Sunday, May 19, 2013

Maret 1989

December - 4 - 2007
maret-1989

M. Samsul Arifin

7 Maret 1989. Iran memutuskan hubungan diplomatik dengan Inggris. Penyebabnya? Bukan program nuklir. Tapi lantaran novel “The Satanic Verses” karya Salman Rushdie. Karya sastra ini dinilai menghina Nabi Muhammad. Novelis asal India ini menuduh sumber ortodoksi Islam, Alquran dan Hadist, ciptaan Muhammad belaka.

Tanda-tanda itu telah tampak pada 14 Februari 1989. Ketika Ayatullah Ruhullah Khomeini mengeluarkan fatwa hukum bunuh bagi Rushdie lewat Radio Teheran. Bulan berikutnya, para menteri luar negeri Organisasi Konferensi Islam (OKI) menggelar sidang dan mendukung fatwa tersebut. Novel Rushdie yang terbit September 1988 membakar emosi masyarakat Muslim. Belum satu dasawarsa, revolusi Islam Iran 1979 seolah hidup lagi.

Ulah Rushdie ini beserta silang-sengkarut kontroversi “The Satanic Verses” direkam dengan sangat bagus oleh God Bless, dalam lagu berjudul Maret 1989. Adalah Donny Fattah penggubah lagu tersebut, pentolan paling setia grup rock ini bersama Iyek (Achmad Albar) yang sekarang harus berurusan dengan polisi karena narkoba.

Sejak muncul pertama di Taman Ismail Marzuki (TIM), 5 Mei 1973—saya belum lahir saat itu—Donny dan Iyek tak pernah meninggalkan God Bless. Dari lima album yang diluncurkan God Bless—Huma di Atas Bukit (1975), Cermin (1980), Semut Hitam (1988), Raksasa (1989) dan Apa Kabar (1997)—Jockie Suryoprayogo, yang juga pendiri, absen dalam album “Cermin”. Tiga orang ini plus Fuad Hassan dan Ludwig Lemans adalah peletak dasar musik God Bless. Jockie saat itu digantikan Abadi Soesman. God Bless sendiri acap kali berganti-ganti personel. Bahkan Fuad Hassan dan Ludwig Lemans tidak masuk rekaman album pertama, Huma di Atas Bukit. Keduanya diganti Teddy Sujaya dan Ian Antono.

Ihwal dunia di penggal Maret 1989 itu, dengarlah syair berikut:

Ayat setan….
yang kau terbitkan
Membakar perasaan manusia
Perdamaian masih pagi
Perang belum berhenti
Lalu kau siram api

Menurut God Bless perdamaian masih pagi. Saat itu perang dingin menuju babak akhir. Tapi, demikian God Bless, novel Rushdie menyiramkan api untuk perang yang belum berhenti tersebut. Akibatnya, kata God Bless, Rushdie harus menerima risiko: dimusuhi masyarakat Muslim!

Kendati menyesalkan The Satanic Verses, God Bless sadar bahwa karya sastra juga bagian dari kebebasan berbicara. Sayang, kebebasan itu menimbulkan sengketa. God Bless pun resah, gundah dan gelisah.

Dunia resah
Dunia gundah…
Timur Tengah semakin gelisah
Ada kisah….ada perintah
Jurang pun semakin memisah
Kebebasan berbicara…
Menimbulkan sengketa

Lewat Maret 1989 God Bless mengingatkan perdamaian sungguh sangat rentan. Dan, seperti bersetuju dengan “benturan peradaban”-nya Samuel Huntington, ketegangan dan bahkan perang bisa berasal dari persoalan agama. Dan persoalan Salman Rushdie ini abadi, setidaknya dalam hubungan Iran-Inggris.

Bayangkan saja. Setelah Presiden Iran Mohammad Khatami tahun 2001 menyebut masalah Rushdie kelar. Iran masih juga sensitif soal Rushdie. Juni lalu, Iran mempertanyakan anugerah gelar ksatria oleh ratu Inggris Elizabeth II kepada sastrawan tersebut.

Teheran menilai anugerah untuk Rushdie itu sebagai perbuatan memanas-manasi, dan bisa membikin satu setengah miliar Muslim di seluruh dunia marah. Inggris bergeming. Kata Duta Besar Inggris untuk Iran, Geoffrey Adams, Rushdie dianugerahi gelar itu karena kiprahnya di dunia sastra. Adams meminta tindakan itu tak dipandang sebagai penghinaan terhadap Islam—agama kedua terbesar di Inggris.

****

Maret 1989 sendiri hanya satu di antara sepuluh lagu yang terpampang dalam album Raksasa (1989) yang digarap Achmad Albar (vocal), Donny Fattah (bass), Eet Syahranie (gitar), Jockie Suryoprayogo (kibor) dan Teddy Sujaya (drum). Selain itu ada pula Menjilat Matahari, Misteri, Emosi, Cendawan Kuning, 2002, Pemburu Ilusi, Sang Jagoan, Anak Kehidupan, dan Raksasa.

Dalam Cendawan Kuning, God Bless kembali mengingatkan bahaya perang, keserakahan dan mabuk kuasa. Perhatikanlah bait-bait berikut:

Cacing tanah menggelepar
Dengan kulit terbakar….
Tulang-tulang yang berserakan
Nyawa-nyawa melayang….
(Asap kuning bunga cendawan/membelah angkasa)

Itu semua…..!
Ulah manusia
Yang gila kuasa….

Selalu berlomba….
Mencapai tujuannya…
Menjajah dunia….

Jika angkara murka yang bertahta di dunia ini. Maka inilah yang akan terjadi:

Oh…
Peradaban ini…
Musnah tiada bekas…
Hilang tanpa bekas…!

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

4 Komentar pada “Maret 1989”

  1. Wahyu says:

    Yap… Saya senang Anda mengangkat tema ini karena lagu God Bless tsb. salah satu lagu terfavorit saya sampe sekarang, ntar kalo Anda punya MP3-nya boleh lah saya minta. Merdeka Indonesia..!!!!

  2. danu says:

    seharusnya godbless yang diberi penghargaan.
    bukannya si Salman konyol itu (sorry)

  3. Wahyu surjoprojogo says:

    Santanic verses memang tragedi pd maret 1989

    god bless memang good
    mengangkat sbuah tragedi pd maret 1989 menjadi sbuah syair lgu yg bgitu smpurna

  4. Rizki Gunawan says:

    sebagai generasi yang lahir tahun 90an, saya baru tahu band-band zaman dulu membuat lagu bertema kemelut di negeri luar, seperti God Bless, itu sangat menarik, dibanding band zaman sekarang, CINTA MELULU.

Tinggalkan Komentar