Indonesia dan Ukraina
Ariyo Ardi
Jangankan Emas, perunggu pun lepas dari genggaman. Alih-alih ditargetkan menang di babak final alias medali emas, Tim Merah Putih gagal lolos dari penyisihan grup Sea Games ke 24 di Thailand, setelah kalah 1-2 dari kesebelasan tuan rumah.
Kenapa, ya, sulit sekali bagi PSSI untuk bisa berprestasi? Juni lalu, kantor menugaskan saya untuk berkunjung ke Ukraina. Saat melintas dari bandara Boryspil di kota Kiev baru menuju Kiev lama (Kiev terbagi dua, Kiev baru dan Kiev lama, yang dipisahkan sungai Dnipro) tempat hotel saya berada, saya sedikit bingung, karena populasi kota Kiev tidak terlalu tinggi untuk ukuran ibu kota negara.
Keadaan yang sepi kembali saya rasakan saat berjalan malam di kota yang pernah dijadikan kota terpenting bangsa Slav tersebut. Jumlah penduduk Ukraina menurut data sensus 2006, ternyata memang kecil, yaitu kurang dari 47 juta jiwa dan kepadatan per kilometernya pun hanya 78 orang per kilometer.Terasa lengang untuk negara seluas hampir 604 ribu kilometer persegi.
Terus terang saya sangat heran kota Kiev mampu melahirkan pencetak gol ulung macam Andriy Shevchenko dan mampu lolos ke Piala Dunia 2006 di Jerman
Memang tidak terlalu tepat membandingkan kondisi sepakbola di Indonesia dengan Ukraina, tetapi menurut saya ada beberapa kemiripan dan bisa kita jadikan masukan, mengapa sepakbola Ukraina maju? Meski negara ini baru resmi berdiri pada 1 Desember 1991, setelah pisah dari Uni Soviet
Alasan pertama adalah, kultur sepakbola Uni Soviet yang notabene tidak terlalu berbeda jauh dengan negara eropa lainnya, sudah sangat mengakar di Ukraina
Alasan kedua adalah para pemain.
Alasan ketiga adalah kompetisi yang baik
Mari kita bandingkan dengan kondisi di tanah air. Kultur sepak bola Indonesia sebenarnya cukup baik, meski tidak sebagus Ukraina tentunya. Ingat Ramang Cs pernah menahan imbang 0-0 kesebalasan Uni Soviet di Olimpiade Melbourne 1956 yang kemudian menjadi juara. Lalu pada era 90-an, penyerang tim nasional Rocky Putiray pernah dites di klub papan atas Prancis, Auxere, meski akhirnya gagal.
Di masa yang sama sejumlah anak muda berbakat, yang dijaring dari sejumlah diklat, berguru ke Italia dan beberapa di antaranya seperti Kurniawan dan Bima Sakti sempat bermain untuk Sampdoria (Italia), FC Lucerne (Swiss), dan Helsingborg (Swedia) dan yang terakhir adalah prestasi duo Bambang Pamungkas dan Eli Aiboy, yang mengantar FC Selangor meraih tiga gelar di Liga Malaysia. Sayangnya setelah mereka kembali ke tanah air dan bermain di kompetisi lokal, keahlian mengolah si kulit bundar yang mereka dapatkan selama di mancanegara sirna.
Soal pemain. Bakat pesepakbola Ukraina lebih terasah saat bergabung dengan klub negara maju. Sheva di AC Milan dan Andriy Voronin lama merumput bersama Bayer Leverkusen di Bundesliga, sebelum sekarang membela Liverpool, karena sarana dan prasarana di bekas negeri komunis tersebut tertinggal dari negara macan bola Eropa lainnya. Kondisi yang sama juga terjadi di Indonesia. Sarana latihan dan pertandingan kita kalah dengan negara-nagara lainnya. Ayolah, pemain Indonesia jangan terus terbuai dengan gaji besar, sehingga malas bermain di luar negeri. Tidak usah muluk-muluk main di Eropa, cobalah dulu bermain di kompetisi Asia yang sudah tertata dengan baik seperti Jepang dan Korea Selatan, misalnya.
Kompetisi sepakbola Ukraina jumlah pesertanya hampir sama dengan negara lainnya di Eropa yaitu 16 tim. Kompetisi dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan juara yang kualitasnya mendekati klub elit Eropa. Liga Ukraina pun semakin marak dengan kehadiran pemain asing berkualitas, berkat kebaikan orang terkaya Ukraina sekaligus pemilik klub Shaktar Donetsk, Rinat Akhmetov, yang mau mengeluarkan uang banyak demi mendapat pesepakbola terbaik di luar Ukraina.
Andai saja peserta Liga Indonesia bisa dikurangi, tidak seperti sekarang yang mencapai 36 tim, sangat mungkin liga Indonesia dapat berjalan mulus dan menghasilkan pemain nasional yang lebih berkualitas tidak hanya segi teknik namun juga mental.
Kalau kompetisi sudah berjalan dengan teratur yang didukung dengan sarana dan prasarana yang baik, bukan tidak mungkin pemain asing berkualitas bagus mau memeras keringat di tanah air, tinggal kita mencari orang macam Rinat Akhmetov. Kalau semuanya bersinergi, jangankan Sea Games, Piala Asia dan lolos ke Piala Dunia pun bukan mustahil untuk diraih.

melihat tulisan yang bung tulis, memang sangat tepat bila tulisan itu ditujukan kepada sang penjahat kemanusiaan yang juga ketum PSSI kita. karena berkat khalayannya, timnas kita ga pernah beres. kalau boleh mengutip pernyataan politik ibu mega, PSSI tebar pesona, bukan tebar hasil dan menggapai cita-cita setinggi gunung tapi pencapaian baru di kaki bukit. itulah penggambaran PSSI. betul tidak, bung ?
yang menjadi pertanyaan sampai kapan PSSI dan Timnas Merah Putih menjadi Pecundang di Negeri orang dan mungkin di kandangnya?
Comment by ervanca — December 9, 2007 @ 5:08 pm
setuju mas….
pembinaan olahraga di Indonesia memang sangat jauuuuuuuuuuuuuuuuh dari harapan,sehingga pencapaiannya pun jalan di tempat (grak). terlalu banyak masalah internal yang harus diselesaikan. jadi bingung harus mulai dari mana (pusying). seperti sepak bola, mana bisa maju kalau ketua umumnya pun tersangkut kasus?!
Comment by pujiiiiiii — December 9, 2007 @ 9:15 pm
Sudah gak sedih lagi lihat Timnas kalah, apalagi lawan Thailand! Sudah kering air mata lebih dari 200juta rakyat Indonesia menangis kala Timnas Indonesia kalah bertanding. Para pemain kurang mempunyai semangat nasionalisme yang kuat, sehingga begitu tim dalam posisi tertinggal, meski mereka tahu semua mata rakyat Indonesia tertuju kepadanya, tetap saja loyo untuk mengejar ketertinggalannya. Jangan ikutan tren apa-apa serba PEMAIN MUDA lantas yang “Tua” seperti Kurniawan, dll disingkirkan. Jadilah Indonesia yang mandiri, kita sebenarnya punya SDM yang mumpuni, tinggal kemauan & kerja sama serta tekad bulat seluruh rakyat Indonesia plus PELATIH YANG CERDAS & BERTANGGUNG JAWAB, maka juara Asia Tenggara pasti di tangan, bahkan Asia dan…. Dunia! Amin,Amin,Amin!!!
Comment by Sayuto Group Jogja — December 10, 2007 @ 1:46 am
xixixi kalau indonesia kalah, itu sudah hal yg biasa, gak perlu heran.
ini ada karena indonesia
Comment by geblek — December 10, 2007 @ 12:59 pm
ini bukan salah pemain, bukan juga pelatih, tapi PENGURUS PSSI!!!!!! dari tahun 90-an sampai sekarang, pengurusnya itu-itu aja, dan selama itu juga timnas gak pernah ngeraih juara…….seharusnya PENGURUS PSSI pada ngaca donk, jangan asal GAGAL di satu turnamen PELATIH mulu yang DISALAHIN…..WOI, YANG ADA DI SANA MUNDUR DONK!!!!!! sebenernya bapak-bapak ini nyari apa sich????
Comment by gilllaaaaa — December 10, 2007 @ 4:52 pm
SEPAK BOLA SEHARUSNYA MALU!!! Sudah disekolahkan jauh-jauh, ke Belanda, ke Argentina, tapi nggak pernah dapet medali. Malu dong ama cabang lain, di mana satu atlet bisa dapet satu-dua medali. Ini sepak bola, ada 22 orang nggak mampu melakukan apa-apa. Rombak total sistem kompetisi nasional. INGAT, PRESTASI TERAKHIR TIMNAS INDONESIA (JUARA SEA GAMES 1991) TERJADI SAAT KOMPETISI MASIH DIPISAH ANTARA GALATAMA DAN PERSERIKATAN. SETELAH SISTEM LIGA INDONESIA NAN KATROK BERLAKU, PRESTASI SEMAKIN JAUH DAN JAUH
Comment by penikmat bola — December 11, 2007 @ 2:20 am
Weleh weleh…..
PSSI itu kan statusnya dibawah presiden, dibawah menteri pemuda dan olah raga. Masa mereka gak berdaya membekukan organisasi dibawahnya. waktu jadi kepala bidang di OSIS aja kepala sekolah aja berani nge bubarin Unit kegiatan siswa….
Lha ini, Presiden lho… Ini presiden… (niru gayanya TUKUL dia acara milik TV tetangga). Masa begini aja gak bisa….
apa mereka lebih penting untuk persiapan 2009 kali ya??
Martabat bangsa gak penting, Harga diri bangsa gak penting. wah kalo begini mending P4 diadain lagi deh..
Dulu ada P4 (apa ya singkatannya? Pendidikan, penghayatan dan pengamalan pancasila kali ya?) kita bisa juara sea games. abis ditiadakan malah gak pernah juara….
lalu apa hubungannya P4, PSSI ma Presiden???
Comment by vicko — December 11, 2007 @ 7:54 am
teriak-teriak di sini, emang orang PSSI ada yang baca?
Comment by geblek — December 11, 2007 @ 2:42 pm
Indo vs Ukrain………….?????????
capek dech!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
kenapa bisa gitu!!!!!!!!!!!!!!!!!!
seharusnya Indonesia tuch malu
karena di kalahin sama Ukraina
mungkin pelatihnya mesti di gantiin tuch
sama yg berkualitas
ya…..paling tidak LEVEL TINGGI LACH!
atw presiden mesti bertindak tegas abiez2 an mannnnn
kita sich setuju apa yg di utarkan sama mas he…he….he….he…..he….99999999x!
tapi yg lebih parahnya lage diajang sea games kalah mannnnnn padahal lawannya TUAN RUMAH ALIEZZ THAILAND!!!!!!!!!!!!!!
kalo misalnya ada yg minta protes lalu ngacir ke sini mungkin pada tutup telinga aliez gak mau pada dengerin termasuk permisa donk n` juga mas!
sarannya gantiin aja tuch pelatihnya sama yg pinteran dikit atau yg lebih pintar lagi!!!!!!!!!!!
Comment by vina avianty — December 15, 2007 @ 11:40 am
Indonesia adalah tempat yang paling tidak cocok untuk berkembang, banyak talent dalam bidang apapun yg terbuang percuma di negeri ini..
Kembali ke sepakbola…bercermin pada Jepang, sekitar 25 tahun lalu Jepang adalah negeri yg masih belajar sepakbola kalah dari Indonesia yg tradisi main bolanya udah puluhan tahun, setiap istilah dalam sepakbola dijelaskan oleh komentator, tp sekarang hasilnya lihat sendiri saja…
Comment by Iwan Madari — December 17, 2007 @ 12:48 pm
Dibukanya sekolah sepakbola oleh klub elit macam arsenal dan real madrid bisa membangkitkan prestasi sepakbola tanah air?? Mengenai induk sepakbola kita lagi nih…masa gagal mengirimkan wakil lagi ke AFC Champions league 2008?? ampun deh…
Comment by Ucup Carrick — December 17, 2007 @ 5:33 pm