Pasca-Amerika
Andy Budiman
Fareed Zakaria, kolumnis Newsweek, dengan gagah berani mengumumkan berakhirnya era Amerika Serikat di panggung dunia (Newsweek Special Edition Issues 2008). Berakhir bukan berarti runtuh. Fareed mau bilang, inilah era keruntuhan Amerika sebagai negara superpower.
Paling tidak ada dua alasan yang ia ajukan. Pertama kata Fareed, sikap warga Amerika pasca 9/11 semakin tertutup atau inward looking bahkan cenderung mengarah xenophobia. Menyitir penelitian Pew Global Attitudes atas 47 negara, ia membeberkan fakta warga Amerika semakin takut terhadap dunia. Salah satu indikatornya adalah kekhawatiran rakyat Amerika atas masuknya kekuatan ekonomi luar ke negeri mereka.
Bukan rahasia lagi, Amerika kini digempur berbagai produk asal Cina. Dari penelitian itu terungkap, sebagian besar rakyat Amerika menganggap kehadiran perusahaan asing di negeri mereka tidak memberikan dampak yang baik. Hanya 45 persen yang memberikan nilai positif. Fareed mengkritik, orang Amerika ingin perusahaan-perusahaan mereka diterima dengan baik di negara lain, tapi mereka sendiri tak bisa membuka diri bagi perusahaan asing yang ada di negera mereka.
Hal lain terungkap dari isu perdagangan. Saat, sebagian besar rakyat negara-negara lain memberikan nilai “sangat baik” bagi meningkatnya perdagangan antar negara, rakyat Amerika bersikap sebaliknya. Sebagai contoh, di Cina dukungan bagi meningkatnya perdagangan antar negara mencapai angka 91 persen, Kenya bahkan lebih tinggi lagi mencapai 93 persen. Sementara, warga Amerika menempati salah satu urutan terbawah di dunia karena hanya 59 persen yang memberikan nilai positif pada isu ini.
Inilah yang oleh Fareed disebut The End of Exceptionalism. Pada saat sebagian besar negara-negara dunia mulai menyukai demokrasi, pertukaran budaya serta perdagangan, Amerika justru bergerak ke arah sebaliknya. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan akan terjadi pada rakyat Amerika yang pada era pertengahan 80-an, menganggap diri mereka spesial karena pandangannya yang “maju.”
Kedua adalah hancurnya popularitas Amerika di mata dunia. Merata hampir di semua negara, Amerika Serikat terutama dibawah kepemimpinan George W. Bush, dianggap sebagai negara yang sangat tidak populer. Di Korea Selatan, Amerika dianggap sebagai pengganggu upaya rekonsiliasi dengan Utara. Di halaman belakangnya, mayoritas masyarakat Amerika Latin anti terhadap Amerika. Tentu saja hal ini juga didorong oleh naiknya popularitas para pemimpin “kiri” di sana. Jauh lebih buruk lagi popularitas Paman Sam di negara berpenduduk muslim dunia. Kampanye perang melawan terorisme, semakin meluluhlantakkan popularitas Amerika di semenanjung Afrika, Timur Tengah, hingga Asia Tengah dan Tenggara. Begitu besarnya gelombang anti Amerika, sehingga Newsweek suatu ketika pernah menurunkan cover utama berjudul “Why They Hate America?”
Mungkin Fareed terlalu cepat meramalkan keruntuhan Amerika. Faktanya, Paman Sam adalah negara yang mempunyai sumberdaya ekonomi dan militer yang sulit tertandingi. Dalam ekonomi, kekuatan California yang hanya merupakan salah satu negara bagian Amerika berada di urutan 8 dunia (jika ditotal tentu saja hingga kini Amerika Serikat masih menempati urutan teratas negara terkaya). Dalam hal kekuatan militer, Amerika jauh lebih besar dibanding gabungan kekuatan militer Jerman, Rusia, Inggris, Prancis, Cina dan Jepang.
Sejak 2001, nilai belanja itu terus melonjak akibat pengeluaran untuk invasi ke Afghanistan dan Irak, serta biaya untuk menempatkan pasukan dari Somalia hingga Filipina. Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika, setiap tahun menghabiskan biaya tak kurang dari 40 miliar dollar. Angka yang sangat fantastis sekaligus mencemaskan bagi para ekonom Amerika, karena lambat laun ini akan menggerogoti laju pertumbuhan ekonomi mereka.
Di tengah semua kecemasan itu, kandidat presiden terkuat dari partai Republik, Rudolph Giuliani terus menebarkan ketakutan, “Kita sedang menghadapi musuh, yang di seluruh dunia sedang merencanakan untuk datang dan membunuh kita (orang Amerika-red).”
Dengan alasan inilah Fareed Zakaria berani bilang, “Selamat datang di dunia pasca-Amerika.”

ini adalah mimpi semua masyarakat dunia ketiga, semoga menjadi kenyataan!
Comment by zaM — December 13, 2007 @ 8:26 am
banyak yang sudah meramal, dan macem2 hasilnya. bakalan ada the next super power nih… live go on…. who the next roman after AS? atau tiada lagi seperti orang2 romawi dulu? yuukkk kita tunggu.
Comment by (T_T) — December 13, 2007 @ 9:02 am
Belum bakal jatuh, tapi ini awalnya. Kalau mereka gak segera memperbaiki diri. Bagaimana cara memperbaiki diri? Well, mereka bisa mulai dengan tidak memilih another Extreme Right-Hawkish-Republican-Insane Lunatic on their next president election.
Comment by Arya Nasoetion — December 13, 2007 @ 11:22 am
Biar ada tandingannya atas kecongkakannya selama ini.
Comment by Jose De buzh — December 13, 2007 @ 11:23 am
Berapa banyak orang yang tidak bersalah dibunuh Amerika di seluruh dunia setiap hari? Semoga Tuhan memberikan ganjaran yg setimpal. Amin
Comment by Firman — December 16, 2007 @ 4:57 am
Ya, munkin benar kata orang: Hidup bagai roda pedati, tidak selamanya yang di atas selalu di atas, tapi berputar silih berganti, yang terbaik bagi kita adalah berusahalah untuk selalu yang terbaik dalam segala hal, kalau tidak ingin terpuruk terus terpuruk.
Comment by Isa — December 18, 2007 @ 1:27 pm
Siapa bilang Amerika gagah berani? Mengamati reputasi Amerika di seluruh dunia sudah tak dapat dipungkiri bangsa Amerika adalah bangsa pengecut, pencundang, provokator dan mau menang sendiri, seolah olah-olah apa yang dikatakannya selalu benar padahal tidak demikian. Ingin bukti? Tanya saja tiap orang yang menghuni jagad raya ini. Siapa Amerika sebenarnya. Presiden Iran Ahmadinejad mengatakan bangsa Amerika sekarang ini sedang mengalami kejatuhan dan perlahan lahan akan mulai ditinggalkan. kalau ada bangsa lain yang mengekor Amerika maka perlu psikiater, karena sakit jiwa.
Siapa bilang bangsa Amerika gagah berani? itu hanya kamuflase di film mereka yang penuh kebohongan. Coba lihat perang Amerika, mulai dari Iran,Afghanistan, dan Kuwait; tentara Amerika selalu meminta bantuan negara-negara penjilat.Tentaranya sendiri tak berani berhadapan secara langsung. Lantaran moralnya sudah bejat akibat kehidupan hedonisme. Saatnya berpikir jernih: akankah kita mengekor ke Amerika? Wahai Amerika, mana kejantananmu?
Comment by agus sudibjo — December 25, 2007 @ 8:37 am
menurut saya, AS memang jatuh popularitas tapi belum tentu dengan kekuatan politiknya di kancah internasional, kenapa saya berpikir demikian jika diperhatikan selama ini politik yang digunakan oleh penguasa AS adalah politik busuk, yaitu menghancurkan negara2 penentang dengan segala upaya seperti adu domba, invasi, terorisme dan lain2 yang kesemuanya itu didukung oleh banyak negara di dunia termasuk dunia islam yang menjadi kaki tangan AS. tentu saja AS bisa runtuh asalkan seluruh negara2 didunia mengboikot ekonomi, politik america terutama negara2 islam. Allahu Akbar!!!!!!!!
Comment by sandy — January 9, 2008 @ 9:33 am