Money Talks
Rahman Andi Mangussara
Uang bukan segalanya. Jika Anda percaya pada kata-kata bijak ini, bersiaplah untuk kecewa. Sebab, sekarang segalanya butuh uang. Bahkan, ketika berbuat salah sekalipun, Anda bisa membayarnya dan kemudian melakukan kesalahan yang sama terus menerus tanpa perlu kehilangan kehormatan. Ini ibarat berbuat dosa, lalu menebusnya dengan uang. Dosa pun hilang. Itulah yang terjadi pada negara-negara maju, pada industri-industri, pada pabrik-pabrik dan pada orang-orang kaya di Utara dalam soal pencemaran udara.
Begini ceritanya: setengah dari pencemaran udara di atmosfir sana berasal dari aktifitas perusahaan dan masyarakat di negara-negara maju yang penduduknya hanya sperempat dari populsi dunia. Agar lebih jelas, simak data ini, yang dilansir sejumlah media: polusi karbon dioksida yang dihasilkan industri dan masyarakat di negara bagian Texas yang berpenduduk hanya 25 juta orang, jauh melebihi jejak karbon yang dihasilkan penduduk seluruh negara sub Sahara Afrika yang penduduknya berjumlah 720 juta.
Mereka mengotori langit dengan CO2 tapi karena memiliki uang, banyak pula, mereka lalu membayar kesalahannya itu dengan memberikan uangnya kepada negara, perusahaan atau petani di negara-negara Selatan untuk dipakai menanam pohon. Pada saat yang sama, pabrik-pabrik di sana terus mengotori udara, bahkan intensitasnya mungkin, mudah-mudahan saya tidak salah, terus bertambah. Masyarakatnya pun tidak bersedia sedikit saja menurunkan standar kehidupan mewah mereka.
Warga kelas atas Amerika, setidak–setidaknya sejumlah artis yang hidup di Los Angeles, karena tidak bisa hidup sengsara, memilih untuk membayar negara-negara miskin di Afrika dan Asia untuk menanam pohon. Kalau mereka dicaci maki telah mengotori atmosfir, mereka lantas bilang: kami kan sudah bayar kompensasi. Bahkan, Bank Dunia, dikabarkan melakukan hal yang sama jika menggelar acara-cara yang menyedot banyak energi dan kelewat banyak menghasilkan polusi udara. Kita belum tahu apakah acara KTT Perubahan Iklim di Bali juga mengeluarkan uang untuk menghilangkan dosa lingkungan yang mereka buat selama dua minggu perhelatan itu.
Formula itulah yang secara teknis disebut carbon trade (perdagangan karbon), tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai formula money talks (uang bicara). Ini tidak adil. Mereka membuang karbon, tapi karena punya uang dan secara politis memiliki kekuasaan, orang lain yang harus bekerja membereskan masalah itu. Celakanya, masalah sesungguhnya tidak selesai, pencemaran tetap berlangsung. Jadi, perdagangan karbon, bukan solusi pengatasi pemanasan global. Tapi itulah yang terjadi. Ketimpangan dalam hubungan-hubungan internasional menjadi penyebab semua ini. Negara–negara industri dengan segala kekuasaanya, mendikte negara–negara berkembang.
Kenapa negara-negara maju itu tidak mau penurunkan tingkat pencemarannya? Ya, karena, itu tadi, kalau bisa diselesaikan dengan uang, kenapa harus bersusah payah dan mencari teknologi yang ramah lingkungan, yang dalam hitung-hitungan bisnis jauh lebih mahal ketimbang membayar orang lain untuk menanam pohon. Jika gas buang dikurangi, itu sama artinya laju pertumbuhan ekonomi akan surut. Sulit membayangkan Amerika tanpa pabrik baja yang mengepulkan asap kotor dari cerobongnya setiap hari.
Lalu, apa dan bagaimana sih perdagangan karbon itu? Sederhananya, kira-kira begini, bayangkanlah karbon itu adalah komuditi yang diperdagangkan di pasar. Layaknya, barang yang diperjualbelikan, harganya ditentukan oleh penawaran dan permintaan. Tapi, harga karbon di pasar dunia berkisar antara antara 5 hingga 20 dolar, tapi pernah ada negara yang berhasil menjual karbon seharga 40 dolar Amerika per 1 ton CO2.
Pembelinya adalah negara, perusahan dan orang per orang yang mengotori udara. Sedangkan penjualnya adalah negara, perusaahaan dan orang per orang di negara yang banyak lahannya untuk ditanami pohon. Nah, jika Anda, misalnya, menanam pohon–hutan alam yang terbentuk ratusan tahun lalu tidak bisa dijadikan proyek perdagangan karbon– yang luasnya bisa menangkap CO2 sebesar 1 juta ton, maka Anda bisa menjualnya, katakanlah harga karbon 15 dolar Amerika, seharga 15 juta dolar Amerika. Pembeli tadi akan mendapat semacam sertifikat dari PBB yang mengurusi pemanasan global. Para pelaku pasar di bursa-bursa dunia, sebutlah Wall Street, kabarnya sudah menjadikan sertifikat perdagangan karbon ini sebagai surat berharga yang bisa dipindahtangankan.

Sejuta rasa bila memiliki uang..sampai cinta pun bisa dimiliki bila kita memiliki uang..Kecewa? pstinya akan kecewa bila kita hidup tanpa memiliki uang. teringat saat masa silam di jaman orde lama..kehidupan saya dlm lingkungan keluarga yg pas2an karna orang tua lelaki sudah dimakan cacing jadi hero bunga bangsa kata naga bonar..ingin sekali saya memiliki sepatu baru merk bata atau buatan toko sepatu cina kalau tidak salah sien lee seng namanya yg bercokol di pasar baru Jkt yg sangat terkenal saat era bung karno.Lebaran Natal dan Tahun baru sudah diambang pintu..uang untuk memiliki sepatu barupun sudah hampir komplit terkumpul katakan saja dgn senilai 10rb mimpi sepatu baru ku akan terjdi dgn berharap tetaplah menjadi bintang di langit..agar sepatu yg kucinta dpt kumiliki..sementara warga kampung nabun membakar sampah yg asapnya menyengats dan mengotori udara karna carbon co2 nya menari nari di angkasa. Mimpi tetap mimpi..bintang2 dilangitpun tidak mau bersahabat menyinari kalbuku..terpaksa aku berlebaran dan melewati natal dan tahun baru tanpa ber sepatu baru..harga sepatu baru yg terbawa dlm mimpiku sudah melonjak jadi 18rb rupiah..padahal bulan lalu dgn mata kepalaku sendiri aku lihat tertulis dgn harga 10rb…? Kecewa? pastinya kecewa karna tidak memiliki uang.. sementara thn telah berganti kulewati sambil menikmati asap sampah2 yg tetap dibakar sambil kuhitung hitung dlm benak ini kalau setiap warga di Jkt saja setiap hari membakar sampah nya yg asap nya mengotori nirwana? tak bisa kubayangkan kalau seluruh warga di dunia yg ikut membakar sampah stiap hari nya? ach..kenapa harus pusing2 dengan segala macam sepatu dan asap yg mengandung co2 tersebut? sepatu merek appun sekarang berjejer dikamarku? dan setiap thn aku mudik ke indo di setiap pelosok2 asap2 sampah masih saja kunikmati..
Belum lgi berjejer mobil2 angkot yg asap knalpot nya hitam pekat mewarnai indah nya kota Jkt tempat kelahiranku..sementara produksi2 kendaraan bermotor bersaing hebat dgn banga menjual hasil produksinya tanpa ada batas maximal produksi dari pemerintah sehingga kmacetan lalu lintas tdk lagi bisa ditanggulangi..bayangkan saja dgn bangganya Yamaha Motor berhasil menjual 10jt kendaraan bermotor omset nya pada thn 2007 ini? mungkin kalau bisa terjual 100jt mtor mereka akan lebih bangga lagi…Memang enak kalau punya uang…si ali tk sayur di tanah abang bisa beli mtor..bgitu jga si kaya raya bisa sesukanya membuat pabrik2 yg berpolusi asap2 mengandung co bagai penduduk yg membakari sampah2 setiap hari nya..Oh Negriku,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Comment by Dayat Aulia — December 16, 2007 @ 5:57 am
miris sekali ketika saya baca dari awal hingga akhir artikel mas andi (*kembar mas namanya..hehehe*). Seakan perdagangan karbon menjadi hal sepele dimata orang beruang. Dilema sekali manakala terdapat perundingan perubahan iklim di Bali kemarin, namun masih banyak manusia yang tidak peduli dan sadar. Kenapa manusia tidak menyadari dampak nya kedepan pada Bumi ini ?? Perlu kesadaran dari diri sendiri untuk menjaga linkungan agar tetep hiau
Comment by andi bagus — December 16, 2007 @ 5:22 pm
saya itu teringat waktu kecil, Ibu kalo nyuruh saya beli soto/bakso/rames/mendoan(keliatan purwokerto-nya) tu dibilangin “pake rantang aja, tu rak dibelakang”, lha sekarang plastik-plastik-plastik…….
Comment by setyo widodo — February 28, 2008 @ 10:22 am
ASSALAMU’ALAIKUM WARRAHMATULLOHI WABARAKATUH
Harusnya kita bersatu memikirkan apa yang saya utarakan dibawah ini setelah kita berhasil memikirkan apa yang saya utarakan kita duduki Senayan dan kita tahan semua yang korupsi, setalah kita buktikan bahwa mereka korupsi diatas Rp 1 Milyar kita hukum gantung berderet di bundaran HI setiap hari minggu pagi yang disaksikan oleh Presiden pilihan kita.
Pernahkah Kita Sadar? Pernahkah Kita Peduli? Bahkan Untuk Diri Kita Sendiri? Kalau Saya Jadi Pengurus SPSI Ataupun SPN !!!!!! Saya Akan Jadikan Buruh, Sebagai Anggota koperasi
Penduduk Indonesia = 222.192.000 (BPS, 2007)
Penduduk Indonesia > 20 th = 155.524400 (BPS, 2007)
Penduduk Jakarta = 7.776720 (Pikiran Rakyat, 2007), 5%
Penduduk Botabek = 10.887.408 (Pikiran Rakyat, 2007), 7%
Penduduk Indonesia Yang bekerja= 95.177.102 (BPS, 2007), 43%
Penduduk Jakarta Yang Bekerja = 3.331.199 (BPS, 2007), 43%
Penduduk Botabek Yang Bekerja = 4.663.678 ( BPS, 2007), 43%
Yang mau Menjadi Anggota koperasi = 1.598.975 orang
Iuran Bulanan Saldo Bulanan Saldo Tahunan
a. Rp 10.000 15.989.750.000 191.877.000.000
b. Rp 20.000 31.979.500.000 383.754.000.000
c. Rp 25.000 39.974.375.000 479.692.500.000
d. Rp 30.000 47.969.250.000 575.631.000.000
e. Rp 50.000 79.948.750.000 959.385.000.000
Dengan Jumlah Anggota = 1.598.975 orang atau hanya 20% orang yang bekerja di Jabotabek saja, dan setiap orang hannya menabung Rp 10.000, maka dana itu akan bisa digunakan untuk modal yang nantinya keuntungannya dibagikan dalam bentuk SHU tahunan, bagaimana kalau hampir seluruh rakyat kita bersatu membikin koperasi yang kuat ini,
Kalau kita terus mengandalkan semua pejabat pemerintah kita, itu hanya mimpi, dan kalaupun ada dewi fortuna Indonesia itupun hanya mimpi, hanya inilah cara kita untuk menjadi bangsa yang besar, serta untuk membuktikan bahwa kita bukan bangsa kuli, tetapi bangsa yang bermartabat,
Jadi bisa jadi kalau ini semua ini sudah kuat, maka tugas seluruh pengurus SPSI bukan hanya menuntut UMP, tetapi justru akan menentukan UMP itu sendiri, serta segala peraturan yang menyangkut ketenagakerjaan.
Pernahkah Kita Membayangkan Ini Semua????
DUKI MARSENO (021-4601412, 021-94677163, senji82@yahoo.com)
Comment by Duki Marseno — March 30, 2008 @ 9:13 am