November 28, 2007

Iyek

Filed under: Tokoh — yus @ 11:16 am
iyek

Yus Ariyanto

Lantaran kuliah di Bandung, saya tahu ada kawasan bernama Cicadas. Seorang teman memberi tahu, di Cicadas banyak “gang punten.” Maksudnya, kita harus ringan lidah untuk mengucapkan kata “punten” jika menyusuri gang-gang di sana atau menghadapi masalah dengan penghuninya. “Punten” sendiri bermakna “permisi.”

Terletak di timur pusat kota, Cicadas adalah sebuah pemukiman padat, banyak penghuninya tergolong miskin. Tak sukar mencari preman, pencopet, juga pelacur. Tapi, dari sana muncul pula artis semacam Hetty Koes Endang, Nurul Arifin, atau Ruth Sahanaya. Pun di sana, Achmad Albar, atau Iyek, menjalani masa kecil, bersama Farida Al Hasni, sang ibu.

Orang tua Iyek berpisah saat ia bocah. Ayah Iyek adalah Syech Albar. Menurut Alwi Shahab, wartawan senior Republika, Syech Albar adalah pemusik gambus terkemuka di Nusantara di era sebelum kemerdekaan. Wajah Syech Albar mirip Iyek, minus rambut kribo.

Lahir di Surabaya pada 16 Juli 1946, Iyek sempat bermukim delapan tahun di Belanda. Pada 1972, ia pulang kampung dan membangun God Bless bersama Fuad Hassan (drum), Donny Fattah (bass), Jockie Soeryoprayogo (keyboard), dan Ludwig Lemans (gitar). Untuk pertama kali, mereka unjuk gigi di Taman Ismail Marzuki pada Mei 1973.

Sejak itu, God Bless menjulang, menjadi kelompok musik cadas nomor satu di tanah air. Iyek menjelma superstar. Majalah Tempo edisi 27 September 1975 memilih kiprah Iyek sebagai laporan utama dan memajang fotonya di sampul depan.

“Di atas pentas, tubuhnya yang tampak tipis sering dibalut pakaian yang agak aneh. Kadang hanya memakai singlet atau rompi, sepatu bot setinggi lutut, atau semacam mantel hitam mirip punya Zorro. Mik yang dipegang pada gagangnya sering diangkat-angkat, dihujam-hujamkan. Kadang diputar-putar di atas kepalanya, seperti atlet pelempar martil,” tulis Tempo tentang Iyek.

Tahun ini, Iyek sudah 61 tahun. Kala mendengar ia menjadi tersangka, pasti banyak yang terkejut. Mestinya, di usia senja, Iyek hidup tenang. Mungkin seraya bersyukur bahwa Fachri, anak dari pernikahannya dengan Rini S. Bono, kian bersinar sebagai selebritas. Namun, kenyataan menyuratkan lain. Bahkan, Fachri kini diburu polisi.

Tiba-tiba, saya teringat Syair Kehidupan, karya Iyek, yang cukup masyhur ketika saya remaja, belasan tahun lalu. Ini larik-lariknya:

Di saat ini ingin kuterlena lagi
Terbang tinggi di awan
Tinggalkan bumi
Di sini

Di saat ini ingin kumencipta lagi
Kan kutuliskan syair
Sambil kukenang
wajah-Mu

Malam panjang
Remang-remang
Di dalam gelap aku dendangkan
Syair lagu kehidupan…

4 Comments »

  1. Iyek dan panggung sandiwaranya.

    Di belakang panggung, situasinya pasti lebih seru..

    Comment by dodi — November 30, 2007 @ 10:07 pm

  2. sepertinya ini makin menguatkan citra bahwa dunia artis sangat lekat dengan narkoba…

    Comment by arya — December 1, 2007 @ 12:05 am

  3. Istilah yang lebih tepatnya adalah “Gang Sejuta Punten”

    Hehehe.

    Comment by enda — December 1, 2007 @ 4:33 pm

  4. semoga ALLAH SWT memberikan kesabaran kepada iyek, dan selalu SEMANGAT.

    Comment by TA — December 5, 2007 @ 8:43 am

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment