Kemenangan
Vincent Hakim R.
Hidup tak ubahnya sebuah kompetisi. Lengkap dengan segala kompleksitas persoalannya. Yang pasti, ada kalah, ada menang. (Ya, sekali tempo, mungkin ada juga yang mengalami draw, atau impas alias balik modal). Kalah menang menjadi sangat akrab dalam kehidupan kita. Dalam kondisi hidup normal, kemenangan selalu dikejar dan bahkan ada yang menjadikannya sebagai tujuan (Adakah orang hidup mengejar kekalahan?).
Apa itu kemenangan? Mengapa dalam hidup, kemenangan selalu dikejar dan bahkan menjadi tujuan? Mengapa orang alergi terhadap kekalahan? Dan bahkan sangat sulit bisa menerima kekalahan? Orang kalah sering disejajarkan dengan orang yang bernasib malang.
Secara leksikal, arti kemenangan identik dengan kejayaan, unggul, atau untung.
Segala lini kehidupan mengenal dan akrab dengan “kemenangan”. Dalam kehidupan kaum beriman, istilah “kemenangan” sering dikaitkan dengan kemenangan atas dosa atau kesuksesan mengalahkan hawa nafsu yang bersifat amat personal. Dunia militer akrab dengan istilah kemenangan dikaitkan dengan pertempuran terhadap musuh. Atau keunggulan terhadap persenjataan pihak musuh. Demikian pula dalam drama kehidupan politik. Kemenangan identik dengan keberhasilan mengalahkan lawan-lawan politik. Kemenangan dalam kehidupan bisnis sering berkait dengan makna berhasil meraup untung besar. Semisal, menang tender.
Dunia pertelevisian pun sangat akrab dengan istilah kemenangan. Ingar-bingar pengumuman Panasonic Awards sudah berlalu. Ada yang menang dan ada yang kalah. Medio Desember 2007 ini ada pula pengumuman pemenang Festival Film Indonesia (FFI) yang disiarkan langsung SCTV. Dunia televisi juga mengintip dan mengharapkan kemenangan di dalamnya. Saya juga. Kita semua berharap, kemenangan akan datang.
Jadi sebenarnya, apa itu kemenangan?
Peristiwa tahun 490 SM di lereng Gunung Olympus menggoreskan makna sejati tentang “kemenangan.” Nilai kemenangan yang kemudian diadobsi dan diserap dunia hingga menjadi nilai universal.
Bermula dari kabar kemenangan perang tentara Yunani atas Persia. Seorang prajurit Yunani berlari sejauh 40 kilometer dari Marathon ke Athena, kota pusat pemerintahan Yunani, untuk mengabarkan informasi menggembirakan tentang sebuah kemenangan. Peristiwa ini kemudian dijadikan ritual wajib dalam pembukaan Olimpiade pesta olahraga 4 tahunan berskala dunia. Prosesi ini bertujuan untuk menghormati dewa Zeus. Dalam mitologi Yunani Kuno, Zeus dipercaya sebagai dewa penguasa langit yang amat memperhatikan manusia dan memiliki sifat-sifat kemanusiaan utuh. Masyarakat Yunani Purba percaya, Zeus bermukim di Gunung Olympus. Suatu simbolisasi tempat yang tinggi dan dimuliakan.
Ada nilai-nilai reflektif dalam peristiwa Marathon. Heroisme, motivasi dan prestasi, sport (sportivitas), kesetiaan, dan spiritualisme. Kemenangan di dalam dirinya terkandung potensi-potensi positif yang tak terpisahkan. Kemenangan sejati haruslah memiliki makna yang dalam. Memenangkan kemenangan harus diraih dengan perjuangan, motivasi, spirit, sportivitas, dan kesetiaan. Semboyan Olimpiade “Citius, Altius, Fortius” (lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat) harus dipahami dalam konteks untuk meraih kemenangan sejati. Kekalahan adalah bagian dari kemenangan. Di dalam kekalahan terkandung nilai spiritualitas kemenangan sejati, kesabaran dan kerendahan hati. Di sinilah nilai sportivitas dari sebuah kekalahan, yakni harus bisa menerima kekalahan.
Kemenangan dan kekalahan sama-sama memiliki tanggung jawab moral dan sosial yang serupa. Kemenangan tidak berhenti pada kemenangan. Pemenang yang telah memenangkan sebuah kemenangan dituntut terus menerus membawa misi nilai perjuangan, sportivitas, kesabaran dalam kesetiaan sejati, dan kerendahan hati. Seseorang yang divonis kalah pun sama.
Banyak pemenang yang tidak menyadari makna kemenangan sehingga kemenangan telah membunuh sang pemenang. Bahkan sejak pemenang memenangkan kemenangan. Dunia olahraga menjadi cermin contoh yang amat gamblang betapa kemenangan telah menjadi kemenangan kosong tanpa makna.
Tengok, pertarungan Frank Bruno vs Mike Tyson 1989. Bruno dibayar 3,8 juta dolar AS untuk kalah dalam hitungan 2-3 menit. Tyson dapat kemenangan dan uang 8 juta dolar AS. Sang petinju legendaris Cassius Clay alias Muhammad Ali pun ternyata sama. Mestinya Ali peraih medali emas tinju pada pesta Olimpiade 1960 paham akan nilai sportivitas olimpiade. Kekalahan Muhammad Ali yang mengejutkan dalam pertarungannya dengan Leon Spinks 15 Februari 1978, berbau tidak sportif dan mengkhianati makna kemenangan.
Ahh, pusing rasanya jika mengingat para tokoh masyarakat dan orang-orang yang mestinya sportif tapi justru tidak melakukannya.
Saya jadi teringat pada Ibu Sukinah, orang asli Kebumen. Janda tua beranak 7 yang telah ditinggal mati suaminya bekas tapol PKI. Suaminya jadi tapol tanpa diadili secara fair. Sukinah yang tidak pernah merasakan sekolah, bekerja serabutan untuk menghidupi anak-anaknya. Perjuangannya yang amat panjang, melelahkan, dan menyakitkan berhasil. Salah satu anaknya, sahabat saya, kini menjadi seorang pejuang hukum dan HAM yang tangguh di Medan. “Semua anak saya telah mentas dan sudah jadi orang,” katanya suatu ketika. Luar biasa! Ibu Sukinah telah meraih kemenangan sejati.

kemenangan bukan akhir dari pencapaian. lebih kepada renungan bagaimana kita mempertanggungjawabkan kemenangan tersebut. bila kita terlena, maka kita jatuh namun apabila kita tidak menerima maka kita tidak akan maju. capailah kemenangan dalam diri dengan melihat siapa diri kita, lihatlah ke depan dengan kemampuan kita tidak melebihi batas kemampuan kita, maka kemenangan akan kita raih dengan sempurna.
Comment by tanti oetojo — December 13, 2007 @ 4:33 pm
Kemenangan tidaklah abadi. Begitupun dengan kekalahan.
(Two thumbs up for this nice Blog
)
Comment by Andhee — December 13, 2007 @ 7:05 pm
kemenangan mungkin adalah ujian, kekalahan adalah pujian
Comment by pak husnawan — December 13, 2007 @ 7:24 pm
kemenangan atau kekalahan sepertinya menimbulkan popularitas. kadang orang yang mendapat kemenangan atau mungkin ia kalah, khalayak akan selalu mengingatnya biarpun jelek atau baik di mata mereka tergantung dari bagaimana sportivitas mereka……
Comment by gita devi — December 14, 2007 @ 8:45 am
kemenangan belum tentu baik
Comment by bimoseptyop — December 15, 2007 @ 11:31 pm
kemenangan tak harus menang dalam pertandingan hingar bingar namun kemenangan dari cara pandang kita berpikir utk bangkit dari kekalahan dan memperbaikinya.
Comment by andi bagus — December 16, 2007 @ 5:31 pm