December 11, 2007

Yeltsin dan Pasar Klewer

Filed under: Ekonomi dan Bisnis, Luar Negeri, Sosial Kemasyarakatan — syamsul @ 10:02 pm
yeltsin-dan-pasar-klewer

M. Samsul Arifin

Adakalanya tokoh besar sendu. Bahkan itu terjadi pada Boris Yeltsin, seorang yang disebut Mikhail Gorbachev sebagai telah mencabik-cabik Uni Soviet sehingga akhirnya runtuh pada 7 Februari 1990. Setahun sebelum Soviet tinggal nama, Yeltsin berkunjung ke Amerika Serikat. Entah bagaimana ceritanya, Yeltsin melangkahkan kaki ke sebuah supermarket di Houston, Amerika Serikat. Matanya terbelalak “revolusi” pasar modern tersebut. Suasana hatinya mendadak sendu.

Dalam autobiografinya ia menulis. “Sewaktu menyaksikan rak-rak penuh dengan ratusan, bahkan ribuan kaleng, karton dan barang-barang yang sangat beragam. Untuk pertama kali saya sejujurnya merasa sedih dengan penderitaan bangsa Soviet. Bahwa sebuah negeri yang seharusnya superkaya seperti negeri kami ternyata telah membiarkan warganya menjalani kemiskinan separah ini! Mengerikan sekali membayangkannya.”

Ucapan Yeltsin ini, menjelang keruntuhan Uni Soviet itu, menurut Chris Anderson (penulis The Long Tail), seolah menjadi metafora untuk apa yang dapat diperbuat kapitalisme dan apa yang tidak dapat diperbuat komunisme. Betapasupermarket yang sepenuhnya tunduk pada logika ekonomi pasar memukau Yeltsin. Dan ia jatuh hati!

Kisah pasar swalayan (supermarket) dapat ditarik ke belakang, tepatnya 4 Agustus 1930. Kala itu King Kullen berdiri di Queens, New York. Kultur baru dalam bisnis pun mengguncang pasar tradisional. Inilah waktu dimana pasar tradisional mendapat saingan serius. Bukan hanya dalam urusan pembentukan harga, tapi juga dari segi jumlah produk yang ditawarkan hingga kenyamanan yang diperoleh konsumen.

Bagaimana tidak, supermarket (dan berkembang jadi hypermarket) menawarkan pilihan banyak sekali dengan harga miring. Supermarket mengajarkan “agama baru” yang disebut economics scale, sebuah konsep yang mengundang orang—mau tak mau—membandingkan harga yang tertera di supermarket dengan label harga pedagang tradisional. Pasar ini memanjakan konsumen untuk memilih produk yang diinginkan dengan kereta belanja, lahan parkir gratis dan lemari pendingin mekanik.

Loncatan King Kullen ini terus melaju bersama revolusi teknologi informasi. Pasar swalayan makin jadi kebutuhan manusia modern. 1962, Sam Walton yang telah bergerak di bisnis ini sejak 1945, mendirikan Wal-Mart. Ia datang dengan proposal anyar: menjual dengan harga lebih rendah ternyata justru akan menciptakan laba total yang makin besar. Caranya, Wal-Mart berusaha untuk tidak serakah. Margin (keuntungan) diperkecil, proses bisnisnya diperbesar agar efisien. Penyalurnya dicari yang paling murah, perantara dipotong, biaya transportasi diperkecil dan sistem teknologi baru diadaptasi agar proses produksi makin efisien.

Alhasil setiap hari Wal-Mart memberikan harga terendah (dengan diskon besar) pada semua penduduk Amerika. Berkat jasanya, Sam Walton mendapat medali kehormatan, Presidential of Freedom dari Presiden George Bush (senior) tahun 1992. Dengan pendapatan setahun mencapai 260 miliar dolar AS, Majalah TIME memasukkan Sam dalam daftar 100 orang paling berpengaruh, Builders and Titans abad ke-20.

Apabila Yeltsin ngeri dengan kemiskinan bangsanya. Bagaimana dengan kemiskinan bangsa Indonesia? Apa yang bisa kita katakan tentang nasib pedagang di negeri ini yang menghuni pasar tradisional sejak Ciledug hingga Pasar Klewer di Solo sana? Pasar tradisional di tanah air makin terlindas supermarket. Di Jakarta, pasar modern ini telah mengepung Ibu Kota. Bayangkan pada Maret 2007, tujuh pasar tradisional di Jakarta tutup lantara tak ada pembeli. Omzet pasar tradisional yang mayoritas menjual kebutuhan sehari-hari dan seragam itu melorot hingga 75 persen. Ironis!

Sungguh tak adil membiarkan pasar tradisional bertahan sendirian tanpa perlindungan dari pemerintah. Ada yang mesti diubah memang dari penampilan pasar rakyat ini yang kumuh, kotor dan semrawut. Yang jelas negara tak boleh tinggal diam. Kecuali pemerintah rela menambah angka kemiskinan. Logika ekonomi pasar tak boleh merampas jengkal demi jengkal ruang atau lokasi pasar tradisional berada. Penolakan pedagang pasar Ciledug terhadap pembangunan sebuahhypermarket beberapa waktu lalu, seyogianya dibaca pemerintah sebagai jeritan warganya atas ekspansifnya pasar modern tersebut.

Jangan sampai pasar tradisional kehabisan ruang, tempat, dan napas. Bukan suatu yang salah jika pemerintah mengatur lokasi pasar modern itu agar tak terlalu dekat pasar tradisional. Saya menunggu dengan sedikit cemas terbitnya regulasi yang peduli nasib puluhan juta jiwa yang bergantung pada pasar rakyat ini. Seandainya Presiden Yudhoyono mendengar keluh kesah mereka…

6 Comments »

  1. memang ironis, tapi belanja di pasar tradisional menurut saya kurang nyaman. sebagai contoh, rasa was2 ketika belanja, takut kecopet, bau yang tak sedap, atau tidak higienis tempatnya. tapi kalau pemerintah tahu cara mempotensialkan pasar tradisional, mungkin tidak seperti ini jadinya. salah satu pasar tradisional yang dibuat modern contohnya di BSD Tangerang, meskipun tradisional tapi dibuat tempatnya tertata dengan rapi. tak mudah memang merealisasikan sesuatu…

    Comment by gtdv — December 12, 2007 @ 8:54 am

  2. seandainya kita selalu siap untuk berkompetisi secara sehat dalam segala hal, saya rasa munculnya hypermarket tidak perlu diributkan. Toh pangsa pasar mereka juga lain. Kalau rejeki sudah ada yang mengatur, kenapa kita mesti takut?

    Comment by cntq — December 13, 2007 @ 10:27 am

  3. sepertinya yang perlu digaris bawahi K.E.R.J.A S.A.M.A

    kalau seandainya ada pembicaraan antara kedua belah pihak, saya rasa tidak terjadi penolakan

    Comment by bimoseptyop — December 16, 2007 @ 12:24 am

  4. saya minta tolong kepada anda, bagaiman tanggapan / saran anda terhadap “trend investasi” yang berpusat di KOMPLEK RUKO/RUKAN ARTHA GADING BLOK.I / NO.2 (CV.GADING GRIYA), dengan nilai investasi 300.000 - 1.200.000. dalam waktu 21 hari kerja, mereka “berani” menjanjikan profit gain 50%. saya sangat tertarik tapi saya tidak punya pengalaman yang kaya gini, bagaimana saya harus melangkah , pa tolong saya yah ?
    saya cuma kaum marjinal, yg bth sedikit tambahan penghasilan selain penghasilan tetap per bulannya.

    Comment by zanuar — December 18, 2007 @ 6:04 pm

  5. Bingung aku. Ini indikasi bahwa dunia semkin rusak oleh manusia. Emang tanda kerusakan itu indah dan banyak disenangi orang. Cepat atau lambatnya kehancuran dunia tergantung manusia sendiri. Kalo seperti ini ya, gak bakalan lama.

    Comment by Faizal akbar s — December 20, 2007 @ 12:52 pm

  6. ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
    Harusnya kita bersatu memikirkan apa yang saya utarakan dibawah ini setelah kita berhasil memikirkan apa yang saya utarakan kita duduki Senayan dan kita tahan semua yang korupsi, setalah kita buktikan bahwa mereka korupsi diatas Rp 1 Milyar kita hukum gantung berderet di bundaran HI setiap hari minggu pagi yang disaksikan oleh Presiden pilihan kita.
    Pernahkah Kita Sadar? Pernahkah Kita Peduli? Bahkan Untuk Diri Kita Sendiri? Kalau Saya Jadi Pengurus SPSI Ataupun SPN !!!!!! Saya Akan Jadikan Buruh, Sebagai Anggota koperasi

    Penduduk Indonesia = 222.192.000 (BPS, 2007)
    Penduduk Indonesia > 20 th = 155.524400 (BPS, 2007)
    Penduduk Jakarta = 7.776720 (Pikiran Rakyat, 2007), 5%
    Penduduk Botabek = 10.887.408 (Pikiran Rakyat, 2007), 7%
    Penduduk Indonesia Yang bekerja= 95.177.102 (BPS, 2007), 43%
    Penduduk Jakarta Yang Bekerja = 3.331.199 (BPS, 2007), 43%
    Penduduk Botabek Yang Bekerja = 4.663.678 ( BPS, 2007), 43%
    Yang mau Menjadi Anggota koperasi = 1.598.975 orang

    Iuran Bulanan Saldo Bulanan Saldo Tahunan
    a. Rp 10.000 15.989.750.000 191.877.000.000
    b. Rp 20.000 31.979.500.000 383.754.000.000
    c. Rp 25.000 39.974.375.000 479.692.500.000
    d. Rp 30.000 47.969.250.000 575.631.000.000
    e. Rp 50.000 79.948.750.000 959.385.000.000

    Dengan Jumlah Anggota = 1.598.975 orang atau hanya 20% orang yang bekerja di Jabotabek saja, dan setiap orang hannya menabung Rp 10.000, maka dana itu akan bisa digunakan untuk modal yang nantinya keuntungannya dibagikan dalam bentuk SHU tahunan, bagaimana kalau hampir seluruh rakyat kita bersatu membikin koperasi yang kuat ini,

    Kalau kita terus mengandalkan semua pejabat pemerintah kita, itu hanya mimpi, dan kalaupun ada dewi fortuna Indonesia itupun hanya mimpi, hanya inilah cara kita untuk menjadi bangsa yang besar, serta untuk membuktikan bahwa kita bukan bangsa kuli, tetapi bangsa yang bermartabat,

    Jadi bisa jadi kalau ini semua ini sudah kuat, maka tugas seluruh pengurus SPSI bukan hanya menuntut UMP, tetapi justru akan menentukan UMP itu sendiri, serta segala peraturan yang menyangkut ketenagakerjaan.
    Pernahkah Kita Membayangkan Ini Semua????

    DUKI MARSENO (021-4601412, 021-94677163, senji82@yahoo.com)

    Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 9:12 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment