M. Samsul Arifin
Heboh hubungan asmara Pilot-Pramugari di udara. Demikian cover story sebuah koran pagi bertiras besar di Jakarta dalam dua pekan terakhir. Jumat pagi (7/12), saya membaca lagi “Pilot-Pramugari Batavia Kencan di Pesawat”. Kali ini koran itu menggunakan kesaksian seorang pengacara yang kebetulan menyaksikan pilot dan pramugari Batavia Air jurusan Jakarta-Surabaya bercengkerama sekitar 20 menit sebelum pesawat mendarat di Bandara Juanda, Surabaya. Konon, pilot dan pramugari ini sudah digrounded—tak boleh terbang.
Kesaksian pengacara tadi kontan membuat koran tersebut pede habis. Koran ini pun mengaitkan sepenggal peristiwa itu dengan sebuah penelitian tentang tabiat pilot dan pramugari. Di lead beritanya ditulis “Skripsi Indah (Martini) mahasiswa Psikologi Universitas Surabaya soal skandal cinta antara pilot dan pramugari yang menghebohkan, terbukti.” Bisa saja sepenggal peristiwa itu terkait. Namun, bisa pula tidak sama sekali. Pendekatan induktif bisa dilakukan, jika dan hanya jika hasil skripsi Indah yang diacu koran itu tidak bermasalah. Persoalannya, skripsi Indah masih belum clear—itu setidaknya jika membaca berita yang dibingkai oleh koran tersebut.
Hubungan asmara pilot-pramugari ini juga jadi polemik di salah satu milis yang saya ikuti. Secara simplistis, seseorang mengatakan “…apa yang benar-benar ADA di realitas, kemudian dituliskan itu sudah merupakan penelitian.” Benarkah demikian? Apakah heboh hubungan asmara ini merupakan masalah akademis? Atau justru merupakan masalah jurnalisme? Bagaimana seharusnya perspektif kita dibentangkan?
Buat saya, segalanya jelas. Soal yang sudah pasti ada di dalam realitas, tidak serta merta dapat merepresentasikan potret yang lebih besar. Survei atau jajak pendapat karenanya harus dilakukan dengan metodologi ketat dan dapat dipertanggungjawabkan. Fenomena sosial yang menjadi objek penelitian bagaimanapun berurusan dengan komunitas. Karena komunitas merupakan kumpulan subjek, maka kesimpulan yang diperoleh dari penelitian atau survei bisa ditolak–seperti dilakukan Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (KAGI)—atau diamini. IKAGI pernah mengancam akan menyomasi Indah, Universitas Surabaya, khususnya para dosen pembimbing dan dosen penguji skripsi Indah karena dianggap memfitnah dan mencemarkan nama baik.
Soal metodologi amat penting untuk mempertanggungjawabkan skripsi Indah. Dan ia belajar di ruang akademis (kampus) demi memperoleh legitimasi ilmiah. Unsur sensasi jelas tak pernah menjadi alasan seorang mahasiswa atau akademisi membuat penelitian ilmiah. Sejumlah pertanyaan ini layak dialamatkan kepadanya. Pertama, mengapa sampel yang digunakan cuma 176 responden (responden = pramugari)?
Kedua, 176 responden itu mewakili pramugari mana? Surabaya, Jawa Timur atau bahkan Indonesia? Dari pemberitaan di koran ini terungkap bahwa 176 responden diambil dari pramugari yang bekerja pada empat maskapai. Namun, belum jelas Indah sedang memotret “hubungan pilot-pramugari” di Surabaya atau di mana?
Ketiga, pengambilan sampel itu tentu saja harus merepresentasikan jumlah pramugari sesungguhnya di Surabaya, Jawa Timur atau Indonesia. Jika Indah ingin memotret fenomena Indonesia, di mana jumlah pramugari versi IKAGI 13 ribu orang, jelas sekali skripsi Indah layak dipertanyakan.
Karena informasi soal tiga hal itu tidak dikupas koran tersebut, saya kira harus dilakukan cek kepada Indah Martini. Terutama untuk mengetahui secara detail skripsi Indah Martini. Hingga saat ini, saya tidak sedang “menyalahkan” skripsi Indah, tapi mempertanyakannya. Artinya setelah mendapat laporan lengkap, boleh saja saya membenarkan atau bahkan menolak.
Demikian pula sikap saya terhadap koran tersebut. Banyak sekali dugaan yang berkecamuk. Pertama, koran ini tengah memburu berita sensasional sehingga kurang cek dan ricek. Artinya skripsi Indah sebetulnya tak masalah, mungkin koran tersebut yang over dalam menyimpulkan hasil skripsi Indah.
Kedua, hasil skripsi Indah bermasalah dan Pos Kota memberitakannya tanpa mempertanyakan hasil tersebut secara kritis. Dst. Sedemikian pun, saya tak dalam posisi skeptis terhadap koran tersebut. Sebab bagaimanapun koran ini adalah anak kandung yang absah pers Indonesia. Dalam hal ini saya lebih memprioritaskan prosedur kerja jurnalistik yang benar ketimbang nama besar.
Andaipun koran ini salah dan menjual sensasi, maka itu adalah masalah jurnalisme Indonesia juga. Ketimbang segera menuding skripsi Indah tidak ilmiah, lebih baik kita merenungkan cara media kita memberitakan sebuah hasil penelitian. Sebuah koran yang segrup dengan majalah ternama hari ini (Jumat, 7/12) mengutip sebuah survei Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Ditulis di lead koran ini, “Hasil penelitian yang dilakukan LP3ES yang rampung bulan lalu menyimpulkan hampir separuh polisi (42,3 persen) menjadi beking bandar narkoba dan perjudian. Penelitian ini digelar di Malang dan Surabaya, Jawa Timur pada Juli sampai Oktober 2007, dengan melibatkan 600 responden.
Simak paragraf demi paragraf di koran ini. Pembaca sama sekali tak dijelaskan, apakah hasil survei itu menyimpulkan fenomena di Malang dan Surabaya atau Jawa Timur atau bahkan Indonesia. Memang sebagian pembaca yang ngeh menyebut hasil survei itu menerangkan fenomena Malang dan Surabaya saja. Tapi, majoritas pembaca yang lain barangkali akan keliru menyimpulkan—seperti petinggi di Mabes Polri yang merasa terganggu dengan survei tersebut. Simpul saya sederhana: koran berinisial PK dan KT tadi bisa jatuh pada persoalan sama jika kurang ‘pintar’ membaca hasil survei.




















Emang berita-berita mengenai percintaan terlarang, perceraian dan perseteruan masih menjadi berita yang paling laris di Indonesia…
Ada isu, kalau pramugari ingin selalu kebagian “order” terbang, harus deket-deket sama pilot biar dapat referensi.
Namanya menungso, laki2 klo liat barang alus ya ngiler….perempuan ya sama aja, klo liat pria bagus (mana ada pilot yang jelek..??) ya semrinthil apalagi si pilot bisa kasi garansi dapat jam terbang..
betul!!! laki2 yang normal nggak bisa liat barang alus, begitu pula cewek normal, yah kalo banyak duit, ganteng pula. pasti deh ngiler…
urusan lendir tak hanya di udara. di perkantoran, apalagi yang kantornya nyaman, dan sedikit kerjaan, perselingkuhan sudah jadi hal biasa. jaman udah edan.
“Kedua, hasil skripsi Indah bermasalah dan Pos Kota memberitakannya tanpa mempertanyakan hasil tersebut secara kritis. ”
memang mesti berhati hati dalam membaca isi berita, data statistik yng diberikan harusnya dianalisis oleh wartawan/media secara tepat.
namanya napsu.. skandal seks.. pasti rame..
ini namanya jurnalistik tabloid.. gossip (mungkin fakta??).. cari sensasi.. tapi terkadang mikir juga.. ini kan sudah rahasia umum??
ah,…. kalau pilot kerjaannya ya memang gitu tu, masih ingat pilot garuda terlibat bawa ektasi dari belanda,.. wong dia bebas melenggang tak dideteksi. kalau sang pilot dan pramugari ada urusan esek-esek itu bukan berita hot lagi. ah….massam tak anderstut aja. he.he.he…..lanjut.
Gak usah pake survey, orang-orang airline tahu sendiri gimana kelakuan mereka. Selingkuh bukan hal yang tabu diantara mereka. Gak usah mengelak lagi, kalo mau bukti, silahkan cek saat mereka lagi tugas ron/nginep di hotel atau di mes. Emang masih ada yang baik dan ingat keluarga sih…tapi yang pengen ngrusak buanyak lagi….
Terbukti penulis dan koran nya tau kebutuhan Rakyat..Rakyat haus tentang Sensasi skandal Sex dan Kemiskinan.. Coba aja Penulis di Blog ini bikin tulisan tentang yg Rakyat butuhkan? Pasti Komentar dari pembaca berjubel……Betul kata yg lain..Ga prlu pake Survey2 sgala..
Kyataaan yg ada dan berlaku sdah cukup bwt bukti2 kwt bahwa Khidupan Edan di Indonesaia sdah ada dan sdah terjadi sejak Awal Kemerdekaan bangsa Kita(mungkin sblum nya?)dlm masalah SEX.Mafia Sex dperkantoran Pemerintah aja buanyak bnget… Sudah bukan menjadi rahasia umum lgi masalah Sex pda bangsa kita memang bobrok? atau sdah terbiasa?
Jwb aja ndiri deh……………..
baru tau yak?????
itu mah lagu lama!!!!!!!!!
cinta emg jorok.. oleh sebab tu kita harus dapat menfilternya ok.. profesional antara kerja dan khidupan masing2.
Percintaan antar crew, bukan cuma pilot bisa Pramugari/a sangat mungkin saat RON (Rest Over Night). karena kejenuhan kerja, jauh dari keluarga, bermalam di hotel bintang, apalagi terbang ke luar negeri. untuk yg pacarnya pramugari/a mohon pertimbangkan lagi
there’s no harm of having relationship. but it harms if it harms other.
Intinya, jika mau mempublikasikan tulisan atau berita, kita mesti mempunyai fakta yang benar2 valid, bisa dipertanggungjawabkan, sebuah pelajaran bagus buat saya.