December 14, 2007

Layang-layang dari Kabul

Filed under: Buku, Film, Sosial Kemasyarakatan — yus @ 11:24 am
layang-layang-dari-kabul

Yus Ariyanto

Turnamen layang-layang. Setiap tim terdiri dari dua orang; satu orang menerbangkan dan mengendalikan, seorang lagi membawakan gulungan benang dan mengulurnya. Amir dan Hassan membentuk tim. Tapi, di akhir turnamen, ketika layang-layang terakhir putus dan mereka mengejar, suatu kejadian mengubah hidup mereka sepenuhnya.

Amir tak menolong Hassan. Hanya memikirkan diri sendiri, ia membiarkan Hassan diperlakukan tak senonoh dan berkubang di rawa-rawa malu sepanjang hayat. Saat insiden terkutuk itu, dua bocah ini baru saja menginjak akil balig.

Di sana, terjadi ledakan dramatik The Kite Runner. Efeknya menyebar ke sekujur sisa kisah. Mengiris. Sejumlah kawan yang membaca mengaku menitikkan air mata—juga saya.

Versi layar lebar novel Khaled Hosseini ini diputar di Amerika Serikat sejak 14 Desember 2007. Konon, inilah salah satu karya paling ditunggu di sana. Trailer-nya sendiri bisa dijenguk di sini.

Disutradarai Marc Forster, film ini sempat dipergunjingkan lantaran Paramount Vantage, sang distributor, berkeputusan mengungsikan para aktor cilik yang membintangi dan keluarga mereka dari Kabul, Afghanistan. Keselamatan mereka serapuh batang-batang padi saat diserang gerombolan tikus.

Pihak Paramount menerima analisis bahwa adegan perogolan Hassan dapat memicu ketegangan antara suku Pashtun dan Hazara, lalu pada gilirannya menempatkan para aktor sebagai sasaran kegusaran.

Afghanistan menjadi latar cerita. Di negeri tersebut, Hazara merupakan suku paling rendah dalam strata sosial. Hassan berasal dari puak itu, sementara Amir menikmati keistimewaan sebagai Pashtun. Ayah Hassan, Ali, telah mengabdi sejak kakek Amir mengangkatnya sebagai pembantu. Seperti ayahnya, Hassan senantiasa setia: menemani dan melayani Amir. Pun, menjaga sang tuan muda saat bahaya menghampiri.

Cerita merentang dalam kurun cukup panjang, sejak sebelum serdadu Uni Soviet berbaris masuk pada akhir 1970-an hingga ketika rezim Taliban bertahta. Maka, The Kite Runner bisa dibaca pula sebagai biografi sebuah negeri yang dibikin ringsek oleh konflik tiada tepi.

Keluarga Amir mesti hijrah ke Amerika. Amir memperoleh suasana belajar yang mendukung dan berkarir sebagai penulis fiksi. Lalu, tibalah surat dari Hassan. Petikannya:

Afghanistan pada masa kecil kita telah lama mati. Tak ada kebaikan lagi di tanah ini dan kami tak bisa melarikan diri dari kematian. Pembantaian selalu mengancam. Di Kabul, ketakutan tercium di mana-mana; di jalanan, di stadion, di pasar, ketakutan telah menjadi bagian dari hidup kami di sini...”

(Kutipan-kutipan di tulisan ini saya comot dari terjemahan Indonesia oleh penerbit Qanita. O, iya, The Kite Runner telah diterjemahkan dalam 42 bahasa dan terjual lebih dari 8 juta kopi.)

Tersembul permintaan Hassan di situ: Amir diharapkan menemui Sohrab, anak Hassan, membawanya pergi, menjauh dari kekuasaan Taliban. “Mengapa harus aku? Mengapa kau tak membayar seseorang untuk pergi ke sana? Kalau masalahnya uang, biar aku yang membayarnya,” ujar Amir kepada Rahim Khan, sahabat ayahnya, yang mengantarkan surat.

Perilaku ngawur Taliban menggenangi benak Amir. Afghanistan mungkin lebih buruk ketimbang neraka dalam pikiran seseorang yang telah mencicipi kehidupan bebas Negeri Paman Sam. Kampung halaman yang telah menjelma tanah kaum barbar, tempat pikiran waras terkapar.

Toh, pertarungan batin berlangsung. Ingatan tentang dosanya pada Hassan terlalu kuat. Melekat. Amir tak kuasa melawan perasaan bersalah. Terlebih, Rahim Khan membocorkan sebungkah rahasia soal hubungan Amir dan Hassan. Ia akhirnya berangkat.

Perjalanan hidup tak selamanya mulus. Tapi, dari khilaf pun meluncur bonus. Ingatlah petikan sajak Subagio Sastrowardoyo yang kerap dikutip: melalui dosa kita bisa dewasa.

8 Comments »

  1. kalau dibandingin cerita layar lebar indonesia yang berbau cinta dan hantu, bagaimana?

    Comment by bimoseptyop — December 15, 2007 @ 11:28 pm

  2. toyyib jiddan..
    sukron katsiiron

    Comment by Dilianti Pratama P.S. — December 16, 2007 @ 10:29 am

  3. Inti dari kisah dalam novel ini disarikan dengan tepat dalam tagline filmnya: “There is a way to be good again.”

    Dalam kehidupan kita, mungkin ada dosa-dosa masa lalu yang senantiasa menghantui diri, menimbulkan rasa bersalah berkepanjangan. Namun apabila terdapat cukup penyesalan, ada banyak cara untuk penebusan…

    Comment by arie vincent — December 21, 2007 @ 3:05 pm

  4. judul novel nya di Indonesia jg masih The Kite Runner, Bung?

    Comment by fauzansigma — January 10, 2008 @ 4:16 am

  5. begitulah, bung…:)

    Comment by yus — January 10, 2008 @ 1:38 pm

  6. ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
    Harusnya kita bersatu memikirkan apa yang saya utarakan dibawah ini setelah kita berhasil memikirkan apa yang saya utarakan kita duduki Senayan dan kita tahan semua yang korupsi, setalah kita buktikan bahwa mereka korupsi diatas Rp 1 Milyar kita hukum gantung berderet di bundaran HI setiap hari minggu pagi yang disaksikan oleh Presiden pilihan kita.
    Pernahkah Kita Sadar? Pernahkah Kita Peduli? Bahkan Untuk Diri Kita Sendiri? Kalau Saya Jadi Pengurus SPSI Ataupun SPN !!!!!! Saya Akan Jadikan Buruh, Sebagai Anggota koperasi

    Penduduk Indonesia = 222.192.000 (BPS, 2007)
    Penduduk Indonesia > 20 th = 155.524400 (BPS, 2007)
    Penduduk Jakarta = 7.776720 (Pikiran Rakyat, 2007), 5%
    Penduduk Botabek = 10.887.408 (Pikiran Rakyat, 2007), 7%
    Penduduk Indonesia Yang bekerja= 95.177.102 (BPS, 2007), 43%
    Penduduk Jakarta Yang Bekerja = 3.331.199 (BPS, 2007), 43%
    Penduduk Botabek Yang Bekerja = 4.663.678 ( BPS, 2007), 43%
    Yang mau Menjadi Anggota koperasi = 1.598.975 orang

    Iuran Bulanan Saldo Bulanan Saldo Tahunan
    a. Rp 10.000 15.989.750.000 191.877.000.000
    b. Rp 20.000 31.979.500.000 383.754.000.000
    c. Rp 25.000 39.974.375.000 479.692.500.000
    d. Rp 30.000 47.969.250.000 575.631.000.000
    e. Rp 50.000 79.948.750.000 959.385.000.000

    Dengan Jumlah Anggota = 1.598.975 orang atau hanya 20% orang yang bekerja di Jabotabek saja, dan setiap orang hannya menabung Rp 10.000, maka dana itu akan bisa digunakan untuk modal yang nantinya keuntungannya dibagikan dalam bentuk SHU tahunan, bagaimana kalau hampir seluruh rakyat kita bersatu membikin koperasi yang kuat ini,

    Kalau kita terus mengandalkan semua pejabat pemerintah kita, itu hanya mimpi, dan kalaupun ada dewi fortuna Indonesia itupun hanya mimpi, hanya inilah cara kita untuk menjadi bangsa yang besar, serta untuk membuktikan bahwa kita bukan bangsa kuli, tetapi bangsa yang bermartabat,

    Jadi bisa jadi kalau ini semua ini sudah kuat, maka tugas seluruh pengurus SPSI bukan hanya menuntut UMP, tetapi justru akan menentukan UMP itu sendiri, serta segala peraturan yang menyangkut ketenagakerjaan.
    Pernahkah Kita Membayangkan Ini Semua????

    DUKI MARSENO (021-4601412, 021-32170395, senji82@yahoo.com)

    Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 9:08 am

  7. jangan mimpi mas duki…:>…mulailah dari diri kita sendiri aja dulu.

    Comment by ferary007 — April 1, 2008 @ 1:52 pm

  8. i already read this book. it really touch my heart! tiba2 aja air mata mengalir setelah bacanya…
    udah beli dvd filmnya, tp blm sempet nonton.

    Comment by wanda — April 7, 2008 @ 10:23 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment