protokol Kyoto pada 2o12, masih akan jauh dari harapan.
Celoteh tinggal celoteh. Argumen biarlah tinggal sebagai argumen. Suhu di arena konferensi perubahan iklim ini memang terasa semakin panas. Panas oleh teriknya matahari tampak bersinar, makin dekat dengan Bali. Terik matahari ditambah teriknya suhu dari dalam gedung…terasa panas oleh selalu terganjalnya hasil konferensi oleh Amerika.
Semakin panas terasa…

mudah-mudahan konfrensi itu bisa menghasilkan sesuatu
Comment by caplang™ — December 14, 2007 @ 6:34 pm
It’s Global Warning…
Suatu kesepakatan menjadi keharusan yang harus dicapai dalam konferensi ini…
Comment by Andhee — December 15, 2007 @ 9:04 am
Semoga sukses.. dan negara aman!!!
Comment by Gilang Mahameru — December 15, 2007 @ 9:09 pm
Amreika takut dirugikan. Just it all.
Comment by bimoseptyop — December 15, 2007 @ 11:26 pm
Mari lawan pemanasan global. Kalau tetap melakukan tindakan bodoh dan membuat bumi ini tambah “sakit”, mari bersama-sama kita hitung mundur untuk kehancuran bumi tercinta ini.
Comment by ladokutu — December 16, 2007 @ 10:10 am
global warming udah terasa begitupula dengan surabaya. Manusia harus sadar diri penting nya menjaga Bumi !!! Terasa hampa bila UNFCCC hanya sebatas omongan di mulut.
Comment by andi bagus — December 16, 2007 @ 5:01 pm