Hujan
Rike Amru
Saya teringat waktu melewati masa kecil di barat Sumatera. Bila hujan datang, ada luapan rasa yang membahagiakan. Hujan, menjadi saat yang seolah menyahihkan saya untuk bermanja pada ibu; memeluk atau sekadar duduk rapat-rapat di sampingnya. Hujan juga menginspirasikan hal-hal menyenangkan; membayangkan bermain, berlarian, mandi hujan bersama teman-teman di halaman rumah.
Sungguh…hujan menjadi sesuatu yang selalu dirindukan kehadirannya. Bahkan, penyair besar seperti WS Rendra pun, terinspirasi menorehkan puisi cinta buat kekasihnya, Narti, saat hujan gerimis dalam Surat Cinta:
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu!
Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku!
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku!
Itu dulu… Malam kemarin, hujan turun di Jakarta. Tak ada luapan rasa gembira, justru rasa was-was, khawatir, hujan (lagi-lagi) akan bikin banjir. Kekhawatiran—yang saya yakin-–jadi kekhawatiran sebagian besar warga ibu kota. Di banyak bagian di wilayah Jakarta dan sekitarnya, air merendam jalan-jalan dan permukiman, setelah hujan mengguyur. Air yang menggenang itu tentu saja menyusahkan dan mengganggu kehidupan masyarakat.
Para pekerja terpaksa bersusah payah mencapai tempat kerja karena jalanan atau bahkan rumah mereka terendam banjir. Anak-anak terkendala berangkat ke sekolah. Pedagang pun jadi sulit mencari nafkah. Hujan sebenarnya merupakan salah satu fenomena alam yang sangat biasa. Sama seperti matahari bersinar, tanaman tumbuh, hewan berkembang biak.
Mengutip Wikipedia, hujan merupakan satu bentuk presipitasi, atau turunan cairan dari angkasa, seperti salju, hujan es, embun dan kabut. Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Hujan memainkan peranan penting dalam kitaran hydrologik, di mana kelembaban dari laut menguap, bertukar menjadi awan, terkumpul menjadi awan, lalu turun kembali ke bumi, dan akhirnya kembali ke laut melalui sungai dan anak sungai untuk mengulangi daur ulang itu semula.
Namun, hujan kini jadi sesuatu yang menakutkan. Siapa warga Jakarta yang kini bahagia bila hujan turun?? Jangan-jangan, penyair-penyair Indonesia berikutnya, tak ’kan lagi seperti Rendra, yang menjadikan hujan sebagai pengantar puisi cintanya.
Jangan-jangan, hujan lalu hanya tepat jadi simbol untuk mengantarkan puisi tentang kematian, bukan hal-hal indah dan menyenangkan seperti saat Rendra jatuh cinta. Hujan, kini tak lagi dirindukan kehadirannya.

Sebuah kontras yang menarik. Lebih menarik lagi jika ada foto masa lalu penulisnya kala dia berlarian menikmati hujan dalam pelukan ibunya. Pasti bakal lebih puitis…
Comment by arya — December 11, 2007 @ 10:21 am
toh, menurut saya bukan kali ini saja hujan membawa petaka. saya jadi ingat waktu nonton tv di salah satu stasiun TV swasta, hujan di Canada… saya lupa nama programnya, judulnya a complete disaster, dikala hujan turun sempurna di daerah yang punya dua arus mata angin yang berbeda dan tentu ekstrim, dan jadinya malah bencana. namanya juga bencana, toh tiada yang bisa memprediksi. so, saya patut bersyukur selama ini belum pernah dirugikan hujan yang turun atas kehendakNYA.
Comment by gita devi — December 11, 2007 @ 6:34 pm
Ah, tulisan Jeng Rieke Amru malah mengingatkan aku ketika “latihan umroh” di Mekah dua tahun lalu. Yah, siapa tahu naik haji suatu saat nanti. Saya berusaha khusyu’ berdoa didepan Ka’bah : ” Ya Allah, segera nikahkan aku dengan wanita yang Engkau ridloi sebagai istriku, wanita yang cantik, wanita yang soleh dan wanita yang kaya. Pertemukan aku dengannya segera. Tumbuhkanlah cinta diantara kami berdua atas nama-MU ”
Tapi perasaanku mengatakan, rasanya seluruh malaikat di Ka’bah pingsan mendengar doaku. Sayup-sayup aku mendengar suara Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW, berkata dari syorga : ” Oalah, Nuryadi yang tampan.Kalau berdoa mbok ngaca. Mana ada wanita dijamanmu mengikuti jalanku, seorang Siti Khadijah, saudagar wanita kaya raya dan tua, yang memberi pekerjaan pada Nabi Muhammad yang miskin dan juga bersedia menikahinya. Makanya kalau naksir penyiar berita televisi harus punya banyak duit alias tajir.”
” Ops…,” kataku dalam hati. Angin dingin yang bertiup kencang di sekitar Ka’bah langsung membuatku pusing-pusing dan masuk angin. Pingsanlah aku sambil terkenang bisikan Bunda Khadijah. Kepak-kepak burung merpati yang banyak bersliweran di Ka’bah seolah terlihat lambaian sinis dari sang penyiar. Yah, apa boleh buat…………………..Mimpi, sih !
Comment by Nuryadi Wulantoro — December 12, 2007 @ 9:16 pm
postingan yg bagus
Comment by Jati — December 13, 2007 @ 2:52 pm
hehehe.. zaman sudah berubah.. Mungkin rendra masa depan akan menulis tentang puisi cinta di tengah banjir setelah melihat seorang gadis cantik tengah mendayung di atas kasur yang terapung..
Dan kutulis surat ini
di atas atap rumah
yang semakin terendam
di atas kertas sampah
yang kebetulan lewat
dengan tinta air ciliwung
yang semakin pekat
hehehe..
Nice posting.. Selalu menarik mengetahui sisi lain seorang penyiar yang selama hanya bisa saya lihat di layar televisi..
Comment by JaF — December 15, 2007 @ 1:27 pm
Mbak Rieke, kapan jadi ibu?
Saya masih menunggu kehadiran hujan karena kita disarankan untuk berdoa ketika hujan. Hujan dan kemarau silih berganti memberikan rezeki dari tuhan, siapkah kita menerimanya?
Comment by ShadowX — December 17, 2007 @ 12:59 pm
Sangat indah.. Kritik tajam tetapi dengan bahasa yang manis semanis penulisnya. Kritik biasanya diutarakan dengan bahasa yang vulgar dan kasar sehingga menyinggung perasaan atau dengan banyolan yang menghujat dan membodohkan seseorang. Tetapi ini lain. Dengan tulisan Mbak Rike kritik untuk kita semua tentang fenomena alam dewasa ini, menembus jantung mengena setiap kalangan termasuk saya.
Terima kasih Mbak Rike
Comment by Gangsar Aji Santosa — December 18, 2007 @ 6:33 pm
Betul kata mas Nuryadi. sehati dgn saya. saya juga pernah jatuh cinta sama penyiar walau belum kesampaian tapi perasaan saya kalau aku jatuh cinta sama penyiar nan cantik rasanya seperti mendapatkan hujan dimusim kemarau. tapi hujan mbak Rike kurang komplit. masalahnya gak tertera photo Ibunda.
Comment by slamet moechadis — December 19, 2007 @ 6:46 am
Hari gini main puisi tentang hujan?

Mendingan *ngiyup* berteduh di rumah daripada sibuk mikirin puisi. Nggak ada waktu untuk itu, yang ada adalah rasa was-was pada banjir dan pengen nulis di blog tentang banjir kok ya nggak selesai-selesai, hujan kok ya turunnya telat.
Puisi?
Nggak jaman lagi…
Comment by evelynpy — December 20, 2007 @ 8:45 am
Hebat, kak Rike bisa nulis yach? I love you deh.
Comment by yoga setia — December 24, 2007 @ 6:20 am
sekarang bukan saatnya lagi hujan gerimis……
tapi yang datang angin puting beliung, tanah longsor, dan air bah……
mana sempat aku terasuk oleh puisi yang puitis…..sementara disekelilingku hanya air dan air…kedinginan…kelaparan tak ada yang memperdulikan diriku……..oh…mbak rike…..tolong bangkitkan semangatku yangn dirundung bencana yang mendera
Comment by tri suparyanto — January 8, 2008 @ 12:55 pm
saya suka sekali hujan, kadang saya sampai sekarang pun masih suka hujan-hujanan, ketika pulang kerja hujan saya selalu siap dengan berhujan-hujan ria
Comment by Ghatel — January 25, 2008 @ 9:55 am
saya juga mau menulis puisi deh…
beli sampeu di cikarang,eh ada teh rieke lagi ngarang.
kapan kawin??? berhubung terlalu sibuk sebagai penyiar, jadi lupa ma kewajibannya deh…
kalo ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi,kalo ada umur panjang smoga kita berjodoh…
nyambung ya pantun eh puisi terakhirnya???
tunggu 2 tahun lagi ya, klo aif udah lulus….
Comment by aif — January 26, 2008 @ 8:08 pm
Dalam penilaian saya dari sgenap crue CW SCTV yg bawain acara? Rike Amru yg Nomer Wahid..Profesional banget di layar tv…stuju ga pada2…?STUJU! Eh taunya ahli juga ber- Puisi… Hujannnnnn..
Kurenungi..kutangisi..kadang kusesali Ketika bergegas menemui si dia
Ketika berlari telat membawa acara
Ketika hujan turun..ketika hujan tak kunjung tiba
Ketika benteng kubuat berkawan sejuta warna Kupandang ia dihempas badai..meninggalkan alitku diujung sana..
Ketika lazuardi terbenam diufuk barat
Terbayang mahkota dalam mahligai derita
Ach! Hujan..
Apalah artinya kehebatanmu? Dimanakah perasaanmu?
Akan kucari tempat berteduh
Walau waktu menanti diufuk senja
Untuk sang ketika, ketika hujan membawa harta dan nyawa……………………………………..
Comment by Dayat Aulia — January 27, 2008 @ 2:30 am
Mba Rieke…bagi-bagi ilmu penyiaran dan menulis artikel untuk anak-anak kami (siswa SMKN 38 Jakarta). Trims
Comment by kusdiyono — February 5, 2008 @ 10:37 am
Itulah hujan reformasi di era milenium. Hujan bukan lagi dinanti melainkan dibenci dan ditakuti. Tapi, hujan pembawa petaka itu rupanya cuma berlaku di Jakarta, selama masyarakat Ibu Kota belum menjaga kebersihan lingkungan. Bagaimana dengan wilayah lain?
Jika masyarakat setempat cuek bebek bin acuh tak acuh dengan kebersihan lingkungan, dijamin kondisinya tak jauh berbeda dengan Kota Macetpolitan, Jakarta, di kala hujan mengguyur.
Comment by RAMA — February 7, 2008 @ 2:16 pm
hujan air bisa banjir
hujan salju bisa flu
nona cantik banyak yang naksir
maukah engkau jadi pacarku
nona rike …keren abis tuh tulisannya…nyampai kubaca berulang-ulang.Sedih juga tuh lihat Jakarta banjir,gimana kalau Jakarta dijuluki kota”KARIR”,maksudnya KAya Raya aIR…
@salam dagadu
Comment by akrab — February 25, 2008 @ 4:34 pm
aku juga suka pada hujan. hujan itu selalu syahdu. membawa aku pada kenangan-kenangan masa lalu yang bahagia dan yang duka. dari kecil aku senang melihat hujan. terkadang aku rela berdiri berjam-jam untuk menyaksikan betapa megahnya garis-garis putih itu gugur dari langit. terkadang, membaca hujan seperti membaca diriku sendiri. apalagi, aku lahir tepat di kala hujan turun dengan derasnya. hujan pun mengiringi kehadiran ku di muka bumi. itulah mengapa aku begitu mencintai hujan
Comment by vega — April 6, 2008 @ 12:10 pm
Bunda tulisan’y keren,aku yg lagi kangen sm bunda karena bunda ga siaran2 sedikit terobati sampai aku meneteskan air mata,bunda kmna si?aku jg hobby menulis n buat puisi sejak smp,smga aku bsa blajar sama bunda n aku bsa tahu tulisan bunda lbh banyak lgi.
Comment by lala — July 19, 2008 @ 8:36 pm
Bunda kalau bunda bca ini tolong bls e-mail aku(amel.fitri@yahoo.com)aku sdh kunjungi blog bunda tp e-mail aku ga d bls jga.Plèåsé klo bunda ga sibuk bls ya bun.aku tunggu sampai kpn pun blsan dr bunda.bnr2 luar biasa penyiar brita cantik n seorang pnulis
Comment by lala — July 19, 2008 @ 8:50 pm