May 12, 2008

Ujian Nasional dan Kegundahan Guru

Filed under: Hukum dan Kriminal, Sosial Kemasyarakatan — anton @ 10:32 am
ujian-nasional-dan-kegundahan-guru

Anton Bahtiar Rifa’i 

Ah, pendidikan kita terasa begitu dekat dengan dunia kriminal. Dari koran yang baru saja saya baca, Kepala Sekolah dan empat guru di Menes, Pandeglang, ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Mereka diduga membocorkan soal-soal Ujian Nasional (UN). Ini menambah panjang cerita tentang tenaga pendidik yang dikriminalkan menyusul pelaksanaan UN. Di Lubuk Pakam, misalnya, beberapa waktu lalu belasan guru SMA menjadi tersangka karena mengubah lembar jawaban UN murid-murid mereka. Para guru itu digerebek oleh anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror Kepolisian Daerah Sumatera Utara, dengan diwarnai tembakan senapan. Semua peristiwa itu terjadi atas nama UN. Mungkinkah UN telah menjadi “berhala”?

Tulisan ini bukan untuk memberikan pembenaran atas kecurangan yang dilakukan para guru. Hanya saja, kita perlu melihat lagi, bahwa kecurangan itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Seperti dalam kisah seorang ayah yang mencuri makanan untuk anaknya karena takut sang anak akan kelaparan, maka tindak kriminal itu harus dimengerti sebagai sesuatu yang lahir dari sebuah tekanan. Di sisi lain, pemerintah juga tidak bisa lepas tangan begitu saja, seolah-olah ini hanya persoalan hukum dan pembocoran rahasia negara. Bagaimanapun, banyaknya pelanggaran UN merupakan ekses dari kebijakan pendidikan nasional, dan harus dilihat melalui kacamata sistem pendidikan. (more…)

May 7, 2008

Cinta dan Kesetiaan

Filed under: Lain-lain, Sosial Kemasyarakatan — vincent @ 3:04 pm
cinta-dan-kesetiaan

Vincent Hakim R.

Cinta memang tidak pernah kering menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan. Cinta terukir dalam berbagai wujud, bisa dalam bentuk kata-kata, tindakan, suatu benda simbolis, dan banyak ragam tanda lainnya. Para seniman tak bosan-bosannya memilih tema cinta dalam karya-karyanya. Orang-orang (terutama para penikmat seni) juga tak pernah jengah dengan karya bernuansa cinta. Kategori “cengeng atau bermutu” menjadi tak terlalu penting karena cinta menjadi suatu kebutuhan. Kadang kala orang butuh juga cinta berkharakter cengeng. Atau kadang orang juga memerlukan cinta yang tegar berjiwa heroik.

Cinta tidak berjalan sendiri. Ada kesetiaan. Kolaborasi cinta dan kesetiaan memperkaya khazanah kehidupan menjadi putih bersih beraura positif. (more…)

May 5, 2008

Berbagi Kecemasan

Filed under: Ekonomi dan Bisnis — leanika @ 11:13 am
berbagi-kecemasan

Leanika Tanjung

Setelah sekian lama tak curhat melalui tulisan, saya sangat tergerak kali ini. Pidato SBY bagi saya seperti sebuah jawaban atas kecemasan yang saya rasakan sejak pertengahan tahun lalu, yang memuncak di akhir tahun. Meski tak yakin, ada tindakan nyata setelah pidato di luar kebiasaan itu.

Akhir tahun 2007, kekhawatiran saya dengan kondisi ekonomi dunia, juga Indonesia, kian memuncak. Sebagai jurnalis yang berkutat dengan soal makro dan mikro ekonomi, saya merasakan tekanan ekonomi kian berat. Harga minyak dunia masih di bawah 100 dolar per barel ketika itu, tapi saya merasa, ke depan keadaan akan makin berat. (more…)

April 28, 2008

Hari-hari Omong Harmoko

Filed under: Politik, Tokoh — andy @ 4:01 pm

Andy Budiman

Bung, saya jadi ingat masa lalu. Saya lihat Anda di TV, bikin partai baru. Apa namanya, Bung? Maaf saya agak lupa nama partai baru Anda. Maklum, Bung, bagi saya, Anda terlalu identik dengan Golkar masa lalu.

Tapi wajah Anda tak pernah saya lupa. Jauh sebelum muncul di TV, saya masih ingat tampang Anda. Masih pakai pomade, kan? Dengan sisir rapi jali ke belakang. Ya, saya ingat wajah Anda yang klimis dan berminyak. Masih suka pakai safari kuning? (more…)

April 26, 2008

Kameraklopedia

Filed under: Liputan6, Tips & Trik — gunawan @ 7:08 pm
kameraklopedia

Satu jam lebih saya menunggu dimulainya konferensi pers di sebuah ruangan Departemen Luar Negeri era Orde Baru. Saat itu, tahun 1989, saya bekerja sebagai fotografer media asing dengan status paruh waktu. Ternyata mereka masih menunggu kru TVRI yang belum datang, padahal hampir semua media sudah hadir. Keluhan sudah mulai keluar dari mulut semua orang. Lama banget, sih? Deadline nih! Saat itu masih belum terpikir, mengapa media televisi – kebetulan TVRI sebagai satu-satunya – begitu ditunggu kedatangannya?

Ketika membaca informasi atau berita dari surat kabar, dan atau mendengar berita lewat radio, ada pekerjaan lain lagi yang otomatis Anda lakukan, yakni membayangkan situasi kejadian tersebut, melalui imajinasi anda. Misalkan peristiwa tsunami di Aceh, surat kabar menulis ratusan ribu mayat bergelimpangan, radio mengatakan Aceh lumpuh total. Tentu saja tiap orang akan berbeda-beda hasil imajinasinya. Namun ketika semua orang menyaksikan peristiwa itu melalui televisi, semua mempunyai bayangan yang sama. Semua terlihat jelas “kiamat” yang terjadi tanpa harus berimajinasi lagi. (more…)

April 22, 2008

Arnie dan Dede

Filed under: Daerah, Tokoh — yus @ 7:27 pm
arnie-dan-dede

Yus Ariyanto

Ketika mulai bertugas selaku Gubernur California pada 2003, Arnold Schwarzenegger mengumumkan sepaket rencana. Ia hendak membenahi problem lingkungan hidup negara bagian tersebut. Arnie, panggilan akrab mantan binaragawan itu, lalu membangun ratusan hektare taman. Ia pun menggelontorkan jutaan dolar untuk restorasi lingkungan, manajemen air bersih, dan pemangkasan tingkat polusi.

Dan, Arnie tak segan menanam mimpi: pada 2020, pasokan listrik California berasal dari energi terbarukan. Misalnya, angin, biomassa, dan matahari. Kader Partai Republik ini percaya, derap perekonomian harus selaras dengan kebijakan ramah lingkungan. (more…)

April 18, 2008

Kepada Pemeluk Teguh (Ahmadiyah)

Filed under: Politik — syamsul @ 4:44 pm
kepada-pemeluk-teguh-ahmadiyah

Moh. Samsul Arifin

Pintu yang dibuka Chairil Anwar sekarang menyempit saat pemerintah (menanggapi rekomendasi Bakor Pakem) melarang Ahmadiyah di tanah air. Ahmadiyah dinilai menodai Islam, sebab menahbiskan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan Tadzkirah sebagai kitab suci. Tak pelak lagi Ahmadiyah dicap sesat dan menyesatkan! Kini sekitar 500 ribu penganut Ahmadiyah yang tersebar sejak Manis Lor dan Pancor (Lombok Tengah) hingga Parung-Bogor harus siap-siap mengganti keyakinan jika tak mau di jidat mereka distempeli kata laknat: Tersesat.

***

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
Aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku
aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
(more…)

April 14, 2008

Slank, Generasi Biru, dan DPR yang Gagap

Filed under: Musik, Politik — anton @ 1:57 pm
slank-generasi-biru-dan-dpr-yang-gagap

Anton Bahtiar Rifa’i

Di awal dekade 1990-an, lima anak muda tampil di layar TVRI. Dengan gaya seenaknya meski agak sedikit kikuk, mereka menyanyikan lagu dalam iringan musik rock ‘n’ roll yang keras: “Memang, kantongku memang kering. Jangan menghina, yang penting bukannya maling. Memang, jaketku memang kotor. Jangan menghina, yang penting bukan koruptor……” Kelima anak muda yang tergabung dalam grup Slank itu–Bimbim (drum), Kaka (vokal), Pay (gitar), Indra (kibor), dan Bongki (bas)—tengah menyanyikan lagu Memang dari album Suit Suit He He. Saat itu, sesungguhnya publik tengah menjadi saksi: musik rock Indonesia tengah memasuki fase baru.

(more…)

Negeriku Dikoyak 1001 Partai

Filed under: Politik — syamsul @ 9:48 am
negeriku-dikoyak-1001-partai

Moh. Samsul Arifin

“Libido” yang demikian tinggi pada sejumlah tokoh untuk mendirikan parpol berpengaruh besar bagi penataan sistem kepartaian. Tiga kali pemilu di masa reformasi agaknya belum akan membikin rakyat ini menikmati “madu” demokrasi. Negeri ini terbelenggu bendera parpol. Jadi, apa yang bisa diharapkan dari 69 parpol yang berhasrat besar ikut Pemilu 2009?

(more…)

April 13, 2008

Seberapa Indonesiakah Anda?

Filed under: Sejarah, Sosial Kemasyarakatan — rahman @ 12:46 pm
seberapa-indonesiakah-anda

Rahman Andi Mangussara

Di blog ini, kolega saya, Samsul Arifin, menulis artikel di bawah judul Malu Aku jadi Orang Indonesia. Tulisan ini mendapat banyak respon yang sebagian besar, jika tidak seluruhnya, adalah kritik. Para netter/blogger itu “marah” karena Samsul dianggap tidak bangga jadi orang Indonesia (saya tidak perlu mengulang lagi secara rinci apa yang membuat sejawat saya itu menulis seperti itu). Dalam pandangan kawan-kawan bloggers itu, seberapa buruk pun wajah Indonesia, kita harus tetap bangga hidup di buminya. (more…)