Cangkem
Andy Budiman
Ada sesuatu yang segar di Teater Utan Kayu, akhir pekan lalu. Bukan hanya karena para sinden yang kenes, Acapella Mataraman betul-betul menyihir penonton dua hari berturut-turut.
Nama Acapella Mataraman saja mengandung contradictio in terminis. Antara yang Barat dengan Timur, dunia modern dengan masa lalu. Ada semangat mengejek, sekaligus bermain. Terus-terang saya tertarik menonton pertunjukan ini karena dua alasan. Pertama, karena namanya yang unik. Kedua, karena sang sinden So`imah Pancawati yang kenes dan suaranya menakjubkan.
Suasana ger-geran mulai terasa sejak awal, ketika “pimpinan” Acapella Mataraman Pardiman Djojonegoro alias Freddy memperkenalkan diri dengan bahasa Inggris campur Jawa yang langsung membuat penonton terpingkal. Nama Djojonegoro sendiri konon dicomot dari nama belakang mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era presiden Habibie.
Musik, di tangan Acapella Mataraman, menjadi sesuatu yang renyah dan menghibur. Terkadang mereka menyelipkan satir sosial-politik di tengah-tengah lagu. Dalam salah satu nomor, misalnya, tiba-tiba mereka mencuplik lagu Rasa Sayange.
“Rasa sayange, rasa sayang sayange, kulihat dari jauh sudah bukan milik kiiiiitaaaa.” Pardiman langsung menimpali “Kalau begitu ya sudah, kita bikin lagu lagi.”
Acapella Mataraman mencampuradukkan genre musik Jawa dengan dangdut, pop, rap, India, hingga Mandarin. Salah satu nomor energik adalah tembang Si Narko. Dengan goyang dangdut ala Inul, Theresia, sang sinden, menyanyi, “Aku memang perayu ulung, aku memang membuatmu mabuk dan aku memang membuat uangmu habis.” Pada ujung lagu, barulah penonton tersadar “Akulah…akulah…si Narko…si Narko…TIKA!”
Pada nomor lainnya mereka membawakan lagu Mandarin White Snake Legend yang langsung ditimpali Pardiman, “Kalau di tempat saya, Legend itu singkatan Letnan Jenderal.”
Menakjubkan, menyaksikan So`imah membawakan lagu ini dengan cengkok Mandarin yang fasih, meski bahasanya tak lagi jelas karena sudah campur-aduk dengan bahasa Jawa “Wo ai ni, kuwine.”
Cangkem Kuadrat, demikian judul pertunjukan Acapella Mataraman memang menggambarkan dahsyatnya “cangkem” mereka dalam mengeksplorasi bunyi-bunyian dan alat musik. Mulut mereka terkadang menirukan suara gending Jawa, perkusi, gitar hingga bambu. Para pemain dengan luwes menirukan gaya Inul, Dewi Persik, Britney Spears, hingga Run DMC.
Sayang, suasana gayeng itu harus berakhir. Pardiman alias Freddy menutup pertunjukan dan memperkenalkan seluruh krunya “Ini Theresia, masih single, suaminya di Yogya. Kalau yang ini So`imah Pancawati, juga masih single, putrane loro!”

“tutup cangkemmu!” teriak cangkem kekuasaan.
“cangkemmu asal metu!” teriak cangkem pendemo.
“………………..” gak punya cangkem.
Comment by gun — December 3, 2007 @ 8:23 pm
Penguasane kakehen cocot, teyenge ‘nyocot’…pendemo cuma ingin sedikit kemakmuran finansial. Biar gak jadi pendemo terus. Kan cape..
Comment by Gun2 — December 3, 2007 @ 9:42 pm
Soimah ini memang dahsyat. “Menyihir”. Jangankan lelaki, perempuan pun tersihir olehnya. Ada yang tanpa sungkan mengakui, tapi banyak juga yg malu-malu berkelit tidak suka, tapi ujung mata terus mengekor melihat geliat soimah. Bahkan ada juga yg karnanya berani berbohong dan memukul. Dahsyat memang.
Comment by Baskin robin — December 5, 2007 @ 3:59 pm