Merdi Sofansyah
“Apa sih bedanya chromakey dengan virtual?” Hey.. pertanyaan itu bukan diajukan karyawan baru di Liputan 6 atau mahasiswa broadcasting saat tengah kuliah. Itu pertanyaan dari Alfi, anak SDN 11 Pagi Pondok Labu Jakarta.
Pertanyaan itulah yang mengawali pertemuan saya dengan anak-anak finalis lomba Kid Witness News (KWN) yang diadakan Panasonic di ruang rapat redaksi Liputan 6. Kala itu, ruang redaksi yang selalu ramai menjelang deadline siaran Liputan 6 Petang, tambah hingar bingar karena kedatangan puluhan jurnalis cilik. Setelah melihat-lihat sebentar ruang studio dan master control, mereka menceritakan pengalamannya dalam membuat paket-paket berita untuk KWN, sekaligus menanyakan banyak hal kepada saya mengenai proses pembuatan berita di Liputan 6.
Bukan pertanyaan yang mudah memang untuk dijelaskan, apalagi kepada anak-anak yang rata-rata masih duduk di bangku SD. Apalagi saya hanyalah seorang “user” yang biasanya hanya tahu chroma key dan virtual digunakan untuk apa, namun awam tentang definisi koseptualnya. Dan cecaran pertanyaan berikutnya juga masih diajukan beberapa anak, termasuk mereka yang datang dari ujung timur Indonesia: “Bagaimana caranya melakukan siaran langsung dari Papua atau tempat-tempat lain yang terpencil?” “Bisakah kita menggunakan handphone untuk siaran langsung, kan sudah ada 3G?”
Hasrat keingintahuan mereka tentang dunia jurnalis jelas terpancar dari sorot tajam mata anak-anak itu kepada saya maupun Nunung Setiyani yang juga hadir di pertemuan itu. Alfi dan teman-teman cilik lainnya, seharusnya bangga, karena mereka bisa membuat sendiri paket-paket berita dari hasil liputan mereka sendiri. Ya, mereka membuat sendiri, mulai dari riset dan menentukan topik liputan, membuat screen direction, on screen, dan mengambil gambar ke lokasi (ada yang harus bergumul dengan tumpukan sampah di TPA, menyibak lautan menuju sebuah pulau, naik turun bukit hingga masuk hutan mendekati hewan buruan mereka : orang utan di habitat aslinya!) serta mengedit sendiri hasil liputannya.
Benar, mereka mengedit sendiri hasil liputan dengan menggunakan software video editing seperti adobe premier!! Wah, sesuatu yang bahkan seorang produser kawakan di Liputan 6 sendiri belum tentu bisa melakukannya. Hasilnya? Luar biasa! Lihat saja beberapa topik liputan mereka: Hemat air di Gunung Kidul yang Gersang; Rehabilitas iOrangutan; Codeku sayang, Codeku bersih; Jamblang dan lobi-lobi yang terlupakan; dan Sampahku Berguna. Memang untuk ukuran profesional, kualitas maupun teknik pengambilan gambar mereka masih di bawah standar, namun bisa jadi hanya masalah waktu dan jam terbang yang akan membuat anak-anak itu bisa menyamai hasil karya jurnalis profesional.
Sejarah sudah mencatat, tahun 2006, tiga siswi kelas 6 SD Islam Dian Didaktika, Depok, mampu menjadi juara dua dunia dan juara pertama se-Asia Pasifik dalam ajang lomba serupa, setelah paket berita mereka berjudul “angklung” menyisihkan ribuan karya anak-anak lain dari berbagai negara.
Beruntunglah Anda, orang tua yang telah memberikan atmosfer terbaik kepada anak-anak Anda, terutama mengenalkan sejak dini pemahaman teknologi. Komputer, internet, berbagai aplikasi yang bertebaran, ada kalanya menjadikan anak-anak itu selangkah lebih maju, meski tak dipungkiri, ada juga yang skeptis terhadap pemanfaatan teknologi itu. Namun satu janji kita sepakati hari ini: kita bisa belajar dari mereka, anak-anak Indonesia. Anak-anak kita sendiri..




















ini era “anak digital”…bagaimana saya bisa ikut pogram seperti ini?
Setuju Mas Merdi, kita sebagai orang dewasa jangan merasa malu atau sungkan untuk belajar dari anak-anak, terutama anak-anak kita sendiri. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari cara pandang anak melihat isi dunia ini dan berbagai peristiwa yang menyertai perjalanan sang waktu. Mereka jujur, kerapkali mengungkapkan kenyataan apa adanya, tanpa basa basi, seperti kerapkali orang dewasa melakukannya. Anak-anak adalah pribadi yang polos, belum terkontaminasi oleh hiruk pikuk dunia yang seringkali menipu. Belajar dari anak-anak, berarti kita sebagai orang dewasa berani menyatakan pendapat secara polos, jujur dan tak menyimpan dendam. Tengoklah, betapa anak-anak bisa bergaul akrab kembali dan tertawa riang bersama, setelah mereka sempat saling dorong berebut mainan. Anak-anak sepertinya tak mengenal dendam, tak seperti kebanyakan orang dewasa yang kerapkali memutar otak untuk menjatuhkan kawan dekatnya sekalipun. Satu hal yang pasti, inti dari semua pelajaran dari anak-anak adalah kaum dewasa mesti jujur dan pemaaf. Bravo buat Mas Merdi. Jaya lah Liputan 6 SCTV!
Wah, aku kalah dari anak-anak SD ini, mereka sudah membuatnya, memakai adobe premiere lagi, sedang aku baru berangan2 saja…
SAlut untuk anak2 SD tersebut..
Saya akui agak susah memakai adobe premiere untuk mengedit video tp suatu kemajuan besar bwt generasi penerus kita t’utama para jurnalis profesional n dunia pertelevisian..
mudah mudahan anakku bisa seperti teman-teman ini…amien…. SCTV dong adain pelatihan gratis untuk anak anak :p… aku duluan ikut deh untuk anakku
)
mas merdi arti screen direction itu apa ya??
trus klo camera movement itu juga apa ya mas??
soalnya saya bingung ggt kLo ditanyaiin artinya…
makasi ya mas
Enak jadi anak sekarang, semuanya serba instan
Tetapi bangga juga mengetahui bahwa mereka masih bisa menghargai proses, – sebuah hal yang langka di tengah digitalisme saat ini.
Ayo SCTV kudu sering bikin acara media visit begini. Jadi anak-anak bisa mengingatkan orang-tuanya juga untuk memilih program televisi yang mendidik
Caiyooo, mas
liz
(yang setia nonton liputan 6 ketimbang nonton stasiun tv yang ngaku spesial berita)
bukan serba isstan kali ya sih melau perjugan kali yayaya sih ya
belajar dari anak-anak ? that’s good idea. Tidak hanya sebatas itu, dalam konteks kuliah misalnya, seorang dosen mestinya berpikir bahwa “mahasiswa bisa jadi lebih hebat atau lebih pinter dari sang dosen”, sehingga tidak ada yang namanya “batas” antara si tua dengan si muda, kedua-duanya harus saling berbagi.